God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Kembalinya Dewa Api Phoniex, Kaisar Sun Quan.


__ADS_3

Bab 100. Kembalinya Dewa Api Phoniex, Kaisar Sun Quan.


Setelah mengetahui mesin waktu yang berukuran besar, Dewa Binatang akhirnya tahu kenapa Dewa Api Phoniex tidak membawanya.


Setelah melihat keseluruhan ruang ketujuh, Dewa Binatang meminta kepada Yuna Aurora dan Yuke untuk mematikan fusi nuklir. Kedua istrinya segera keluar dari Dunia Jiwa, mereka juga menggunakan Teknik Perubahan Wujud agar tidak diketahui oleh Roboman teknisi.


Karena keahliannya dalam program komputer dan sistem apapun, Yuna Aurora dan Yuke dengan mudah mengganti sandi pengoperasian fusi nuklir.


"Aku akan jadikan ini sebagai bom waktu," rencana Yuna Aurora kepada Yuke.


Sedangkan Dewa Binatang, saat ini berada di depan mesin waktu sambil berpikir. Dia berencana akan menggunakan mesin itu untuk mengetahui masa depan setelah terjadinya Peperangan Global.


Yang menjadi pertanyaan besar dihatinya, apakah mesin waktu ini bermasalah atau tidak? Jika bermasalah, ketika digunakan nanti dia khawatir akan tersesat di masa lampau, atau bisa jadi tersesat di masa depan.


"Kita akan periksa mesin waktu ini rusak atau tidak..," kata Yuna Aurora yang telah berhasil mengendalikan fusi nuklir, "dulu aku juga pernah membuatnya. Namun ada kesalahan dalam perhitungan algoritma sistem pada kecepatan cahaya, sehingga objek uji coba terdampar di kehampaan. Hingga saat ini, objek itu tidak diketemukan!" lanjutnya dengan menceritakan mesin waktu yang pernah dibuatnya.


"Apakah menurutmu mesin waktu ini pernah digunakan atau sebaliknya?" tanya Dewa Binatang yang tidak paham.


"Aku periksa dulu sistemnya." Yuna Aurora belum bisa menjawab karena perlu pemeriksaan terlebih dahulu.


Dewa Binatang mengikutinya yang berjalan menuju panel komputer yang terlihat jadul. Yuke yang telah selesai merubah sistem fusi nuklir segera bergabung dengan suaminya.


Setelah fusi nuklir disabotase, seluruh Roboman yang tidak lagi mendapatkan suplai energi fusi nuklir dan dinonaktifkan sistemnya, menjadi diam seperti patung.


Dewa Binatang yang tahu segera mengeluarkan semua istrinya untuk mengambil semua harta milik Dewa Api Phoniex. Tian She Meili tidak ketinggalan, di mana setelah keluar dari dalam Dunia Jiwa ikut bersenang-senang sambil memakan akar-akar ginseng milik Kaisar Ginseng.


Dewa Binatang tersenyum melihat putrinya yang berhasil menyiksa Kaisar Ginseng, lalu dia kembali fokus melihat Yuna Aurora yang sedang mengotak-atik komputer mesin waktu.


Seluruh harta milik Dewa Api Phoniex telah berpindah tangan, yang mana semua istri Dewa Binatang tidak meninggalkan apapun di ruang harta. Saat ini hanya tinggal ruang yang kosong...


"Mesin ini sudah digunakan sebanyak tiga kali, tetapi yang ketiga kalinya mengalami kegagalan karena kekurangan energi listrik, dan membuat mesin ini rusak!" terang Yuna Aurora setelah pemeriksaan.


"Apakah kamu ingin membawa mesin waktu ini?" tanya Tian Lihua yang tidak ikut menjarah harta milik Dewa Api Phoniex. Ia tidak sendirian, ada 30 saudarinya yang tidak ikut dalam kesenangan.


"Iya, mesin ini masih banyak kegunaannya untuk masa depan. Biar Veno yang memodifikasinya agar bisa dioperasikan secara maksimal... Aku tidak ingin terjadi kendala kemudian hari!" jawab Dewa Binatang.


Kemudian, Dewa Binatang mengeluarkan energi kekuatan jiwa untuk memasukkan mesin waktu ke dalam Dunia Jiwa. Setelah beberapa saat, ruang ketujuh menyisakan 12 buah fusi nuklir.


Fusi nuklir itu seperti bom nuklir yang sewaktu-waktu bisa diledakkan. Rencana Yuna Aurora, ketika Dewa Api Phoniex kembali untuk mengambil hartanya, saat itu fusi nuklir akan diledakkan oleh Bao Yaoyao sebagai bentuk balas dendam.


Setelah mengambil harta milik Dewa Api Phoniex, semua istri dari Dewa Binatang kembali ke dalam Dunia Jiwa. Tidak ingin berlama-lama di ruang harta, Dewa Binatang sambil menggendong putrinya melesat ke arah pintu pertama.


Di luar ruang harta, Ruan Fei dengan setia menunggu sambil berkultivasi di depan pintu. Kemunculan Dewa Binatang sedikit mengejutkannya.


"Bagaimana, Yang Mulia?" tanya Ruan Fei setelah berdiri.


"Sudah beres. Saat ini, di dalam hanya ada ruang kosong!" jawab Dewa Binatang sambil menepuk-nepuk bahu kiri Ruan Fei, "perintahkan rekan-rekanmu untuk kembali melakukan tugasnya yang sempat tertunda. Sedangkan kamu, tetap dampingi Lei Jihan dan ibunya. Dalam dua hari lagi, kamu bawa mereka ke markas sementara!" perintahnya.


Ruan Fei tersenyum bahagia karena pemimpinnya berprilaku layaknya seorang sahabat baginya. Semenjak mengikuti Dewa Binatang, dia tidak sedikitpun kekurangan, bahkan apa yang didapatkannya berlebihan. Oleh karena itu, dia tidak peduli dengan harta milik Dewa Api Phoniex.

__ADS_1


"Laksanakan, Yang Mulia."


Kemudian, Dewa Binatang yang masih menggendong putrinya keluar dari gua bersama Ruan Fei, dia bergegas menuju ke markas sementara di Pegunungan Larswood...


Dengan bantuan dari Putri Liangyi dan seluruh anggota Gedung Harta Langka, tugas dari 100 pasukan khusus Kekaisaran Dewa Binatang lebih mudah untuk merekrut banyak penghuni Galaksi Arcadia...


...****************...


Hari berikutnya, setelah Dewa Binatang mengosongkan harta milik Dewa Api Phoniex.


Mao Zedong, Raja Genjo, Putri Mao Yu Jie dan 5.000 ribu prajurit telah memasuki wilayah Kota Chu. Mao Zedong sengaja melewati wilayah Kota Chu dikarenakan Duke Manchu telah tewas, dan dia juga tahu jika Raja Guang tidak berada di istana.


Sengaja Mao Zedong membuat ketakutan penduduk Kota Chu karena ingin menguasai wilayah ini, tetapi dia tidak berani masuk ke Kota Chu karena satu orang, yang tidak lain adalah Sha Meyleen pemimpin Gedung Harta Langka.


Dan memang benar saja, saat ini penduduk Kota Chu ketakutan melihat ribuan pasukan Kerajaan Matahari Terbit. Sha Meyleen bergegas keluar dari Gedung Harta Langka untuk mengawasi Mao Zedong dan rombongannya. Kehadirannya membuat pendukung Kota Chu sedikit merasa lega.


Melihat arah tujuan Mao Zedong, Sha Meyleen tersenyum tipis, ia sudah menebak jika Lembah Arwah merupakan lokasi yang ditunjukkan peta kuno.


"Berarti mereka sudah memiliki bagian kedua dari peta kuno?" tebakan Gong Fang yang ikut mengawasi Mao Zedong.


Selain kedua wanita terkenal itu, Chou Chen dan seluruh anggota Gedung Harta Langka juga mengikutinya, ikut mengawasi Mao Zedong dan rombongannya.


"Tetapi belum tentu mendapatkan harta itu," kata Sha Meyleen tanpa mengalihkan pandangan ke arah Mao Zedong.


"Jika tebakanku tidak salah, beliau dan istrinya sudah terlebih dahulu mendapatkannya!" ujar Gong Fang yang sedang membicarakan Dewa Binatang.


"Sudah berapa banyak orang yang bergabung dengan beliau?" tanya Sha Meyleen kepada semua anggotanya.


"Dengan nama beliau dan kita, banyak orang yang sudah berangkat ke Pegunungan Larswood. Kemungkinan besar keesokan harinya mereka telah tiba!" jawab Chou Chen.


Sha Meyleen mengangguk sebagai jawaban, lalu ia berkata dengan penuh semangat, "kalian semua segera bersiap-siap jika tidak ingin terlibat dalam kekacauan yang akan segera terjadi. Aku tidak akan berpikir ulang untuk mengikuti beliau. Aku dan seluruh keluargaku sudah siap untuk bersama dengan beliau!"


"Aku sudah berkomunikasi dengan keluarga, tetapi kebanyakan dari marga Gong tetap tinggal di Kerajaan Arcadia. Mereka beranggapan bahwa Dewa Binatang tidak mungkin datang ke tempat ini. Untung saja ayah, ibu dan saudara-saudaraku percaya, dan mereka mengikutiku!" terang Gong Fang yang sudah siap meninggalkan Galaksi Arcadia.


Chou Chen dan seluruh anggotanya juga mengikuti pemimpinnya, namun sebagian keluarga mereka memiliki tetap tinggal di Galaksi Arcadia.


Ketika Sha Meyleen berbicara, rombongan Mao Zedong sudah tidak lagi terlihat. Saat ini mereka telah memasuki wilayah Lembah Arwah...


Setelah beberapa waktu, Mao Zedong dan rombongannya masuk ke dalam gua sesuai petunjuk dari peta kuno. Dengan Pedang Penguasa Api sebagai kunci membuka ruang harta milik Dewa Api Phoniex, pintu pertama terbuka.


Saat Mao Zedong dan rombongannya masuk ke ruang harta dengan kewaspadaan tinggi, mereka terkejut karena tidak terjadi sesuatu. Dengan segera Mao Zedong, Putri Yu Jie dan Raja Genjo memeriksa setiap ruangan. Hasilnya, tidak ada satupun harta peninggalan Dewa Api Phoniex.


"Sial, sudah ada yang mengambilnya!?" kemarahan Mao Zedong saat melihat jejak peti harta yang telah diambil oleh istri Dewa Binatang.


Putri Yu Jie berteriak keras karena marah melihat ruangan lain yang telah kosong, hanya ada jejak tempat peti harta. Lalu disusul teriakkan kemarahan Raja Genjo yang juga melihat jejak peti harta yang masih baru.


Satu per satu semua orang mengumpat berkali-kali karena tidak mendapat apapun. Kemudian, Mao Zedong bergegas menuju ke ruang kedua dan hasilnya sama. Ruang kedua juga kosong dan tinggal jejak peti harta...


Setelah Mao Zedong dan rombongannya berada di ruang harta keempat, datang Dewa Api Phoniex bersama Raja Guang beserta pejabat istana. Reaksi Dewa Api Phoniex juga sama ketika melihat ruang hartanya yang telah diambil.

__ADS_1


Lalu beberapa prajurit iblis melihat kedatangan Dewa Api Phoniex, mereka segera menyerang tanpa bertanya terlebih dahulu. Dewa Api Phoniex yang marah, segera membunuh prajurit iblis dengan mudahnya.


"Pasti sudah diambil oleh Mao Zedong!?" tuduhan Dewa Api Phoniex.


Karena Mao Zedong memiliki peta kuno, sudah dipastikan menjadi tersangka utama.


Dengan kemarahan yang meluap-luap, Dewa Api Phoniex bergegas menyusul Mao Zedong. Mereka pun bertemu di ruang kelima, tempat padang gurun.


Mao Zedong dan rombongannya tidak kenal dengan sosok Dewa Api Phoniex, hanya kenal dengan Raja Guang dan rombongan.


"Kembalikan milikku!" bentakan keras Dewa Api Phoniex saat berhadapan dengan Mao Zedong.


"Siapa kau?" tanya Mao Zedong yang tidak kenal dengannya.


"Bodoh, akulah Dewa Api Phoniex, Kaisar Sun Quan, pemilik tempat ini! Cepat serahkan milikku!?" bentakan Dewa Api Phoniex sambil menatap tajam ke arah Mao Zedong.


Sontak membuat Mao Zedong dan rombongannya terkejut bukan main karena pengakuan dari Dewa Api Phoniex. Secara naluri yang ketakutan, Mao Zedong berjalan mundur dan diikuti oleh rombongannya.


Dengan sekuat hati dan juga tidak mendapatkan harta milik Dewa Api Phoniex, Mao Zedong menangkupkan kedua tangan sebagai bentuk penghormatan.


"Maaf, kami juga tidak mendapatkan apapun. Seseorang sudah terlebih dulu mengambilnya!" jelasnya dengan jujur.


Dewa Api Phoniex jelas tidak mempercayainya, sebab Mao Zedong memiliki Pedang Penguasa Api dan peta yang dibuatnya. Tanpa kedua barang itu, tidak mungkin bisa memasuki ruang hartanya.


"Kira-kira aku mempercayaimu? Bodoh, jelas aku tidak percaya!" berang Dewa Api Phoniex, lalu melepaskan pukulan jarak jauh.


Mao Zedong jelas ketakutan dengan serangan Dewa Api Phoniex. Sebelum pukulan berenergi mengenai rombongan, dia segera melepaskan pukulan terkuatnya untuk memblokir serangannya itu.


Boom...


Ledakan hebat ketika dua pukulan berenergi saling berbenturan. Mao Zedong terkejut karena pukulan jarak jauhnya tidak menghentikan serangan Dewa Api Phoniex, pukulan lawan masih melesat ke arahnya dan...


Boom...


Kembali suara ledakan energi spiritual ketika mengenai Mao Zedong, di mana dia terpental ke belakang hingga menabrak rombongannya.


"Kembalikan milikku!?" pinta Dewa Api Phoniex yang tidak mengeluarkan setengah kekuatannya.


Saat ini, Mao Zedong tertatih-tatih saat berdiri setelah terkena serangan, dia tahu lawannya tidak mengeluarkan seluruh kekuatannya. Kedua lengannya yang dijadikan perisai terasa panas, dan tulangnya seperti akan hancur.


Sambil menangis, Putri Yu Jie membantu kakeknya untuk berdiri, ia dibantu oleh Raja Genjo.


"Sumpah, kami tidak mendapatkan harta milik Anda, Dewa. Jika Dewa tidak percaya, silakan periksa ruangan berikutnya!" terang Mao Zedong yang menguatkan diri untuk berbicara, dia dan rombongannya memang belum memasuki ruang keenam karena kedatangan Dewa Api Phoniex.


"Periksa!" perintah Dewa Api Phoniex kepada Raja Guang, dia sengaja tidak memeriksanya sendiri agar Mao Zedong tidak kabur.


Tanpa banyak bicara, Raja Guang dan Pangeran Jia bergegas menuju ke ruang harta keenam...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2