Cinta Tuan Dokter Yang Posesif

Cinta Tuan Dokter Yang Posesif
Konsultasi kehamilan


__ADS_3

"Apa sayang?",tanya Faris mendekati sang istri.


"Aku kesal sama kamu Mas,katanya mau jemput tapi kamu gak ada kirim sopir untuk jemput aku",ujar Kaira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sayang...Mas tadi meeting dan belum sempat menghubungi sopir untuk jemput kamu.Maafkan Mas ya",ujar Faris meraih tangan sang istri.


"Harusnya jika Mas gak bisa jemput gak usah bilang untuk jemput.Aku gak mengharapkan untuk dijemput Mas",jawab Kaira.


"Sayangnya Mas.Oke Mas salah.Mas minta maaf ya",ujar Faris membawa sang istri kedalam pelukannya.


"Aku udah capek nunggu di depan apartemen.Nomor Mas gak bisa dihubungi", lirih Kaira menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Sayang...jangan nangis begini.Mas makin merasa bersalah jadinya", ucap Faris mengecup pucuk kepala sang istri.


"Mas--


"Sudah sayang...jangan menangis!",ucap Faris lembut.


"Kamu maunya gimana agar kamu bisa memaafkan Mas",ujar Faris mengurai pelukannya.


"Gak tau...",geleng Kaira.


Faris mengusap lembut sisa air mata di pipi. sang istri."Kamu tau,Mas merasa menjadi suami buruk karena membuat kamu menangis seperti ini",ujar Faris menangkup pipi sang istri.


"Mau berangkat sekarang atau nanti?",tanya Faris.


"Sekarang aja Mas",jawab Kaira dengan suara serak.


"Kenapa kamu jadi cengeng begini,hm?",tanya Faris.


"Gak tau Mas,sedih saja rasanya kamu melupakan janji kamu ke aku",jawab Kaira.


"Sekarang masih sedih?",tanya Faris.

__ADS_1


"Sudah enggak", geleng Kaira.


Cup


"Mas sayang kamu", ucap Faris setelah melabuhkan kecupan di bibir Kaira.


"Kemeja kamu basah sama air mata aku Mas",ujar Kaira.


"Gak apa apa sayang",jawab Faris menggenggam tangan sang istri keluar dari ruangannya.


"Geo...saya pergi dulu, mungkin gak balik lagi.Semuanya saya percayakan pada kamu",ujar Faris pada sekretarisnya itu saat keluar dari ruangannya.


"Iya Pak",jawab Geovano.


Faris meninggalkan perusahaanya menuju rumah sakit untuk mengecek kandungan sang istri.Ia berharap baik baik saja,jika nantinya mereka tak bisa melakukan perjalanan jauh maka kemungkinan mereka tidak akan hadir dalam acara tujuh bulanan sahabatnya itu.Kaira dan calon anaknya lebih penting dari segalanya.


"Mas semoga aku bisa melakukan perjalanan jauh ya",ujar Kaira.


"Jika gak bisa pun tak apa yang,kamu dan calon anak kita jauh lebih penting",jawab Faris menggengam tangan sang istri.


"Kita lihat nanti hasilnya dulu sayang",ujar Faris.


"Iya Mas...",angguk Kaira.


Tak lama mobil mereka sampai dirumah sakit terbaik di kota itu.Keduanya langsung menuju poli obgyn karena sudah membuat janji dengan dokter kandungan yang dulu menangani Dea.


"Selamat datang Kaira",ujar Dokter Martin.


"Ya Dok...", jawab Kaira yang cukup mengenal Dokter Martin yang merupakan teman Kakaknya.


"Silahkan duduk!",ujar Dokter Martin.


"Iya...",jawab Kaira.

__ADS_1


"Ayo duduk Mas",ucap Kaira pada Faris yang terlihat kesal karena dokter itu hanya menyapa istrinya saja.


"Ada keluhan?",tanya Dokter Martin.


"Gak sih Dok,hanya mau periksa karena besok mau ke rumah Mama di kota xxx takutnya terjadi sesuatu nantinya karena melakukan perjalanan jauh",jawab Kaira.


"Pernah UGS?",tanya Dokter Martin.


"Sudah Dok,ini rekaman medisnya yang dulu",ujar Kaira memberikan sebuah buku pada Dokter Martin.


"Silahkan berbaring dulu",ujar Dokter Martin.


"Sus,tolong bantu Nyonya ini untuk--


"Biar saya saja",ujar Faris berdiri dari duduknya lalu membantu sang istri untuk berbaring.


Dokter Martin memeriksa keadaan Kaira dengan menyeluruh.Kemudian kembali duduk di meja kerjanya.


"Bagaimana Dok?", tanya Kaira turun dari ranjang dibantu Faris lalu duduk dihadapan Dokter Martin.


"Cukup bagus,kamu bisa melakukan perjalanan jauh",ujar Dokter Martin.


"Benarkah Dok?",tanya Kaira.


"Dokter yakin?,saya tidak main terjadi hal buruk dengan calon anak saya", tanya Faris.


"Iya... kandungannya cukup kuat,tapi pastikan Kaira nantinya duduk dengan nyaman dan jangan mengemudi dengan kecepatan tinggi",ujar Dokter Martin.


"Baiklah Dok,kami permisi dulu",jawab Kaira.


"Silahkan!",jawab Dokter Martin.


Dokter Martin menggeleng pelan melihat sikap dingin adik ipar dari sahabatnya itu setelah kepergian keduanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2