
Bab 262. Rencana Menyakiti Batin Target.
Sorot mata Dewi Semesta tajam menatap Ling An mengendong tubuhnya yang terikat Tombak Jiwa Berlian Petir. Setiap kali ingin berontak, tubuhnya tersengat petir yang melemahkan tulangnya. Jika bisa berkomunikasi, ia akan memaki-maki Ling An.
Ucapannya sesaat lalu sebelum meninggalkan Kota Sudrah, membuat Dewi Semesta takut di hatinya, ia tidak ingin kesuciannya terkoyak sebelum duduk di kursi Tahta Trimurti.
Tidak mau dirinya mengalami nasib terburuk, Dewi Alam Semesta memejamkan mata. Tiba-tiba, cahaya suci meletup dari tubuhnya sehingga membuat ikatan Tombak Jiwa Berlian Petir mengendur. Merasakan nyeri di kedua tangannya karena cahaya suci, Ling An melemparkan Dewi Semesta, dan Tombak Jiwa Semesta Petir kembali ke punggung.
Ling mundur karena cahaya suci itu membuat tubuhnya tertekan medan gravitasi dan menyilaukan matanya. Cahaya itu lebih benderang daripada sebelumnya, bahkan lebih terang dari sembilan matahari.
"Tuan, dia adalah Tubuh Bawaan Cahaya, sulit untuk kita menyentuhnya jika dia sedang marah. Lebih baik, pergi dari sini!" ungkap Tombak Jiwa Berlian Petir yang telah memeriksa seluruh tubuh Lao Yi si Dewi Alam Semesta ketika mengikatnya.
Ling An mengangguk paham sambil melihat Dewi Semesta dengan Mata Surgawi-nya. Cahaya itu semakin meluas sehingga membuatnya mundur. Yang mengejutkannya, di punggung Dewi Semesta keluar enam pasang sayap berwarna putih.
Keluarnya sayap itu meningkatkan kekuatan Dewi Semesta. Tidak ingin terjadi hal yang buruk kepadanya, Ling An segera terbang menggunakan tombak yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Dhuum...
Dentuman keras ketika tombak terbang melebihi kecepatan cahaya menuju ke luar angkasa. Dia menoleh ke belakang dan terkejut melihat Dewi Semesta mampu menyusulnya dengan sangat cepat. Ling An menduga jika kecepatannya itu dikarenakan memiliki enam pasang sayap.
Ling An merentangkan tangan kanannya ke arah Dewi Semesta, lalu keluar dari telapak tangannya ratusan bola energi kunang-kunang. Dengan pikirannya, bola energi itu melesat ke arah targetnya.
Namun, Dewi Semesta mampu dengan lincah dan cepat menghindari setiap serangan bola energi kunang-kunang. Ledakan bola energi itu tidak mempengaruhinya, tidak sedikitpun membuatnya sakit kepala.
Karena serangan bola energi kunang-kunang, Ling An bisa menjauhinya. Untuk mengecoh Dewi Semesta, ia mengeluarkan Teknik Tubuh Ganda. Bermunculan ratusan orang dengan penampilan yang sama seperti Ling An, dan juga memiliki Tombak Jiwa Berlian Petir.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Ling An untuk berteleportasi secara acak dan berulang-ulang untuk membingungkan lawan. Namun, semua Tubuh Ganda itu dengan mudah dimusnahkan oleh cahaya suci Dewi Semesta.
Dewi Semesta melayang di luar angkasa, lalu mengikuti jejak skill teleportasi yang digunakan oleh Ling An. Sayangnya, jejak ruang spasial begitu banyak sehingga membuat Dewi Semesta berhenti mengejar.
"Beruntung kau berhasil kabur!" gumam Dewi Semesta sambil mencari keberadaan Ling An menggunakan Mata Langit.
Karena tidak menemukan Ling An, cahaya suci Dewi Alam Semesta menghilang. Seketika tubuhnya terasa lemas karena menggunakan energi berlebihan. Dia segera menelan beberapa butir Pil Pemulih Energi.
"Kekuatan Jiwanya mirip dengan Mahatma, apakah benar kera itu adalah belahan jiwanya?" Dewi Semesta memegang bibirnya karena dicium oleh Ling An yang masih dirasakannya.
Ketika dirinya digendong, dia merasakan energi Kekuatan Jiwa milik Ling An sama dengan yang dimiliki oleh Putri Mahatma. Setelah melihat Omniverse berkurang banyak, Dewi Semesta memutuskan untuk kembali ke Alam Jiwa, dia membuang pikirannya yang ingin memiliki Tombak Ilahi.
Jika dia terus-menerus mengejar Tombak Ilahi yang memiliki kecepatan yang setara dengannya jika mengaktifkan Tubuh Bawaan Cahaya, itu sama saja membuang waktunya.
"Penyebab adanya kekacauan adalah pria! Semua pria memang harus dimusnahkan suatu hari nanti...!" tekad Dewi Semesta di dalam hatinya.
Baru kali ini diperlakukan tak senonoh oleh pria, dan menganggap semua pria itu sama keburukannya. Sebelum kembali, Dewi Alam Semesta sekali lagi mencari keberadaan Ling An. Setelah beberapa waktu, ia menghela nafas panjang karena Ling An tidak dilihat oleh Mata Langitnya. Yang ia lihat, Omniverse bersembunyi karena hari telah berganti.
Lalu dia membalikkan badan dan melihat lubang segitiga. Ada ratusan orang yang baru masuk ke lubang itu, dan mereka berasal dari Kasta Sudrah dan Kasta Bangsawan. Dewi Semesta kembali ke Alam Jiwa karena tugasnya telah diselesaikan, dan sisa-sisa Omniverse bisa diselesaikan oleh ketiga Kepala Suku di Tiga Alam...
Ling An berada di guanya, melihat kedua kekasihnya yang terhanyut dalam kultivasi. Satu daun bunga jiwa terbuka, lalu ia meletakkan seribu bola kristal energi di dalamnya, dan membaginya menjadi dua.
Setelah itu, ia membuka mulutnya dan keluar sepuluh Mutiara Jiwa, dan juga membaginya untuk kedua kekasihnya. Dia juga meletakkan kotak kayu dunia sihir di dalam kuncup bunga tanaman jiwa. Kotak kayu itu tidak dibutuhkannya, dan lebih bermanfaat bagi kedua kekasihnya jika berhadapan dengan Omniverse.
Ling An akan pergi meninggalkan mereka untuk membunuh Tian Bo si Dewa Langit. Setelah kekuatan semakin tinggi, samar-samar ingatan tentang masa depannya perlahan mulai pulih. Walaupun ingatannya belum sepenuhnya pulih, dia tahu alasannya kenapa ingin sekali mengeliminasi Tian Bo.
"Suatu hari nanti, kita pasti akan bertemu kembali!" ucapannya dengan lirih.
Ling An segera membalikkan badan dengan berat hati meninggalkan kedua kekasihnya itu. Sebelum keluar dari gua, dia sekali lagi melihat mereka untuk terakhir kalinya. Setelah puas melihat kecantikan mereka, ia berteleportasi dan muncul tidak jauh dari lubang segitiga.
Tanpa keraguan sedikitpun, Ling An segera masuk ke dalam lubang segitiga. Tubuhnya langsung tersedot ke dalam lubang dengan sangat cepat. Ternyata, di dalam lintas dimensi ruang dan waktu, di dalam lubang segitiga itu sangatlah panjang dan ditempuh dalam waktu lama.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Ling An menelan beberapa butir bola kristal energi untuk meningkatkan kekuatannya. Dia memejamkan mata dengan tubuh melesat...
Entah berapa lama dia berada di lorong dimensi lubang segitiga. Yang Ling An tahu, semua bola kristal energi telah dihabiskannya sehingga merasakan kebosanan karena tidak ada yang bisa dilakukannya.
__ADS_1
Untungnya saja ingatan di masa depan telah sepenuhnya pulih karena kekuatannya telah mencapai tingkat True Omega level 50. Untuk menghilangkan kebosanannya, dia mengobrol dengan Bai Ge yang sangat senang karena sudah menunggu Dewa Abadi kembali.
Menurut keterangan dari Bai Ge, kekuatannya yang sekarang akan diakumulasikan. Jadi, kekuatannya dulu akan meningkatkan walaupun hanya naik satu level dari tingkat Creator Of The Universe level 5.
Karena Dewa Abadi datang ke masa depan, wajahnya akan seperti ini saat dilihat oleh orang lain. Namun, wajah aslinya bisa terlihat sebentar saat Kitab Kultivasi Ganda diaktifkan. Semua ini atas pengaturan dari para Kitab Suci agar Dewa Abadi mudah dilupakan dan tidak memiliki sejarah.
"... Kamu tidak boleh terlalu mencolok perhatian banyak orang, bertindaklah dalam bayang-bayang saat menyelesaikan tugas! Oh iya, Kitab Suci dari Alam Kudus berpesan, beliau mengatakan, kamu tidak boleh memperlihatkan diri kepada Tian Ba kakekmu, dan kamu harus secepat mungkin membunuh Tian Bo sebelum kakekmu berhasil menguasai Ilmu Lintas Dimensi Ruang Dan Waktu. Itu pesannya!"
Bai Ge menegaskan, bahwa Dewa Abadi harus secepat mungkin untuk membunuh Tian Bo. Jika Tian Ba si God Of Partikel berhasil menciptakan ilmu yang mampu melintasi masa depan dan masa lalu, dikhawatirkan Tian Ba akan mengejar Dewa Abadi untuk membalas dendam kepadanya.
"Aku mengerti!" jawab Dewa Abadi.
Dia tersenyum saat melihat ujung lorong lubang segitiga. Dia segera bersiap-siap sebelum tiba di Alam Kudus agar tidak terjatuh di saat keluar dari lubang segitiga.
Swosh...
Akhirnya ia keluar dari lubang tanpa harus terjatuh seperti dialami oleh semua orang yang berasal dari Tiga Alam. Dewa Abadi melihat keseluruhan Alam Kudus yang dihuni dengan menggunakan Mata Surgawi. Alam yang masih belum dijelajahi oleh kultivator, benar-benar masih alami.
Dewa Abadi menghitung jumlah orang yang berasal dari Planet Tiga Alam, tidak lebih dari delapan juta jiwa. Mereka berasal dari Kasta Kesatria, Bangsawan dan Kasta Sudrah.
Melihat banyak orang yang telah membangun hunian dan juga membagi wilayah, Dewa Abadi memperkirakan bahwa dirinya telah menghabiskan waktu lebih dari 30 tahun saat melintasi lorong dimensi.
Wilayah di Alam Tianwu dibagi menjadi empat, disesuaikan dengan marga, yaitu marga Tian, Zhi, Guan, dan marga Yu. Mereka
tidak menggunakan lagi struktur sosial seperti di Planet Tiga Alam, kasta ditiadakan.
Pengaturan itu dibuat oleh utusan dari tiga Kepala Suku, utusan itu berasal dari Kasta Mahaguru, namanya Hu Tu - Mahaguru Tu. Dia menginginkan agar penghuni Alam Kudus tidak meniru apapun yang ada di Tiga Alam.
Keinginan itu jelas diterima oleh semua orang yang ingin mandiri, lepas dari kekuasaan penguasa Planet Tiga Alam...
Setelah melihat keseluruhan wilayah yang menjadi pusat hunian, kebetulan Mata Surgawi-nya melihat dua wanita yang dikenalnya. Wanita itu adalah Tian Fangsu neneknya dan Zhi Liuju bibinya.
Saat Dewa Abadi bertanya siapa orang yang melukai Tian Fangsu neneknya, Guan Shilin bungkam. Hingga saat ini, dia tidak tahu siapa orang yang melukai Tian Fangsu. Namun, seiringnya waktu berjalan, maka kebenaran akan menemui jalannya sendiri. Dewa Abadi sudah menebak dengan pasti bahwa pelakunya adalah Tian Bo.
Mengenai Zhi Liuju, Dewa Abadi juga tidak mengenalnya, sebab dia belum lahir waktu itu. Dia tahu dari lukisan keluarga besar Zhi. Zhi Liuju meninggal dunia juga karena luka dalam saat menyelamatkan Tian Fangsu. Sama-sama dilukai oleh Tian Bo si Dewa Langit ayah kandungnya yang sangat kejam.
"Luka yang sulit disembuhkan adalah luka batin. Sebelum aku membunuhmu, aku akan melukai batinnya terlebih dahulu!" rencana Dewa Abadi yang ingin menyiksa Tian Bo sebelum dieksekusi mati.
Karena Dewa Abadi telah memutuskan hubungan darah dengan keluarga besar Tian dan Zhi, dia tidak lagi ragu-ragu untuk mendapatkan hati Zhi Liuju, Tian Fangsu dan Zhi Xiu Juan, dan semua wanita di pihak mereka.
Dia memutuskan hubungan darah dengan pihak keluarga besar Zhi, dikarenakan pihak keluarga Zhi diam saja saat mengetahui kekejaman Tian Bo, bahkan tidak melakukan apapun untuk menindaknya.
Keluarga seperti itu, bagi Dewa Abadi adalah penyakit batin yang harus dimusnahkan, tidak layak dianggap sebagai keluarga terpandang. Saat ini, adalah waktu yang tepat untuk memberikan mereka pelajari berharga yang akan selalu diingat seumur hidup.
Pertama-tama, dia sudah takluk hati Zhi Xiu Juan yang disukai oleh Tian Bo. Dewa Abadi yakin jika Zhi Xiu Juan akan menyusulnya ke Alam Kudus. Selanjutnya, dia akan menaklukkan hati janda Tian Fangsu dan Zhi Liuju, bahkan sudah memasukkan nama Guan Shilin dalam daftar wanita yang perlu ditaklukkannya.
Mengingat masa lalunya ketika menjalani siklus Samsara kehidupan, Guan Shilin dan Zhi Xiu Juan selalu ikut campur, menyebabkan Dewa Abadi mendapatkan karma buruk, yaitu harus kehilangan semua istrinya dengan cara menyakitkan hati.
"Hei...! Kenapa kamu melamun? Jangan-jangan rencanamu itu berpikiran kotor tentang keluargamu!" teguran Bai Ge yang melihat Dewa Abadi senyum-senyum sendiri tanpa penyebab.
Dewa Abadi tertawa karena pikirannya selalu diketahui oleh Bai Ge. Lalu dia berkata, "mereka adalah keluarga dari Tian Zhi Shimo, bukan keluarga besar Dewa Binatang Yang Abadi."
"Loh...! Siapa namamu?" sindiran Bai Ge.
"Shimo!" jawab Dewa Abadi singkat.
"Apa nama panjangnya?"
"Shimooo!"
"Sapi ketika memanggil... Shimooo!" kegeraman Bai Ge.
__ADS_1
Dewa Abadi tertawa karena Bai Ge menirukan suara sapi yang kelaparan. Dia paham dengan sindiran Bai Ge, sebab dia memutuskan hubungan sepihak, dan garis darahnya masih berasal dari keluarganya.
Tentang garis darahnya, Dewa Abadi akan meminta bantuan kepada gurunya untuk menghapusnya, menghapus ingatannya, memutuskan hubungan darah dengan keluarga besar Tian dan Zhi.
Dia kembali melihat Tian Fangsu dan Zhi Liuju sedang berburu Inti Binatang yang memiliki pertahanan kuat, yaitu Kura-kura berukuran besar, diameter tempurungnya mencapai 17 meter, dengan tempurung warna hitam kehijauan.
Dewa Abadi menghilang dan muncul dengan duduk di cabang batang pohon, dia melihat kedua wanita itu bekerjasama untuk menghancurkan pertahanan kura-kura.
Tidak jauh dari pertarungan mereka, dia melihat manusia berjenis kelamin laki-laki yang mirip dengan ciri-ciri bangsa Asura. Kulit tubuhnya berwarna merah, tinggi badan mencapai 3 meter, memiliki sepasang tanduk kambing, dan empat tangan.
Karena sudah tahu sejarah adanya bangsa Asura yang berasal dari evolusi Omniverse Mata Lima, Dewa Abadi tidak heran. Dia melihat Asura itu yang diam-diam mengamati pertarungan sebelum menyerang.
"Dengan kekuatannya di tingkat True Delta level 1, seharusnya mudah untuk mengalahkan mereka. Pintar juga Asura itu yang tidak ingin susah payah mengeluarkan energi!" gumam Dewa Abadi yang tahu rencana Asura itu setelah membaca pikirannya.
Asura itu menginginkan tubuh Tian Fangsu dan Zhi Liuju agar bisa melahirkan keturunan. Selama 30 tahun di Alam Kudus, Omniverse telah mempelajari kehidupan manusia, dan mampu meniru cara hidup manusia.
Tian Fangsu dan Zhi Liuju sahabatnya tidak mampu mengalahkan kura-kura yang sangat kuat pertahanannya. Mereka memutuskan untuk berburu binatang lain. Dengan mendapatkan Inti Binatang, mereka akan mudah untuk meningkatkan kekuatan.
Jika berburu tanaman langka untuk dijadikan bahan ramuan Pil Kultivasi, mereka masih membutuhkan banyak bahan, dan juga kemampuan mumpuni dalam meramu pil yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kura-kura segera kabur karena tidak lagi serangan. Walaupun pertahanannya kuat serta basis kultivasinya lebih tinggi, karena penakut si kura-kura memilih untuk tidak menyerang balik kedua wanita pemburunya.
"Kita istirahat dulu, baru lanjut berburu!" pinta Tian Fangsu yang kelelahan.
"Kita istirahat di sana!" ajakan Zhi Liuju sambil menunjuk ke arah pohon purba yang memiliki lubang, tempat yang nyaman dan untuk beristirahat.
Kedua wanita itu segera menuju ke lubang pohon. Namun, mereka dikejutkan dengan kemunculan makhluk yang tidak pernah dilihatnya. Mereka langsung berlutut karena Asura itu mengeluarkan aura kekuatan agar mudah untuk ditangkap.
Karena kalah jauh, kedua wanita itu tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Mereka melihat kedua kaki Asura itu mendekatinya. Tubuh mereka gemetaran karena sangat ketakutan.
Asura mencekik leher kedua wanita itu dan mengangkatnya sehingga kakinya tergantung. Wajah mereka memerah dan gelagapan karena sulit untuk bernafas. Mereka melihat wajah Asura yang sangat mengerikan baginya. Mereka belum tahu jika mahkluk itu adalah Omniverse Mata Lima.
Namun, tiba-tiba mereka melihat tombak melesat dari arah belakang dan menusuk ubun-ubun kepala si Asura. Seketika Asura melepaskan cengkeramannya. Tanpa mengetahui siapa pelakunya, tubuhnya menjadi abu dalam sekejap mata.
Kedua wanita itu bernafas lega karena bisa menghirup udara, mereka melihat pemilik tombak itu adalah Ling An yang dijuluki kera oleh penduduk di Tiga Alam. Mereka berdua buru-buru menjauhinya karena takut.
"Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Ling An sambil mencabut tombaknya yang tertancap di tanah, dan meletakkannya di punggung.
Kedua wanita itu saling berpandangan karena Ling An tidak seperti yang digembor-gemborkan, terkenal memiliki sifat yang brutal, semaunya sendiri, dan tega mencabut nyawa manusia tanpa alasan.
Karena tidak ada jawaban, Ling An membalikkan badan dan berniat untuk mencari Tian Bo. Dia mengambil bola kristal energi dan melemparkannya ke arah Tian Fangsu. Dengan cekatan Tian Fangsu meraih pemberiannya.
Setelah itu, Ling An berjalan mengikuti jejak kaburnya bintang kura-kura. Namun, dengan diam-diam kedua wanita itu mengikutinya. Ling An tersenyum tipis karena kedua wanita itu mulai penasaran dengannya. Dia tetap berpura-pura tidak mengetahui mereka.
Tidak butuh waktu lama, Ling An menemukan tempat persembunyian kura-kura, sembunyi di dasar danau tak bernama. Dia mencelupkan ujung jarinya di air.
Kedua wanita itu bersembunyi di balik pepohonan sambil melihat Ling An. Mereka melihat air danau itu dengan cepat surut. Tidak butuh waktu lama, mereka melihat kura-kura di dasar danau.
Kura-kura itu panik dan buru-buru menyembunyikan kepalanya di tempurung. Di telapak tangan kanan Ling An muncul Api Semesta, lalu melemparkannya ke arah kura-kura.
Api Semesta itu memanggang kura-kura dalam waktu singkat. Kedua wanita melongo melihat kehebatan Ling An yang mampu mengalahkan kura-kura dengan sangat mudah.
Ling An melihat Inti Binatang Kura-kura yang memiliki kekuatan tingkat True Delta. Lalu melemparkannya ke belakang, melesat ke arah Zhi Liuju. Kedua wanita kaget karena persembunyiannya diketahui. Inti Binatang itu jatuh tepat di depannya Zhi Liuju.
Zhi Liuju mengambilnya dan segera menyusul Ling An yang masuk ke dalam danau. Kedua wanita melihat Ling An memakan daging kura-kura dengan nikmatnya.
"Aku tidak mungkin bisa menghabiskan daging sebanyak ini! Ayo kita makan bersama!" tawaran Ling An sambil melambaikan tangan memanggil.
Karena Ling An telah menyelamatkannya, serta memberikan benda berharga, kedua wanita itu tidak lagi takut kepadanya. Mereka segera bergabung dengan Ling An, dan ikut makan daging kura-kura.
Di dasar danau yang kering, mereka melihat tanaman langka yang mengandung elemen air, dan banyak ikan menggelepar karena tidak adanya air. Ling An tersenyum karena kedua wanita itu malu untuk memulai berbicara...
__ADS_1