
Bab 123. Dewa Penghancur.
Dewa Binatang telah tiba di Planet Peliades di bagian Timur, tetapnya di wilayah Kerajaan Hibernia, berdekatan dengan wilayah Kerajaan Datura di bagian Selatan. Kedua kerajaan itu dibatasi oleh sungai besar.
Di bagian Barat adalah wilayah Kerajaan Abotorus, dipisahkan oleh lautan, Flotilla Sea. Di bagian Utara adalah wilayah Kerajaan Anarym. Kedua kerajaan tersebut dipisahkan oleh samudera, Samudera Hitam.
Saat ini, Dewa Binatang menginjakkan kaki di wilayah Suku Dewa Api. Tujuannya di wilayah ini karena merasakan kekuatan dari Api Semesta. Api inilah yang selama ini dicari oleh Dewa Binatang.
Yuna Aurora juga memiliki Api Semesta, tetapi Dewa Binatang tidak bisa memilikinya dikarenakan telah menyatu dengan istrinya. Jika dia menginginkan milik istrinya, maka istrinya harus menyerahkan nyawa.
Oleh sebab itu, jika ingin memiliki Api Semesta, dia harus mencarinya. Sebenarnya, Yuna Aurora telah memberikan bibit Api Semesta, tetapi bisa digunakan ketika usia api itu mencapai 3 juta tahun. Dan, tidak mungkin Dewa Binatang menunggu dewasanya Api Semesta.
Dewa Binatang melihat hamparan gurun pasir, lokasi Api Semesta yang bersembunyi. Gurun ini dikenal dengan sebutan Gurun Pembakaran. Di gurun ini jarang kehidupan yang mau tinggal maupun sekedar lewat, kecuali memiliki elemen api. Dengan memiliki elemen api, maka seseorang bisa bertahan di Gurun Pembakaran.
Melihat Planet Peliades begitu subur, dia berhipotesis bahwa usia dari Api Semesta tidak jauh beda dengan miliknya.
Menurut informasi dari Yuna Aurora, Api Semesta yang sudah dewasa mampu meleburkan satu planet dalam sekejap mata, dan terlahir di luar angkasa, bukan di wilayah seperti ini, wilayah yang tidak akan mampu menahan hawa panasnya.
"Suku Dewa Api, apakah ini miliknya?" gumam Dewa Binatang yang menduga bahwa Suku Dewa Api didirikan oleh musuhnya yang kabur sewaktu di Planet Petir.
Dia mengaktifkan Mata Surgawi untuk mencari keberadaan Api Semesta. Setelah beberapa saat, dia melihat di tengah Gurun Pembakaran ada sebuah kota besar, tempat tinggal bagi Suku Dewa Api. Itu adalah Kota Raja Api.
Di tengah kota itu, ada lubang besar yang mengeluarkan hawa panas ekstrim. Kedalaman lubang itu lebih dari 500 km, dengan diameter lingkaran mencapai 7 km. Oleh Kepala Suku Dewa Api, lubang itu diberi nama Lubang Neraka.
Di pinggir lubang itu banyak orang yang duduk bersila untuk menyerap elemen api yang keluar dari lubang. Di samping setiap orang yang berkultivasi itu, tongkat sihir tertancap dan juga menyerap elemen api.
Dewa Binatang terus menyelidiki kedalaman Lubang Neraka. Setelah Mata Surgawi mencapai dasar lubang itu, dia melihat seekor mahkluk aneh yang terselimuti api.
Bentuk kepala binatang itu menyerupai Rubah, gigi besar dan runcing, memiliki tiga mata yang mengeluarkan api, memiliki enam ekor yang menyala-nyala, ukurannya lebih besar dua kali lipat dari dinosaurus.
Seandainya Yuna Aurora dan semua istrinya tidak sedang berkultivasi, Dewa Binatang pasti akan bertanya perihal penunggu Lubang Neraka itu, mahkluk yang tidak pernah dijumpainya.
Yang mengejutkannya, kekuatan mahkluk itu di tingkat Hyper Omega level 10, jauh dari kekuatannya saat ini yang berada di tingkat Super Omega level 12. Disekitar mahkluk itu terdapat bibit Api Semesta, jumlah ada 14 bibit, bentuknya seperti kristal yang mengeluarkan api.
__ADS_1
Dewa Binatang melihat esensi kehidupan setiap orang yang berkultivasi di pinggir lubang diserap oleh mahkluk itu. Entah hal ini diketahui oleh mereka atau tidak, dia tidak mengetahuinya. Tetapi, melihat mereka saling menguntungkan, kerja sama antara mahkluk itu dan penyihir adalah langkah yang tepat.
Dengan penyihir menyerap energi dari mahkluk itu, maka mereka akan meningkat elemen api, basis kultivasi dan juga memperpanjang usia. Sebagai imbalannya, mahkluk itu menyerap esensi kehidupan si penyihir.
"Apa kalian mengetahuinya?" tanya Dewa Binatang kepada Galaksi Elemen yang bersemayamnya di dalam jiwanya, Mata Surgawi-nya terus melihat mahkluk itu.
"Ya, kami mengetahuinya, Penguasa. Itu memang Api Semesta, tetapi masih remaja. Kami perkirakan, dalam waktu 1 juta tahun lagi, dia akan menjadi dewasa dan bisa dimanfaatkan secara optimal. Jika digabungkan dengan bibit-bibit Api Semesta, api itu akan tumbuh dewasa dengan cepat. Ini adalah keberuntungan Anda. Untuk menjinakkannya, seperti biasanya, bertarung untuk menunjukkan dominasi!" jelas Galaksi Elemen.
Di Planet Peliades, mahkluk itu disebut Devil Hunter Firefox (Rubah Api Pemburu Iblis), penghuni di sini tidak ada yang tahu jika mahkluk itu adalah perwujudan dari Api Semesta.
Konon ceritanya, Devil Hunter Firefox telah berada di Planet Peliades sebelum adanya kehidupan. Namun ada yang mengatakan bahwa mahkluk itu lahir secara bersamaan dengan terbentuknya Planet Peliades.
Dan, semua cerita itu tidak memiliki bukti, sebab penghuni di planet ini tidak memiliki catatan. Menurut catatan sejarah tertua Suku Dewa Api, mengatakan bahwa mahkluk itu adalah pelindung Planet Peliades.
Setelah Galaksi Elemen menjelaskan, Dewa Binatang mengembangkan senyuman, tetapi hanya sesaat karena menjinakkan Devil Hunter Firefox tidaklah mudah. Dengan kekuatannya saat ini, dia akan mudah dikalahkan.
Tiba-tiba, Devil Hunter Firefox membuka mata saat merasakan seseorang sedang mengawasinya. Segera Dewa Binatang menonaktifkan Mata Surgawi-nya.
"Tidak mudah untuk menjinakkannya!" gumam Dewa Binatang sambil berpikir keras untuk mencari cara untuk menaklukkan Devil Hunter Firefox.
Di saat Dewa Binatang sedang berpikir, dia melihat dua sinar putih turun dari langit. Dua sinar itu menuju ke Kota Raja Api. Dengan Mata Surgawi, dia melihat sosok kedua sinar itu, yang tidak lain adalah Dewa Api musuhnya, dan sosok lainnya tidak dikenalnya, seorang pria yang seumuran dengannya.
Kedua orang itu disambut oleh Kepala Suku Dewa Api. Walaupun Dewa Binatang yang posisinya jauh dari Kota Raja Api, dia masih bisa mendengar obrolan mereka.
Ternyata, sosok pria muda itu adalah seorang Dewa. Oleh Kepala Suku Dewa Api dipanggil dengan sebutan Dewa Penghancur, salah satu dari dua orang yang digadang-gadang sebagai Pelindung Alam Semesta. Dewa Binatang jelas tidak mengenali siapa Dewa Penghancur itu dan yang lainnya.
Dewa Penghancur adalah aset berharga bagi Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa, telah dididik dan menjalani siklus Samsara sebanyak sembilan kali. Hingga saat ini, nama serta keluarga dari Dewa Penghancur sangat dirahasiakan oleh kedua penguasa Alam Suci, tidak ada satupun orang yang mengetahuinya.
Di Alam Suci, sosok pemuda itu dikenal dengan sebutan Dewa Penghancur. Menurut catatan prestasi di Alam Suci, Dewa Penghancur telah menghancurkan banyak dunia selama menjalani siklus Samsara, total ada 3.500 dunia yang menjadi korbannya. Semua itu dilakukan untuk meningkatkan kekuatan dan pengalaman.
Dua orang yang digadang-gadang sebagai Pelindung Alam Semesta adalah Dewa Pemusnah dan Dewa Petarung, berasal dari Alam Kudus.
Mereka berdua sedikit lebih tua dari Dewa Binatang. Mereka juga telah berhasil menjalani siklus Samsara sebanyak sembilan kali, bahkan lebih dulu selesai sebelum Dewa Binatang dan Dewa Penghancur.
__ADS_1
Kekuatan ketiga Dewa Pelindung Alam Semesta melebihi Dewa Binatang, berada di tingkat Hyper Omega. Dewa Penghancur di level 9, Dewa Pemusnah di level 11. Dan, Dewa Petarung berada di level 12, akan segera menerobos ke tingkat Epsilon.
Selama menjalani siklus Samsara, kehidupan kedua Dewa itu tidak jauh berbeda dengan Dewa Penghancur. Selama hidupnya, banyak planet dihancurkan, dan kultivator kuat mati ditangan mereka berdua, dan korbannya lebih banyak dari Dewa Penghancur.
Kembali ke Dewa Binatang, yang mana masih terus melihat Dewa Api dan Dewa Penghancur, serta terus membuka telinga untuk mendengar obrolan mereka...
"Kali ini aku harus berhasil mengambil bibit Devil Hunter Firefox!" kata Dewa Penghancur sambil melihat ke dasar Lubang Neraka.
"Anda harus berhasil! Jika tidak, Dewa Petarung dan Dewa Pemusnahan akan tertawa puas!" sahut Dewa Api yang dengan sengaja memprovokasi Dewa Penghancur, dia juga ikut melihat ke dasar Lubang Neraka.
"Dewa Petarung telah berhasil mengambil 4 bibit Devil Hunter Firefox, Dewa Pemusnah berhasil mengambil 2. Saya yakin hari ini Anda akan mendapatkannya, karena kekuatan Anda hampir setara dengan Devil Hunter Firefox!" ucap Kepala Suku Dewa Api dengan niatan untuk memotivasi Dewa Penghancur.
Dewa Penghancur tersenyum kecut karena dibanding-bandingkan, lalu dia melirik Kepala Suku Dewa Api. "Mereka adalah seniorku, mana mungkin aku bisa menandingi mereka yang lebih kuat dan berpengalaman?"
Dewa Api tertawa sambil menepuk pundak kiri dari Dewa Penghancur, lalu dia kembali memprovokasi dengan berkata, "Dewi Cahaya yang bernama Yuna Aurora, putri dari Hernades Celosia, wanita itu memiliki Api Semesta. Jika kamu bisa merebutnya dari Dewa Binatang, kamu akan memiliki Api Semesta. Dengan begitu, setelah kamu menyerap kekuatannya, maka kekuatanmu melejit dan jelas mengalahkan mereka!"
Dewi Api yang tidak terima sahabatnya si Dewa Bumi dibunuh oleh Dewa Binatang, ingin meminjam tangan dari Dewa Penghancur untuk membunuh Dewa Binatang. Oleh sebab itu, dia terus-menerus memprovokasi Dewa Penghancur.
"Dia lagi, dia lagi...! Bagaimana dia seberuntung itu bisa memiliki Yuna Aurora, belum lagi memiliki Batu Keabadian! Aku sudah lama menunggunya di Alam Suci... Jika dia datang, aku secara pribadi yang akan mengalahkannya. Di mana dia sekarang?"
Akhirnya, Dewa Penghancur terpancing emosinya karena sudah lama mendengar nama Dewa Binatang dan Yuna Aurora. Jika tidak dihentikan oleh Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa, sudah lama dia akan memburu Dewa Binatang.
"Entahlah! Setelah membunuh Dewa Bumi, dia seakan-akan lenyap dari dunia. Kemungkinan besar, dia bersembunyi di dalam Dunia Jiwa!" jawab Dewa Api dengan raut wajah sedih, lalu dia membuang nafas panjang untuk meredam kemarahannya.
"Tenang saja, aku pasti membalas kematian Dewa Bumi! Sekarang, kita fokus pada Devil Hunter Firefox...!" janji Dewa Penghancur sambil menepuk bahu kanan Dewa Api.
Di dalam hati, Dewa Api tertawa karena berhasil memprovokasi Dewa Penghancur. Dia tahu pria muda di sampingnya ini selalu menepati janji.
Kemudian, Dewa Penghancur melihat Kepala Suku dan bertanya, "Kepala Suku, selama kedua seniorku mengambil bibit Devil Hunter Firefox, apakah kamu mencatat kesuksesan mereka?"
"Tentu, saya selalu mencatat keberhasilan mereka. Saya yakin, untuk kali ini Anda akan berhasil!" jawab Kepala Suku sambil mengeluarkan catatan prestasi dari Dewa Petarung dan Dewa Pemusnahan, lalu memberikan kepada Dewa Penghancur.
Ya, Dewa Penghancur pernah sekali gagal mendapatkan bibit Api Semesta, sekitar 1.000 tahun lalu, kali ini adalah yang kedua. Untuk kedua kalinya, dia tidak ingin mengulangi kegagalannya.
__ADS_1
Dewa Binatang melihat catatan yang sudah dipegang oleh Dewa Penghancur. Dia memendam amarah karena istrinya menjadi incaran mereka...