God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Dewa Abadi (2).


__ADS_3

Bab 170. Dewa Abadi (2).


Di dalam tubuh Omniverse, lambat laun Dewa Binatang mulai kelelahan melawan banyaknya para raksasa Omniverse. Untungnya dia telah membuat banyak Pil Pemulih Energi sehingga energi spiritualnya kembali terisi. Tetapi tidak dengan energi kekuatan jiwanya yang membutuhkan Energi Yin agar cepat pulih.


Karena terlalu banyaknya para raksasa, energinya kembali dengan cepat terkuras. Namun, ketika merasakan aura kekuatan lawannya yang berangsur-angsur melemah, dia segera mengeluarkan semua kekuatan yang tersisa.


Rentetan suara ledakan tak henti-hentinya di dalam tubuh Omniverse. Dewa Binatang tidak peduli dengan kondisinya yang semakin menurun, dia harus secepat mungkin untuk mengembalikan Pagoda Berlian untuk menghentikan pergerakan rasi bintang.


Para raksasa tidak memberikan kesempatan kepada Dewa Binatang untuk beristirahat, mereka terus-menerus mengeluarkan sinar dari matanya yang tertuju kepada lawan.


Sedangkan Chen Yeon dan Hu Yue Yan, mereka berhasil membutakan kedua mata dari Omniverse. Justru dampaknya membuat mereka terpental setelah terkena pukulan dari Omniverse yang dilakukan secara membabi-buta.


Saat ini, mereka tidak lagi menyerang Omniverse karena telah kehabisan energi, yang bisa dilakukannya hanya melihat Omniverse yang masih meraung-raung keras karena kesakitan.


Dewa Binatang terengah-engah karena kelelahan, dia melihat para raksasa Omniverse yang berdatangan untuk menyerangnya.


"Kalian, keluarlah!" perintah Dewa Binatang.


Lalu bermunculan 12 Naga berbagai jenis elemen di belakang Dewa Binatang, atau yang dikenal dengan sebutan Satria 12 Naga. Tubuh mereka yang besar, tetapi seperti seekor burung kecil saat berada di dalam tubuh Omniverse.


Mereka adalah; Tian Long si Naga Langit (Dragon Sky), Seng Long si Naga Hujan Angin (Dragon Rain Wind), Fucang Long si Naga Tanah (Earth Dragon), Di Long si Naga Samudera (Ocean Dragon), Qiu Long si Naga Terkuat (Strongest Dragon), Pang Long si Naga Danau Sungai (River Lake Dragon), Huang Long si Naga Ilmiah (Scientific Dragon), Ying Long si Naga Tertua (Ancient Dragon), Long Wang si Naga Empat Laut, Xukong Long si Naga Kehampaan (Void Dragon), Du Long si Naga Hitam (Black Dragon), dan yang terakhir adalah Shikong Long si Naga Ruang dan Waktu (Space Time Dragon).


"Sudah lama kita menantikan hari-hari ini," kata Tian Long sambil melihat para raksasa Omniverse yang berdatangan.


Dewa Binatang telah menyatukan semua darahnya yang dipisahkan oleh Universe Lightning. Oleh sebab itu, dia mampu menjadi wujud Naga 12 Elemen, pertama kali wujudnya dikeluarkan saat berada di pulau Mysterious Land di Planet Nibiru.


"Jangan banyak bicara!" sahut Shikong Long dengan nada ketus, ia langsung menyerang para raksasa yang berada di belakangnya.


Xukong Long adalah naga betina, istri dari Dewa Tianwu, dia juga leluhur dari Ratu Qin Diao Chin. Keahliannya dalam mengendalikan ruang dan waktu, dan diturunkan kepada Qin Diao Chin.


"Hahaha!" tawa Fucang Long karena bersemangat, dia segera melesat ke arah timur.


Selama ini, mereka berada di dalam Dunia Jiwa Dewa Binatang, dan menyamar sebagai orang biasa sambil mengawasi keturunannya. Mereka juga tahu apapun yang terjadi selama ini, dan akan menunjukkan diri setelah diperintah oleh Dewa Binatang.


Boom boom boom...


Ledakan energi ketika Satria 12 Naga mengamuk kepada para raksasa Omniverse. Dengan bantuan mereka, Dewa Binatang bisa terfokus pada sumber kehidupan milik Omniverse, yaitu sehelai rambut.


Sebelum menyerang sehelai rambut itu, dia terlebih dahulu memulihkan kondisinya dengan menelan Pil Pemulih Energi, dan memakan semua jenis tanaman yang mengandung energi Kekuatan Jiwa. Lalu dia duduk bersila tanpa khawatir akan diserang oleh para raksasa Omniverse.


Ketika para raksasa Omniverse akan mendekati Dewa Binatang, Satria 12 Naga selalu terlebih dahulu menyerang mereka.


Chen Yeon dan Hu Yue Yan menjauhi Omniverse karena semakin membabi buta menyerang apapun karena kesakitan. Mereka melihat kabut hitam mengalir ke dalam tubuh Omniverse untuk memulihkan diri.

__ADS_1


"Kakak, apa yang harus kita lakukan?" tanya Hu Yue Yan yang ingin membantu Dewa Binatang.


"Setelah kabut hitam ini menghilang, kita panggil bala bantuan! Saat ini kita hanya bisa berharap kepada Dewa Binatang ...!" jawab Chen Yeon yang tidak punya pilihan lain selain menunggu Dewa Binatang melemahkan Omniverse.


Chen Yeon tidak bisa memanggil bala bantuan dikarenakan terhalang oleh kabut hitam...


...****************...


Di Planet Peliades. Tian Lihua dan semua Dewa-dewi melihat Gorgon yang telah tiba, diam mematung di dalam lingkaran sinar. Kedatangan Gorgon bertepatan dengan Dewa Binatang yang masuk ke dalam tubuh Omniverse.


Wujudnya sangat aneh, kepala ular, tubuh yang menyerupai Macan Putih yang berdiri tegak, dan memiliki sepasang sayap lebah. Ukurannya tidak jauh berbeda dengan Bai Ze dan Gemini saat baru tiba Benua Peliades.


Semua orang siap untuk bertarung dengan Gorgon, terutama Tian She Meili (Celestial She) yang siapa berubah wujud menjadi Celestial Snake.


Setelah kedatangan Gorgon, dia merasakan ada sesuatu di dalam hati yang memintanya untuk patuh kepada Gorgon. Namun, perasaan itu menguap karena segel keluarga besar Dewa Binatang.


Wujud Gorgon yang besar, tiba-tiba menyusut hingga setinggi 3 meter, lalu keluar dari lingkaran sinar. Kedua matanya mencari-cari sosok wanita diantara jutaan Pasukan Wanita.


Tidak berselang lama, Gorgon melihat wanita yang dicari-cari, "Celestial Snake, aku adalah suamimu," katanya kepada Tian She Meili.


"Suamiku? Sejak kapan? Aku sudah memiliki suami, dia adalah Dewa Binatang. Dan kau, aku tidak mengenalimu!" sahut Tian She Meili dengan nada tinggi.


"Kamu sudah bersuami? Tinggalkan dia, dan jadilah istriku!" pinta Gorgon yang tidak peduli jika Tian She Meili telah bersuami.


Ditolak oleh Tian She Meili, membuat Gorgon murka, dari kedua hidungnya mengeluarkan semburan api. Semua orang segera bersiap-siap untuk melawannya.


Battleship Excel Super Destroyer (BESD 1) mengarahkan semua persenjataan terkuatnya ke arah Gorgon, ribuan pesawat tempur siap membombardir musuhnya itu, dan semua kapal angkasa yang terbuat dari cangkang kura-kura juga siap menebak musuhnya.


Artileri jarak jauh juga telah mengunci targetnya, bahkan bom nuklir yang berisi bahan Anti-materi juga siap untuk diluncurkan. Untuk mengatasi dampak dari ledakan anti-materi, Tian Lihua dan semua saudarinya telah membuat dinding pertahanan setebal 200 meter, dengan ketinggian 400 meter, dan juga dilapisi dengan Formasi Perlindungan.


"Jika begitu, kalian harus mati... Tidak, tetap semua kehidupan di alam semesta ini harus dimusnahkan! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka kamu harus mati!" ancaman Gorgon.


Tian She Meili berjalan dan berhenti di depan semua pasukan wanita, lalu dia berkata dengan nada ketus, "segenap jiwaku, telah kuberikan kepada Dewa Binatang! Walaupun aku mati, aku tidak akan menyesal. Serang!"


Perintah dari Tian She Meili segera dilaksanakan oleh semua pasukan. Kemudian, segala persenjataan berat meluncur ke arah target yang telah terkunci. Suara desingan peluru, rudal, laser dan artileri dengan jelas didengarkan oleh semua pejuang.


Gorgon melihat semua serangan itu, tetapi mengabaikannya karena dianggap tidak berbahaya. Dia kembali melihat Tian She Meili. Namun..


Boom boom boom boom...


Rentetan ledakan dari semua persenjataan yang mengenai targetnya. Asap putih itu disertai dengan api yang membumbung tinggi. Gorgon yang terkena dari semua serangan itu, tubuhnya pun tercabik-cabik.


Semua orang yang memiliki Mata Dewa melihatnya, yang mana potongan-potongan tubuhnya kembali menyatu saat menyentuh tanah. Tian Lihua segera memerintahkan kepada pasukan persenjataan canggih untuk terus menyerang musuhnya sebelum hidup kembali.

__ADS_1


Medan Perang Samudera Hitam berguncang hebat ketika semua persenjataan canggih menghujani tubuh Gorgon. Setelah beberapa waktu menyerang, Tian Lihua segera memerintahkan pasukannya untuk berhenti.


Semua orang tidak lagi melihat Gorgon ditempatnya, yang mereka lihat hanya hamparan pasir lautan. Tetapi, mereka tidak mengendurkan kewaspadaannya karena masih merasakan aura kekuatan musuhnya.


Setelah asap putih menghilang dan medan perang kembali tenang, semua orang melihat pasir bergerak-gerak, lalu dengan cepat berubah menjadi Gorgon yang jumlahnya sebanyak hamparan pasir.


Melihat itu, pasukan robot berbagai varian segera menyerangnya. Pertempuran pun kembali terjadi antara jutaan Gorgon dan robot. Pesawat tempur canggih, BESD 1, kapal angkasa segera mendukung pasukan robot dari atas.


Akan tetapi, jutaan Gorgon lebih kuat dan banyak menumbangkan pasukan robot dan pesawat tempur. Sebelum situasi memburuk, Tian Lihua memerintahkan semua pasukannya untuk menyerang.


Dengan gagah berani pasukan wanita terlebih dahulu menyerang, lalu diikuti oleh semua Dewa dan Dewi yang membawa serta pasukannya. Tidak terkecuali Tian She Meili, dengan brutal membantai lawannya yang tercipta dari darah Gorgon...


...****************...


Dewa Binatang akhirnya mampu memulihkan kondisi walaupun hanya sebesar 50%, dia melihat Satria 12 Naga tak kenal lelah untuk melawan para raksasa. Kini, jumlah para raksasa Omniverse telah berkurang drastis.


Lalu dia melihat helaian rambut milik Dewa Perusak. Dewa Binatang memegang erat Pedang Semesta dan mengalirkan semua elemen yang dimilikinya. Dia menghentakkan kaki dan melesat ke atas menuju target utamanya.


Ketika jaraknya cukup dekat, dia mengayunkan pedangnya berkali-kali ke arah sehelai rambut itu. Namun, sebelum serangannya mengenai targetnya, muncul sosok mahkluk berukuran kecil seukuran tubuh Dewa Binatang, dan itu adalah kesadaran dari Omniverse.


Melihat itu, Dewa Binatang tidak terkejut karena sudah mengira bahwa tidak mungkin semudah ini untuk memusnahkan Omniverse.


Boom boom boom...


Rentetan ledakan energi ketika Omniverse dengan mudah menahan serangan Dewa Binatang dengan telapak tangannya, lalu dia melesat ke arah lawannya, dan tangan kanannya berubah menjadi pedang hitam.


Dentuman keras ketika dua pedang saling berbenturan. Dewa Binatang terdorong ke bawah karena lawannya sangatlah kuat. Satria 12 Naga yang sedang bertarung dengan jelas melihatnya, namun tidak bisa membantu karena masih banyak para raksasa.


Dewa Binatang kembali menyerang Omniverse sambil meningkatkan elemen cahaya. Melihat itu, kedua mata dari Omniverse tertutup karena silau. Dengan mata tertutup, dia masih mengetahui pergerakan lawannya yang akan menyerang.


Omniverse melesat ke arah Dewa Binatang sebelum mendekatinya. Kemudian, terdengar suara dentangan pedang beradu sengit. Karena terlalu cepatnya gerakan dari Omniverse, membuat Dewa Binatang kewalahan.


Anehnya, ketika Dewa Binatang tersudut, Omniverse tiba-tiba mundur, namun setelah itu menghilang dan muncul di belakang Dewa Binatang. Dewa Binatang segera menghilang dan muncul di atas musuhnya.


Sayangnya, Dewa Binatang terlambat menghindar karena lawan lebih cepat mengayunkan pedangnya. Serangan itu membelah tubuhnya menjadi dua bagian. Tidak berhenti di situ, Omniverse mencincang tubuh Dewa Binatang sehingga menjadi potongan-potongan kecil.


Satria 12 Naga melihat Dewa Binatang yang kembali tewas, namun mereka menyunggingkan senyuman karena tahu jika Dewa Binatang tidak akan mati.


"Sudah kukatakan, aku ini abadi! Akulah Dewa Abadi!" suara Dewa Binatang keluar dari potongan-potongan tubuhnya, dia mendeklarasikan nama ke-Dewa-annya yang baru karena tidak bisa mati.


Bersambung.


(Note: Di bab 170 adalah akhir dari kisah Dewa Binatang yang telah menggantikan namanya. Tetapi, saya tidak akan mengganti buku, dan tetap melanjutkan di novel ini sampai tamat.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya selama ini. Sebelum dan sesudahnya saya minta maaf karena tidak bisa memenuhi ekspektasi dari pembaca, dan inilah kekurangan saya. Saya akan terus berusaha untuk semakin baik dari hari ke hari. Sehat selalu, bahagia dan banyak rejekinya. Salam)


__ADS_2