Cinta Tuan Dokter Yang Posesif

Cinta Tuan Dokter Yang Posesif
Lamaran


__ADS_3

"Kai ada yang mau di tambah gak nih hantaran lamarannya?",tanya Marisa pada putra keduanya itu yang sebentar lagi akan melamar gadis pujaannya.


Kaisan melihat satu persatu hantaran yang di siapkan oleh Mamanya."Semuanya kayaknya udah lengkap deh Ma",jawab Kaisan.


"Kakak gak mau nambahin uang gitu,kan sekarang viral tuh pengantin wanita dilamar dengan jumlah uang yang fantastis",ujar Kaira.


"Gak Ra,kalau uang mah, semua uang Kakak nanti juga milik Mika,buat apa ngikutin kayak begituan", jawab Kaisan.


"Oh..."


"Kai...pakaikan ini dihari pernikahan kamu pada Mika",ujar Tuan Wiliam memberikan sebuah kalung pada Kaisan.


"Kek ini bukannya--


"Ya itu milik Nenek kamu, perhiasan yang akan diberikan turun temurun pada menantu wanita dikeluarga kita.Dulu Dea Kakek berikan cincin yang diberikan Mama kamu padanya.Sekarang kalung ini untuk cucu menantu kedua Kakek",jawab Tuan Wiliam.


"Terimakasih Kek,Kakek mau menerima pilihan Kai",ujar Kaisan memeluk Tuan Wiliam.


"Dia gadis yang baik,jadi tak ada alasan untuk Kakek melarang kalian menikah",jawab Tuan Wiliam.


"Ya Kek..."


"Satu pesan Kakek, perlakukan kelak istrimu layaknya ratu dihidupmu maka rezekimu akan mengalir bagaikan air yang mengalir.Jangan sesekali melakukan kekerasan dalam ruangan tanggamu.Jika dia salah ingatkan dia dan bimbing dia karena itu kewajiban kamu suami nantinya",ujar Tuan Wiliam.


"Ya Kek...Kai akan selalu ingat pesan Kakek",jawab Kaisan.


"Kau kamu yakin menyelesaikan Coas dulu baru menikah?",tanya Rendra.


"Ya Pa... kenapa memangnya Pa?", tanya Kaisan.


"Gak Papa hanya takut saja nantinya jika jarak lamaran dan pernikahan terlalu jauh akan ada pihak ketiga yang berusaha memisahkan kalian.Bagaimana jika pernikahan kamu dan Mika dilangsungkan dua minggu lagi.Asal kamu bisa mengimbangi Coas kamu dengan rumah tangga apa salahnya",ujar Rendra.


"Papa kamu benar Kai, yang baik itu sebaiknya di segerakan", sambung Marisa.


Kaisan tampak menimbang usulan dari kedua orangtuanya."Ya Kai ikut Papa saja",jawab Kaisan pada akhirnya..


"Bagus itu Kai,kamu gak tau kan seberapa banyak pria yang juga menyukai Mika dan juga kamu gak tau seberapa banyak juga wanita yang ingin menjadi kekasihmu.Papa hanya tak ingin mereka nantinya mengusik kalian",ujar Rendra.


"Ya Pa..."


"Oh ya Ma...tolong pasangkan ini pada Mika nantinya",ujar Kaisan memberikan sebuah kotak beludru pada Marisa.

__ADS_1


Marisa membuka kotak itu tampak sebuah cincin bermatakan berlian yang begitu sangat indah.


"Itu pengikat saja Ma,aku ingin saat lamaran nanti Mika memakainya", sambung Kaisan.


"Baiklah...akan Mama pasangkan",jawab Marisa menutup kembali kotak cincin itu dengan senyuman merekah.


***


"Kai...ayo buruan!", teriak Marisa dari lantai bawah.


"Iya Ma...",balas Kaisan.


"Kai belum juga turun Ma?", tanya Rendra pada sang istri.


"Belum Mas,aku takut kita telat ini",jawab Marisa yang tak tampak gelisah.


"Biar aku panggilkan Kak Kai nya Ma",ujar Kaira.


"Ya...tolong ya Nak,Mama takut macet dijalan yang mengakibatkan nantinya kita telat",jawab Merisa.


"Macet dari mananya Ma,kita ke kampung loh itu",ujar Rendra.


"Ya dikampung itu gak macet Mas,tapi sebelum kesana,kamu tau sendiri dikota ini jalanan sangat macet",jawab Marisa.


"Maaf Ma...aku kesiangan bangunnya",ujar Kaisan.


"Akibat telponan sama Mika nih kamu semalaman", gerutu Marisa.


"Hehehehe...",Kaisan hanya cengengesan karena apa yang dikatakan Mamanya Itu benar adanya.


"Ayo...nanti kita telat",ujar Rendra.


"Kamu Kalen mana Ma?",tanya Kaisan tak melihat keberadaan Kakaknya itu.


"Kalen nunggu di sana aja Kai", jawab Marisa.


"Oh..."


Mereka berangkat dengan dua mobil menuju kediaman Mika.Kaisan di sopiri Pak Abdul beserta Kaira dan Kakek.Sedangkan kedua orangtuanya satu mobil bersama hantaran yang akan diberikan nantinya pada keluarga calon mempelai wanita dan juga tiga orang pelayan yang ikut serta untuk meramaikan.


"Kak..."

__ADS_1


"Ya..."


"Kakak jika udah nikah nanti tetap tinggal dirumah kita kan?", tanya Kaira.


"Sepertinya tidak Ra,karena Kakak udah membeli rumah untuk Kakak tempati nanti dengan Mika",jawab Kaisan.


"Yah...aku akan seperti anak tunggal dong dirumah", keluh Kaira.


"Kakak beli rumah gak jauh dari rumah kita Ra,kamu masih bisa datang dari nginap disana",jawab Kaisan.


Tak lama mobil mereka sampai dikediaman Mika, tampak rumah sederhana itu dipenuhi oleh warga setempat yang ingin melihat lamaran Mika.


Tampak juga Kalen yang sudah lebih dulu sampai menggendong sang putri Rania.Juga Dea yang tampak cantik dengan kebaya berwarna peace membalut tubuh indahnya.


Pak Abdul dibantu beberapa tiga orang pelayan membawa hantaran yang akan diserahkan pada Mika.


"Ma..."


"Sayang...Rania bagaimana?",tanya Marisa saat dihampiri sang menantu kesayangannya itu.


"Udah baikan Ma",jawab Dea.


"Ty...ty...",oceh di kecil Rania saat melihat Kaira yang datang menghampirinya.


"Hai keponakan lucu Aunty",sapa Kaira mencubit gemas pipi cubby Rania.


"Ty...ndong",oceh bocah itu dengan logat lucu khas anak kecil.


Kaira mengambil tubuh kecil Rania dari gendongan sang Kakak.


"Pegangin Rania bentar ya Ra",ujar Kalen.


"Oke Kak",jawab Kaira mencium gemas pipi Rania.


Acara lamaran berlangsung lancar,Mika tampak sangat cantik dengan kebaya berwarna maroon.Bahkan Kaisan tampak tak berkedip melihat kecantikan calon istrinya itu.


Marissa menyematkan cincin yang diberikan Kaisan kemarin ke jari manis Mika sebagai bentuk pengikat kedua sebelum pernikahan.


Semua orang tampak begitu bahagia dengan lamaran keduanya.Namun tidak dengan seseorang yang berdiri dari kejauhan menatap dengan tatapan kekecewaan.


"Semoga kamu bahagia Mika", gumamnya lalu pergi meninggalkan kediaman Mika membawa luka hatinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2