
Faris memejamkan kedua matanya meraba hatinya apakah benar yang ia rasakan saat ini.Pria itu kembali membuka matanya menatap Kaira yang makin terlihat gugup.
Faris menatap kedua manik mata Kaira."Aku--aku takut kamu tergoda olehnya karena--aku-- mencintaimu",ujar Faris membuat Kaira membelalakkan kedua matanya dengan jantung yang makin berdebar keras.
Sungguh pernyataan yang Faris ungkapapkan membuatnya tak bisa berkata apa-apa karena tiba tiba saja lidahnya terasa kelu.
"Tak perlu menjawab jika kamu belum yakin dengan hatimu",ujar Faris tersenyum tipis melihat ekspresi Kaira yang hanya diam saja dan tak berniat menjawab.Ada rasa ngilu dihatinya,karena ini yang ia takutkan cintanya tak bersambut.
Ting
Pintu lift terbuka, Faris segera melepas rengkuhannya dipinggang Kaira dan berjalan keluar dari lift menggenggam tangan gadis itu dengan ekspresi dinginnya.
Kaira hanya menurut, pernyataan tiba tiba Faris belum bisa ia cerna.Tapi hatinya terasa penuh dan ada sesuatu yang membuatnya begitu bahagia saat ini.
"Masuklah...kita meeting satu jam lagi di luar",ujar Faris lalu meninggalkan Kaira yang masih mematung menatap kepergiannya.
Kaira tersenyum tipis seiring detak jantungnya yang masih bertalu-talu.Ia memang belum menjawab pernyataan Faris karena entah mengapa ia tak bisa berkata apa apa.Semua mendadak dan terjadi begitu saja, membuatnya tak bisa langsung menjawab.Meski sebenarnya rasa itu sudah ada sejak lama namun berusaha ia tepis karena dulunya pria itu mencinta wanita lain.
"Ra...kamu kenapa?", seseorang menyentuh pundaknya.
"Eh...Kakak baru datang?",tanya Kaira pada orang itu yang tak lain adalah Kalen.
"Hmmm,ada apa?",ujar Kalen menatap sang adik penuh selidik.
"Gak apa apa kok Kak",kilah Kaira tersenyum tipis.
"Masuklah ke ruanganmu!",ujar Kalen melangkah meninggalkan sang adik yang tampak menghembuskan nafas beratnya.
Kaira memasuki ruangannya dan duduk di kursinya.Ia menyalakan komputer dihadapannya.
Tok tok tok
"Masuk!",seru Kaira.
Pintu ruangannya terbuka nampak seorang OB yang membawa nampan berisi makanan.Kaira terkesiap karena ia belum memesan apapun.
"Maaf Mbak, apakah gak salah orang nih?",tanya Kaira pada OB yang menata makan diatas meja kerjanya.
"Tidak Buk,tadi ada Mas Mas ganteng yang memesankannya",jawab OB itu ramah.
__ADS_1
"Mas Mas ganteng?",gumam Kaira yang pikiran tertuju lagi pada seseorang tapi segera ia tepis.
"Apakah karyawan disini juga Mbak?",tanya Kaira.
OB itu tersenyum tipis."Iya, ruangannya kalau gak salah di sebelah kanan ruangan Ibuk",jawab OB itu.
"Saya permisi dulu Buk, selamat menikmati",ujar OB itu diangguki Kaira.
Ting
Mas Faris
**Apakah sarapannya sudah sampai,makanlah dulu sebelum kita berangkat meeting**.
Semburat senyuman terbit di bibir tipis gadis itu,lalu jari lincahnya mengetik sebuah balasan untuk Faris.
[Sudah Mas.Terimakasih Mas, sarapannya]
Kaira menatap bubur ayam yang ada dihadapannya dengan tersenyum tipis lalu mulai memakannya.
Ting
Mas Faris
Kaira melanjutkan makannya karena waktunya tinggal sedikit sebelum berangkat meeting.
Diruangannya Faris tampak mengusap kasar wajahnya.Kejadian tadi lagi di lobi serta di lift masih membayang diingatannya.Kaira yang mendapatkan kiriman bunga dari seseorang dan pernyataan perasaannya yang belum dibalas Kaira menjadi satu asumsi baginya jika Kaira tak memiliki perasaan apapun padanya.
Faris menatap foto Kaira yang ia ambil diam diam.Pria itu mendesah pelan lalu bangkit dari duduknya dan mengambil berkas yang ia siapkan dari kemarin untuk keperluan meeting pagi ini dengan salah satu kolega Kalen.Ia membaca ulang jika ada yang kurang untuk mengalihkan pikirannya yang saat ini masih tertuju pada Kaira.
Satu jam berlalu kini Kaira dan Faris sudah berada di dalam mobil untuk meeting disalah satu restoran yang sudah ditentukan oleh kliennya.
Keduanya tampak canggung dan hanya saling diam.Hanya suara musik yang terdengar menemani perjalanan mereka.
"Kai...",ujar Faris dengan suara yang terdengar tercekat.
"Ya...", lirih Kaira.
"Untuk kejadian di lift tadi pagi,kamu sudah memiliki jawabannya.Maaf bukan maksudku mendesakmu.Jika memang tak ada rasa untukku aku akan mundur secara perlahan",ujar Faris.Ia ingin memastikan semuanya dan tidak ingin lagi gagal.
__ADS_1
"Mas....a-aku--akui aku nyaman sama kamu,maaf aku tidak bisa--
"Oke...aku mundur",ujar Faris.
"Kok kamu ngomong seperti itu sih Mas, aku belum menyelesaikan kalimatku tapi kamu udah main potong saja", kesal Kaira.
"Kamu nolak kan?",tanya Faris.
"Huffhhh... dengarkan kalimat aku sampai selesai Mas",jawab Kaira.
"Ya... silahkan lanjutkan kalimatmu itu",ujar Faris.
"Maksud aku itu aku tidak bisa menolak karena aku juga cinta sama kamu Mas",jawab Kaira.
Citt....
Faris mengerem mendadak laju mobilnya dan menatap Kaira yang terlihat kaget.
"Kamu apa apaan sih Mas, ngerem mendadak kayak gini",gerutu Kaira.
"Kamu ngomong apa barusan?",tanya Faris.
"Aku tak akan mengulangi ucapanku ya Mas",jawab Kaira.
Faris tersenyum lebar dan menangkup pipi Kaira dengan kedua tangannya."Soriusly?", lirih Faris diangguki Kaira.
"Terimakasih...",ujar Faris memeluk Kaira dengan begitu erat.
"Mas...kita bisa telat ini", Kaira berusaha melepaskan pelukan Faris.
"Ah iya,maaf.Kita lanjutkan perjalanannya sekarang",ujar Faris dengan bibir tersenyum lebar lalu melajukan kembali mobilnya.
Kaira mengggeleng pelan melihat kelakuan Faris, tapi tak lama kemudian ia tersenyum.
"Kita sepasang kekasih sekarang?",tanya Faris.
"Ya ...", angguk Kaira.
"Yes...",gumam Faris.
__ADS_1
...****************...
Selamat ya Faris....