
Bab 227. Menghilangnya Kedua Orang Tua Chen Yeon.
Dewa Abadi melihat keseluruhan Planet Tiga Alam yang terbagi menjadi tiga bagian. Di wilayah bagian Barat Daya adalah kekuasaan Dinasti Anwuzhi dari marga Yao.
Wilayah Utara dikuasai oleh Dinasti Shandui dari marga Hu. Bagian Tenggara dikuasai oleh Dinasti Fandui dari marga Chen, ketiga wilayah ini dipisahkan oleh lautan.
Di tengah-tengah laut perbatasan tiga wilayah ada sebuah daratan luas, dikenal dengan sebutan daratan Pagoda Berlian, tempat lima Pagoda Berlian yang menyegel Dewa Perusak.
Secara geografis alamnya, tidak jauh berbeda dengan Alam Kudus, hanya saja kualitas oksigennya lebih melimpah (padat). Di sinilah tempat asal-muasal Energy Primordial.
Posisi Dewa Abadi saat ini dekat dengan wilayah Dinasti Chen, tempat kelahiran Chen Yeon istrinya.
"Semoga Chen Yeon terlahir kembali di tempat asalnya!" harapan Dewa Abadi yang lupa tidak bertanya kepada Kitab Suci.
Kematian Chen Yeon dan Hu Yue Yan, sudah pasti pihak keluarga mereka mengetahuinya. Tujuannya mengunjungi keluarga besar Chen dan Hu, untuk meminta maaf karena tidak bisa melindungi Chen Yeon dan Hu Yue Yan.
Masalahnya, wilayah Tenggara begitu luas dan tidak tahu di mana kedua orang tua Chen Yeon. Selama bersama dengan Chen Yeon dan Hu Yue Yan, mereka tidak pernah membicarakan keluarganya, hal ini yang membuat Dewa Abadi minim informasi.
Dewa Abadi memutuskan untuk singgah di pusat pemerintahan Dinasti Fandui. Dia berteleportasi dan muncul tidak jauh dari pintu gerbang Ibu Kota Kerajaan Chen.
Baru saja tiba, kedatangannya segera diketahui oleh banyak orang yang berada di dekat pintu gerbang. Begitu mudahnya mereka mengetahui kedatangan Dewa Abadi, dikarenakan kekuatan mereka yang tinggi.
Di Tiga Alam, setiap bayi yang terlahir sudah memiliki kekuatan tingkat dewa. Bayi dari Kasta Sudrah yang baru lahir, sudah memiliki kekuatan Tingkat Dewa Sejati. Semakin tinggi garis darah keturunan, maka bayi baru lahir memiliki kekuatan yang jelas lebih tinggi dari kasta terendah.
Rata-rata bayi yang baru lahir dari Kasta bangsawan, kekuatannya secara alami berada di tingkat Dewa Putih, satu tingkat lebih tinggi dari Kasta Sudrah. Sedangkan bayi dari Kasta Kesatria sudah memiliki kekuatan tingkat Dewa Kuning, satu tingkat lebih tinggi dari Kasta Bangsawan.
Sedangkan Kasta Mahaguru, mereka tidak lagi memikirkan hal duniawi. Mereka memiliki anak bukan dari hasil hubungan badan, melainkan memilih anak dari kasta dibawahnya, sama halnya seperti adopsi.
Anak yang dipilih oleh Kasta Mahaguru minimal telah berusia 12 tahun. Dengan usia segitu, anak bisa lepas dari kedua orang tuanya. Biasanya, orang tua sangat senang jika anaknya dipilih oleh Kasta Mahaguru, sebab anaknya sudah pasti sangat berbakat.
Semua orang memperhatikan Dewa Abadi dari ujung rambut hingga ujung kaki, sebab penampilannya bukan berasal dari Planet Tiga Alam. Selain itu, tidak sembarang orang bisa masuk ke Tiga Alam tanpa ada yang merekomendasikannya.
Salah satu prajurit mendekati Dewa Abadi. Setelah dekat, dia bertanya dengan nada sopan, "kalau boleh tahu, Anda berasal dari mana? Siapa nama mentor Anda? Siapa nama ke-Dewa-an Anda? Maaf, saya bertanya seperti ini karena aturan!"
"Saya, Dewa Binatang Yang Abadi!" jawabnya dengan singkat, sebab tidak perlu menjawab sesuai dengan pertanyaan si prajurit.
__ADS_1
Seketika prajurit yang bertanya, dan semua orang yang mendengar jawabannya segera membungkuk karena kenal dengan nama Dewa Binatang Yang Abadi, seorang Dewa yang mampu memporak-porandakan Observable Universe jutaan tahun lalu.
"Saya ingin menemui keluarga besar Chen Yeon istriku. Apakah Anda mengetahui kediamannya?" tanya Dewa Abadi kepada prajurit di depannya.
Si prajurit dan semua orang berdiri tegak. Di dalam pikiran semua orang, mereka tidak menyangka bahwa Chen Yeon yang diisukan menghilang setelah Peperangan Global, ternyata menjadi istri Dewa Abadi.
Lalu si prajurit itu bertanya sebelum menjawab, "Chen Yeon dari kasta apa?"
"Kasta Bangsawan!" jawab Dewa Abadi.
Si prajurit menghela nafas panjang dengan mimik wajah sedih, lalu ia bercerita, "mohon maaf sebelumnya! Semenjak Chen Yeon yang diisukan menghilang saat menjalankan tugas mengambil Pagoda Berlian, kedua orang tuanya segera mencari keberadaanya. Namun, setelah beberapa tahun pencarian, mereka tidak kunjung kembali hingga saat ini...,"
Kedua orang tua Chen Yeon keluar dari Tiga Alam saat putrinya terjebak di Galaksi Sembilan Rasi Bintang. Mereka tidak tahu jika putrinya terjebak. Selain keluarga Chen Yeon, keluarga Chen Ying juga mencari putranya yang menjalankan tugas bersama dengan Chen Yeon
Karena kedua orang tua Chen Yeon tidak ada kabarnya, keluarga yang lain juga menyusul mereka. Namun, mereka juga tidak pernah kembali lagi, dan tidak ada kabarnya hingga saat ini. Menghilangnya keluarga besar Chen Yeon hingga saat ini juga menjadi misteri.
Berbeda dengan keluarga dari Chen Ying, mereka kembali tetapi tidak menemukan putranya. Mereka jelas tidak tahu keberadaan Chen Ying yang ditangkap oleh Dewa Langit.
Saat ini, keluarga Chen Yeon yang masih ada dari generasi ke-17. Generasi muda itu telah melupakan leluhurnya termasuk Chen Yeon, sebab saat itu mereka belum terlahir. Generasi sebelumnya juga tidak menceritakan masa lalu sehingga lambat laun masalah ini dilupakan.
Dewa Abadi menghela nafas panjang karena merasa bersalah. Tetapi, mau tidak mau, dia harus mengatakan yang sebenarnya.
"Peristiwa di Alam Kudus menyebabkan kekuatan Chen Yeon menghilang. Dia meninggal dunia di usia 200 tahun!" jawab Dewa Abadi dengan nada sedih.
Seketika suasana hening setelah Dewa Abadi menjawab. Siapa yang tidak sedih mendengarnya, Chen Yeon yang diisukan menghilang sehingga dicari-cari oleh keluarganya, tetapi diakhiri cerita semuanya berakhir seperti ini. Chen Yeon tutup usia, sedangkan kedua orang tua, paman, bibi, kakek dan nenek sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Sungguh kisah nyata menyedihkan dan misterius.
"Apakah Dewa Abadi mengetahui keberadaan Chen Ying?" tanya si prajurit.
"Chen Ying, ya...!" Dewa Abadi merasa bersalah karena kekhawatirannya yang menyebabkan Chen Ying dan Hu Weiheng menjadi korban kebiadaban Dewa Langit.
"Saat Peperangan Global terjadi, Chen Ying dan Hu Weiheng kembali ke Tiga Alam dengan membawa Pagoda Berlian. Namun, di saat perjalanan kembali, mereka dihadang oleh Dewa Langit yang ingin merebut Pagoda Berlian. Saya tidak tahu bagaimana keadaan mereka saat itu, tewas atau masih hidup!" jawab Dewa Abadi dengan jujur.
Lagi-lagi Dewa Abadi mendengarkan helaan nafas berat dari semua orang yang mendengarnya. Salah satu orang yang mendengar, segera masuk ke pintu gerbang Ibu Kota untuk memberitahukan berita ini kepada keluarga besar Chen Ying.
"Apakah kediaman Chen Yeon hingga saat ini masih berada di tempat yang sama?" tanya Dewa Abadi yang tetap ingin bertemu dengan keluarga besar istrinya.
__ADS_1
"Sebagian besar mereka sudah pindah ke sisi barat dari Ibu Kota ini. Tetapi, rumah pribadi milik Chen Yeon masih terjaga dengan baik, dijaga oleh satu keluarga dari generasi ke-15. Saya akan mengantarkan Anda, mari!"
Dewa Abadi mengikuti si prajurit. Sebagian orang mengikuti Dewa Abadi karena ingin berkenalan dan menjalin hubungan baik, dan sebagian orang mewartakan kabar ini.
Dalam perjalanan menuju ke rumah Chen Yeon, si prajurit juga bertanya tentang Yao Shuo dan Hu Yue Yan, sebab pada waktu itu keluarga mereka juga mencarinya.
Dewa Abadi menjawab dengan jujur, Hu Weiheng tewas di tangan Lord Transcendental di medan Perang Samudera Hitam. Sedangkan Hu Yue Yan, kisahnya sama seperti Chen Yeon.
Kedatangan Dewa Abadi di Ibu Kota Kerajaan Chen, beritanya dengan cepat menyebar, dan sampai terdengar oleh Raja Fandui generasi ke-15 yang bernama Chen Shaosheng dari Kasta Kesatria. Raja Chen dan keluarga besarnya buru-buru menemui Dewa Abadi.
Saat ini, Dewa Abadi telah tiba dipekarangan rumah Chen Yeon istrinya. Meskipun rumah ini telah berdiri sejak jutaan tahun, masih terjaga dengan baik.
Karena banyak orang yang berdatangan, penghuni kediaman Chen Yeon segera keluar, mereka ada 13 orang. Kepala Keluarga bernama Chen Shu dari Kasta Bangsawan, istrinya bernama Hu Qiaohui. Mereka berkumpul bersama dengan anak, menantu dan cucunya.
Dewa Abadi mengerutkan keningnya saat melihat salah satu wanita yang wajahnya mirip sekali dengan Chen Yeon, wanita itu berusia 25 tahun dan menggendong bayi usia 2 tahun, dan sisi kirinya mungkin suaminya yang berusia 40 tahun.
Keluarga besar itu menatap wajah tampan Dewa Abadi yang tidak dikenali, lalu melihat prajurit penjaga gerbang dan banyak orang di belakangnya.
Chen Shu segera bertanya kepada si prajurit, "apakah ada sesuatu yang penting terjadi?"
"Beliau adalah Dewa Binatang Yang Abadi, suami dari Chen Yeon leluhur Anda yang menghilang jutaan tahun lalu!" jelas si prajurit dengan segera.
Keluarga Besar Chen Shu terkejut saat mengetahui siapa sosok pria muda tampan ini. Serempak, mereka membungkuk badan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Abadi yang namanya sangat terkenal di Tiga Alam.
"Selamat datang, Dewa Abadi!" sambutan Chen Shu dan diikuti oleh keluarganya.
Kemudian, Dewa Abadi dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan si prajurit penjaga pintu gerbang kembali ke tempatnya. Banyak orang yang hanya berdiri di depan pintu masuk rumah untuk melihat Dewa Abadi.
Dewa Abadi melihat lukisan masa muda Chen Yeon yang masih terawat dengan baik. Semua keluarga besar Chen Shu sampai tidak berani membuang nafas sembarangan karena khawatir menganggu Dewa Abadi.
"Siapa nama wanita yang wajahnya mirip dengan Chen Yeon?" tanya Dewa Abadi kepada Chen Shu tanpa memalingkan kedua matanya pada lukisan istrinya.
"Chen Yeon Mei" jawab Chen Shu dengan segera.
Dewa Abadi tersenyum yang akhirnya tahu mengapa mereka masih mempertahankan rumah istrinya ini. Alasannya, pasti karena Chen Yeon Mei mirip dengan wajah istrinya. Dewa Abadi juga mengetahui bahwa Chen Yeon Mei adalah reinkarnasi dari Chen Yeon.
__ADS_1
Justru melihat reinkarnasi istrinya ini sudah memiliki suami dan anak, Dewa Abadi sangat bahagia karena rasa bersalahnya bisa lepas dari hatinya. Inilah yang diharapkannya, melihat reinkarnasi istrinya bahagia dengan orang lain.