
"Kak..."
Kalen menghentikan langkahnya karena Dea yang tiba tiba berhenti.
"Ada apa?", tanya Kalen dengan wajah datarnya.
"Kita mau kemana?",tanya Dea karena Kalen membawanya ke lantai atas.
"Ke kamar...",jawab Kalen kembali menarik tangan Dea untuk mengikutinya.
Dea diam dan mengikuti langkah sang suami yang membawanya ke kamar.Gadis itu benar benar sangat takut saat ini jika Kalen meminta haknya malam ini.Bukan dia menolak tapi dia belum siap menyerahkan apa yang telah ia jaga selama ini.Ia tau Kalen berhak atas dirinya sepenuhnya.Tapi ia tak mau melakukannya sebelum Kalen mencintainya.Sesuatu hal yang mustahil bagi Dea jika Kalen bisa mencintainya.
Setibanya di kamar Kalen melepaskan genggaman tangannya pada tangan Dea.Pria itu duduk di bibir tempat duduk menatap intens Dea yang berdiri mematung.
Kalen akui Dea sangat canyik malam ini dengan gaun yang membalut tubuh sintalnya.Ingin rasanya ia memeluk tubuh indah itu tapi ia takut Dea menolaknya.
"Mandilah...!",ujar Kalen berusaha menelan salivanya saat akal sehatnya tak lagi berfungsi apalagi Dea halal untuknya.
Dea segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.Namun ia lupa jika kancing gaunnya ada dibelakang dan itu memerlukan bantuan seseorang untuk membukanya.
"Ada apa?",tanya Kalen saat Dea kembali keluar dari kamar mandi.
"Oh...aku boleh minta tolong gak Kak buat bukain kancing gaunku",ujar Dea memperlihatkan punggungnya.
"Kemarilah...",ujar Kalen berdiri dari duduknya.
Dea melangkah menuju Kalen dan membelakangi pria itu untuk mempermudah Kalen membuka kancing gaunnya.
Dengan fokus Kalen membuka satu persatu kancing gaun milik Dea.Namun ia kembali menelan salivanya saat melihat punggung polos Dea yang terekspos sempurna dihadapannya.
Cup
Dea tersentak saat sesuatu benda kenyal nan basah menempel di punggung polosnya memberikan sensasi yang membuat jantungnya berdetak kencang.
Kalen menikmati aroma memabukkan dari tubuh Dea.Hingga kecupan kecil itu beralih ke tengkuk Dea dan meninggalkan jejak kepemilikannya disana.
Dea yang untuk pertama kalinya merasakan hal itu sedikit menikmati apa yang dilakukan Kalen pada dirinya.
Dea semakin berdebar dengan nafas yang terengah-engah.Tubuhnya beraksi tak sesuai dengan akal sehatnya yang masih takut dan menolak.
Melihat Dea menikmati sentuhannya,Kalen makin berani meloloskan gaun itu dari tubuh Dea.Kalen menatap pantulan tubuh depan Dea dari cermin rias yang membuatnya semakin panas dingin.
Perlahan Kalen menyentuh pinggang polos Dea dan merapatkan punggung Dea pada dada bidangnya lalu memeluknya dengan erat.
"Kak..."
"Hmmm..."
"A-aku ta-takut",lirih Dea.
Kalen tersadar dengan apa yang dilakukannya menatap Dea dari pantulan cermin tanpa melepaskan pelukannya.
"Apa yang kamu takut kan?",tanya Kalen dengan suara serak.
"Kita tidak saling mencintai...aku takut setelah ini Kakak mencampakkanku",cicit Dea.Ia bukan bermaksud munafik tapi ia berpikir secara logis.Kalen bisa saja meninggalkannya setelah semuanya ia berikan.
__ADS_1
"Apakah cinta itu penting bagimu?",tanya Kalen.
"Ya..."
"Jika seandainya aku mencintaimu apakah aku bisa mendapatkan hakku?",tanya Kalen.
Deg
Dea membeku mendengar pertanyaan dari Kalen.Tubuh setengah polosnya saat ini masih dalam dekapan Kalen.
"Apakah Kakak mencintaiku?",lirih Dea.
Kalen terdiam sedang menimbang hatinya apakah yang ia rasakan saat ini adalah cinta atau hanya sebuah kenyamanan.
"Ya..."
"Hah?"
"Apakah dengan aku merasa cemburu jika kamu berdekatan dengan pria lain itu dinamakan cinta?",tanya Kalen meletakkan dagunya dibahu polos Dea.
"Jadi benar tadi Kakak cemburu dengan Kak Kaisan?",tanya Dea.
"Bukan hanya pada Kaisan tapi pada seluruh pria yang manatapmu",bisik Kalen.
Dea tersenyum dalam hati, bolehkah ia bahagia saat ini karena suaminya mulai menyukainya.
"Jadi benarkah ini cinta?",tanya Kalen.
"Lalu bagaimana dengan kekasih Kakak?",ujar Dea membuat Kalen tersenyum kecut.
"Lalu...Kakak tak berniat menjadikan aku pelampiasan kan?",tanya Dea membalikkan badannya menatap Kalen membuat pria itu semakin tak bisa menahan hasratnya saat tubuh depan Dea bersentuhan dengan dada bidangnya.
Kalen tersenyum tipis lalu menangkup kedua pipi Dea dengan kedua tangannya."Tatap mataku, apakah aku sedang berbohong?",ujar Kalen.
Dea menatap mata elang pria itu sesaat karena ia tak kuasa akan tatapan pria itu yang membuatnya bisa saja hilang kendali.
Kalen mengangkat dagu Dea hingga pandangan mereka berserobok."Aku bukan pria brengsek yang mempermainkan seorang perempuan karena aku juga memiliki adik perempuan",ujar Kalen.
Dea membeku dan tak menjawab ungkapan hati pria itu.
Kalen menggendong tubuh Dea dan mendudukkannya diatas pangkuannya."Jujur...saat pertama melihatmu aku sudah tertarik.Aku sengaja berkata kasar untuk menutupi ketertarikanku karena saat itu ada hati yang aku jaga.Maaf karena pernah menyakitimu...",lirih Kalen.
"Jadi--
"Aku mencintaimu...",ujar Kalen.
"Hah?"
Kalen tersenyum melihat keterkejutan Dea lalu mengecup bibir ranum milik sang istri."Manis...", ucap Kalen.
Dea tersipu malu menundukkan kepalanya ke bawah.
Kalen kembali mengangkat dagu Dea dan tersenyum tipis lalu kembali mengecup bibir sang istri dam m********* dengan pelan.
"Ciuman pertamamu?",ujar Kalen saat melepaskan ciumannya.
__ADS_1
Dea mengangguk pelan lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Kalen.
Kalen tersenyum tipis seraya mengusap punggung polos Dea dengan lembut.
"Kak..."
"Hmmm.."
"Aku melihat foto pernikahan kita yang kamu panjang di atas meja kerja kamu di apartemen",ujar Dea.
"Kenapa?"
"Kapan kamu memajangnya Kak?",tanya Dea.
"Diawal pernikahan kita",ujar Kalen.
"Hah?"
"Lalu perjanjian pernikahan kita bagaimana Kak?", tanya Dea.
"Bukankah sudah aku bilang jika perjanjian itu batal,dan resmi batal setelah aku mendapatkan ciuman pertamamu",ujar Kalen.
"Bukankah aku bukan seleramu Kak?",cicit Dea.
"Itu adalah alasan agar aku tak terjerat pesonamu.Saat itu aku juga memiliki orang lain yang membuatku dilema",jujur Kalen.
"Jadi--
"Siapa yang akan mampu menolak gadis secantik kamu dan jika ibarat buah masih mengkal",ujar Kalen.
"Kak..."
"Ya..."
"Apakah Kakak akan meminta hak Kakak malam ini",lirih Dea.
Kalen tersenyum melihat wajah tegang sang istri."Jika kamu belum siap aku tidak akan memaksa.Ini yang pertama untukmu bukan?",ujar Kalen.
"Ya...maaf kalau malam ini aku bel--
"Tapi bisakah aku menyentuhnya tanpa melakukan penyatuan",bisik Kalen mengusap punggung polos sang istri.
Dea mengangguk samar membuat Kalen tersenyum penuh kemenangan.Ia begitu candu dengan aroma tubuh Dea yang mengingatkannya ajak seseorang di masa lalu.
Kalen terdiam saat melihat tanda lahir di pangkal lengan Dea yang membuatnya akhirnya tersenyum tipis."Dera..."
Deg
Dea terkejut akan panggilan itu membuatnya teringat akan seseorang yang pernah ada dimasa lalunya dulu.
"Kak kamu--
"Kamu Deraku?"
...****************...
__ADS_1