God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Meminjamkan Wand Of Despair.


__ADS_3

Bab 146. Meminjamkan Wand Of Despair.


Permaisuri Ivy adalah seorang wanita yang cerdas. Kematian Raja Datura (suaminya), yang rumornya dibunuh oleh Dewa Binatang, tidak langsung ditanggapinya, ia terlebih dahulu menyelidiki untuk mencari informasi sedetail mungkin.


Menurut informasi dari mata-mata Kerajaan Datura, Dewa Binatang bisa saja membunuh Raja Datura sewaktu di Kerajaan Anarym. Permaisuri Ivy menyimpulkan bahwa Dewa Binatang bukanlah pembunuh suaminya, sudah pasti ada orang lain yang memanfaatkan situasi untuk keuntungan pribadi.


"Bantuan seperti apa? Tolong jelaskan!" tanya Dewa Binatang sebelum mengiyakan permintaan Permasuri Ivy.


"Begini, sebenarnya kondisi Kerajaan Datura tidak baik-baik saja, khususnya di wilayah Ibu Kota. Setiap malam, semua penduduk dalam kewaspadaan tinggi, terutama yang memiliki anak laki-laki, dari bayi hingga usia 10 tahun...," Permaisuri Ivy menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Kerajaan Datura.


Setiap malam, satu atau dua bayi laki-laki hingga anak usia 10 tahun selalu menghilang saat tertidur. Kejadian ini sudah berlangsung lama, lebih dari 12 tahun ini. Anehnya, bayi dan anak perempuan tidak diculik.


Berbagai upaya telah kita lakukan untuk mengatasi kejadian aneh ini, namun hingga saat ini tidak ada yang mampu menangkap si penculik, bahkan tidak menemukan jejak si pelakunya.


Raja Datura dan Permaisuri Ivy telah meminta bantuan kepada semua ahli penyihir untuk menangkap si penculik, namun tidak ada satupun dari mereka yang menemukan jejak si pelakunya.


Karena banyaknya bayi dan anak-anak yang diculik, pertumbuhan ekonomi dan berbagai bidang menjadi melambat, banyak penduduk yang tidak memiliki penerus keluarga.


Permaisuri Ivy menyimpulkan bahwa si penculik adalah orang yang kuat, lebih kuat dari siapapun yang berasal di Benua Peliades. Tetapi yang membingungkan semua orang, jika memang si penculik adalah orang yang kuat, tidak seharusnya menculik secara sembunyi-sembunyi di malam hari, bisa saja melakukan kejahatan di siang hari.


"... Oleh sebab itu, saya meminta bantuan kepada Anda untuk menangkap si penculik. Apapun permintaan Anda, akan kami kabulkan asal tidak melewati batas kemampuan kita!" Akhirnya Permaisuri Ivy selesai menceritakan kronologis kejadian ini.


Dewa Binatang merenung sejenak untuk menganalisa kejadian ini. Sungguh aneh memang, si penculik ini jelas bukanlah orang sembarang, mampu menghilangkan jejak sehingga sihir tidak bisa melacaknya.


"Menurut Anda, apa tujuan si penculik yang hanya menculik anak laki-laki?" selidik Dewa Binatang.


"Karena kurangnya informasi dan keterbatasan tenaga ahli, saya tidak bisa menyimpulkan. Namun, desas-desus yang beredar, diculiknya bayi dan anak laki-laki akan dijadikan tumbal untuk meningkatkan kekuatan. Kemungkinan besar, si penculik adalah seorang ahli Penyihir Hitam!" jawab Permaisuri Ivy yang ragu-ragu.


Memang ada sebagian Penyihir Hitam yang meningkat kekuatannya dengan cara yang keji, seperti memakan daging bayi manusia, serta meminum darah anak laki-laki yang usianya tidak lebih dari 10 tahun.


Ketika Dewa Binatang merenung, Permaisuri Ivy kembali bertanya dengan penuh harap, "bisakah Anda membantu kita?"


"Si penculik ini, kapan terakhir dia menculik anak-anak?" tanya Dewa Binatang.


"2 hari yang lalu, dan tindakannya selalu acak, sulit untuk ditebak!" sela Putri Melvina sebelum ibunya menjawab.


Dewa Binatang kembali merenung. Setelah beberapa saat, dia pun memutuskan untuk membantu kesulitan Permaisuri Ivy, "menurut pemikiran saya, mungkin saja orang ini tidak terlalu kuat, hanya saja memiliki kemampuan untuk menghindar dari segala jenis sihir pelacak dan juga hebat dalam penyamaran. Baiklah, saya akan bantu Anda, tetapi saya tidak menjamin berhasil atau tidak menangkap si penculik ini"


"Terima kasih!" ucap Permaisuri Ivy dan Putri Melvina secara kompak.

__ADS_1


"Berhasil atau tidak ... Saya yakin Anda pasti berhasil" ucap Permaisuri Ivy yang sangat mempercayai kemampuan Dewa Binatang karena telah mengalahkan Bola-Peor.


Sebelum Dewa Binatang mengutarakan rencananya untuk menangkap si penculik, dia merasakan aura yang lebih kuat dari Bola-Peor. Permaisuri Ivy dan rombongannya juga merasakan aura kekuatan tingkat Epsilon level 2, dan ada beberapa orang yang kekuatannya sedikit lebih rendah.


"Kita tinggalkan tempat ini segera!" ucap Dewa Binatang dengan serius, lalu dia menghentakkan Wand Of Despair di tanah.


Muncul lingkaran besar di bawah kakinya, dengan diameter lingkaran 15 meter. Melihat itu, Permaisuri Ivy dan putrinya terkejut, sebab mereka tahu itu adalah sihir teleportasi, sihir yang hanya bisa dilakukan oleh ahli penyihir tingkat Great Divination Magician.


"Semuanya masuk ke dalam lingkaran!" perintah Dewa Binatang.


Segera Permaisuri Ivy, Putri Melvina dan 100 pengawalnya masuk ke dalam lingkaran sihir teleportasi. Setelah semua orang masuk, Dewa Binatang kembali menghentakkan Wand Of Despair di tanah...


Di luar Hutan Kematian, berdatangan banyak tentara Asyura dan tentara Langit, jumlahnya mencapai 40 ribu prajurit. Mereka dipimpin langsung oleh Dewa Petarung dan Dewa Pemusnah.


Mereka segera datang ketika melihat tanda permintaan bala tentara dari Bola-Peor. Mengetahui bahwa Dewa Kemalasan telah terbunuh, mereka jelas sangat marah, dan langsung menebak siapa pelakunya.


Tanpa menunggu penjelasan dari Perwira Tinggi Kerajaan Yecha, Dewa Petarung segera memerintahkan semua tentara untuk mengepung Hutan Kematian dari segala penjuru, tujuannya agar Dewa Binatang tidak bisa kabur, mempersempit ruang gerak musuh.


Dewa Petarung, Dewa Pemusnah dan beberapa Dewa terbang di atas Hutan Kematian, sedangkan semua tentara segera bergerak dari sisi luar Hutan Kematian, lalu serempak masuk ketika sudah berada di posisinya masing-masing...


Saat ini, Dewa Binatang dan rombongannya muncul di depan pintu gerbang utara Kerajaan Datura, tempat semula ketika bertarung dengan Dewa Kemalasan.


"Ikuti saya!" pinta Permaisuri Ivy yang segera berjalan terlebih dahulu, lalu segera mengawalnya membukakan jalan baginya.


Dewa Binatang tersenyum sambil mengikuti Permaisuri Ivy, dia melirik Putri Melvina yang berjalan di sisi kirinya, di mana selalu memperhatikannya walau hanya sekilas.


"Naluri wanita memang tajam!" batin Dewa Binatang yang sudah tahu jika penyamarannya telah diketahui oleh kedua wanita ini.


Ketika masuk ke dalam Ibu Kota, suasananya sangat sepi karena banyak orang yang menuju ke Hutan Kematian, mereka berharap mendapatkan sumber daya seperti yang didapatkan oleh beberapa penyihir sewaktu mengikuti tentara Asyura.


Situasi sepi ini justru membuat Permaisuri Ivy leluasa untuk berjalan menuju ke istana, tidak perlu lagi membalas sapaan dari rakyatnya. Biasanya, ketika Permaisuri Ivy turun ke jalan, banyak rakyat yang berdatangan untuk mengutarakan keluh kesahnya.


Saat berada di dalam istana Kerajaan Datura, Permaisuri Ivy mengajak Dewa Binatang keruang tamu. Setelah duduk, Dewa Binatang segera mengutarakan rencananya untuk menangkap si penculik.


"Karena situasinya saat ini tidak baik, kemungkinan besar si penculik tidak akan beraksi. Dia pasti takut kepada Dewa. Untuk mengantisipasi si penculik beraksi, kumpulkan semua bayi dan anak laki-laki yang menjadi incarannya dalam satu tempat. Anda pasti tahu tujuan saya!"


Permaisuri Ivy mengangguk paham, lalu ia bertanya, "saya sudah pernah melakukannya, tetapi si penculik tetap saja berhasil mengambil incarannya tanpa kita ketahui. Apakah rencana Anda tetap kita laksanakan?"


Dewa Binatang tersenyum karena paham. Lalu dia bertanya kepada Permaisuri Ivy, "penyihir tertinggi di sini, siapa orangnya?"

__ADS_1


"Jelas Ibuku. Ibu adalah ahli penyihir tingkat Ancestor Grade Magic tahap Menengah!" sahut Putri Melvina yang membanggakan prestasi Permaisuri Ivy.


Dewa Binatang berpikir sejenak. Setelah beberapa saat dia berkata, "mereka datang karena saya membunuh Dewa Kemalasan. Sebelum masalah ini selesai, saya belum bisa membantu Anda. Tetapi, saya akan pinjamkan Wand Of Despair ini kepada Anda. Dengan Anda membawa ini, saya jamin si penculik tidak akan mampu bertindak sembrono!"


Dewa Binatang meletakkan Wand Of Despair di atas meja tamu. Permaisuri Ivy dan Putri Melvina seketika diam membeku, mereka tidak menyangka Artefak Bintang 7 puncak dipinjamkan kepada orang yang baru dikenali.


Mereka tahu kehebatan Wand Of Despair ketika melihat Dewa Binatang menangkis serangan dari ribuan tentara Asyura. Siapapun orangnya, jelas tidak akan menyerahkan senjata hebat dengan santainya seperti yang dilakukan oleh Dewa Binatang.


"Setelah urusan saya selesai, saya akan menemui Anda. Anda juga jangan khawatir, Ibu Kota ini aman dari dampak pertempuran yang akan segera terjadi."


Setelah Dewa Binatang berjanji, dia mengangkat tangan kanan dengan jari telunjuk ke arah Permaisuri Ivy. Dari ujung jarinya mengeluarkan sinar yang melesat ke dahi Permaisuri Ivy.


Permasuri Ivy, Putri Melvina, dan beberapa pengawalnya jelas kaget dengan tindakan Dewa Binatang. Namun pengawal itu terlambat untuk melindungi Permaisuri Ivy.


Permaisuri Ivy tidak bisa menghindari karena jaraknya sangat dekat. Dengan mata terbuka lebar, ia melihat dan juga merasakan sinar itu menebus dahinya. Anehnya, dia tidak sedikitpun merasakan sakit, melainkan mendapatkan informasi tentang cara menggunakan Wand Of Despair.


Putri Melvina dan pengawalnya membuang nafas lega setelah melihat Permaisuri Ivy baik-baik saja, yang saat ini sedang memejamkan mata. Kemudian, mereka terkejut karena tidak lagi melihat Dewa Binatang ditempat duduknya, padahal mereka tidak lama melihat Permaisuri Ivy.


"Dia sangat hebat!" pujian Permaisuri Ivy setelah mencerna informasi baru, lalu ia mengambil Wand Of Despair dengan tangan gemetaran.


Ketika memegang Wand Of Despair, ia seketika memejamkan mata karena jiwanya tersedot ke dalamnya. Ketika berada di dalam Wand Of Despair, Permaisuri Ivy melihat sosok pria muda yang sangat tampan, yang tidak lain adalah Dewa Binatang


"Gunakan Wand Of Despair dengan bijak. Saya akan kembali untuk mengambilnya!" pesan Dewa Binatang.


Sebelum Permaisuri Ivy mengucapkan terima kasih, jiwanya kembali ke dalam tubuhnya. Lalu ia membuka mata sambil tersenyum. Dia membelai lembut Wand Of Despair seolah-olah adalah kekasihnya. Lalu mengalirkan energi spiritual agar terhubung sesuai dengan petunjuk.


"Apakah beliau adalah Dewa Binatang?" tanya Putri Melvina kepada ibunya, dia tidak tahu apa yang baru saja dialami oleh ibunya.


"Ayahmu jelas tidak dibunuh oleh Dewa Binatang, melainkan ada orang lain yang membencinya. Ini adalah Artefak Bintang 7 puncak, meminjamkan ini tanpa meminta jaminan, jelas dia orang yang tidak membutuhkan apapun. Dia baik ...!" jawaban Permaisuri Ivy yang tidak sesuai dengan pertanyaan putrinya.


Putri Melvina mengerti apa yang dimaksudkan ibunya, dia melihat Wand Of Despair dan menyentuhnya. Sontak telapak tangannya seperti tersengat listrik. Buru-buru dia melepaskannya karena sakit dan panas, dia melihat telapak tangannya yang terbakar.


"Mengerikan!" ucap Putri Melvina, dia segera menggunakan sihir penyembuh untuk mengobati luka bakar di telapak tangannya.


"Jangan ceroboh! Ini bukan tongkat sihir biasa!" peringatan Permaisuri Ivy sambil melihat telapak tangan putrinya yang terluka.


Dalam sekejap mata, luka bakar seketika menghilang karena sihir penyembuh. Permaisuri Ivy keluar dari ruang tamu. Setelah berada di luar, ia melihat ke arah Hutan Kematian...


"Kenapa orang baik selalu dimusuhi?" gumam Putri Melvina yang berdiri di samping ibunya.

__ADS_1


__ADS_2