Cinta Tuan Dokter Yang Posesif

Cinta Tuan Dokter Yang Posesif
Penawaran


__ADS_3

"Kalen...jangan ceroboh, kita harus memikirkan matang matang,jika tidak Dea dan calon anak kalian yang menjadi korbannya.Kita tidak tau siapa yang menyandera Dea saat ini",ujar Rendra saat Kalen akan masuk ke dalam bangunan tua.


"Benar Tuan...kita tidak tau seberapa banyak kekuatan musuh yang berada didalam", timpal Faris.


"Tapi istiriku ada di dalam Pa,dia pasti ketakutan saat ini.Dia dan kehamilannya itu yang aku takutkan saat ini",ujar Kalen yang hampir frustasi karena belum mengetahui keadaan sang istri saat ini.


"Papa tau Kalen,Dea juga menantu Papa dan dia mengandung cucu Papa saat ini.Tapi kita harus memikirkan rencana yang matang untuk menyelamatkan Dea",jawab Rendra.


"Bagaimana ini bisa terjadi Kalen?", tanya Tuan Wiliam yang datang tiba tiba.


"Panjang ceritanya Kek,aku kecolongan dan--


"Bagaimana jika saya yang masuk, berikan saya sebuah kamera tersembunyi agar anda sekalian bisa memperhitungkan kekuatan musuh",ujar Mika tiba-tiba buka suara.


"Siapa dia Kalen?",tanya Tuan Wiliam menatap Mika.


"Dia--


"Kamu yakin Mik,ini berbahaya.Jangan--


"Aku akan membuktikan jika aku mampu melindungi Nona Dea nantinya",ujar Mika yakin.


"Kamu yakin?",tanya Kalen.


"Ya Pak,Bapak tak perlu meragukan kemampuan saya",jawab Mika.


"Baiklah...aku akan ikut denganmu",ujar Kalen.


"Kalen--


"Pa...aku akan menghubungi Papa dari dalam jika membutuhkan bantuan",ujar Kalen memeberikan keyakinan pada Rendra.


"Baiklah...jangan sampai mereka jadikan Dea kelemahanmu",jawab Rendra.


"Dea memang kelemahanku Pa", balas Kalen.

__ADS_1


"Masuklah!",ujar Rendra menepuk pelan pundak Kalen.


"Oh ya kamu,apakah kameranya sudah siap?", tanya Rendra pada Mika.


"Sedikit lagi Pak,lagi menghubungkan dengan laptop Faris",jawab Mika.


Sementara itu didalam Dea meringis menahan rasa kram pada perutnya.Wanita itu sungguh ketakutan saat ini.


"Ayo tandatangan",ujar seorang pria menyodorkan sebuah berkas pada Dea.


"A-apa ini?", lirih Dea dengan wajah tampak pucat.


"Tanda tangan saja",bentak pria itu membuat Dea terjingkat kaget.


"Aku tau tau ini apa",jawab Dea.


"Hey...j****g kecil ayo tandatangan",ujar wanita itu menarik kasar rambut Dea.


"Sa-sakit...",lirih Dea.


"Sakit,hum?.Makanya ayo tandatangan jangan banyak tanya", teriak wanita itu.


"Cepatan...!",teriak wanita itu.


Dea menandatangani berkas itu membuat kedua tertawa puas.


"Akhirnya...kita jadi orang kaya",pekik pria itu.


"Lepaskan aku",ujar Dea.


"Tak semudah itu manis.Aku belum mendapatkan Kalenku",jawab wanita itu.


"Lepas...aku takkan memberikan suamiku pada wanita sepertimu",ujar Dea.


"Kau--

__ADS_1


"Dasar wanita gila kamu,masih saja mengejar suami orang--


Plak


"Diam kau...", teriak wanita itu.


Dea meringis menahan rasa kebas dipipi kanannya akibag tamparan wanita itu.Tak hanya itu sudut bibirnya tampak pecah dan mengeluarkan darah segar.


"Kenapa marah,hah?.Aku benarkan",kekeh Dea tersenyum miring.


"Kau--


"Turunkan tanganmu j****g?",teriak seseorang.


Gluk


"Kak...aku tau Kakak pasti datang",ujar Dea tersenyum lebar.


"Jangan mendekat atau aku tak segan segan menghabisinya",ujar wanita itu menodongkan senjata api pada kepala Dea.


"Bagaimana dengan ini",ujar Kalen menodongkan senjata api juga pada pria yang tadi bersamanya.


"Kau--


"Bagaimana jika kita impas saja.Berikan istriku maka aku juga memberikan Ayahmu ini",tawar Kalen.


"Tidak...aku hanya ingin kamu Kalen",pekik wanita itu.


"Tapi sayangnya aku tak menginginkanmu, Fika", jawab Kalen.


"Jika begitu tak ada yang boleh memilikimu Kalen",ujar wanita yang bernama Fika menarik pelatuk senjata api yang ia pegangi.


Dor


"Dea...",pekik Kalen.

__ADS_1


"Aaaaa..."


...**************...


__ADS_2