
"Kenapa Deri bisa sekeji ini",lirih Abbas.
"Pa...Deri ingin menguasai semua harta yang diperuntukkan untuk putriku.Aku juga tak menyangka jika dia sampai setega itu menculik keponakannya sendiri",jawab Dion mengusap wajahnya kasar.
"Mas...jadi benar Deri menculik Diandra?",lirih Sandra.
"Ya...dan kita tidak tau dimana keberadaan nya sekarang.Tadi Tuan Wiliam menelfon Papa jika Deri menculik Dea dan mengucapkan kekecewaannya pada keluarga kita",jawab Dion.
"Deri dan Fika pasti sudah disekap oleh Kalendra",lirih Abbas.
"Huffhhh...jika itu benar.Kita bisa apa,Pa?.Deri memang salah.Dan wajar jika Kalen menyekapnya",jawab Dion.
"Kita harus cari keberadaan Deri,Dion",ujar Abbas yang begitu kuawatir dengan putra bungsunya itu.
"Kemana Pa?.Kita tidak tau pasti jika Kalen menyekapnya.Dan Papa tau bukan Wiliam Atmaja memiliki anak buah yang gak kaleng kaleng Pa.Kita bisa apa,salah Deri yang mencari masalah dengan mereka.Aku ayah kandung Diandra saja tak pernah berpikir ke arah sana meski kita membutuhkan tanda tangan Dea untuk mencairkan warisan itu",jawab Dion.
"Tapi Papa yakin Dion jika mereka menyekap saudaramu itu.Bahkan mereka tak melaporkan tindakan kiriminal Deri ke pihak berwajib",ujar Abbas yang mencemaskan keadaan putra bungsunya itu.
"Aku gak ikutan Pa,bahkan aku tak lagi tertarik dengan semua ini.Aku sadar putriku jauh lebih berharga dari semua ini",jawab Dion lirih.
"Mas..."
"Sandra...maafkan aku",lirih Dion dengan kepala tertunduk.
"Huffhhh...Papa akan menyewa detektif terbaik untuk menyelidiki dimana keberadaan adik kamu",ujar Abbas menghela nafas berat.
"Terserah Papa...aku mundur dari rencana Papa",jawab Dion melangkah melangkah meninggalkan Abbas yang menatapnya tak percaya.
"Sandra--
"Maaf Pa...",jawab Sandra ikut bangkit dari duduknya meninggalkan mertuanya itu.
__ADS_1
Sementara itu disebuah apartmen seorang pria tampak duduknya dihadapan laptop miliknya sembari menyeduh kopi favoritnya di ruang keluarga.
Tring
Papa is calling...
"*Ya Pa..."
"Kalen...apa apaan ini.Jangan bilang ini ada kaitannya dengan kamu",ujar Rendra.
"Hmmmm"
"Kalen--
"Semuanya sudah diatur dengan baik Pa, polisi tidak akan menduga jika itu rencana pembunuhan",bisik Kalen pelan dan berjalan masuk kedalam ruang kerjanya lalu mengunci pintu ruangan itu dari dalam.
"Papa harap semuanya baik baik saja",ujar Rendra.
"Ya..."
"Nanti Papa juga tau",jawab Kalen tersenyum smirk.
Klik*
Kalen mematikan panggilannya secara sepihak,dan ia bisa membayangkan bagaimana kesalnya Papanya saat ini.
"Itulah akibatnya jika berani mengusik istriku",gumam Kalen tersenyum iblis.
Kalen keluar dari ruang kerjanya untuk melihat sang istri yang saat ini tidur.Pria itu tersenyum melihat Dea yang tidur dengan pulas.
"Aku akan membalas mereka yang berani menyakiti kamu,baby",batin Kalen mengusap lembut rambut Dea.
__ADS_1
"Kak...",lirih Dea dengan suara serak khas bangun tidur.
"Maaf membangunkanmu",ujar Kalen tersenyum hangat.
"Kita kapan pulang?", tanya Dea.
"Nanti setelah semuanya aman sayang,kamu kuliah daring dulu ya",jawab Kalen.
"Ya..."
"Kak...aku ingin bertemu Mama",ujar Dea.
"Baiklah...ayo mandi kita bertemu Mama setelah ini",jawab Kalen.
"Benarkah?",tanya Dea dengan mata berbinar.
"Iya baby...",jawab Kalen mengecup bibir Dea sekilas karena gemas dengan istrinya itu.
***
"Apa?",pekik Abbas yang baru saja menerima telepon dari pihak berwajib.
"Pa...ada apa?",tanya Dion yang ikut terkejut melihat Papanya yang tiba tiba saja terduduk lemas usai menerima telepon.
"Dion...a-adik ka-kamu kecelakaan dan me-meninggal",lirih Abbas yang tak kuasa menahan laju air matanya.
"Innalilahi wainnailaihi rojiiun", lirih Dion ikut meneteskan air matanya.
"Kita kerumah sakit sekarang...",ujar Abbas pada putranya itu.
"Ya Pa...aku akan siapkan mobil",jawab Dion segera bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Abbas begitu shock dengan kabar meninggalnya putra bungsunya itu.Baru saja ia akan mencari detektif untuk mencari keberadaan sang putra kini ia mendapat kabar jika anaknya itu kini tak lagi bernyawa.
...****************...