God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Ruang Harta Dewa Api Phoniex.


__ADS_3

Bab 97. Ruang Harta Dewa Api Phoniex.


Di pagi hari, suasana di Kota Chu tidak lagi semeriah sebelumnya, banyak orang yang mengenakan pakaian serba putih untuk acara berkabung, di mana kediaman Duke Manchu terdengar Isak tangisan karena kematian pemimpin kota...


...****************...


Setelah kekalahan dari Kerajaan Matahari Terbit, Raja Guang memutuskan untuk meminta bantuan dari Kaisar Bowen yang berada di Alam Suci. Dia menuju ke ruang bawah tanah yang berada di belakang istana.


Di ruang bawah itu seperti bungker, di mana ada altar dimensi yang memiliki lima tugu, disetiap puncak tugu itu terdapat berlian yang mengerucut sebesar kepala orang dewasa, dan setiap berlian itu berbeda warna sesuai dengan unsur alam; Fire (merah), Earth (Hijau), Water (Biru), Air / Wind (Kuning), dan Spirit (Putih).


Raja Guang tidak sendirian, bersama Permaisuri Liiu, Pangeran Jia, Seng Rong dan Menteri Penasihat Negara. Seng Rong berhasil lolos dari Kematian karena kabur terlebih dahulu sebelum Duke Manchu terbunuh di tangan Raja Genjo.


Tujuan Raja Guang membawa mereka untuk dijadikan saksi, dan juga untuk mengaktifkan altar dimensi. Saat ini, Raja Guang berdiri di belakang tugu Spirit, sedangkan yang lainnya masing-masing berdiri di belakang keempat tugu lainnya, sesuai dengan kemampuan mereka dalam mengendalikan elemen.


"Aktifkan!" perintah Raja Guang.


Segera, Permasuri Liiu mengalirkan energi yang mengandung elemen air, Pangeran Jia mengalirkan energi api, Seng Rong mengeluarkan elemen tanah, sedangkan Menteri Penasihat Negara mengeluarkan elemen angin.


Kemudian, setelah mereka mengalirkan energi elemen, keempat berlian itu mengeluarkan cahaya yang sesuai warnanya, dari keempat tugu itu mengeluarkan sinar yang memasuki tugu Spirit.


Setelah tugu Spirit mendapatkan energi dari keempat elemen, tugu itu bercahaya dan mengeluarkan sinar seperti laser ke tengah altar. Segera Raja Guang mengukir pola di dinding tugu Spirit.


Setelah selesai, di tengah altar dimensi muncul sebuah lubang, yang mana lubang itu menjadi alat transportasi antar galaksi. Setelah lubang dimensi muncul, semua orang berhenti mengalirkan energi.


Kemudian, semua orang masuk ke dalam lubang dimensi. Mereka tidak tahu berapa lama perjalanan menuju ke Alam Suci melalui lubang dimensi...


Saat ini, Raja Guang dan rombongannya telah keluar dari lubang dimensi, mereka terkesima melihat tempat yang baru pertama kali dikunjungi. Mereka telah tiba di Alam Suci.


Akan tetapi, baru saja mereka keluar dari lubang dimensi, banyak orang kuat yang langsung mengepung mereka. Kekuatan mereka dua tingkat di atas Raja Guang, berada di tingkat Half Theta.


"Tangkap mereka!" perintah komandan penjaga lubang dimensi yang berasal dari Ras Malaikat, memiliki dua pasang sayap berwarna putih, dialah orang yang paling kuat diantara lainnya, tingkat Half Theta level 70.


"Tolong, tunggu sebentar, biar saya jelaskan tujuan kami datang ke Alam Suci!" terang Raja Guang yang ingin diberi waktu untuk menjelaskan tujuannya datang.


"Cepat katakan, darimana asalmu dan apa tujuanmu?" komandan penjaga lubang dimensi bertanya dengan tegas.


"Kami berasal dari Galaksi Arcadia, wilayah kekuasaan Kaisar Bowen, dan Dewa Api Phoniex adalah leluhur kami. Tujuan kami datang ke Alam Suci, untuk melapor sekaligus menemui junjungan kami. Dewa Api dan Dewa Air utusan Yang Mulia Kaisar Langit, mereka telah terbunuh ditangan Mao Zedong yang berasal dari Ras Iblis...," panjang lebar Raja Guang menjelaskan tujuannya.


Komandan penjaga lubang dimensi dan bawahannya mendengar dengan seksama tanpa menyela.

__ADS_1


Raja Guang dan rombongannya sebenarnya sangat ketakutan karena kalah dalam hal basis kultivasi, namun mereka yang telah berpengalaman berusaha untuk tetap tenang.


"Baru mendapatkan gelar Dewa Api dan Dewa Air mereka sudah terbunuh? Ini berita yang sangat penting! Dan junjungan kalian memang menjadi tamu kehormatan Istana Surgawi. Mari, ikuti kami!" Akhirnya, hati komandan penjaga lubang dimensi begitu luas, dia menerima alasan Raja Guang.


Raja Guang dan rombongannya baru bisa bernafas lega dan segera mengikuti komandan penjaga lubang dimensi. Sambil berjalan, mereka melihat sekelilingnya yang begitu subur, jauh jika dibandingkan dengan Galaksi Arcadia.


Banyak pulau-pulau melayang, gedung-gedung tinggi yang menakjubkan karena infrastrukturnya yang unik. Dan yang paling membuat mereka takjub, anak usia di atas 5 tahun sudah memiliki kekuatan di atas tingkat Dewa Putih.


Selain itu, energi spiritual di Alam Suci jauh berbeda dengan Galaksi Arcadia, mereka tidak tahu energi apa yang dirasakan. Namun satu hal yang membuat hati mereka senang, energi ini mampu meningkatkan kekuatan dengan cepat, 5 kali lebih cepat daripada berkultivasi di Galaksi Arcadia.


Selama perjalanan menemui penanggung jawab para Dewa dan Dewi, komandan itu banyak bertanya mengenai Galaksi Arcadia, bagaimana kedua utusan bisa terbunuh dan masih banyak lagi yang ditanyakan.


Raja Guang menjawab dengan jujur tanpa menutupi apapun, tetap tidak menceritakan tentang harta peninggalan Dewa Api Phoniex yang menjadi rebutan hingga menewaskan Dewa Api dan Dewa Air. Dia membuat alasan lain perihal kematian kedua utusan itu.


Dewa Api dan Dewa Air memang baru mendapatkan gelar ke-Dewa-an, dan mereka menuju ke Galaksi Arcadia merupakan misi pertamanya. Misinya adalah untuk mengawasi Galaksi Arcadia, memberikan laporan jika Dewa Binatang datang.


Sayangnya, karena rasa puas menjadi seorang dewa, mereka melupakan tugas karena terhanyut dalam kesenangan duniawi; bermain perempuan, berjudi dan apapun yang menjadi kesukaannya selalu dipenuhi oleh Raja Guang, dan semua itu sebenarnya dilarang oleh Kaisar Langit.


Setelah melaporkan kepada Pemimpin Dewa dan Dewi tentang tewasnya utusan, Raja Guang dikawal ketat saat menuju ke tempat tinggal Dewa Api Phoniex dan Kaisar Bowen.


Ternyata, oleh Kaisar Langit, setiap sekutunya yang mengikutinya ke Alam Suci diberikan wilayah sendiri, dan wilayah itu dikelola menurut aturan mereka. Kaisar Langit hanya meminta bantuan pajak sebesar satu persen setiap bulan dari hasil apapun di wilayah itu.


Biarpun begitu, siapapun orangnya yang diizinkan tinggal di Alam Suci tidak akan menolak pajak sebesar apapun, sebab apa yang mereka terima di Alam Suci lebih dari nilai pajak. Salah satu contoh yang menguntungkan siapapun adalah, dengan mudah meningkatkan kekuatan karena energi spiritual yang padat dan melimpah.


Saat ini, Raja Guang telah berhadapan dengan Dewa Api Phoniex dan Kaisar Bowen. Status mereka berdua di Alam Tianwu tidak berubah, Song Bowen tetap menjadi kaisar, sedangkan Dewa Api Phoniex sebagai leluhurnya.


Segera Raja Guang menceritakan apapun yang terjadi di Galaksi Arcadia tanpa menyembunyikan apapun. Dia juga menceritakan tentang Ular Surgawi yang baru lahir memiliki kekuatan tingkat Dewa Absolute.


Mendengar berita ini, sontak membuat Dewa Api Phoniex menjadi geram karena hartanya akan direbut oleh Ras Iblis dari Galaksi Arcadia. Dia khawatir dengan hartanya yang disembunyikan dari siapapun, harta itu adalah mesin waktu. Sedangkan mengenai Ular Surgawi, dia akan merebutnya setelah mengamankan harta berharganya.


"Ayo, kita temui Yang Mulia Maharaja Yaksa!" ajak Dewa Api Phoniex yang ingin meminta izin untuk berurusan dengan Ras Iblis yang merupakan keturunan dari Maharaja Yaksa.


Ya, Dewa Api Phoniex tidak bisa sembarang dalam bertindak apalagi menyangkut keturunan dua penguasa Alam Suci. Ada aturan yang harus dipatuhi oleh siapapun yang tinggal di Alam Suci.


"Maaf, Leluhur! Bukankah harta itu milik Anda, kenapa harus melapor kepada Yang Mulia Maharaja Yaksa?" interupsi Kaisar Guang sebelum Dewa Api Phoniex meninggalkan tempat duduknya.


Dewa Api Phoniex berpikir sejenak, apa yang dikatakan oleh cucunya memang benar.


"Buat apa harus melapor jika ini menyangkut hal pribadi. Seandainya melapor dan menceritakan tentang hartanya, sudah dipastikan akan terkena potong pajak!" pikirnya di dalam hati.

__ADS_1


"Kamu benar. Untung saja kamu mencegahku! Kalau begitu, kita pergi ke Kuil Suci untuk mendapatkan izin keluar dari sini!"


Setelah berbicara, Dewa Api Phoniex segera menuju ke Kuil Suci dan diikuti oleh keturunannya. Raja Guang tersenyum bangga karena dipuji oleh leluhurnya, leluhur yang baru pertama kali dilihatnya.


Ada satu orang yang mereka lupakan, di mana ada Seng Rong yang masih dikendalikan oleh Raja Arwah. Seng Rong berada paling belakang semua orang, lalu dia diam-diam memisahkan diri dari rombongan Dewa Api Phoniex dan merubah menjadi kabut hitam tanpa diketahui oleh siapapun...


...****************...


Di Galaksi Arcadia


Dewa Binatang sudah berada di Lembah Arwah, satu hari sebelum kedatangan Mao Zedong yang masih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.


Ruan Fei memimpin jalan menuju ruang harta milik Dewa Api Phoniex, di mana banyak lorong-lorong seperti labirin. Berhubungan sudah memiliki peta, mereka tidak tersesat maupun terhalangi jebakan yang dibuat oleh Dewa Api Phoniex.


Dewa binatang tidak membawa istrinya, tetapi Tian She Meili tidak mau jauh darinya, selalu menempel sepanjang waktu. Saat ini, Tian She Meili sedang digendong ayahnya di belakang punggung.


Akhirnya, mereka telah tiba di pusat tiga jalur lorong, di mana jalannya lebih terjal dan juga licin, udaranya sangat pengap, dan terasa suhu panas yang berasal dari dalam inti galaksi (inti bumi).


"Jalan turunan ini sejauh 2 km. Nanti kita akan menemui beberapa lorong yang sengaja dibuat untuk membingungkan siapapun, "kata Ruan Fei seperti seorang pemandu wisata.


"Yang Mulia, ada jalan rahasia yang mempersingkat waktu dan perjalanan. Kita tidak perlu melewati jalur sesuai petunjuk peta!" imbuhnya sambil berjalan di dinding gua yang tampak biasa.


"Aku sudah tahu. Tonjolan pada dinding itu adalah mekanisme untuk membuka pintu rahasia, bukan?" sela Tian She Meili yang memiliki Mata Surgawi sehingga bisa melihat apapun termasuk jalan rahasia.


Demikian pula dengan Dewa Binatang yang memiliki Mata Langit, tanpa Ruan Fei berbicara maupun menunjukkan jalan rahasia, dia sejak masuk ke gua telah mengetahuinya.


Ruan Fei tersenyum masam karena malu, dia tidak menyangka gadis kecil ini sudah mengetahuinya, padahal dia dan anak buahnya susah payah mencari jalan rahasia.


"Nona Muda memang hebat!" pujian Ruan Fei.


"Tentu, siapa juga Ayahnya!" celetuk Tian She Meili yang membuat ayahnya tertawa.


Seperti yang dikatakan oleh Tian She Meili, Ruan Fei menekan tonjolan pada dinding gua yang berbeda dari lainnya, di mana ada penandanya yang terukir sangat kecil. Tanda itu sekilas tidak akan terlihat, jika diamati dengan teliti maka akan terlihat jelas.


Pintu rahasia terbuka setelah mekanisme terpicu. Lalu terlihat lorong setinggi 3 meter dengan lebar 2 meter. Mereka pun segera masuk dan pintu secara otomatis kembali tertutup. Setelah masuk, dinding lorong mengeluarkan cahaya yang berasal dari Batu Cahaya.


Lorong itu kini menjadi terang, cukup untuk menerangi mata orang biasa. Ruan Fei yang berada di depan segera menyusuri lorong, jalannya tidak licin seperti jalur yang telah dipetakan. Selain itu, jalan rahasia lebih aman dan struktur jalannya seperti tangga berputar.


Tidak butuh waktu lama, mereka telah tiba di pintu masuk ke ruang harta, di mana ada tugu setinggi setengah meter. Di tugu itu ada lubang untuk memasukkan Pedang Penguasa Api sebagai kunci untuk membuka pintu.

__ADS_1


"Tugu inilah tempat untuk memasukkan ujung Pedang Penguasa Api. Kami sudah berusaha keras untuk membuka pintu harta ini tanpa kunci, tetapi tidak bisa. Pintu ini sangat kokoh, tebal dan mampu menahan serangan energi spiritual. Kami juga sudah mencari jalan lain, tetapi tidak menemukannya!" terang Ruan Fei setelah berada di depan pintu ruang harta.


__ADS_2