
Bab 120. Tujuh Dewa Versus Dewa Binatang (1).
Dewa Binatang merasakan tubuhnya mati rasa karena pengaruh pisau ini, senjata yang mampu menyegel semua kemampuannya.
"Dikucilkan oleh keluarga adalah siksaan batin... Aku melakukan ini bukan karena untuk membela mereka, melainkan untuk menebus kesalahanku, dan juga untuk membayar perbuatanmu yang menipuku waktu itu!" jawab Dewi Shiwu yang mengungkapkan alasannya.
Dewa Binatang tertawa keras sehingga menggetarkan ruang baca. Kemudian, dia mematahkan pisau yang menancap di tubuhnya, dan hanya tertinggal ujung pisau.
"Menebus kesalahan dengan sengaja melukaiku seperti ini? Kamu... Maksudku kalian semua, kenapa tidak berpikir matang-matang sebelum menjalankan rencana? Ingat, aku yang dulu dan sekarang jelas berbeda! Pisau dan luka ini, tidak berarti apa-apa bagiku, efeknya hanya sesaat!" jelas Dewa Binatang yang tahu jika Dewi Shiwu tidak sendirian di ruang penjara ini.
Dewi Shiwu tersenyum sinis sambil melirik ke lemari buku. Kemudian, muncul lubang hitam dan Keluar tujuh orang yang langsung mengepung Dewa Binatang.
Melihat ketujuh orang itu, Dewa Binatang kembali tertawa karena mengenali mereka, sebab mereka adalah orang yang dulu membunuhnya di Tanah Kutukan.
Ketujuh orang itu adalah; pertama, Dewa Laut guru dari Dewa Samudera Obsidian, ahli dalam mengendalikan elemen air. Kedua adalah Dewa Bumi, ahlinya dalam mengendalikan elemen tanah, logam dan kayu.
Ketiga adalah Dewa Matahari, guru dari Dewa Surya yang dulunya hampir dibunuh oleh Tian Zhi sewaktu bereinkarnasi menjadi Kaisar Api Asyura. Tetapi pada akhirnya mati juga ditangan Dewa Binatang.
Keempat adalah Dewa Awan, ahli dalam mengendalikan hujan dan badai. Kelima adalah Dewa Api Surgawi, guru semua Dewa dan Dewi yang memiliki elemen api, termasuk Dewa Api Phoniex.
Keenam adalah Dewa Ilusi, guru ahli Formasi Array, dia adalah orang yang banyak menciptakan Formasi Array. Hingga saat ini, banyak ciptaannya yang digunakan oleh ahli Formasi Array di dunia kultivator.
Ketujuh adalah seorang wanita, dia adalah guru dari Dewi Shiwu, dikenal dengan sebutan Dewi Pesona, ahli dalam memanipulasi pikiran, ahli bermusik segala alat musik yang mampu mengendalikan jiwa, dan juga seorang Succubus.
Wajahnya tidak jauh beda dengan seorang gadis usia 17 tahun, tetapi itu hanyalah penampilan luarnya saja yang cantik dan tidak kalah dengan muridnya, tetapi sebenarnya usianya sudah tak terhitung.
Dewi Pesona adalah murid dari Maharaja Yaksa, dan rekan-rekannya juga memiliki guru yang tinggal di Kuil Alam Suci. Dari keenam Dewa itu, Dewi Pesona adalah pemimpinnya atau ketua misi.
Khususnya bagi Dewi Pesona, tanpa diminta oleh Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa, dengan secara sukarela mengajukan diri untuk membunuh Dewa Binatang, sebab Dewi Shiwu adalah muridnya telah dinodai oleh Dewa Binatang.
Menjadi murid Dewi Pesona, syaratnya sangatlah berat, tidak boleh berhubungan intim dengan pria seumur hidup. Tujuannya, agar kemampuannya dalam memanipulasi pikiran tidak menghilang.
Oleh sebab itu, saat tahu muridnya dinodai oleh Dewa Binatang, Dewi Pesona jelas tidak terima, ia bergabung dalam misi melenyapkan kejahatan, dan kejahatan itu adalah Dewa Binatang. Apalagi kemarahan semakin memuncak ketika Dewa Perang memberikan hukuman seumur hidup bagi muridnya.
Dan, kenapa Dewi Shiwu sampai ternodai, itu dikarenakan Teknik Kultivasi Ganda, yang mana aroma afrodisiak mempengaruhinya. Dewi Shiwu akhirnya menjadi kekasih dari Dewa Binatang, tetapi bukan karena cinta murni, melainkan terpaksa.
Namun selama ini, Dewi Shiwu selalu menyimpan rasa dendam kepada Dewa Binatang. Kebenciannya tidak terdeteksi oleh segel keluarga besar Dewa Binatang, sebab kemampuannya dalam memanipulasi pikiran, pikirannya sendiri...
Seperti yang dikatakan oleh Dewi Shiwu sesaat lalu ketika Dewa Binatang bertanya, bahwa tidak lama lagi mereka akan tahu kedatangannya di Galaksi Petir.
__ADS_1
Sebelum memasuki Galaksi Petir, Dewa Binatang sudah menduga musuhnya telah menunggu kedatangannya. Walaupun tahu akan ada jebakan lagi, dia tetap saja masuk ke Galaksi Petir karena tidak lemah seperti dulu.
"Memang sulit untuk membunuhmu...! Karena dirimu saat ini telah menjalani siklus Samsara yang kesembilan, kami yakin akan mampu membunuhmu untuk selamanya!" ucap Dewi Pesona dengan percaya diri, ia melihat luka di tubuh musuhnya.
Menurut pengetahuan di Alam Suci, setelah menjalani siklus Samsara yang kesembilan, maka bentuk kehidupan apapun hanya memiliki nyawa terakhir, dan setelah mati tidak akan bisa bereinkarnasi lagi.
Namun, tidak semua kehidupan mampu menjalin siklus Samsara, kebanyakan hanya bisa bereinkarnasi sebanyak tiga hingga empat kali. Kegagalan menjalin siklus Samsara, dikarenakan jiwanya terbunuh oleh seseorang yang lebih kuat, pengetahuan ini hal umum di Alam Suci.
Tetapi, bukan Dewa Binatang saja yang berhasil menjalani siklus Samsara sebanyak sembilan kali, ada beberapa orang yang berhasil menjalani untuk mencapai puncak kekuatan, diantaranya adalah Kaisar Langit, Maharaja Yaksa dan orang-orang yang berasal dari Alam Kudus.
Dan, ada tiga orang yang sepantaran usianya dengan Dewa Binatang, mereka digadang-gadang akan menjadi pelindung Alam Semesta, puncak kekuasaan yang lebih tinggi dari Pengadilan Surga.
Salah satu diantaranya mereka bertiga adalah aset bersama, aset kerja sama antara Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa. Dua orang lainnya, mereka berasal dari Alam Kudus. Tetapi, tidak ada satupun orang yang mengetahui identitas ketiga orang itu, hal ini sengaja dirahasiakan.
"Yakin bisa membunuhku?" sahut Dewa Binatang yang tidak takut dengan mereka, walaupun sudah terkepung.
"Jelas kami yakin...! Walaupun kami tidak lagi menggunakan Pagoda Emas seperti dulu. Kau saat ini adalah siklus Samsara terakhirmu, itu artinya kekuatanmu belum pada puncaknya. Ya, kuakui bahwa kau sangat jenius, kekuatanmu setara dengan kami dalam waktu singkat, Half Super Omega. Perkiraanku, kau berada di level awal!" jawab Dewi Pesona sambil mendekati muridnya si Dewi Shiwu.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Dewi Pesona sambil membelai rambut murid kesayangannya.
"Saya baik-baik saja Guru!" jawab Dewi Shiwu yang kedua matanya selalu tertuju kepada Dewa Binatang.
"Bagaimana lukamu? Pisau itu bukan senjata biasa, pasti kau sudah merasakan dampaknya, bukan?" ungkap Dewa Matahari yang menciptakan pisau itu, dia bekerja sama dengan Dewa Ilusi dalam pembuatan senjata khusus untuk melumpuhkan musuhnya.
Dewa Binatang tersenyum sinis sambil mengusap lukanya. Dalam sekejap mata, lukanya sembuh total. Melihat itu, musuhnya jelas terkejut, namun keterkejutannya hanya sesaat.
"Aku tidak seperti dulu yang ceroboh... Seperti yang sudah kukatakan, membuat rencana itu harus yang matang! Luka ini dan senjatamu tidak berarti apa-apa bagiku!" ungkap Dewa Binatang.
Luka akibat tertusuk pisau, memang efeknya hanya sementara bagi Dewa Binatang, sebab pisau itu hanya Artefak Bintang 5 tahap puncak. Jika Artefak Alami atau Artefak Bintang 7 tahap puncak, kemungkinan besar dampaknya akan bertahan lama. Selama itu, Dewa Binatang akan mudah dikalahkan oleh mereka.
Dewa Ilusi melirik ke arah Dewa Matahari, dia sangat kesal di dalam hatinya karena sarannya diabaikan. Sebenarnya, dia meminta kepada temannya ini agar membuat Artefak Bintang 7, namun temannya beralasan bahwa Dewa Binatang tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi kehebatan Artefak Bintang 5. Kenyataannya, senjata buatannya tidak mampu melumpuhkan Dewa Binatang.
"Tetap saja saat ini kau masih merasakan dampaknya, bukan? Walaupun itu hanya sedikit!" sahut Dewi Pesona sambil mendekati Dewa Binatang.
"Jika kalian ingin mencoba, ayo, kita bertarung di luar angkasa!" tantangan Dewa Binatang yang malas berdebat dengan musuhnya.
Dewa Binatang segera menghilang dari hadapan musuhnya. Mereka segera ikut menghilang dan mengejarnya.
"Maaf, aku tidak punya pilihan lain!" gumam Dewi Shiwu yang menyesal telah ikut berpartisipasi dalam penjebakan ini...
__ADS_1
Di luar penjara Danau Kesadaran, banyak orang melihat sinar keluar dari dalam Dunia Kesadaran, lalu disusul tujuh sinar. Melihat kedelapan sinar itu, semua orang tahu jika akan ada pertempuran hebat, sebab mereka merasakan niat membunuh.
"Ternyata dia benar adalah Dewa Binatang. Begitu bodoh aku tidak mengetahuinya!" sesal Sang Hakim yang menjatuhi hukuman untuk Dewa Binatang, dia beruntung tidak mati ditempat.
"Tindakanmu ini merupakan bagian dari rencana atasan. Jika kita memberitahukan kepadamu, kamu tidak akan senatural ini saat berhadapan dengan Dewa Binatang!" ungkap Kaisar Lei yang berada di samping Sang Hakim.
Setelah memutuskan hukuman penjara, Sang Hakim segera melapor kepada Kaisar Lei, saat itu Dewa Binatang sedang menuju ke gedung Administratif Pengadilan.
Sang Hakim memang tidak tahu apapun tentang rencana Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa, hanya Kaisar Lei dan Dewi Shiwu saja yang mengetahui rencana mereka. Jika diberitahukan, kemungkinan besar Dewa Binatang akan mudah mengetahui ketakutan Sang Hakim...
Dewa Binatang berhenti terbang ketika tubuhnya terhalang oleh energi spiritual, sehingga tidak bisa keluar dari atmosfer Planet Petir. Ternyata, ucapan Dewi Shiwu memang benar, siapapun yang masuk di tempat ini, tidak mungkin bisa keluar.
Awalnya, dia ingin bertarung di luar angkasa agar dampak buruk pertempuran yang akan segera terjadi tidak mengenai penghuni planet Petir. Berhubungan, karena tujuannya untuk membalas dendam, hancurnya Planet Petir bukanlah urusannya.
"Mengurungku di sini, adalah tindakan bodoh!" cibiran Dewa Binatang sambil menunggu ketujuh musuh yang sedang melesat ke arahnya.
Energi spiritual bagi Dewa Binatang yang memiliki kekuatan jiwa, merupakan hal yang sepele, di mana dia bisa saja keluar masuk dari Galaksi Petir.
Saat dekat dengan Dewa Binatang, ketujuh Dewa itu membentuk Formasi Geometri (Segi tujuh), formasi khusus untuk mengepung musuh, Formasi Geometri Alam. Formasi ini seperti Formasi Penjara Langit yang diciptakan oleh Kaisar Langit, tetap versi yang lebih kuat.
Dewi Pesona sebagai pusat dari Formasi Geometri Alam. Saat ini, mereka telah mengepung Dewa Binatang, tidak ada ruang lagi baginya untuk kabur. Jarak mereka terpaut 300 meter dari Dewa Binatang.
"Sehebat apapun kalian, selama tidak memiliki kekuatan jiwa yang mumpuni, semuanya adalah omong kosong!" cibiran Dewa Binatang.
Dewa Ilusi tertawa keras karena perkataan bangga dari musuhnya. Setelah tertawa, dia berkata, "aku adalah guru dari segala Formasi Array... Dalam hal kekuatan jiwa, jangan sekali-kali meremehkan kami. Ingin tahu? Lawan ini!"
Setelah Dewa Ilusi berbicara, dia menggerakkan tangan kanan ke arah Dewa Binatang, lalu membuat gerakan seperti melukis. Dari tangannya, keluar energi kekuatan jiwa. Gerakannya membentuk dua lonceng keemasan, dari berukuran kecil dengan cepat berubah menjadi besar.
Setelah lonceng terbentuk, Dewa Ilusi mengendalikan kedua lonceng itu. Dua lonceng terpisah, melesat ke atas dan ke bawah dari posisi Dewa Binatang. Tujuannya agar Dewa Binatang terkurung di dalam lonceng.
Dewa Binatang segera mengeluarkan Bloodlust Axe yang didapatkan dari Mysterious Land. Sontak membuat musuh terkejut melihat Artefak Alami itu.
"Kapak Pembela Tanah!" teriakan Dewa Binatang yang mengeluarkan jurus pertama dari Bloodlust Axe.
Kemudian, dia mengayunkan Bloodlust Axe ke atas dan ke bawah. Keluar bilah kapak energi Kekuatan Jiwa ke arah kedua lonceng itu dengan kecepatan tinggi.
Boom boom...
Ledakan hebat ketika lonceng berbenturan dengan kapak energi. Suaranya menyakitkan telinga, dan kedua lonceng itu hancur berkeping-keping.
__ADS_1