
Bab 192. Pulau Penyu, Kristal Energi bergambar Cancer dengan angka 3.
Pulau Penyu masih sejauh ratusan kilometer dari pesisir pantai. Pulau itu memang bisa bergerak, tetapi pergerakannya sangat lambat. Jika tidak diamati dengan jeli, siapapun tidak akan menyangka jika pulau itu bisa bergerak.
Dan, bentuknya pulau itu memang seperti cangkang kura-kura, terdapat hutan lebat di atas cangkangnya. Ukurannya mencapai lebih dari 8.000 km persegi.
Tanpa berhenti, Dewa Abadi segera menuju ke Pulau Penyu. Dia merasa detak jantung si Lola berdebar kencang karena khawatir.
"Lihat, awan hitam itu menuju ke arah kita," kata si Lola saat tahu akan dihalangi oleh badan tornado.
Dewa Abadi melihatnya dengan jelas. Awan hitam dengan cepat terbentuk, lalu bergerak ke arahnya seperti dikendalikan oleh seseorang. Ombak laut yang awalnya tenang mulai bergelombang, angin laut menderu-deru dengan sangat kencang. Kecepatan terbang perlahan melambat seiring badai mulai terbentuk.
"Pindah ke punggungku!" pinta Dewa Abadi.
Segera si Lola dengan lincah pindah tempat, dan seperti anak kecil yang berada di punggung orang dewasa. Dia melingkarkan lengan di leher Dewa Abadi, dua kaki melingkar di pinggangnya. Dia juga merasakan dadanya menghimpit punggung, nyaman tetapi membuatnya malu.
Badai tornado telah terbentuk, tidak hanya satu, melainkan tiga. Dewa Abadi meningkatkan kecepatan sambil melambaikan tangan kanannya yang mengeluarkan energi ke arah badai.
Dalam sekejap mata, tiga badai tornado memudar sebelum dekat. Namun, setelah itu dengan cepat terbentuk kembali, dan ombak tsunami semakin tinggi membentuk cakar.
Dewa Abadi tidak sedikitpun takut karena hal ini baginya sepele. Berbeda dengan si Lola yang detak jantungnya semakin berdebar-debar, sebab dia tidak pernah melihat badai sehebat ini.
Dengan lambaian tangan kanan dan kiri seperti mengusir nyamuk, badai tornado kembali memudar, ombak tsunami kembali ke permukaan air. Namun badai segera terbentuk kembali, sampai akhir berhenti ketika Dewa Abadi telah masuk ke dalam Pulau Penyu.
Dewa Abadi mendarat di pesisir pantai Pulau Penyu. Si Lola segera turun dari punggungnya. Mereka melihat ke arah hutan yang dengan jelas mendengar suara raungan binatang buas. Mereka juga merasakan aura kematian yang pekat keluar dari hutan.
Kedua kaki si Lola sedikit goyah karena merasakan bahaya. Sistem Kultivasi yang menjadi andalannya tiba-tiba mati (shut down), membuktikan bahwa Pulau Penyu sangat berbahaya daripada badai.
"Jika takut, kamu di sini saja!" ucap Dewa Abadi karena tahu si Lola ketakutan.
"Siapa bilang takut? Pahlawan kok takut!" sahut si Lola dengan ketus, padahal sebenarnya memang takut. Dia malu mengungkapkan rasa takutnya.
"Aku baru tahu kaki seorang pahlawan bisa gemetaran!" cibir Dewa Abadi sambil melirik kedua kaki si Lola.
Si Lola mengepalkan kedua tangannya karena marah, ingin rasanya ia memukul mulut Dewa Abadi yang selalu mengejek. "Ini efek kelelahan karena digendong!" alasannya.
Ketika ingin membalas ucapan si Lola, Dewa Abadi melihat seseorang pria tua bungkuk membawa tongkat kayu keluar dari hutan. Kulitnya berwarna hijau, telinga panjang menyamping, tinggi badan mencapai 130 cm. Penampilannya seperti manusia reptil.
Dewa Abadi tidak terfokus pada penampilan pria tua bungkuk itu, melainkan fokus melihat tongkatnya. Yang mana di ujung tongkat terdapat Kristal Energi bergambar Cancer. Tapi anehnya, di kristal itu ada angka 3, tidak seperti yang sudah didapatkannya.
"Pergi!" hardik pria bungkuk.
Si Lola yang ketakutan bersembunyi di belakang punggung Dewa Abadi sambil menarik bajunya agar meninggalkan pulau ini. Namun, Dewa Abadi tidak sedikitpun bisa digerakkan.
__ADS_1
"Aku akan pergi setelah mendapatkan kristal itu!" ucap Dewa Abadi.
"Aku sudah berbelas kasihan, tapi kalian tidak menghargainya, bahkan menginginkan ini! Hari ini kalian harus menjadi budak!?" kegeraman pria bungkuk itu sambil mengarahkan tongkatnya. Dari tongkat itu mengeluarkan energi sihir berbentuk spiral dengan ujung runcing.
Boom...
Ledakan keras ketika Dewa Abadi melambaikan tangan kanannya untuk memblokir serangan itu. Pria bungkuk itu terhuyung-huyung ke belakang karena terkena gelombang kejut energi.
Dia syok melihat Dewa Abadi sudah berada di depannya dengan telapak tangan telah terayun. Pria bungkuk itu terpental ke kiri karena terkena tamparan dari Dewa Abadi. Sebelum berdiri, Dewa Abadi menginjak-injak punggung pria bungkuk itu.
Yang mengejutkan Dewa Abadi, pinggang pria bungkuk ini sangat keras. Lalu dia segera mundur sambil membawa tongkat saat wujud pria bungkuk berubah menjadi seekor penyu.
Tongkat kayu yang dibawa oleh Dewa Abadi bergetar hebat karena berusaha untuk lepas dari tangannya.
"Kembalikan tongkatku!" pinta pria bungkuk itu yang bersembunyi di dalam cangkang, ternyata dia yang mengendalikan tongkatnya agar terlepas dari tangan Dewa Abadi.
Dewa Abadi segera mengambil Kristal Energi bergambar Cancer dengan angka 3 dengan cara kasar. Namun, tiba-tiba tongkat itu berubah menjadi ular cobra berkepala tiga, dan sangat cepat mengigit lengan kirinya.
Si Lola melihat apa yang dilakukan oleh Dewa Abadi. Segala rasa yang dialami hanya bisa membuat melongo melihat kehebatannya. Dewa Abadi tidak panik tongkat kayu berubah menjadi ular cobra, bahkan tidak sedikitpun gigitan cobra menyakitinya.
Dengan cara kasar, dia memegang leher ular cobra dengan tangan kanan, dan tangan kiri memegang tubuh cobra, lalu menarik ular cobra sehingga terputus. Kepala ular cobra seketika berubah menjadi Kristal Energi bergambar Cancer dengan angka 3, dan tubuhnya kembali menjadi tongkat kayu.
"Arghhh...!" teriakan dari pria bungkuk ketika Dewa Abadi merusak tongkatnya.
Kemudian, Pulau Penyu bergetar hebat seperti terjadi gempa. Segera Dewa Abadi melesat ke arah si Lola yang belum pulih dari keterkejutan, dia segera membopong tubuhnya. Meninggalkan Pulau Penyu.
Boom...
Si Lola juga melihat. Dia berkata, "di dalam pulau itu banyak emas, berlian dan tanaman langka. Sayang sekali ...!"
"Bagaimana kamu tahu?" selidik Dewa Abadi yang merasa jika si Lola ini mengetahui banyak hal.
"Kaisar Tang mendapatkan kekayaan dari Pulau Penyu. Sudah pasti di dalam pulau itu menyimpan banyak harta!" jawab si Lola.
Dewa Abadi geleng-geleng kepala karena dipikirkan wanita ini selalu menginginkan harta. Dia segera terbang meninggalkan Laut Utara, menuju ke Lembah Berhantu di wilayah Kerajaan Barat.
Di bawah permukaan air laut ada bayangan besar. Bayangkan itu segera keluar dari dalam air laut. Dewa Abadi segera terbang tinggi saat akan diterkam oleh bayangan itu, dia dan Lola melihat raksasa binatang Penyu.
"Kau merusak istanaku!?" bentak binatang penyu yang suaranya sama dengan pria bungkuk.
Belum sempat Dewa Abadi membalas perkataannya, penyu raksasa itu mengeluarkan bola-bola air ke arahnya. Si Lola segera pindah tempat di punggung Dewa Abadi, ia tidak ingin terkena serangan.
Dengan lambaian tangan kanan, bola-bola itu hancur berkeping-keping menjadi tetesan air. Penyu raksasa itu kembali menyerang, dan sekali lagi dengan mudah dihancurkan oleh Dewa Abadi.
__ADS_1
Karena kesal, Dewa Abadi mengepalkan tangan kanannya, lalu melepaskan pukulan berenergi tinggi mengarah ke kepala penyu raksasa. Penyu itu menyembunyikan kepalanya sebelum pukulan mengenainya.
Boom...
Ledakan energi ketika lubang persembunyian kepala penyu terkena pukulan berenergi. Seketika kepala penyu hancur, daging berhamburan keluar dari cangkang.
Kedua mata si Lola berbinar-binar melihat di dalam lubang cangkang kepala penyu mengeluarkan kilauan yang berasal dari berlian. Dia berkata, "ayo masuk ke cangkang itu!"
Dewa Abadi menuruti keinginan si Lola dengan menukik ke bawah menuju lubang kepala penyu raksasa. Saat berada di dalamnya, mereka melihat harta yang lebih banyak daripada milik Kaisar Tang.
Si Lola segera turun dari punggung Dewa Abadi, ia mengambil emas batangan yang berada di dekatnya. Sedangkan Dewa Abadi melihat keseluruhan ruangan di dalam cangkang. Kedua mata tertuju pada prasasti logam yang berada di ujung.
Dewa Abadi segera menuju ke prasasti logam bertulis tanpa menghiraukan si Lola yang tertawa bahagia menemukan harta karun. Setelah berada di depan prasasti, ia membaca tulisan itu.
"Aku tahu Anda kelelahan dengan semua ini. Bukankah menyenangkan hidup di Dunia Roh? Apakah Anda berhasil membunuh wanita cantik itu? Jika tidak, Anda berada di tempat yang tepat! Maaf, sebelumnya aku salah menuliskan pesan! Wanita itu bukan kunci untuk keluar dari dunia ini, melainkan Kristal Energi bergambar Cancer dengan angka adalah kuncinya ...,"
Boom...
Dewa Abadi tidak melanjutkan membaca tulisan di prasasti logam, dia memukul prasasti itu hingga berkeping-keping. Tulisan itu mengidentifikasi bahwa si dalang dari semua kejadian ini sungguh kekanak-kanakan sifatnya.
Si Lola kaget dan melihat Dewa Abadi, ia segera menghampirinya. "Apa yang Anda hancurkan?" tanyanya dengan khawatir jika yang dihancurkan adalah benda berharga.
Dewa Abadi melirik si Lola. Wanita ini selalu berubah-ubah gaya bicaranya. Jika kesal selalu memanggilnya dengan sebutan kau. Jika senang selalu memanggilnya dengan sebutan Anda.
"Pembalut!" jawab Dewa Abadi dengan nada ketus.
Kali ini si Lola tidak marah, malah tertawa terbahak-bahak mendengar jawabannya. Mana ada pembalut bisa mengeluarkan suara ledakan keras, hal ini yang membuatnya tertawa.
Dewa Abadi geleng-geleng melihat tingkah si Lola yang tidak tahu makna dari jawabannya. Padahal maksud dari kata itu merupakan ejekan, yang mana artinya adalah benda sekali guna.
Kemudian, Dewa Abadi menunggu si Lola yang kembali mengambil harta. Namun, melihat wanita ini lambat karena mengamati setiap berlian berbentuk berbeda, dia segera mengambil harta karun apapun.
Buru-buru si Lola kembali memasukkan harta Karun ke dalam cincin dimensinya. Dia tidak mau kalah dari Dewa Abadi. Tidak butuh waktu lama, mereka keluar dari dalam cangkang penyu yang telah dikosongkan.
Dewa Abadi kembali mengendong si Lola sambil terbang menuju ke Lembah Berhantu. Kali ini, si Lola yang banyak bicara karena Dewa Abadi selalu diam saja.
Ketika hari menjelang sore, si Lola meminta kepada Dewa Abadi agar singgah di Kota Bulu Rubah untuk beristirahat. Dewa Abadi menuruti kemauannya.
Kota Bulu Rubah tidak seramai dulu, sebab baru saja terjadi kekacauan di Dunia Roh. Tetapi sudah banyak penduduk yang kembali dari Desa Persik. Mereka berdua menuju ke penginapan berkelas.
Karena kamar penginapan yang kosong tersisa satu, maka si Lola dan Dewa Abadi tinggal dalam satu kamar. Si Lola segera mandi sebelum Dewa Abadi.
Sedangkan Dewa Abadi membaringkan tubuhnya untuk memulihkan energi Kekuatan Jiwanya. Dia menceritakan apa yang baru saja dialaminya kepada semua orang yang berada di dalam Dunia Jiwanya.
__ADS_1
Semua orang jelas marah karena dipermainkan oleh musuhnya. Tulisan di prasasti logam dengan jelas berniat mempermainkanku Dewa Abadi. Menurut Tian Lihua, musuhnya tidak ingin Dewa Abadi cepat keluar dari Dunia Roh, pasti ada yang mereka rencanakan.
Namun setidaknya hari ini sudah mendapatkan petunjuk, yaitu mengumpulkan Kristal Energi bergambar Cancer dengan angka. Entah apa yang terjadi setelah semua benda itu terkumpul, hal ini membuat Dewa Abadi penasaran dengan permainan musuh.