
"Kak..."
"Ya...ada apa sayang?",tanya Kalen yang fokus pada jalanan.
"Aku mau rujak yang pedas",ujar Dea tiba tiba.
"Sayang...kamu gak boleh makan makanan yang pedas sayang",jawab Kalen.
"Jadi kamu gak mau Kak beliin aku rujak",lirih Dea.
"Bukan gitu sayang--
"Ya sudah aku minta Aris untuk membelikannya",ujar Dea mengeluarkan ponselnya.
"Oke...oke...kita beli",ujar Kalen.
Mana rela dia pria lain yang membelikan pengidaman sang istri.Dea hamil anaknya masa iya orang lain yang memenuhi keinginan sang istri.
"Katanya kamu gak mau--
"Bukan gak mau sayang...tapi hanya pedasan sedikit ya", bujuk Kalen.
"Ya..."
"Kita cari dimana sayang...?",tanya Kalen.
"Taman kota Kak...",jawab Dea.
"Baiklah...",ujar Kalen mengarahkan mobilnya menuju taman kota.
Sesampainya di taman Kalen mengehentikan mobilnya."Kamu tunggu disini saja,oke",ujar Kalen saat akan keluar dari dalam mobil..
"Ya Kak... cepatan ya Kak",ujar Dea yang sudah tak sabar mencicipi rujak pedas.
"Ya sayang...",jawab Kalen turun dari mobil lalu memakai kaca mata hitamnya.
Setelah mengantri cukup lama akhirnya Kalen mendapatkan rujak sesuai keinginan sang istri.
"Ini sayang...",ujar Kalen saat memasuki mobil.
"Kok lama sih Kak?",tanya Dea.
"Antri sayang",jawab Kalen.
"Kalau gitu untuk Kakak aja",ujar Dea.
"Hah?"
"Kenapa?.Kakak gak mau?",tanya Dea.
"Tapi bukannya tadi kamu yang ingin sayang,kok jadi malah aku yang makan sih?", tanya Kalen.
"Tadinya iya Kak...tapi entah kenapa tiba tiba aja aku ingin lihat kamu yang makan rujaknya",jawab Dea.
Gluk
Kalen menelan salivanya mendengar permintaan sang istri.Ia tak bisa membayangkan rasa dari makanan yang baru saja ia beli.Rasa asam yang dicampur cabe yang cukup pedas membuatnya bergidik ngeri membayangkan rasa dari rujak pedas itu.
"Kak..."
"Ah ya..."
"Ayo makan!",ujar Dea.
"Tapi sayang aku--
"Ya sudah kalau gitu aku--
__ADS_1
"Baiklah aku makan",jawab Kalen yang takut jika sang istri mengatakan akan meminta orang lain untuk mencicipi rujak itu.
Kalen membuka perlahan rujak yang ia beli lalu mengambil sepotong mangga muda dan mencocolkan pada bumbu rujak.Pria itu memejamkan matanya saat merasakan buah asam itu menyentuh lidahnya.Rasanya begitu nano nano dan tak bisa ia jabarkan.
"Gimana Kak?,enak?",tanya Dea.
"Hmmm...nano nano sayang",jawab Kalen.
"Hehe...sini aku bantu menghabiskannya",ujar Dea.
"Katanya kamu gak mau",jawab Kalen.
"Ya sudah jika gak boleh.Tapi itu rujak kamu habiskan ya Kak",ujar Dea.
"Hah?.Yang benar saja sayang",jawab Kalen.
"Ya..."
***
Dea mengulum senyumannya melihat sang suami yang bermuka masam karena harus menghabiskan rujak buah yang tadinya harusnya ia yang makan.
"Maaf ya Kak...ini permintaan anak kita",ujar Dea mengusap perutnya.
Dea tersenyum tipis lalu mengenggam erat jemari tangan Dea."Ya sayang...aku tau kok",jawab Kalen.
"Jadi kamu gak marah kan?",tanya Dea.
"Gak sayang...",jawab Kalen mengecup punggung tangan Dea yang ia genggam dengan lembut.
Dea tersenyum tipis melihat perlakuan Kalen padanya.Ia sungguh bahagia karena pria yang kini ada di sampingnya begitu sangat membuatnya bahagia.
Tak pernah ia bayangkan jika akan merasakan kebahagiaan ini.Jangankan membayangkan, berkeinginan saja tidak.Ia masih berharap bisa bertemu sang ibu kandung yang dulu pernah berjanji akan datang kembali menjemputnya.
"Sayang... kenapa melamun, hum?",tanya Kalen mengagetkan Dea yang terlihat melamun.
"Mikirin apa?",tanya Kalen.
"Aku hanya teringat akan ibu,Kak",jawab Dea.
"Maksud kamu,Tante Hayati?",tanya Kalen.
"Gak Kak...ibu kandungku",jawab Dea.
"Sabar ya...aku akan bantu kamu untuk mencari keberadaan ibu kamu",ujar Kalen.
"Yang benar Kak?",tanya Dea dengan mata berbinar.
"Insyaallah...tapi kamu jangan melamun kayak tadi lagi,ya",jawab Kalen.
"Huummm...",angguk Dea dengan penuh semangat.
Tak lama mobil Kalen sampai di apartemen dan setelah memarkir mobilnya pria itu menggandeng sang istri memasuki lobi apartemen.
"Kalen..."
Kalen mengehentikan langkahnya dan menatap orang yang memanggilnya.
"Kamu...?"
"Apa kabar?"
"Baik...",jawab Kalen menggengam erat jemari Dea.
"Aku tadi tak sengaja lewat sini dan aku membawakan makanan kesukaan kamu", ujar orang itu menyodorkan paper bag berisi makanan.
"Hmmm...gak perlu repot-repot,kita sudah memesan makanan",jawab Kalen merangkul bahu Dea.
__ADS_1
"Dia--
"Istriku...",jawab Kalen.
"OOO...",jawab orang itu menatap Dea dari atas hingga bawah.
"Tapi...setahuku dia bukan tipemu Kalen", sambung orang itu.
Dea meremas tangan Kalen saat orang itu mengatakan jika dia bukanlah wanita tipe Kalen.Hatinya sedikit tersentil karena dulu Kalen pernah juga berkata hal yang sama.
"Tapi dia wanitaku sekarang.Mungkin--
"Kak... aku duluan",ujar Dea melepaskan rangkulan Kalen dibahunya.
"Sa--
"Kalen...aku tau dia cuma pelarian kamu karena patah hati dikhianati oleh--
"Cukup...jangan lagi datang menemuiku!.Dan satu lagi, mungkin kamu benar dia bukan wanita tipeku.Tapi dia berbeda dengan kebanyakan wanita yang pernah aku temui.Bahkan dia jauh lebih baik dari adik kamu itu",ujar Kalen menatap tajam wanita yang merupakan Kakak dari Tiara yang juga sama sama menyukai Kalen.
"Kalen...kamu itu benar benar bodoh membuang ber--
"Dialah istiriku berlian yang sesungguhnya.Dia masih gadis saat aku sentuh berbeda dengan adik kamu yang--
"Kamu itu terlalu kuno Kalen,zaman sekarang tidak lagi virgin bukankah hal yang tabu karena zaman sekarang--
"Tapi bukannya kehormatan seorang wanita terletak disana?,lain ceritanya jika seseorang kehilangan keperawanannya karena pelecehan atau suatu musibah yang membuat pecahnya selaput darah",ujar Kalen.
"Kamu--
"Jangan lagi menghina istriku atau aku benar benar membuat perusahaan ayahmu gulung tikar",ancam Kalen dengan tatapan penuh kebencian.
"Ka--
"Pergi dari sini...", sambung Kalen melangkah pergi meninggalkan wanita itu yang tampak menahan emosi.Rencana yang ia susun tak sesuai dengan rencananya.
Kalen melangkah dengan tergesa-gesa karena ia tau istrinya itu tidak baik baik saja.Ia takut Dea kepikiran dengan kata kata Tiana tadi.
Ceklek
"Sayang..."
Kalen melangkah memasuki kamar dan terlihat Dea yang meringkuk diatasi tempat tidur.
"Dera...", Kalen mengusap bahu Dea pelan.
Namun Dea hanya diam saja dan tak menggubris sang suami.
"Sayang...aku--
"Kak...aku bukan tipe kamu tapi kenapa kamu masih mau sama--
"Jangan katakan itu lagi sayang.Memang kamu bukan tipe ku tapi aku mencintaimu lebih dari apapun",jawab Kalen.
"Kak--
"Hai...aku sangat mencintaimu dan anak kita",ujar Kalen mengusap sisa air mata di pipi mulus Dea.
"Kak...aku--Dea memejamkan kedua matanya karena rasa pusing yang datang begitu hebat.
"Sayang...kamu kenapa, hum?", Kalen menepuk pelan pipi Dea.
"Pusing Kak...", lirih Dea dengan mata yang masih terpejam.
"Maaf sayang...kamu istirahat dulu,aku akan cek tensi darah kamu",ujar Kalen mengambil alat pengukur tensi di dalam tas kerjanya.
Ting nong....
__ADS_1
...****************...