God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Putri Mahatma.


__ADS_3

Bab 233. Penjaga Pagoda Emas 5 Lantai, Mahatma.


Di saat Dewa Abadi berada di dalam Pagoda Berlian 20 lantai, tiga orang penting dan keempat wanita muda itu tidak melihatnya. Mereka segera melihat menyusuri setiap lantai, tujuan mereka ingin membantu Dewa Abadi memulihkan energi spiritual.


Namun, mereka tidak tahu jika Dewa Abadi tidak kehabisan energi spiritual, melainkan kehabisan energi Kekuatan Jiwa. Dan, Dewa Abadi tidak berada di dalam Pagoda Berlian 20 lantai. Dia berteleportasi dan muncul di depan Pagoda Berlian 5 lantai.


Dengan wujud menjadi udara, dia tidak diketahui oleh para penjaga yang berasal dari Kasta Kesatria yang dipimpin oleh Mahaguru. Jika para penjaga memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari Dewa Abadi, mereka sudah pasti mengetahuinya.


Menurut keterangan dari Chen Yeon sebelum menghembuskan nafas terakhir, dia berkata bahwa di dalam Pagoda Berlian 5 lantai menyimpan banyak harta alam. Harta-harta itu tergolong langka dan mengandung energi.


Pagoda Berlian 5 lantai merupakan satu-satunya bangunan yang tidak diperbolehkan untuk dimasuki. Hanya dua orang yang bisa masuk, mereka adalah Mahaguru Lu dan Mahaguru Sam.


Mereka masuk biasanya untuk memeriksa harta, menyimpan harta yang tidak mereka ketahui asal-usulnya, dan mengambil harta untuk keperluan bagi orang-orang yang melindungi Daratan Pagoda Berlian.


Dengan wujud menjadi udara, Dewa Abadi masuk ke celah-celah pintu gerbang Pagoda Berlian 5 lantai. Di lantai pertama, dia melihat banyak emas batangan, Batu Roh dan Batu Mistik.


Karena di lantai pertama tidak ada sesuatu untuk memulihkan energi Kekuatan Jiwa, dia naik ke lantai dua. Di lantai dua, tempat penyimpanan senjata berbagai macam jenis peringkat, dari tingkat Armament Grade God hingga Artefak Bintang 7.


Selain senjata, ada banyak kitab bela diri, dan bahkan ada juga Artefak Alami yang jumlahnya lebih dari ratusan jenis senjata yang berbeda model. Semua harta berharga itu melayang di udara, bergerak bebas seolah-olah saling berkomunikasi satu dengan yang lain.


Ketika mengetahui kehadiran Dewa Abadi yang berubah menjadi udara, senjata dan kitab bela diri mengelilinginya. Lalu Dewa Abadi mendengarkan suara telepati dari semua senjata dan kitab bela diri.


Mereka menginginkan agar Dewa Abadi memilihnya, dan saling berebut berbicara tentang kelebihannya masing-masing. Mereka mengeluarkan aura kekuatan untuk menunjukkan dominasinya sebagai yang terhebat.


Dewa Abadi tersenyum masam karena Artefak Alami yang dulunya menjadi rebutan di galaksi lain, di Tiga Alam seolah-olah bukan sesuatu yang perlu direbutkan.


Mengingat Maharaja Yaksa dan semua musuhnya mengejar demi untuk mendapatkan Artefak Alami miliknya, Dewa Abadi merasa hidup ini konyol. Jika tahu di Tiga Alam menyimpan banyak Artefak Alami, tidak mungkin mereka saling berebut dan saling membunuh.


"Lebih baik, kalian menjadi satu agar lebih berguna bagi kekuatan di atas tingkat Divine Realm! Dengan kekuatanku saat ini, kalian tidak banyak membantu, dan akan menjadi sia-sia saat digunakan untuk bertarung. Apalagi aku memiliki Kekuatan Jiwa Semesta yang tidak dimiliki oleh siapapun di dunia ini!" ucap Dewa Abadi kepada semua senjata dan kitab bela diri yang mengoceh tentang kelebihan diri sendiri.


Ucapannya seketika membuat semua senjata langka dan kitab bela diri berhenti merayu Dewa Abadi. Memang benar yang dikatakannya, mereka tahu kekuatan Dewa Abadi yang tidak lagi membutuhkan senjata dan teknik bela diri saat bertarung, sebab setingkat itu sudah menyatu dengan energi alam yang bisa digunakan sebagai senjata.


Karena kekuatan Jiwa, mereka menginginkan Dewa Abadi memilihnya. Jika Dewa Abadi tidak memiliki Kekuatan Jiwa yang dibutuhkan oleh mereka, mereka jelas tidak akan mau menjadi seperti ini, mengemis agar dipilih oleh Dewa Abadi.


"Benar yang dikatakan suamiku! Lebih baik kalian menjadi satu agar bermanfaat bagi suamiku!" imbuh Bai Ge dengan bangganya.

__ADS_1


Dewa Abadi langsung melihat Bai Ge dan berkata dengan nada ketus, "sejak kapan aku menjadi suami seekor burung?"


"Hei...! Kita ini sudah menjadi satu jiwa dan raga, dan itu sama saja dengan pasangan Dao seumur hidup...?!" Bai Ge sangat marah kepada Dewa Abadi dan terus mengomel tak karuan.


Karena sudah biasa mendengar Bai Ge berkicau tak jelas, Dewa Abadi bergegas menuju ke lantai ketiga....


Setelah Dewa Abadi naik ke lantai berikutnya, semua Artefak Alami dan kitab bela diri mengeluarkan energi spiritual dan saling terhubung, hal yang belum pernah mereka lakukan selama ini.


Ucapan Dewa Abadi telah menyadarkan mereka, yang memiliki kesadaran walaupun hanya sebagai benda yang terlahir secara alami. Mereka di simpan di dalam Pagoda Berlian karena tidak banyak membantu kekuatan di atas tingkat Divine Realm.


Jika diberikan kepada kepada kultivator di bawah tingkat itu, akan menjadi rebutan dan pertumpahan darah. Karena tidak ingin pertumpahan darah terjadi di Tiga Alam, maka senjata langka dan kitab bela diri itu disimpan di dalam Pagoda Berlian.


Setelah semua jenis senjata dan kitab bela diri itu saling terhubung dengan energi spiritual, Pagoda Berlian 5 lantai mengeluarkan cahaya benderang yang menyilaukan mata, bahkan kekuatan di bawah tingkat Creator Of The Universe sampai memejamkan mata.


Semua orang yang berada di Daratan Pagoda Berlian jelas melihat dan merasakan keheranan, sebab kejadian ini baru pertama kali terjadi di Tiga Alam. Semua orang penting segera berkumpul di depan pintu Pagoda Berlian 5 lantai.


Mahaguru Lu dan Mahaguru Sam segera membuka pintu gerbang, namun mereka terkejut karena tidak bisa membukanya. Khawatir jika Pagoda Berlian dicuri seperti kejadian jutaan tahun lalu, mereka segera menyegel Pagoda Berlian 5 lantai dengan energi spiritual agar tidak keluar dari tempatnya...


Dewa Abadi yang berada di dalam Pagoda Berlian 5 lantai, tidak mengetahui apa yang terjadi di luar, sebab cahaya benderang itu tidak masuk ke dalam pagoda.


Saat ini, dia berada di lantai tiga merupakan tempat penyimpanan berbagai kitab Alkemis, Formasi Array, dan berbagai macam profesi yang mendukung bakat para kultivator.


Demikian juga dengan profesi yang lainnya, yang masih berada di tingkat Celestial Supreme. Kecuali profesi Penjinak Binatang, dia sudah berada di puncak tertinggi karena sebagai Dewa-nya Binatang.


Tidak seperti yang berada di lantai dua, kitab berbagai profesi tertata rapi di lemari kayu ukiran, tetapi setiap kitab itu terdapat sinar yang membentuk sebuah rantai agar tidak bisa dibuka.


Bai Ge yang sedari tadi mengomel, segera berhenti melihat kitab itu yang diminati oleh Dewa Abadi. Dia melihat Dewa Abadi yang membaca tulisan energi di permukaan kitab.


"Apa yang kamu cari?" tanya Bai Ge.


"Sesuatu yang memaksimalkan kemampuan dalam profesi, seperti profesi Alkemis dan lain sebagainya!" jawab Dewa Abadi sambil terus berjalan pelan sembari mencari tulisan energi di setiap kitab.


"Itu akan membuang waktu lama untuk memahami setiap profesi. Langsung saja naik ke atas untuk menemukan sesuatu yang memulihkan energi Kekuatan Jiwamu! Ingat, lawan sewaktu-waktu datang tanpa terduga!" Bai Ge mengingatkan tujuan awal berada di tempat ini.


Dewa Abadi yang diingatkan, segera naik ke lantai empat. Apa yang dikatakan oleh Bai Ge memang benar, memulihkan energi Kekuatan Jiwa merupakan hal penting karena menjadi andalannya selama ini.

__ADS_1


Selain itu, Bai Ge juga membutuhkan Kekuatan Jiwanya untuk bisa ikut bertarung. Tanpa Kekuatan Jiwanya yang unik, Bai Ge hanya bisa menggunakan energi spiritual, dan tidak bisa memaksimalkan kekuatannya.


Saat berada di lantai empat, Dewa Abadi dan Bai Ge dibuat takjub karena melihat ladang Buah Suci dan tanaman langka yang tidak ada di dalam Dunia Jiwanya. Salah satu jenis Buah Suci yang mengeluarkan energi jiwa membuat Dewa Abadi mengembangkan senyuman bahagia, sebab apa yang dicari tersedia di sini.


Lalu dia melihat di sisi kirinya terdapat sebuah kitab melayang di udara. Dewa Abadi segera mengambilnya, lalu membuka isi kitab. Setelah membaca lembaran pertama, ternyata isinya tentang informasi dari semua jenis pohon dan tanaman langka yang ada di tempat ini.


Sebelum membuat lembaran kedua, Dewa Abadi dan Bai Ge dikejutkan oleh seseorang wanita muda usia 15 tahun yang keluar dari dalam kitab informasi. Lalu wanita muda itu dengan mudah mengambil kitab yang dipegang oleh Dewa Abadi.


Wajah biasa saja, tetapi memancarkan pesona yang tidak pernah dilihat dan dirasakan oleh Dewa Abadi, tinggi badan 171 cm, rambut panjang sebahu, dengan poni menutupi keningnya. Pakaiannya terusan berwarna putih, menutupi leher hingga tumit.


"Aku adalah penjaga lantai empat, namaku Mahatma. Aku tahu tujuan Anda setelah memegang kitab ini. Saranku, ambil 5 buah yang berada di pohon rindang dan pendek, di sana. Itu adalah Pohon Ling, menghasilkan Buah Ling... Ikuti aku!"


Dewa Abadi tidak sedikitpun diberikan kesempatan untuk berbicara apalagi bertanya. Dan anehnya, Dewa Abadi sulit untuk membuka mulutnya, dan mengikuti wanita muda itu yang bernama Mahatma.


Saat berada di dekat Mahatma, Dewa Abadi merasakan energi Kekuatan Jiwanya perlahan mulai terisi, seakan-akan wanita muda ini adalah sumber dari segala energi jiwa.


Bai Ge yang cerewet, juga tidak bisa membuka mulutnya, hanya bisa melihat Mahatma yang berjalan ke arah Pohon Ling. Karena dirinya terhubung dengan Dewa Abadi, ia juga merasa Kekuatan Jiwa Dewa Abadi perlahan terisi karena Mahatma.


Pohon Ling sangat mirip dengan pohon beringin. Berbedanya, setiap daun Pohon Ling berwarna putih, batang pohon dan cabang-cabangnya berwarna keemasan. Setiap akar yang menjuntai ke bawah berwarna merah muda.


Anehnya, Dewa Abadi dan Bai Ge tidak melihat buah yang disebut oleh Mahatma. Namun, saat Mahatma berada di depan batang Pohon Ling, ia mengetuk batang pohon itu.


Setelah itu, batang pohon muncul sebuah lubang yang mengeluarkan Buah Ling. Bentuknya seperti lonceng berwarna emas, ukurannya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Kemudian, Mahatma kembali mengetuk batang pohon sebanyak empat kali.


Setelah beberapa saat, muncul empat lubang di batang pohon, setiap lubang mengeluarkan Buah Ling dengan bentuk yang sama, seperti lonceng.


Setelah memegang lima Buah Ling, Mahatma membalikkan badan dan memberikan buah itu kepada Dewa Abadi. Dengan senang hati Dewa Abadi menerimanya.


"Satu buah ini lebih dari cukup untuk mengisi penuh energi Kekuatan Jiwa Anda. Sisanya, Anda tanam di dalam Dunia Jiwa. Metode penanamannya, pendam Buah Ling di tanah dengan kedalaman 100 meter. Carikan tempat khusus agar pertumbuhannya tidak terganggu. Selain itu, sebelum akarnya tumbuh dan berwarna merah muda, jangan sekali-kali didekati...," Mahatma menjelaskan tentang Pohon Ling kepada Dewa Abadi.


Dewa Abadi dan Bai Ge dengan seksama mendengar penjelasan Mahatma. Dia diminta untuk mencarikan tempat yang jauh dari manusia maupun binatang, dengan kata lain tempat tersembunyi di dalam Dunia Jiwa.


Pohon Ling tidak bisa didekati oleh mahkluk apapun jenisnya. Masa tumbuh dari tunas hingga mengahasilkan buah membutuhkan waktu paling cepat 5 juta tahun.


Agar pertumbuhannya lebih cepat, Buah Ling cocok jika ditanam di dalam Dunia Jiwa milik Dewa Abadi. Buah Ling bukanlah sejenis Buah Suci, tetapi lebih dari itu. Menurut penjelasan Mahatma, buah ini disebut Buah Alam, dengan nama Buah Ling dari Pohon Ling.

__ADS_1


Setelah Mahatma selesai menjelaskan, tiba-tiba Dewa Abadi berada di luar Pagoda Berlian 20 lantai, tempat semula sebelum berada di depan Pagoda Berlian 5 lantai.


Dewa Abadi segera menyimpan 4 Buah Ling ke dalam Dunia Jiwanya, lalu segera memakannya satu buah bersama dengan Bai Ge. Rasanya manis, berair dan renyah. Seketika efek yang terkandung di Buah Ling memenuhi seluruh tubuh Dewa Abadi, dan memenuhi dua dantian-nya...


__ADS_2