
"Kak... Kak Tiara itu siapa?",tanya Dea merebahkan kepalanya di didada bidang Kalen.
"Anak rekan bisnis Papa,di cukup dekat dengan keluarga ini",jawab Kalen.
"Dia cantik ya Kak",ujar Dea.
"Cantikan kamu sayang.Dia cantik karena polesan makeupnya saja.Tapi kamu cantik alami dan dari hati",jawab Kalen.
"Kak aku boleh tanya sesuatu gak?,tapi jawab jujur ya",ujar Dea.
"Apa sayang...",jawab Dea memeluk Dea.
"Apakah Kakak masih ada rasa dengan Kak Aluna walau hanya sedikit?",tanya Dea membalikkan badannya menatap kedua manik mata sang suami.
"Jika aku jujur kamu tidak akan marah atau berniat meninggalkan aku?",tanya Kalen.
"Gak Kak...ayo katakan!",tanya Dea dengan jantung yang berdebar.
"Rasa itu memang sudah terkikis dengan pengkhianatannya tapi untuk melupakan aku berusaha keras sayang.Tolong bantu aku karena hanya kamu yang bisa melakukannya.Kami bersama cukup lama jadi tak semudah itu melupakan meski rasa itu tak ada lagi",kanan Kalen jujur.
Dea tersenyum."Aku tau Kak tak mudah menjadi kamu yang mencinta dengan tulus namun dikhianati.Kamu bisa mencintaiku dalam waktu singkat saja sudah bersyukur meski dari awal aku gak tau pernikahan ini dibawa kemana.Saat itu kamu mencintai orang lain dan menganggap aku penghalang bagi kamu bersatu dengannya.Tapi aku bisa apa saat itu kecuali menerima apa yang telah digariskan dalam takdirku",lirih Dea.
"Maafkan aku saat itu tak mencari keberadaan kamu sepuluh tahun yang lalu.Andai aku menemukanmu aku tak akan mencintai wanita lain", jawab Kalen penuh sesal.
"Itulah takdir Kak...kita punya rencana tapi Tuhan yang menentukan.Sejauh apapun kita terpisah namun Allah mempersatukan kita juga kan",ujar Dea.
"Ya...maaf jika jawabanku sedikit menyakiti hatimu.Tapi percaya disini kamulah pemiliknya sekarang",ujar Kalen meletakkan telapak tangan Dea di dada sebelah kirinya.
__ADS_1
Dea tersenyum tak mampu lagi menjawab ucapan sang suami karena ucapan sang suami cukup membuatnya terkejut.
"Dea...aku tak lagi mencintainya...hanya saja sesekali bayanganya hadir dan itu diluar kuasaku",lirih Kalen melihat perubahan raut wajah sang istri.
"Aku tau kok Kak...aku hanya takut jika kamu mencampakkanku.Aku takut setelah rasa ini hadir kamu hanya memper--
"Hmmpphhh--Kalen m****** bibir Dea dengan lembut menyalurkan rasa cintanya pada istri kecilnya itu.
"Jangan katakan itu lagi Dea...aku jauh lebih takut kamu meninggalkanku.Makanya aku ingin kamu segera hamil sehingga tak ada lagi alasan kamu untuk meninggalkan aku",lirih Kalen mengusap bibir Dea yang sedikit membengkak akibat ulahnya.
"Aku...?",tunjuk Dea pada dirinya sendiri.
"Ya...",jawab Kalen menyatukan keningnya dengan kening Dea.
"Tergantung kamu Kak.Jika kamu main serong dibelakang aku maka kamu tak akan menemukan kau dimanapun di dunia ini",jawab Dea.
"Kak... jadi kamu gak lagi--
"Jangan membahasnya lagi baby...aku ingin membahas tentang kita kedepannya",jawab Kalen.
"Apa?",tanya Dea dengan kening berkerut.
"Kamu ingin memiliki anak berapa?",tanya Kalen.
"Hmmm dua aja Kak...",jawab Dea.
"Bagaimana jika 4 atau 5...",tawar Kalen.
__ADS_1
"Hah?,kamu pikir kau mesin pencetak anak Kak?",ujar Dea.
"Hahaha...aku bercanda sayang.aku mau sedikasihnya saja sama Allah",jawab Kalen mencubit gemas hidung mancung Dea.
"Kamu benar mau punya anak lebih dari tiga Kak?",tanya Dea pada akhirnya.
"Tergantung kamu sayang karena yang hamil dan melahirkan itu kamu", jawab Kalen.
"Kalau aku berharapnya dua tapi jika dikasih lebih aku harus apa kecuali menerima semua amanah itu",ujar Dea.
"Dea...aku ingin ada foto kamu di dinding kamar kita",ujar Kalen merebahkan kepalanya Dea di dada bidangnya.
"Kan udah Kak",tunjuk Dea pada foto pernikahannya yang dipajang dengan ukuran sangat besar diatas kepala tempat tidur.
"Foto kamu sendiri sayang,dua aja... untuk dikamar ini sana diruang kerja aku dirumah sakit",jawab Kalen.
"Aku gak ada foto Kak",ujar Dea.
"Sini aku fotoin", jawab Kalen mengambil ponselnya.
"Gak usah Kak...",tolak Dea.
"Kita berdua,ayo!",ujar Kalen mengarahkan kamera depannya.
Cekrek cekrek...
...****************...
__ADS_1