
Bab 118. Lebih Dari Sekedar Kenal.
Tanah Kutukan merupakan tempat terlarang bagi siapapun, atas perintah dan larangan dari dari Kaisar Lei. Dan siapapun yang melanggarnya akan dijatuhi hukuman mati.
Kaisar Lei begitu benci kepada Dewa Binatang, karena putranya yang bernama Lei Ziran dibunuhnya sewaktu di Alam Tianwu. Semenjak itu hingga detik ini, Kaisar Lei masih dendam kepada Dewa Binatang.
Orang yang mengepung Dewa Binatang, terlihat sangat marah karena ditertawakan. Dan orang yang bertanya segera memerintahkan rekan-rekannya untuk menangkap Dewa Binatang.
Anehnya saat ditangkap, Dewa Binatang tidak melawan, padahal mereka hanya memiliki kekuatan paling tinggi di tingkat Dewa Matahari level 8, hal yang sangat mudah untuk mengalahkan mereka.
Kemudian, salah satu pria muda itu mengeluarkan tali khusus untuk mengikat seorang kultivator. Tali itu disebut Tali Energi. Setelah itu, Dewa Binatang dikawal menuju ke balai kota untuk diadili.
Dewa Binatang dan 10 orang itu menuju ke Distrik Hong, pusat kekuasaan Marquis. Sepanjang perjalanan, banyak orang yang bertanya kepada pemimpin yang menjadi penjaga Tanah Kutukan.
"Dia adalah golongan kejahatan karena masuk ke Tanah Kutukan!" jawabnya.
Setelah tahu alasan Dewa Binatang ditangkap, segera banyak orang yang melemparkan batu ke arahnya. Bagi semua orang, siapapun yang masuk ke Tanah Kutukan adalah awal dari sumber kekacauan.
Orang yang mengawal Dewa Binatang dengan sengaja tidak menghentikan tindakan para penduduk kota. Mereka hanya menjauh sambil memegang Tali Energi pengikat Dewa Binatang agar tidak kabur.
Anehnya, Dewa Binatang tidak menghindari bebatuan yang menghujani tubuhnya. Dan anehnya lagi, tubuhnya yang terkena batu mengeluarkan darah segar, kepala berdarah-darah sehingga wajahnya tidak lagi terlihat, dipenuhi dengan darah.
Namun, ada beberapa orang yang bersimpati kepada Dewa Binatang, tetapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena kalah jumlah. Jadi, hanya bisa menonton.
Dengan tubuh berlumuran darah, Dewa Binatang tiba di Balai Pengadilan, banyak orang yang mengikutinya karena ingin tahu keputusan hakim.
Saat ini, Dewa Binatang berdiri dihadapan hakim dan pegawai pengadilan, setelah penjaga Tanah Kutukan memberikan laporan. Hakim itu adalah seorang pria tua, tampak sangat bijaksana dan berwibawa.
"Siapa nama Anda?" tanya Sang Hakim kepada Dewa Binatang.
"Shimo!" jawab singkat Dewa Binatang dan melihat sang hakim tampak mencatat namanya.
"Apakah benar Anda memasuki Tanah Kutukan?" Interogasi sang hakim sebelum memberikan putusan.
"Kalau boleh tahu, apakah orang tersesat merupakan tindakan yang melanggar hukum?" tanya balik Dewa Binatang.
"Jawab saja pertanyaan Yang Mulia Paduka Hakim?" bentak salah jaksa penuntut umum.
Dewa Binatang tersenyum sinis sambil melihat wajah si jaksa itu, lalu dia melihat sang hakim. "Ya, saya masuk ke Tanah Kutukan!" jawabnya dengan tegas.
"Anda sudah tahu aturan dan larangannya. Kenapa Anda tetap memasuki Tanah Kutukan? Apakah Anda berniat untuk membangkitkan kejahatan Dewa Binatang?" selidik Sang Hakim.
"Seandainya saya adalah Dewa Binatang, bagaimana menurut Anda?" tanya balik Dewa Binatang.
Seketika ruang sidang menjadi ricuh karena perkataan Dewa Binatang. Hal itu mengidentifikasi bahwa si pelaku berniat untuk membuat kekacauan di Planet Petir.
__ADS_1
Berbeda dengan sang hakim, dia tersenyum hangat sambil memeriksa seluruh tubuh Dewa Binatang. Dia mengunci alisnya karena tidak mengetahui tingkat kekuatan orang dihadapannya ini. Tetapi, melihat wajah Dewa Binatang berlumuran darah, sudah bisa dipastikan jika tidak berkultivasi.
"Jika Anda benar-benar adalah Dewa Binatang, kerahkan semua binatang mistik di tempat ini sebagai buktinya! Anak muda, mengaku-ngaku sebagai Dewa Binatang, hukumannya lebih berat dari pada memasuki Tanah Kutukan. Apakah Anda berbicara secara sadar, atau hanya dibuat-buat? Apakah Anda sudah bosan hidup sehingga tidak menyesal tindakan ini?" selidik Sang Hakim yang ingin tahu psikologis si terdakwa.
Dewa Binatang mengusap matanya yang tertetes darah sendiri, lalu dia menjawab, "ada orang gila yang memasuki Tanah Kutukan dan berkata... Aku adalah Dewa Binatang... Apakah tetap dihukum atas tindakannya? Jika iya, apa bedanya Anda sekalian yang ada di sini dengan orang gila itu?"
Ucapannya langsung mendapat reaksi keras dari semua orang yang hadir di ruang sidang. Beberapa prajurit segera menghampiri dan menghujani dengan pukulan. Ucapannya jelas-jelas adalah penghinaan, menghina sang hakim dan semua orang. Dan, kemarahan semua orang makin meluap-luap karena yang membuat aturan adalah penguasa tunggal Galaksi Petir.
"Hukum mati dia!" teriakan dari salah satu orang dan diikuti oleh yang lainnya.
Seketika hujatan dan teriakan terhenti ketika sang hakim mengangkat tangan, tanda agar semua orang menahan diri.
"Sesuai dengan undang-undang, siapapun yang mengalami gangguan jiwa, tidak bisa dihukum. Anda yang bernama Shimo, dinyatakan sebagai seorang gangguan mental. Oleh hal ini... Anda, Shimo, akan dipenjara di khusus tempat bagi orang gila, Danau Kesadaran!" keputusan Sang Hakim dan mengetuk palu sebagai tanda pengesahan.
Semua orang bertepuk tangan ketika sang hakim memberikan keputusan. Mereka tampak puas dengan keputusan ini, sebab Danau Kesadaran merupakan tempat yang sangat menyiksa bagi siapapun, terutama bagi orang gangguan mental.
Danau Kesadaran merupakan salah satu tempat terjadinya badai petir peringkat kelima, disebut Nine Colored Heavenly Lightning (Petir Sembilan Warna). Salah satu jenis petir yang ditakuti banyak kultivator.
Penjara khusus bagi orang gangguan mental, bangunannya dibuat oleh para ahli Pandai Besi, dibangun di bawah tanah. Bangunan itu dibangun dengan menggunakan material anti petir. Walaupun sudah menggunakan material khusus anti petir, tetap saja badai petir peringkat kelima sangat menyakitkan, siksaan bagi orang gangguan mental.
Penjara Danau Kesadaran tidak hanya khususkan bagi orang gangguan mental, tetapi diperuntukkan bagi penjahat kelas kakap yang memiliki kekuatan hebat. Sedangkan kenapa orang gangguan mental dipenjara di sana, karena akan dijadikan hiburan bagi para napi.
Segera, empat prajurit pengadilan menarik Tali Energi yang mengikat kedua tangan Dewa Binatang. Dengan arak-arakan banyak orang, Dewa Binatang diseret menuju ke Danau Kesadaran.
Dia adalah Dewa Binatang yang asli, sedang yang diseret itu adalah tubuh ganda-nya. Banyak kultivator disekitarnya, tetapi mereka tidak melihat keberadaannya, sebab Dewa Binatang adalah seorang Dewa.
Namun, Dewa Binatang sedikit terkejut karena ada seseorang wanita usia 18 tahun sedang memperhatikannya, satu-satunya wanita yang bisa melihat wujudnya.
Wanita itu sedang berada di balkon kamar penginapan ternama. Tinggi badan 177 cm, kulit putih sehalus kulit bayi, pakaiannya berwarna biru model cheongsam (dress panjang yang menutupi leher hingga pergelangan kaki, tetapi memperlihatkan lengannya dari bahu), bibir tipis dan pinggul lebar, dada besar. Bisa dikatakan tubuh proporsional seperti model seksi.
Dari penampilannya, terlihat wanita itu berasal dari bangsawan. Di belakangnya berdiri dua wanita yang menjadi pengawal, berpakaian hitam dan ketat, pedang selalu terpegang dengan erat.
Wanita itu terkejut karena tidak lagi melihat Dewa Binatang yang tidak menyamar, dan sangat tampan baginya. Buru-buru dia mencari sekelilingnya, tetapi tidak menemukannya.
Segera wanita itu terbang di atas rumah penduduk, dan diikuti oleh pengawalnya.
Salah satu dari pengawalnya bertanya, "Dewi Shi, Anda mau ke mana?"
"Mencari seseorang!" jawab wanita itu yang bernama Dewi Shi sambil mengaktifkan Mata Dewa untuk mencari keberadaan Dewa Binatang, arahnya menuju ke Danau Kesadaran.
Sedangkan Dewa Binatang, dia mengikuti tubuh ganda-nya dalam wujud angin. Oleh karena itu, Dewi Shi tidak bisa melihatnya lagi...
...****************...
Di ruang bawah tanah, atau tepatnya di penjara Danau Kesadaran, ada seorang wanita cantik di ruang penjara yang tergolong mewah. Luas kamar 20 meter persegi, segala kebutuhannya tersedia dan layaknya sebuah rumah mewah.
__ADS_1
Wanita itu sedang membaca buku, dan menutup buku sambil tersenyum lebar.
"Sekian lama aku menunggumu, kenapa baru muncul? Setidaknya penantian ini tidak sia-sia!" gumamnya yang seakan-akan melihat dunia luar walaupun sedang terpenjara.
Setelah itu, dia menuju ke pintu besi, dan mencari penjaga ruang penjara. Setelah melihat penjaga, dia berkata, "akan.ada penghuni baru, aku menginginkannya!"
Mendengar permintaan wanita itu, si penjaga melihatnya. Lalu menjawab, "baik, Putri!"
Si wanita itu mengangguk sebagai respon, dan kembali ke ruang bacaan. Dia melakukan aktivitas seperti sesaat lalu...
...****************...
Sebelum mencapai penjara Danau Kesadaran, para prajurit yang mengawal tubuh ganda Dewa Binatang, menuju ke gedung berlantai tiga, gedung Administratif Pengadilan.
Di gedung Administratif Pengadilan, ada jalur lorong bawah tanah menuju ke penjara Danau Kesadaran. Dan lorong itu yang nantinya akan dilewati oleh Dewa Binatang.
Jika harus melewati jalan umum menuju ke Danau Kesadaran, maka sama saja bunuh diri, sebab badai petir peringkat kelima sewaktu-waktu bisa muncul. Untuk mengantisipasi kemunculan badai petir, maka dibuatkan jalan khusus yang aman dari sambaran petir.
Ketika Dewa Binatang telah masuk ke dalam gedung Administratif Pengadilan, semua penduduk yang mengikuti segera berhenti, termasuk Dewi Shi dan dua pengawalnya.
Kemudian, para pegawai melihat kedatangan napi baru. Tanpa banyak bicara dan sudah tahu kedatangan prajurit pengadilan, segera pegawai Administratif membukakan pintu jalur bawah tanah.
Setelah pintu terbuka, berdiri seorang penjaga penjara, dia adalah orang yang mendapatkan permintaan dari wanita itu, wanita yang dipanggil sebagai Putri.
"Dia sudah pesan oleh Putri Shi," kata penjaga penjara bawah tanah kepada pegawai Administratif Pengadilan.
"Tumben wanita itu memesan tahanan baru?" ucap salah satu pegawai Administratif Pengadilan yang keheranan, tetapi dia tetap saja menyerahkan Dewa Binatang kepadanya.
Dewa Binatang juga keheranan serta penasaran dengan orang yang sudah mengetahui kedatangan. Dia pun mengikuti penjaga penjara Danau Kesadaran.
Namun, sebelum dipertemukan dengan wanita yang bernama Putri Shi, Dewa Binatang diperintahkan untuk membersihkan diri karena penampilannya yang tidak sedap dipandang mata. Dewa Binatang mengikuti perintah di penjaga penjara...
Setelah penampilannya bersih, si penjaga penjara membawanya ke ruang bawah tanah paling dasar, teman khusus bagi napi kelas kakap, yang terkenal kuat dan berbahaya.
"Putri Shi, pesanan telah tiba. Mohon diperiksa sebelum menerimanya, saya perlu membuat laporan," kata penjaga penjara sambil mengetuk pintu besi.
Mendengar suara penjaga penjara, Putri Shi segera berhenti membaca, dia buru-buru keluar dari ruang baca.
Setelah Putri Shi keluar sambil mengembangkan senyuman bahagia. Dewa Binatang tercengang melihat wanita itu yang tampak mengenali penyamarannya, padahal wajahnya ini dalam penyamaran dibuat secara acak tanpa meniru siapapun. Selain itu, dia juga sangat mengenali wanita yang bernama Putri Shi.
"Apakah Anda mengenaliku?" tanya Dewa Binatang yang penasaran.
"Tentu, dan lebih dari sekedar kenal!" jawab Putri Shi, lalu dia melihat si penjaga penjara sambil berkata, "aku ambil dia untuk selamanya!"
"Baik, Putri. Saya akan membuat laporan ini. Permisi!" jawab si penjaga penjara sambil menyerahkan Tali Energi kepada Putri Shi.
__ADS_1