
"Hati hati sayang", ucap Faris saat membantu sang istri turun dari mobil.
"Iya Mas...",Kaira tersenyum tipis.
"Bisa jalan kan?",tanya Faris merangkul bahu Kaira takut wanitanya itu kembali terjatuh.
"Bisa kok Mas",jawab Kaira yang memang merasa sedikit masih pusing.
Faris menuntun Kaira memasuki lift yang terhubung dengan basement apartemen.Pria itu tak melepaskan rangkulan tangannya di bahu Kaira.
"Mas..."
"Ada apa,kamu ingin sesuatu?",tanya Faris.
"Aku hanya sedikit masih pusing Mas",jawab Kaira menyandarkan punggungnya di dada bidang Faris.
"Sebentar lagi kita sampai",jawab Faris diangguki Kaira.
Ting
Pintu lift terbuka,Faris tanpa aba-aba langsung menggendong Kaira membuat gadis itu terjengkit kaget dan langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Faris.
"Maaf membuatmu kaget sayang",ujar Faris.
"Aku masih bisa jalan Mas,gak perlu juga kamu gendong aku kayak gini",jawab Kaira.
"Katanya pusing,makanya Mas langsung gendong kamu takut kamu kembali pingsan sayang,dan itu membuat Mas sangat takut sekali",jawab Faris jujur.
"Memangnya tadi kamu ketakutan Mas saat aku pingsan?",tanya Kaira.
"Ya ..cemas bercampur takut dan juga menyesalkan meninggalkan kamu sendiri di apartemen",jawab Faris.
"Ketuk pintunya sayang!",ujar Faris saat mereka sampai di depan pintu unit apartemen Faris.
"Kenapa--
"Di dalam ada Mama sama Dea yang sudah menunggu kita",jawab Faris.
Tok tok tok
Ceklek
"Kalian sudah datang?",tanya Arita membukakan pintu lebar-lebar untuk keduanya.
"Iya Ma...",jawab Faris mendudukkan Kaira di sofa ruang tamu lalu memberikan banyak sofa untuk bantalan punggung Kaira agar bisa duduk dengan nyaman.
"Kamu kenapa bisa pingsan Ra?",tanya Dea yang duduk dikursi tunggal yang dari tadi memantau Rania yang bermain dengan beberapa mainannya.
__ADS_1
Faris memang belum mengatakan kepada Mamanya maupun Dea tentang kehamilan Kaira.Ia mengatakan jika Kaira baik baik saja dan tak perlu dirawat.
Kaira menatap Faris yang mengangguk padanya mengisyaratkan untuk Kaira yang mengatakannya.
"Hmmm aku ternyata--hamil Kak,Ma",jawab Kaira membuat Dea dan Arita terpaku sejenak kemudian berhamburan memeluk calon ibu itu.
"Aaa... selamat ya Ra,semoga lancar hingga lahiran",ujar Dea mengurai pelukannya.
"Iya Kak... terimakasih",jawab Kaira.
"Sebentar Kakak akan menghubungi Kakak kamu",ujar Dea langsung mengambil ponselnya.
"Selamat ya Nak,jaga baik baik ya calon cucu Mama",ujar Arita memeluk sang menantu dengan penuh kasih sayang.
"Faris...kamu sudah memberitahu Mertua kamu tentang kehamilan Kaira?",tanya Arita pada sang anak yang duduk tak jauh dari keduanya.
"Sudah Ma...tadi Faris kirim pesan karena Mama Marisa tak mengangkat teleponnya.
"Oh...ya sudah.Kamu jaga Kaira baik baik Faris,jangan biarkan dia kelelahan dan satu lagi kamar mandi kalian jangan sampai licin takutnya Kaira jatuh",ujar Arita pada sang anak.
"Iya Ma...",jawab Faris.
"Mama cerewet ya sayang?",tanya Arita pada Kaira yang hanya tersenyum saja melihat sang suami di cecar oleh mertuanya itu.
"Tidak Ma...", geleng Kaira.
"Sudah aku pikirkan Ma.Pokoknya Kaira gak akan aku izinkan lagi melakukan pekerjaan rumah",jawab Faris.
"Mas...aku hanya hamil bukan sakit kenapa aku kamu larang untuk mengerjakan pekerjaan rumah",ujar Kaira yang merasa suaminya makin overprotektif.
"Kamu ingat apa yang dikatakan dokter tadi sayang, kehamilan kamu sangat rentan karena kandungan kamu masih sangat lemah.Mas gak ingin terjadi sesuatu dengan kalian, mengerti ya sayang",jawab Faris yang sudah berjongkok dihadapan Kaira.
"Ra...apa yang dikatakan Faris itu benar.Usia kandungan trisemester pertama itu masih sangat rentan keguguran jika kamunya kelelahan", timpal Dea yang baru selesai menelepon suaminya.
"Baiklah Mas,tapi aku masih boleh pergi kuliah kan?",tanya Kaira.
"Boleh...tapi kamu harus hati-hati",jawab Faris.
"Iya Mas..."
Tring
Ponsel Kaira berdering dan wanita itu meminta sang suami untuk mengambilkannya didalam tanya.
"Siapa Mas?",tanya Kaira.
"Mama video call sayang",jawab Faris.
__ADS_1
"Angkat saja Mas!",jawab Kaira.
"Hallo Faris,ini benaran kalau Kaira hamil?",tanya Marisa yang terlihat berkaca-kaca.
"Alhamdulillah iya Ma,udah 5 minggu",jawab Faris.
"Alhamdulillah... Mama dikasih cucu satu lagi",ucap Marisa.
"Sayang kamu ngobrol langsung sama Mama ya,aku mau buatkan kamu susu hamil dulu",ujar Faris yang tadi di perjalanan ini singgah dulu di supermarket untuk membeli susu hamil untuk sang istri.
"Mama ngobrol sama Kairanya langsung ya,aku mau membuat Kaira susu dulu",ujar Faris.
"Iya Nak...",jawab Marisa.
"Assalamualaikum Ma...",ujar Kaira dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat ya sayang atas kehamilan kamu.Jaga baik baik,jangan makan sembarangan juga jangan kelelahan", ucap Marisa memberikan wejangan kepada sang putri.
"Iya Ma.Oh ya Papa mana Ma?",tanya Kaira.
"Lagi menemani Kakek kamu untuk cek up kesehatannya ke rumah sakit sayang",jawab Marisa.
"Kakek sakit?",tanya Kaira.
"Hanya cek up saja sayang,Kakek Alhamdulillah sehat kok.Dia pasti senang nantinya saat tau cucu buyutnya nambah satu lagi",kekeh Marisa.
"Iya Ma..."
Sementara itu didapur Faris sedang fokus membuatkan susu hamil untuk sang istri.Namun tiba tiba sekecil Rania menghampirinya dengan membawa kotak susu miliknya.
"Paman..."
Faris menoleh dan mendapati Rania mengadah menatapnya sembari membawa kotak susu miliknya.
"Hai...ada apa sayang?",tanya Faris mensejajarkan tubuhnya dengan Rania.
Gadis itu memberikan kotak susunya kepada Faris membuat pria itu mengerutkan keningnya."Rania mau dibuat susu juga?", tanya Faris.
"Iya Paman...",jawab Rania.
"Minta botol susu sama Mami dulu sayang,nanti Paman buatkan",ujar Faris lembut diangguki gadis kecil itu kau berlari kembali ke depan untuk menemui Maminya.
Tak lama Rania kembali membawa botol susunya dan memberikannya pada Faris.Pria itu tersenyum tipis melihat kelakuan sikecil yang mengemas itu.Rania sangat pintar untuk anak seusianya.
...****************...
oh ya lupa apakah aku sudah memberikan visual untuk Faris dan Kaira.
__ADS_1