
Bab 229. Daratan Pagoda Berlian.
Setelah berada di dalam kamar yang mewah berukuran besar, Dewa Abadi bertanya kepada Chen Yeon Mei dan kedua putri istana. Dia bertanya tentang musuhnya, dan kejadian apapun yang terjadi di Tiga Alam sebelum kedatangannya.
Dari jawaban mereka bertiga secara bergantian, Dewa Langit dan Dewa Surgawi tidak selalu bersama saat bertemu dengan Raja Yao, dan selang waktu pertemuan mereka selalu terpaut jauh. Selama jutaan tahun ini, menurut catatan sejarah, di Galaksi Pengadilan Jagat Raya tidak ada peristiwa yang menggemparkan, semua kehidupan berjalan damai.
Hanya saja, kedatangan Dewa Langit dan Dewa Surgawi sedikit dikhawatirkan oleh banyak orang di Tiga Alam. Tetapi dari semua itu, semua kehidupan berjalan seperti biasanya.
Karena sudah tidak ada yang perlu ditanyakan lagi, Dewa Abadi iseng-iseng bertanya kepada Chen Yeon Mei, "apakah suami dan anakmu tidak mencari?"
Chen Yeon Mei mengerutkan keningnya karena pertanyaan ini. "Saya belum menikah. Anak yang saya gendong adalah putri dari kakak ketiga!" jelasnya.
"Aku kira kamu sudah berkeluarga. Lalu siapa pria yang selalu di sisimu itu? Aku lihat dia cemburu saat kamu melihatku!"
Chen Yeon Mei tersenyum tipis, lalu berkata, "dia itu adalah kakak kedua yang selalu mengkhawatirkan saya. Dia tidak ingin saya salah memilih pasangan!"
Dewa Abadi menghela nafas panjang karena reinkarnasi istrinya belum berkeluarga. Lalu dia melihat kedua putri istana yang bernama Chen Lique dan Chen Jiyan. Chen Lique adalah kakak dari Chen Jiyan, terpaut usia 4 tahun. Jika kecantikan mereka dinilai, mereka berdua berada di angka 8,5 dari angka 10.
Dewa Abadi beranjak dari tempat duduknya, lalu menuju ke tempat tidur. Dia tidur telungkup dan meminta mereka untuk memijat seluruh tubuhnya. Sedangkan Merpati Putih dengan malas tidur di sela-sela bantal yang digunakan oleh Dewa Abadi.
Kedua putri istana tidak merasa terhina karena diperintahkan oleh Dewa Abadi, demikian juga dengan Chen Yeon Mei yang segera memijat bahunya.
"Kenapa kalian tidak segera menikah, bukankah usia kalian sudah lebih dari cukup untuk berkeluarga?" tanya Dewa Abadi karena tidak ada lagi bahan omongan yang penting, dan menikmati pijatan ketiga wanita ini.
Jawaban ketiga wanita itu sama. Karena semenjak lahir sudah memiliki kekuatan tingkat Dewa, mereka tidak memikirkan memiliki pasangan karena lebih fokus untuk meningkatkan kekuatan...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di hari berikutnya, Dewa Abadi bertemu dengan Raja Hu, keluarga besar Hu Yue Yan dan Hu Weiheng. Setelah menceritakan kisah perjalanan hidup Hu Yue Yan, semua orang kembali membicarakan permasalahan di Tiga Alam.
Setelah pembicaraan itu, Dewa Abadi dan semua orang penting menuju ke Daratan Pagoda Berlian untuk menunggu musuhnya bergerak.
Di Daratan Pagoda Berlian, Dewa Abadi termenung sambil melihat Pagoda Berlian yang pernah dibawanya dulu. Di Pagoda Berlian inilah yang memberikan bantuan besar kepada semua istrinya sehingga memiliki kekuatan di atas tingkat Half Super Omega.
Karena tidak ingin terus-menerus teringat akan masa lalunya, dia melihat di tengah lima Pagoda Berlian, yang mana terdapat altar bentuk lingkaran. Di dalam situlah Dewa Perusak disegel.
Altar segel itu terdapat lima tugu yang terhubung dengan puncak lima Pagoda Berlian, rantai energi yang menghubungkan tugu dan puncak pagoda.
Lima Pagoda Berlian itu menyerap Energy Primordial dan energi langit, lalu disalurkan ke altar segel sebagai energinya. Jika salah satu Pagoda Berlian menghilang, maka akan berdampak besar terlepasnya Dewa Perusak yang dulu pernah terjadi. Saat ini, Pagoda Berlian dijaga ketat oleh Kasta Mahaguru.
"Apakah benar jika hanya orang-orang tertentu yang bisa memasuki Pagoda Berlian ini?" tanya Dewa Abadi kepada Raja Hu yang bergaya eksentrik seperti anak muda.
__ADS_1
"Benar. Di Tiga Alam, yang bisa masuk dari Kasta Mahaguru dan para raja. Jika pihak luar, yang bisa masuk adalah kultivator yang sudah memiliki gelar ke-Dewa-an, dan juga para raja atau kaisar!" jawab Raja Hu, lalu menipu rambut yang menghalangi matanya sendiri.
Dewa Abadi tersenyum bukan karena tingkah Raja Hu, melainkan perbuatannya sendiri yang menjadikan Pagoda Berlian untuk tempat berkultivasi bagi penghuni Dunia Jiwanya, pada waktu membawanya.
"Dewa, sambil menunggu pergerakan mereka, alangkah baiknya kita berkultivasi di dalam Pagoda Berlian tingkat 20!" saran Raja Chen yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu.
"Nanti saya akan menyusul. Silakan Yang Mulia terlebih dahulu!" tolak Dewa Abadi secara halus karena ingin memeriksa titik-titik munculnya portal dimensi.
"Baiklah, saya masuk dulu!" pamit Raja Chen, ia segera masuk ke dalam Pagoda Berlian dan diikuti oleh beberapa orang penting.
Dewa Abadi berjalan mendekati altar segel untuk memeriksanya. Namun, tiba-tiba muncul lima orang dari Kasta Mahaguru yang menjaga altar.
"Tolong jangan masuk!" cegah salah satu Mahaguru sebelum Dewa Abadi mendekat.
Dewa Abadi tidak marah maupun tersinggung karena dicegah, tetapi bukan berarti takut kepada mereka yang kekuatannya berada di bawahnya, melainkan menghormati tugas mereka sebagai penjaga altar segel.
"Dewa, kami menunggumu di dalam!" pamit Raja Hu yang ingin menggunakan waktu untuk meningkatkan kekuatan, walaupun tidak mungkin dalam waktu singkat naik satu level.
Dewa Abadi hanya tersenyum melihat Raja Hu, lalu dia terbang bersama Merpati Putih menuju ke Utara dari Daratan Pagoda Berlian. Setelah beberapa waktu, ia telah berada pada titik koordinat yang telah dijelaskan oleh Menteri Pertahanan Dinasti Fandui.
"Mekanisme portal dimensi tidak jauh beda dengan kita membuka ruang kehampaan. Kemungkinan besar mereka telah menandai ruang hampa itu. Coba kamu robek kehampaan untuk memeriksanya!" ujar Merpati Putih yang senang jika berpetualang seperti ini. Dewa Abadi mengangguk paham.
Banyak kultivator kuat sering menggunakan portal dimensi daripada merobek kehampaan untuk perjalanan jauh. Selain resikonya lebih aman dari badai kehampaan, portal dimensi mudah dibuat, dengan menyatukan pengetahuan tentang Formasi Array dan basis kultivasi, minimal untuk membuatnya berada di tingkat Dewa Sejati. Semakin tinggi kekuatannya, jarak melintas ruang dan waktu semakin jauh.
Semalaman, Dewa Abadi memikirkan rencana musuhnya. Menurutnya, kemungkinan besar selain menemui Raja Yao, Dewa Langit dan Dewa Surgawi sering datang ke Tiga Alam untuk menentukan titik lokasi portal dimensi. Melihat titik-titik pada peta miniatur, mereka jelas mefokuskan dua wilayah yang menjadi pusat rencana.
Jika kultivator dari dunia lain berdatangan ke Daratan Pagoda Berlian, maka peperangan jelas akan terjadi ditempat itu. Dengan begitu, energi kematian bisa langsung diserap oleh Dewa Perusak yang tersegel di Altar Pagoda Berlian.
Sedangkan titik-titik yang berada di wilayah Dinasti Anwuzhi, para kultivator dunia lain akan menyerang bersama dengan pasukan Raja Yao dari belakang. Tujuan mereka kemungkinan besar untuk meningkatkan intensitas kekacauan di Daratan Pagoda Berlian. Semakin besar energi kematian dari para korban peperangan, maka semakin besar potensinya untuk mempercepat keluarnya Dewa Perusak.
"Perkiraan, selain rencana mereka yang akan membuka portal dimensi, apakah mereka memiliki rencana lain sebagai antisipasi jika portal dimensi gagal dibuka?" tanya Dewa Abadi kepada Merpati Putih yang menjadi teman bicara dan perjalanan hidupnya.
"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, mereka memiliki lebih dari satu rencana. Kita tinggal memposisikan diri sebagai mereka, apa yang akan kita lakukan jika rencana pertama gagal?"
Dewa Abadi memikirkan ucapan Bai Ge (Merpati Putih). Dia mengingat kemampuan lawannya yang unggul dalam hal kekuatan energi kabut hitam. Kabut hitam mampu menginfeksi mahkluk hidup menjadi Pasukan Kegelapan. Yang menjadi pertanyaan, selain Dewa Langit dan Dewa Surgawi yang memiliki energi kabut hitam, siapa orang lain yang juga bersekutu dengan Dewa Perusak?
Ini adalah poin penting yang harus diperhatikan dan diwaspadai oleh Dewa Abadi.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Bai Ge yang melihat Dewa Abadi melamun setelah dirinya berbicara sesaat lalu.
"Mereka memang memiliki rencana lain!" ucap Dewa Abadi.
__ADS_1
"Rencana apa itu?"
"Aku tidak tahu!" jawab Dewa Abadi yang membuat Bai Ge jelas bingung.
"Loh...! Katamu mereka punya rencana lain, tuangkan pemikiranmu, biar aku ikut berpikir!" desak Bai Ge yang ingin tahu.
Dewa Abadi merobek kehampaan di depan, sesuai dengan informasi dari Menteri Pertahanan Dinasti Fandui. Sedangkan Bai Ge terus mendesak Dewa Abadi untuk menuangkan isi pikirannya.
Setelah merobek kehampaan, Dewa Abadi mengerutkan keningnya karena melihat pusaran badai meteor berada tepat di depannya. Sebelum tubuhnya terhisap ke dalam pusaran badai kehampaan, dia segera menutup ruang hampa sebelum badai itu menghisap apapun yang berada di luar.
"Bagaimana caranya mereka mefokuskan badai kehampaan di titik portal dimensi?" gumam Dewa Abadi sambil melihat robekan kehampaan.
"Pantas saja mereka tidak berusaha untuk menghapus lokasi portal dimensi! Jadi ini yang menjadi kendalanya!" ujar Bai Ge.
Dua penguasa Tiga Alam memang sudah pernah melakukan hal yang sama seperti Dewa Abadi, dan mereka terhalang oleh badai kehampaan sehingga hanya bisa menunggu pergerakan musuh, sesuai dengan penjelasan dari Raja Chen.
"Apakah kita harus menunggu mereka tanpa melakukan apapun? Tidak, jika itu aku!" tekad Dewa Abadi untuk menghapus titik-titik munculnya portal dimensi.
"Apa yang kamu akan lakukan? Apakah dengan melambaikan tangan maka badai kehampaan bisa menghilang? Itu tidak semudah yang dibayangkan!" sahut Bai Ge yang tahu kekuatan badai kehampaan yang berbeda dengan badai buatan kultivator, maupun badai di alam pada umumnya.
Dewa Abadi mengangkat kedua tangannya ke depan dengan tujuan merobek kehampaan. Namun, oleh Bai Ge segera dicegah karena khawatir badai kehampaan menghisap mereka dan seluruh alam di Daratan Pagoda Berlian.
Jika itu terjadi dan robekan kehampaan tidak segera ditutup, kemungkinan besar seluruh Planet Tiga Alam juga ikut terhisap. Ini seperti halnya dengan Black Hole yang memiliki medan magnet super masif, mampu menghisap apapun disekitarnya.
Dicegat oleh Bai Ge, Dewa Abadi mengurungkan niatnya, tetapi masih tetap memikirkan cara lain yang lebih aman. Dia kembali memposisikan diri sebagai musuh.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku! Apa rencana mereka yang lain?" desak Bai Ge, lalu mematuk telinga Dewa Abadi karena gemas.
"Kabut hitam, kamu tahu maksudku!" jawab Dewa Abadi singkat karena malas untuk menjelaskan panjang lebar rencana musuh.
"Kabut hitam? Dari ingatanmu yang kubaca, kabut hitam itu mampu mengendalikan kehidupan jenis apapun...," Bai Ge berbicara sendiri karena tidak ditanggapi oleh Dewa Abadi.
Karena Bai Ge dan Dewa Abadi menjadi satu jiwa dan raga, ia seperti halnya Batu Keabadian yang mengetahui apapun tentang masa lalu Dewa Abadi. Tetapi, Bai Ge memiliki kelebihan unik, yang mana bisa hidup kembali seandainya jiwa Dewa Abadi dimusnahkan.
Karena Bai Ge bentuk lain dari energi, dia bisa jauh dari Dewa Abadi, tapi masih selalu saling berkomunikasi karena satu jiwa.
Sambil mendengarkan ocehan Bai Ge, Dewa Abadi menuju ke titik lainnya, tidak jauh dari titik pertama. Namun, saat baru beberapa puluh meter terbang, ia merasakan seseorang menyerang dari belakang.
Seketika Bai Ge berhenti berbicara, melirik serangan dari belakang. Dia menggerakkan ekornya untuk memblokir serangan itu.
Boom...
__ADS_1
Ledakan keras ketika satu serat petir yang keluar dari ekor Bai Ge menghancurkan serangan itu dengan mudah. Bahkan Bai Ge tidak mengeluarkan kekuatannya lebih dari satu persen. Tetapi, kekuatan petir melesat ke arah si penyerang.
Dewa Abadi yang segera membalikkan badan, ia langsung menetralisir serangan Bai Ge sebelum mengenai si penyerang itu. Bai Ge mendengus kesal karena serangannya diblokir oleh Dewa Abadi.