
"Apa kalian lupa jalan pulang?",tanya Marisa menatap anak menantunya yang satu hari yang lalu pamit untuk keluar untuk menemani sang istri yang ingin makan diluar malah baru muncul hari ini.Beruntung ia menghubungi orang kepercayaan suaminya untuk melacak keberadaan keduanya dan mengatakan jika mereka ada di sebuah Villa.
"Ma...maafkan kami,kemarin terjadi sesuatu hingga aku mengajak Mika pergi ke Villanya Kak Kalen",jawab Kaisan.
"Aku sudah menghubungi Kak Kalen jika tidak pulang, apakah Kak Kalen tidak memberitahukannya pada Mama?", timpal Kaisan.
Marisa menatap anak sulungnya yang sedang menggendong Rania.
"Aku lupa Ma",jawab Kalen enteng membuat Marisa menghembuskan nafas panjang.
"Tidak terjadi sesuatu yang membuat menantu sama calon cucu Mama dalam bahaya kan?",tanya Marisa mengusap perut buncit Mika.
"Tidak Ma..aku dan calon cucu Mama baik baik saja",jawab Mika.
"Syukurlah...",jawab Marisa.
"Mana Kaira Ma?, katanya sudah pulang", tanya Kaisan.
"Lagi di kamarnya, mungkin pecking karena mereka akan tinggal di apartemen Faris",jawab Marisa.
"Oh..."
"Oh ya Kai,kapan kamu siap untuk memimpin rumah sakit",tanya Rendra.
"Aku tidak tertarik Pa,minta Kak Kalen lagi saja",jawab Kaisan.
"Aku fokus pada perusahaanku saat ini Kai,aku tak ingin lagi bekerja di bawah tekanan.Lagian klinikku satu bulan lagi akan di buka", balas Kalen yang membuka klinik tak jauh dari rumahnya.
"Hufffhh...jika tidak ada dari salah satu kalian,lalu siapa yang akan memimpin rumah sakit?.Kakek kalian kesehatannya sudah semakin menurun",ujar Rendra.
"Kenapa tidak Papa saja",usul Kaisan.
"Lalu bagaimana dengan perusahaaan Papa,hm?. Dulu Papa pikir Faris yang akan menggantikan Papa di perusahaan tapi Faris ingin berdiri di kakinya sendiri,lalu Papa bisa apa?",jawab Rendra.
"Coba dulu saja Mas,benar kata Papa kasihan Kakek udah sepuh masih mengurus rumah sakit", timpal Mika.
"Hufffhh...akan aku pikirkan Pa",jawab Kaisan membuat Rendra tersenyum tipis.Meski masih abu abu tapi ia yakin dengan dorongan menantunya anaknya akan berubah pikiran.
"Sayang...Mas kan sudah bilang tidak usah membawa apapun dari sini karena semuanya sudah ada di apartemen",ujar Faris saat Kaira ngotot membawa beberapa barang pribadinya.
"Tapi aku ingin membawanya Mas,ini semua pakaian favoritku",kekeuh Kaira.
"No...Mas tidak mengizinkanmu memakai pakaian itu lagi.Semua pakaian itu kebanyakan terbuka sayang.Mas gak rela keindahan tubuh kamu dinikmati pria lain",ujar Faris.
Semua orang terpaku mendengar perdebatan tak penting pengantin baru itu.Marisa yang bisa membaca inti permasalahan anak menantunya itu mengggeleng pelan.
"Tapi--
__ADS_1
"Kaira...ikuti keinginan suami kamu sayang",ujar Marisa.
"Ma..aku hanya--
"Ra...ikut Mama sebentar",ujar Marisa.
"Maafkan Mama Ris,biar Mama yang bicara sama Kaira",ujar Marisa pada menantunya itu.Bukan maksudnya ikut campur tapi putrinya masih terlalu belia untuk menjalani rumah tangga.Apalagi Kaira yang terbiasa manja membuat wanita itu keras kepala.
"Ya Ma...",jawab Faris.
Dan disinilah Kaira saat ini duduk dihadapan Mamanya.Bukan maksud ikut campur tapi ia harus memberikan sedikit wejangan pada putrinya ini terkait rumah tangga putrinya itu.
"Ra...kamu itu seorang istri sekarang, dimana kamu harus patuh pada semua ucapan suami kamu selama di jalan yang benar.Masalah pakaian,Mama rasa kamu harus mengubah cara berpakaian kamu nak",ujar Marisa lembut.
"Ma... aku hanya membawa pakaian--
"Kamu harus ingat jangan sampai kejadian dulu terulang lagi.Jadilah istri yang penurut sebelum suami kamu jengah dengan kelakuan kamu dan kamu akan kehilangan semua yang ada pada dirinya",ujar Marisa.
"Iya Ma...aku salah",aku Kaira.
"Minta maaf sama suami kamu, tinggalkan semua barang barang tak berguna itu disini",ujar Marisa.
"Satu lagi...jangan pernah meninggikan suara kamu pada suami kamu seperti tadi.Mama tau tak seharusnya Mama ikut campur tapi Mama tidak ingin kamu salah dalam berprilaku.Manjalah pada tempatnya Nak", sambung Marisa.
"Iya...Ma",jawab Kaira.
"Ya...",jawab Kaira memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.
Kaira kembali ke ruang tengah dimana semua orang berada.Tampak suaminya itu menoleh padanya dan tersenyum tipis.Wanita itu berlari dan berhamburan memeluk sang suami.
"Mas...maafkan aku sudah bicara tidak sopan sama kamu"lirih Kaira.
"Ya... Mas maafkan",jawab Faris.
"Jangan diulangi lagi,oke",ujar Faris mengurai pelukannya lalu mencubit gemas hidung Kaira.
"Insyaallah..",jawab Kaira.
Semua orang yang menyaksikan itu tersenyum lebar.Kecuali Kalen yang hanya berwajah datar saja.
"Mas...ayo pulang",ujar Kaira mengambil koper berisi buku buku pelajarannya.
"Koper kamu yang itu?",tunjuk Faris.
"Gak jadi di bawa",jawab Kaira.
Keduanya pamit pada semua orang untuk pulang ke apartemen Faris karena Arita,Mama Faris sudah menunggu mereka.
__ADS_1
***
"Mas kamu kenapa?",tanya Mika yang saat ini duduk dibibir ranjang menatap suaminya yang diam saja dari tadi.
"Tidak ada apa apa sayang",jawab Kaisan.
"Kamu dan Faris masih terlihat kaku,apa itu hanya perasaan aku saja Mas",ujar Mika.
"Lalu aku harus apa sayang?",tanya Kaisan.
"Ajak ngobrol kek,ini duduk bersebelahan kayak orang asing saja.Kalian iparan loh",jawab Mika.
"Malas saja",jawab Kaisan.
"Mas...kamu kenapa sih?,Faris aja udah move on,malah kelihatan bucin sama adik kamu.Masa kamu masih saja anggap dia--
"Jadi kamu tadi memperhatikan pria itu?",tanya Kaisan.
"Mas...kamu--
"Kamu sebenarnya cinta sama--
"Cukup Mas.Cemburu kamu tidak beralasan tau gak.Aku hanya ingin kamu dan Faris itu akur kayak Kak Kalen ke Faris Mas.Hanya itu",jawab Mika yang emosinya terpantik.
"Jangan menyebut namanya dihadapanku sayang",ujar Kaisan.
"Aku heran sama kamu Mas.Apasih sebenarnya yang kamu takutkan,hm?.Aku memilih kamu Mas dan dia dengan lapang dada menerima penolakan dariku karena aku murni menganggapnya sahabat,gak lebih.Tapi kamu membesar-besarkan masalah",jawab Mika.
"Sayang tahan emosi kamu,ingat kamu lagi hamil",ujar Kaisan memeluk sang istri dari samping untuk menenangkan wanitanya itu.
Mika tak menjawab,dia masih kesal dengan suaminya ini yang mengatakan jika ia menyukai Faris.Faris hanya sekedar sahabat dan tidak lebih baginya.
"Lepas Mas!",ujar Mika.
"Maafkan aku", bisik Kaisan tanpa melepaskan pelukannya.
Mika tidak bergeming,wanita itu hanya diam membiarkan suaminya itu memeluknya.
"Aku salah,maafkan aku sayang.Aku tadi terbawa emosi.Aku akui aku takut kamu berpaling dari aku dan--
"Mas...aku hamil anak kita, apalagi sih yang kamu takutkan?",tanya Mika dengan wajah sebalnya.Semenjak hamil Mika tidak bisa mengontrol emosinya dan Kaisan tau itu.
"Iya...maaf aku ya",jawab Kaisan.
"Hmmmm",jawab Mika berdehem pelan.
...****************...
__ADS_1