God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Penduduk Kota Moon Yang Ketakutan.


__ADS_3

Bab 114. Penduduk Kota Moon Yang Ketakutan.


Tidak ada satu pun binatang darat dan udara yang tidak menggunakan perlengkapan perang, tubuh pasukan binatang itu berlapiskan logam terkuat. Demikian pula dengan pasukan Kekaisaran Dewa Binatang yang lainnya, dari Ras Manusia, Ras Malaikat, Ras Peri, Ras Iblis dan masih banyak lagi. Mereka juga mengenakan zirah perang dari logam terbaik.


Bahkan, Mao Zedong, Putri Yu Jie, Raja Genjo, Sha Meyleen, Gong Fang, Putri Liangyi dan semua orang yang berasal dari Galaksi Arcadi juga berpartisipasi dalam latihan perang. Oleh Dewa Binatang, mereka juga telah diberi zirah perang bersayap. Kecuali istri-istrinya yang sedang hamil, tidak diperbolehkan ikut dalam latihan perang.


Khususnya dari Ras Iblis dan Ras Asyura, yang mana berpihak kepada Dewa Binatang karena memiliki alasan. Selama ini, kedua ras itu yang berada di luar Alam Suci mendapatkan perilaku yang tidak adil dari Maharaja Yaksa, sebab di luar Alam Suci dianggap kasta rendah, alias rakyat biasa.


Oleh sebab itu, Ras Iblis dan Ras Asyura di luar Alam Suci, berpihak dan bersumpah setia menjadi pengikut Dewa Binatang. Dan, mereka mendapatkan perilaku adil yang sama dengan ras-ras lainnya, tidak ada perbedaan karena sama-sama mahkluk hidup.


Dewa Binatang membagi pasukannya menjadi dua bagian, satu bagian yang kekuatannya di bawah tingkat Half Gama menyerang Distrik Dota II, sedangkan pasukan lain yang kekuatannya di atas True Gama menyerang Kota Moon.


Dewa Binatang tidak mengeluarkan semua pasukannya, termasuk robot dan teknologi canggih, tujuannya untuk menyesuaikan kekuatan lawannya dan khusus untuk latihan pasukan hidup. Selain itu, jika dikeluarkan semuanya, Lembah Dinding Merah tidak mampu menampung pasukannya yang mencapai angka fantastis, lebih dari angka satu miliar pasukan.


Saat ini, jumlah pasukan yang berlatih hanya 500 ribu prajurit dari berbagai ras, terendah di tingkat Mahadewa, dan tertinggi di tingkat True Resonansi. Khusus lawan di atas tingkat True Omega, maka akan berhadapan dengan Qin Diao Chin dan Qin Lianshi.


Sebenarnya, jika kekuatan Yuna Aurora dan Yuke tidak merosot karena membangkitkan Dewa Binatang, kekuatan mereka setara dengan Qin Diao Chin dan Qin Lianshi. Oleh karena itu, kedua wanita itu berkultivasi dengan menyerap Energi Sejati agar segera memulihkan kekuatan aslinya.


Qin Lianshi akan memimpin pasukannya untuk menyerang Distrik Dota II, Qin Diao Chin memimpin pasukan yang akan menyerang Kota Moon. Mereka berdua akan turun tangan sendiri ketika lawannya setara, seperti Leon Vendetta dan King Caldwell.


Hari ini telah menjelang malam, Dewa Binatang berada di pusat Lembah Dinding Merah bersama istri dan anaknya. Mereka mengelilingi api unggun yang menjadi penerang, dan banyak obor juga digunakan penerangan jalan.


Sengaja tidak menggunakan penerangan teknologi canggih yang menggunakan energi matahari, hanya untuk merasakan sensasi zaman kuno. Walaupun tanpa adanya penerangan, setingkat mereka cukup menggunakan Mata Dewa, maka apapun akan terlihat dengan jelas.


"Ayah, kekuatan She'er melejit berkat Energi Sejati, dari Dewa Absolute naik ke tingkat Sang Void level puncak. Apakah besok She'er boleh ikut berperang?" Tian She Meili ingin memamerkan kekuatan barunya, tujuannya agar diperbolehkan untuk bertarung.


"Adikku memang super jenius! Jihan saja yang susah payah berkultivasi masih berada di tingkat Half God level 9!" pujian Lei Jihan yang ingin seperti Tian She Meili.


Tian She Meili berdiri sambil membusungkan dadanya karena bangga, aksinya membuat semua orang gemas. Ibu dari Lei Jihan, Yu Jie tersenyum melihat putrinya ini, ia dan banyak pelayan istana sedang menyiapkan minuman ringan untuk semua orang.


Sebelum Tian She Meili berbangga hati, Qin Diao Chin berbicara, "Jihan, setiap orang itu berbeda-beda bakatnya. Jihan sendiri termasuk salah satu yang berbakat, dari tingkat Kelahiran dan mencapai Half God dalam waktu singkat, itu sudah sangat luar biasa jeniusnya!"


Lei Jihan tersipu malu, tetap juga ikut senang karena pujian ini. Tian She Meili duduk di sisi kirinya, lalu membaringkan tubuh dengan kepala bertumpu pada paha milik Lei Jihan.


Melihat istri dan anaknya yang bahagia, Dewa Binatang menjadi teringat dengan istri dan anak yang lainnya, yang dibawa oleh orang tuannya. Waktu itu, dia masih berada di Galaksi Asal Muasal, perpisahan yang sangat lama jika dihitung-hitung hingga waktu ini.


"Semoga mereka baik-baik saja!" batin Dewa Binatang penuh harap.

__ADS_1


Mengetahui kebusukan keluarganya, dia jelas mengkhawatirkan istri dan anaknya yang dibawa oleh orang tuanya. Dia tidak menyangka orang tuanya penuh kelicikan dengan menyandera istri dan anaknya.


Namun, perasaannya ini tidak diungkapkan, hanya dipendam sendiri agar keluarganya tidak ikut khawatir. Jika tahu keluarganya sekejam ini, sudah pasti Dewa Binatang tidak mungkin melepaskan mereka.


"Ayah, apakah boleh?" tanya Tian She Meili yang tidak segera mendapatkan jawaban dari Dewa Binatang.


Dewa Binatang tersadar dari lamunannya, dia mengembangkan senyuman hangat. Akan tetapi, perubahan emosinya dirasakan oleh istri-istrinya.


"Ada masalah apa?" tanya Tian Lihua.


"Aku merindukan putri kita yang berada di Benua Bulan Kembar!" jawaban Dewa Binatang yang dengan sengaja berbohong.


Sebelum istri mengejar pertanyaan lagi, dia berbicara kepada Tian She Meili, "boleh saja, asal tahu batas kekuatan saat bertarung nanti. Jika lawan lebih kuat, jangan memaksakan diri untuk terus bertarung. Selangkah mundur bukan berarti kalah, melainkan tahu situasinya. Apakah She'er mengerti?"


"Selangkah mundur bukan berarti kalah?" Tian She Meili mengulangi perkataan ayahnya agar paham, "itu artinya mencari lawan yang setara sebagai gantinya, apakah benar begitu, Ayah?" lanjutnya dengan bertanya.


Walaupun Tian She Meili sudah mengingat masa lalunya, dia masih tetap seperti anak-anak pada umumnya, masa-masa kecil yang tidak akan disia-siakan lagi seperti dulu.


"Kurang lebih benar. Mundur dan mencair lawan yang setara. Hal ini tidak berlaku bagi She'er saja, semua prajurit juga diajarkan seperti ini semenjak dini. Berperang tidak harus mempertaruhkan nyawa dengan bodoh, bertarung juga membutuhkan kejelian dalam melihat kekuatan lawan, tahu strategi lawan dan juga akhir dari pertarungan. Melakukan kesalahan sedikit saja dalam peperangan, akan berakibat fatal bagi kesatuan pasukan...," Dewa Binatang pun akhirnya memberikan pelajaran kepada putrinya serta semua orang.


...****************...


Pasukan dari Leon Vendetta telah berkumpul di depan pintu gerbang yang mengarah ke Lembah Dinding Merah, kedua wilayah itu berbatasan dengan hutan.


Karena hadiah besar yang dijanjikan oleh Leon Vendetta, hampir semua penduduk di Kota Moon berpatisipasi. Para penduduk dan kultivator berbaris rapi di depan para prajurit, tanpa ada rasa takut sedikit pun.


Para penduduk dan kultivator tidak sadar jika dijadikan umpan meriam oleh kelicikan Leon Vendetta yang ingin mengurangi jumlah kematian pasukannya.


Saat ini, Leon Vendetta dan Revan Blade berada di atas kepala patung, patung yang merupakan alat transportasi antar galaksi. Oleh Leon Vendetta, patung itu diberi nama patung Dewa Alam Suci, sama seperti patung yang berada di Benua Caldwell.


"Bagaimana tanggapan dari King Caldwell?" tanya Revan Blade.


"Seperti yang sudah kuduga, dia akan terlambat datang. Katanya, jika keadaan genting, kita hanya mengandalkan patung Dewa Alam Suci. Kuharap, bantuan dari Alam Suci segera merespon sebelum kita kalah!" jawab Leon Vendetta yang sudah tahu akan kekalahannya, sebab lawannya adalah pemusnahan galaksi, alias Dewa Binatang.


"Licik, menjadikan kita umpan meriam!" kekesalan Revan Blade kepada King Caldwell.


Jika Dewa Binatang mengetahui obrolan mereka berdua, sudah tentu akan tertawa, sebab mereka berdua tidak jauh berbeda dengan King Caldwell, menjadikan rakyat jelata dan kultivator sebagai umpan meriam.

__ADS_1


"Di saat dia muncul, jangan berikan dia kesempatan untuk menyerang terlebih dahulu!" rencana Leon Vendetta dan di anggukan kepala oleh Revan Blade...


Hutan yang menjadi perbatasan antara Kota Moon dan Lembah Dinding Merah, awal tenang dan damai, semua penduduk sudah tidak sabar untuk menunggu kedatangan musuhnya.


Namun, raut wajah mereka seketika pucat saat merasakan aura kekuatan yang terpusat di ujung lembah. Karena aura pasukan Dewa Binatang terpusat, semua orang melihat aura kekuatan itu seperti cahaya aurora yang memanjang dan setinggi di atas pepohonan.


Tidak berselang lama setelah melihat aura kekuatan, tanah menjadi bergetar karena derap langkah kaki yang mencapai ribuan. Setelah itu, pepohonan pun bertumbangan, bisa ditebak jika ada binatang yang berdatangan.


Tebakan semua orang memang benar, mereka melihat penghuni Lembah Dinding Merah berlarian keluar dari hutan. Selain binatang buas, semua orang melihat Roh-roh penasaran yang menuju ke arahnya.


Sontak penduduk dan kultivator menjadi panik, mereka pikir yang keluar dari hutan adalah Dewa Binatang membawa pasukan.


Penghuni Lembah Dinding Merah tidak menuju ke Kota Moon, mereka bersembunyi di hutan. Namun, setelah pasukan binatang Kekaisaran Dewa Binatang bergerak, jelas penghuni Lembah Dinding Merah ketakutan, satu-satunya jalan menuju ke kota.


"Jangan panik, itu hanya binatang buas dan roh penasaran!" teriakan Steward Yan yang menjaga Lembah Dinding Merah.


Dia segera melesat ke arah barisan depan, lalu mengeluarkan aura kekuatannya agar penghuni Lembah Dinding Merah berbelok arah. Binatang buas dan Roh-roh penasaran itu terbelah menjadi dua bagian setelah melihat Steward Yan.


Pendukung dan kultivator sedikit bernafas lega, namun kembali tegang karena pepohonan masih bertumbangan. Dan...


Boom boom boom boom...


Suara rentetan ledakan ketika banyaknya pepohonan hancur berkeping-keping. Debu tebal membumbung tinggi setelah ledakan itu. Karena ketebalan asap, sulit bagi mata biasa untuk melihat.


Steward Yan melambaikan tangan kiri untuk menghilangkan kepulan asap. Setelah asap menghilang, semua orang syok melihat sesuatu yang menggetarkan jiwa.


Apa yang mereka lihat adalah binatang mistik yang berukuran besar, lebih besar tiga kali lipat dari binatang buas penghuni Lembah Dinding Merah. Setiap binatang mistik itu mengenakan zirah perang bersayap, dan dikendalikan oleh satu prajurit yang juga mengenakan zirah perang bersayap.


Itu baru beberapa jenis binatang, yaitu binatang darat jenis; Kera Emas, Singa Putih, Macan Putih, Badak Api, Banteng Api, Panther Es dan lain sebagainya, itu belum yang lainnya seperti binatang penguasa udara, berbagai jenis Naga, Ular, Burung Gajah, Thunderbird, Phoniex, Griffin, dan lainnya.


Tian She Meili, dengan bangga menunggangi Mystical Lion King, binatang mistik yang dulu pernah dijadikan sebagai tunggangan oleh Excel Shimo sewaktu berada di Benua Roh, kekuasaan Raja Cahaya.


Ia juga mengenakan zirah perang bersayap, dua pedang kembar dan pistol ganda terselip di kedua pinggangnya, tombak kembar di punggungnya, dan tangan kirinya membawa payung pemberi Tian Mei Yin, dan tangan kanan membawa kembang gula.


Melihat putrinya dari kejauhan, Dewa Binatang dan Tian bersaudari tak henti-hentinya tertawa, sungguh konyol putrinya ini...


"Roarrr... Roarrr...!"

__ADS_1


Pasukan binatang meraung-raung keras hingga melemahkan lutut setiap musuhnya. Banyak penduduk yang lemah dalam hal jiwa, seketika berlutut karena tidak kuat menahan aura kekuatan pasukan binatang.


__ADS_2