
Bab 138. Bertemu Guru, Universe Lightning.
Melihat mahkota yang sesaat bercahaya, Dewi Kasih bertanya kepada Dewi Pesona, "apakah sebelumnya kamu pernah melihat mahkota itu bercahaya?"
Karena Dewi Pesona pernah berhadapan dengan Serpent Spirit, jelas Dewi Kasih dan Dewi Kedamaian tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
"Tidak pernah. Tetap hati-hati dengan serangan gabungan elemennya!" jawab Dewi Pesona sambil membuat lubang menuju ke arah Batu Roh Dewi, namun ia segera mundur ketika ekor Serpent Spirit terayun ke arahnya.
Ketiga wanita itu tidak lagi berkomunikasi, sebab fokus untuk mendapatkan Batu Roh Dewi.
Sedangkan Dewa Binatang, telah berpindah ke sisi kiri dari kepala bagian tengah. Seperti sebelumnya, dengan kekuatan jiwanya, mantra kedua berhasil dihapus dengan mudah. Serpent Spirit merasakan sakit kepala sesaat, dan kemudian mahkotanya kembali bercahaya sebagai bentuk respon kebebasan.
Ketiga wanita itu makin waspada terhadap serangan gabungan elemen dari Serpent Spirit, dengan menjaga jarak dan selalu menyerang balik. Mereka kembali melihat cahaya di mahkota milik Serpent Spirit, dan tidak mengetahui jika ini adalah perbuatan Dewa Binatang.
Tidak butuh waktu lama, Dewa Binatang telah menghapus mantra mahkota pembatas. Serpent Spirit meraung-raung keras karena telah terbebas dari mantra Dewa Sihir.
Kemudian, dia mengejutkan ketiga wanita itu dengan keluar dari tempatnya. Sontak membuat ketiga wanita itu kalang kabut, mereka segera keluar dari dasar Lubang Neraka sebelum menjadi makanan.
Mereka tidak pernah menyangka bahwa Serpent Spirit bisa keluar dari tempatnya. Hal yang mengejutkan mereka, bagaimana bisa mantra mahkota pembatas tidak membatasi pergerakan Serpent Spirit?
Mereka tidak mencari tahu penyebabnya, sebab menyelamatkan diri lebih utama. Akan tetapi, Serpent Spirit memblokir jalan kabur mereka dengan menggunakan tubuh besarnya.
Puas melihat reaksi ketiga wanita ini, dia berkata, "sudah lama aku menantikan hari-hari kebebasan seperti ini! Waktunya kalian menerima balasan!"
"Ilusi Pikiran!" teriakan Dewa Pesona yang mengeluarkan jurus andalannya.
Dari dahinya keluar mata ketiga, yang mana mengeluarkan cahaya dan menyelimuti tubuh Serpent Spirit. Seketika Serpent Spirit telah berada di tempat lain, dan melihat sosok yang sangat ditakutinya, yang tidak lain adalah Dewa Sihir.
Dewi Pesona jarang menggunakan kemampuannya ini dikarenakan hanya bisa digunakan sekali, dan bisa digunakan lagi setelah 2 jam berlalu. Pengaruh bagi korbannya hanya berlangsung selama 3 detik. Dalam waktu itu, bisa dimanfaatkan untuk menyerang lawannya, atau digunakan untuk melarikan diri.
Jika digunakan untuk mengalahkan Serpent Spirit, jelas Dewi Pesona tidak mampu karena kalah dalam hal kekuatan. Jika waktu 3 detik dipaksakan untuk mengalahkan Serpent Spirit, kemungkinan besar hanya sedikit melukainya.
Dewa Binatang melihat Serpent Spirit terlihat ketakutan. Tetapi anehnya, pandangan matanya kosong. Sesaat yang lalu, dia melihat apa yang dilakukan oleh Dewi Pesona, dan menduga karena cahaya itu, cahaya hipnotis.
Dalam keadaan Serpent Spirit yang terpengaruhi oleh Ilusi Pikiran, ketiga wanita itu segera keluar dari dasar lubang. Akan tetapi, setelah melewati Serpent Spirit, tubuh mereka menabrak dinding tak kasat mata sehingga terpental ke bawah. Untung saja mereka kuat sehingga tidak menghantam tanah.
"Sialan, kita terkurung di domain energi?!" umpatan Dewi Pesona yang tahu dinding tak kasat mata yang menghalanginya, ia melihat Serpent Spirit yang masih terpengaruh Ilusi Pikiran, jelas domain energi ini bukan miliknya.
"Keluar kau... Tunjukkan dirimu dan jangan jadi pengecut!?" bentakan Dewi Kasih sambil mencari pemilik domain energi.
Dewa Binatang yang berada di belakang Serpent Spirit tersenyum melihat ketiga wanita itu yang panik. Sebelum dia bergerak untuk mempermalukan mereka...
"Waktu akan habis, keluar kemampuanmu untuk keluar dari sini!" pinta Dewi Pesona kepada Dewa Kedamaian, ia menggunakan komunikasi telepati agar tidak diketahui oleh pemilik domain energi.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Dewi Kedamaian mengaktifkan mata ketiganya, yang mana dari dahinya - mata ketiga terbuka dan mengeluarkan cahaya benderang sehingga menerangi seluruh dasar lubang.
"Hancurkan semua pengaruh kejahatan. Semua kehidupan hidup dalam damai!" gumam Dewi Kedamaian yang mengucapkan mantra ciptaannya.
Dewa Binatang yang akan bergerak segera berhenti karena pengaruh cahaya. Dia merasakan hatinya yang penuh kedamaian, tidak ingin melakukan keburukan. Dihatinya, ingin hidup damai untuk selamanya.
Karena Dewi Kedamaian mengeluarkan mata ketiganya, Teknik Perubahan Wujud milik Dewa Binatang tidak lagi berfungsi, dan domain energinya juga dinetralisir oleh cahaya itu.
Sontak ketiga wanita itu terkejut melihat Dewa Binatang telah berada di samping Serpent Spirit. Karena sangat ketakutan, mereka memanfaatkan pengaruh sesaat ini untuk kabur.
"Gunakan kelebihanmu untuk menambah pengaruh mereka!" pinta Dewi Kedamaian kepada Dewi Kasih.
Seperti halnya kedua rekannya, Dewi Kasih mengeluarkan mata ketiganya, mata yang hanya dimiliki oleh kultivator yang mendeklarasikan diri sebagai Dewa. Tetapi kelebihan ini juga memiliki batasan.
"Cintailah sesama kehidupan, buanglah segala kebencian. Cintailah aku sepenuh hati dengan segenap jiwamu!" ucap Dewi Kasih, ucapannya adalah mantra, hukum yang dibuatnya sendiri karena sebagai seorang Dewi.
Dewa Binatang yang sedang dalam pengaruh dari mantra Dewi Kedamaian, makin merasakan hidupnya sangat bahagia, penuh kasih dan kebenciannya sesaat lalu menguap. Demikian pula dengan Serpent Spirit, tidak jauh beda dengan Dewa Binatang, dari rasa takut menjadi bahagia.
Ketiga wanita itu segera keluar dari dasar Lubang Neraka dengan kecepatan tinggi, tubuh mereka seperti sinar. Akhirnya mereka keluar dari Lubang Neraka, dan tanpa berhenti langsung meninggalkan Planet Peliades.
Pangeran Lilac dan Pangeran Vervain melongo melihat ketiga Dewi itu seperti orang yang ketakutan. Kemudian, kedua pria itu dan pendukungnya melihat ke dalam Lubang Neraka...
Setelah ketiga wanita itu keluar dari Lubang Neraka, Dewa Binatang dan Serpent Spirit telah pulih dari pengaruh mata ketiga.
Dewa Binatang geleng-geleng kepala karena melupakan kemampuan seseorang Dewa dan Dewi. Lalu dia berkata, "kalian beruntung!"
"Iya, mereka beruntung tidak berhasil kita permalukan!" sahut Serpent Spirit yang belum reda kemarahannya.
"Terima kasih telah menghapus mantra ini!" lanjutnya sambil menatap wajah Dewa Binatang.
"Hal sepele," kata Dewa Binatang yang memang tidak kesulitan, "sesuai kesepakatan kita!" lanjutnya yang ingin segera mendapatkan Batu Roh Dewi.
Serpent Spirit mengayunkan ekornya ke arah tumpukan tulang, dan suara ledakan keras menggema di dasar lubang. Setelah itu, terlihat 13 Batu Roh Dewi yang berkilauan.
"Ambillah, sisakan satu untuk menggantikan tugasku," kata Serpent Spirit.
Sambil melambaikan tangannya untuk mengambil Batu Roh Dewi, Dewa Binatang bertanya kepadanya, "mau ke mana?"
"Tinggalkan benua ini dan membalas perbuatan mereka yang dulu pernah membuatku malu!" jawab Serpent Spirit yang ingin membalas dendam kepada Dewa dan Dewi dari Alam Suci.
Batu Roh Dewi telah berada di tangan Dewa Binatang. Ucapan Serpent Spirit membuatnya berpikir sejenak.
"12 galaksi sejajar akan terjadi, dan kamu tahu artinya! Aku juga ada urusan yang belum terselesaikan dengan mereka. Alangkah baiknya kita bekerja sama untuk membalas perbuatan Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa. Bagaimana, apakah kita bisa bekerja sama lagi?"
__ADS_1
"Kapan waktu itu terjadi? Di mana lokasinya?"
"87 tahun lagi, terhitung hari ini. Untuk lokasi peperangan, nanti kita juga akan tahu!" jawab Dewa Binatang.
"Waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri. Saat waktu itu tiba, yakinlah aku pasti datang dengan bala bantuan."
Setelah Serpent Spirit berbicara, dia keluar dari dasar Lubang Neraka dengan kecepatan tinggi, tubuhnya seperti kabut putih. Dewa Binatang tersenyum senang karena mendapatkan bantuan dari Serpent Spirit.
Boom...
Suara ledakan energi terdengar dari permukaan tanah, Dewa Binatang tertawa karena tahu apa yang diperbuat oleh Serpent Spirit, yang mana melakukan pembantaian. Pengeran Lilac, Pangeran Vervain beserta pendukungnya menjadi korbannya.
"Tingkat Epsilon level 2... Mungkin, aku orang terkuat di Laniakea Super Cluster," gumam Dewa Binatang sambil melihat Batu Roh Dewi.
Dengan 12 Batu Roh Dewi, dia akan mampu mencapai tingkat Epsilon level 2. Dengan kekuatan Epsilon, bisa dikatakan dia adalah orang terkuat. Dan kata "mungkin" karena tidak tahu apakah nanti ada orang yang kuat tiba-tiba muncul, sebab alam semesta sangatlah luas.
Dengan kekuatan di tingkat Epsilon, Dewa Binatang tidak sedikitpun khawatir dengan calon Pelindung Alam Semesta, bahkan dua Penguasa Alam Suci bukanlah tandingannya.
Sebelum meninggalkan dasar Lubang Neraka, dia membuat Formasi Perlindungan untuk melindungi Batu Roh Dewi yang menjadi sumber energi altar Dewa Sihir.
Setelah selesai, dia menghilang dan muncul di tempat terakhir ketika bersama dengan kedua istrinya. Namun, Putri Floryn dan Putri Bella tidak ada ditempat semula. Dia menebak jika kedua istrinya ini sedang sibuk.
Daripada membuang waktu di tempat ini, dia akan menyerap 12 Batu Roh Dewi di dalam Dunia Jiwanya. Akan tetapi, sebelum masuk, tiba-tiba petir menyambarnya, tanpa suara guntur yang biasanya terjadi sebelum petir.
Dewa Binatang tidak terluka, hanya kaget saja. Tetapi dia terkejut karena telah berada di tempat yang sangat familiar, tempat gurunya berada - di Domain Universe Lightning.
"Apakah tidak ada cara lain untuk memanggilku?" protes Dewa Binatang saat melihat Universe Lightning dengan wujud serat-serat petir yang menyerupai manusia.
Universe Lightning tertawa sambil mendekatinya. Lalu dia menepuk pundak kiri muridnya sambil berkata, "untuk mencapai tingkat Epsilon, kamu tidak bisa berada di sembarang tempat untuk menerobos... Di tempat inilah yang cocok untuk menerima Kesengsaraan Petir!"
Inilah tujuan Universe Lightning yang tahu muridnya akan menerobos ke tingkat berikutnya. Selama ini, dia selalu mengawasi setiap pergerakan muridnya. Sebelum Dewa Binatang menerobos, dia mengeluarkan petir untuk menjemput muridnya, cara yang unik.
Kesengsaraan Petir yang akan dialami oleh Dewa Binatang adalah Lighting Asura, petir peringkat ke-2 di bawah Petir Semesta. Jika Dewa Binatang menerobos ke tingkat berikutnya di dalam Dunia Jiwa, sama saja akan memusnahkan penghuninya.
Jika Dewa Binatang menjalani Kesengsaraan Petir di luar Dunia Jiwa, maka akan terjadi bencana, bencana yang setara dengan Bencana Petir Semesta. Yang pasti, Petir Asura mampu membinasakan semua kehidupan di Laniakea Super Cluster.
Dewa Binatang mengangguk paham walaupun tidak tahu jika di tingkat berikutnya harus menjalani Kesengsaraan Petir.
"Guru, saya telah mengetahui semuanya... Orang tuaku benar-benar kejam kepada anak kandungnya sendiri!" ucap Dewa Binatang dengan nada sedih.
Universe Lightning tersenyum melihat kesedihan murid kesayangannya, murid yang sudah di anggap putra sendiri.
"Tidak perlu bersedih, hal ini sudah terjadi! Kamu juga sudah tahu karakter setiap kehidupan, salah satunya seperti ayahmu. Ya, Alam Semesta tidak akan tinggal diam melihat ketidakadilan ini, dia akan selalu bertindak untuk menyeimbangkan semuanya...," tutur Universe Lightning dan berhenti berbicara saat melambaikan tangan kirinya.
__ADS_1
Muncul di depan mereka lambang Yin Yang, yang melambangkan siang dan malam. Ada juga empat binatang mitologi, yang melambangkan empat unsur alam. Dewa Binatang melihatnya dari paham maksud gurunya.