
Faris mengantarkan Kaira pulang dengan mengiringi mobil Kaira dari belakang.Meski Kaira telah melarangnya namun pria itu tetap bersikeras mengantarkan.
Faris hanya ingin memastikan Kaira pulang dalam keadaaan selamat.Sebagai pria yang bertanggungjawab ia tak ingin gadis itu kenapa-napa.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya mobil mereka memasuki kediaman Kalen.
Faris turun dari mobilnya dan menghampiri Kaira yang juga turun dari mobil.
"Terimakasih ya Mas",ujar Kaira tersenyum tipis pada Faris.
"Ya... masuk dan istirahatlah!",jawab Faris.
"Ya Mas...",ujar Kaira.
"Mau dijemput besok pagi?",tanya Faris.
"Aku takut kamu repot Mas, jadi--
"Aku tidak merasa direpotkan kok,besok aku jemput ya",ujar Faris.
Kaira mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Baiklah aku pulang dulu,masuklah!",ujar Faris.
"Ya Mas",jawab Kaira memutar tubuhnya lalu berjalan mamasuki rumah setelah memberikan kunci mobilnya pada salah satu security dan meminta security itu untuk memasuk mobil ke bagasi.
Faris meninggalkan kediaman Kalen setelah Kaira memasuki rumah sang Kakak.
Saat Kaira akan menginjakkan kakinya di tangga ia dihentikan oleh seseorang yang memanggilnya.
"Papa...",gumam Kaira menatap sang Papa.
"Baru pulang?",tanya Rendra.
"Iya Pa,tadi makan dulu dijalan",jawab Kaira jujur.
"Boleh Papa bicara sebentar sama kamu?",tanya Rendra.
"Bo-boleh Pa",jawab Kaira.
"Kita bicara disana", tunjuk Rendra pada ruang keluarga.
"Ya... Pa",jawab Kaira.
"Ada apa Pa?", tanya Kaira saat mereka sudah duduk bersisian.
"Begini,Papa hanya ingin memastikan karena Papa ingin yang terbaik untukmu.Kamu menyukai Faris?", tanya Rendra.
Gluk
Rendra menatap sang putri yang tampak terkejut dengan pertanyaannya.
"Ra...",ujar Rendra.
__ADS_1
"Aku gak tau Pa,tapi saat ini aku nyaman saja dengan Mas Faris",jawab Kaira.
Rendra tersenyum tipis, panggilan putrinya pada Faris berubah dari Kakak menjadi Mas.Itu artinya hubungan keduanya saat ini mulai dekat.
"Maafkan kami menjodohkan kamu dengan Faris.Itu tak lain karena permintaan Kalen,Kakakmu.Papa dan Mama hanya bisa menuruti karena Papa yakin Kalen,Kakakmu pasti mengenal dekat siapa Faris",ujar Rendra.
"Ya Pa...", jawab Kaira.
"Apakah kamu terpaksa dengan perjodohan ini?",tanya Rendra.
"Tidak Pa, karena aku yakin pilihan kalian adalah yang terbaik.Contohnya dulu perjodohan Kak Kalen dan Kak Dea mereka malah menjadi keluarga yang harmonis sekarang",jawab Kaira.
"Papa lega sekarang jika kamu menerima perjodohan ini",ujar Rendra.
"Mama mana Ma?",tanya Kaira tak melihat keberadaan Mamanya.
"Mamamu gak ikut,dia dirumah Kaisan.Kakakmu,Mika lagi demam",jawab Rendra.
"Oh...kalau gitu aku ke kamar dulu Pa",ujar Kaira.
"Ya Nak, istirahatlah!", jawab Rendra.
Kaira melangkah menuju kamarnya, tubuhnya begitu lelah seharian bekerja dikantor.Gadis melepas semua pakaiannya dan bersiap untuk mandi.Namun tiba tiba ponselnya berdering,tampak panggilan video dari Faris
Kaira mengabaikan panggilan itu karena keadaan dirinya yang tak memungkinkan untuk menjawabnya.
Kaira langsung masuk ke kamar mandi mengabaikan panggilan dari Faris.Ia ingin segera mengguyur tubuhnya dengan air.
Setelah 15 menit akhirnya gadis itu selesai dengan ritual mandinya dengan masih mengenakan handuk yang menutupi tubuh polosnya gadis itu meraih ponselnya.Terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Faris dan juga pesan.
***
"Selamat pagi semuanya",ujar Kaira yang telah siap dengan setelan baju kerjanya.
Gadis itu belum menyadari kehadiran Faris di sana menatapnya dengan bibir tersenyum tipis.
"Pagi Ra",jawab Dea.
"Selamat pagi keponakan Aunty",ujar Kaira mengecup pipi chubby Rania yang duduk di baby walkernya.
Anak kecil yang berusia 19 bulan itu tersenyum tampak tersenyum lebar setelah mendapatkan kecupan dipipinya dari Kaira.
"Gemas sekali kamu",ujar Kaira mencubit gemas pipi Rania membuat semua orang terkekeh kecuali Kalen yang sudah biasa dengan wajah datarnya.
"Kaira..."
"Ya Pa...ada apa?",tanya Kaira mengalihkan pandangannya pada sang Papa.
"Bagaimana jika kamu melanjutkan kuliah kamu disini?,agar kamu dan Faris bisa dekat",ujar Rendra kembali membicarakan tentang rencananya untuk memindahkan Kaira kuliah di kota ini.
"Tapi Pa,nanggung juga, tinggal dua tahun lagi", jawab Kaira.
"Dua tahun itu lama Ra",ujar Rendra.
__ADS_1
"Tak apa kita Kaira ingin melanjutkan kuliahnya disana Om,jangan memaksanya", Faris angkat bicara membuat Kaira menoleh,ia baru menyadari jika ada Faris disini.
"Mana mungkin hubungan kalian bisa dekat jika tinggalnya berjauhan",jawab Rendra.
"Aku percaya Kaira Om",ujar Faris menatap gadis itu yang tampak juga menatapnya.
"Bagaimana jika kalian menikah saja", jawab Rendra tiba tiba.
"Papa tau Kakek tidak akan setuju dengan hal ini",ujar Kalen angkat bicara.
"Hufffhh...ya kamu benar, lalu bagaimana solusinya", tanya Rendra.
"Semua keputusan ada di Kaira,Pa.Aku tak bisa melepas Faris sebelum mendapatkan pengganti yang tepat",jawab Kalen.
"Bagaimana Ra?", tanya Rendra.
"Aku--akan pindah ke sini",jawab Kaira membuat semua orang tersenyum senang.
Begitu juga dengan Faris yang tersenyum tipis.Menjalani hubungan jarak jauh ia akui tak akan bisa.Apalagi Kaira satu kampus dengan pria yang Faris tau juga menyukai gadis itu.
"Papa akan mengurus kepindahanmu kesini",ujar Rendra tersenyum senang.
"Iya Pa",jawab Kaira tersenyum tipis.
Faris dan Kaira berangkat bersama ke kantor setelah sarapan bersama.Keduanya saling diam dan hanya suara musik yang terdengar.
"Apakah kamu terpaksa pindah kuliah?", tanya Faris.
"Gak Mas...", jawab Kaira melemparkan senyumannya.
"Aku tak masalah kamu tetap kuliah di sana,tapi bersiap saja aku akan sedikit curigaan",kekeh Faris.
Kaira hanya tersenyum tipis dan tak menjawab ucapan Faris.
Tak lama mobil mereka sampai di kantor, keduanya turun dari mobil memasuki lobi.Faris berjalan beriringan dengan Kaira memasuki lift.
"Faris..."
Faris memasang wajah datar saat seseorang memasuki lift yang sama dengannya.Kaira yang melihat orang itu tersenyum miring karena orang itu menatapnya penuh permusuhan.
"Ris...aku mau kasih kamu undangan,nanti malam pesta anniversary kedua orangtuaku.Aku harap kamu datang",ujar orang itu mengulurkan sebuah undangan pada Faris.
"Kami malam ini ada acara",ujar Faris mengenggam jemari Kaira.
Orang itu tampak mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya."Ris... tidak--
"Tidak... berhenti menganggu Ayuni.Bukankah dulu kamu mengatakan aku bukanlah seleramu dihadapan semua orang dan juga selingkuhanmu",ujar Faris.
"Itu dulu Faris, tidak dengan sekarang",jawab Ayuni.
"Jika dulu aku bukan seleramu,tapi bagiku sekarang kamu juga bukan seleraku",ujar Faris dengan tatapan penuh kebencian.
Pria itu keluar saat pintu lift terbuka dengan menarik lembut tangan Kaira.
__ADS_1
"Arghhh..."
...****************...