
Bab 121. Tujuh Dewa Versus Dewa Binatang (2). Kematian Dewa Bumi.
Ledakan hebat ketika lonceng saling berbenturan dengan kapak energi. Suaranya menyakitkan telinga, dan lonceng itu pun hancur berkeping-keping.
Dampak dari ledakan itu, tidak berpengaruh pada Dewa Binatang dan musuhnya, tetapi gelombang kejut energi itu membuat penghuni Planet Petir menjadi panik. Mereka terbang untuk menghindari gelombang kejut.
Dewa Ilusi dan keenam rekannya tidak keheranan melihat kehebatan Artefak Alami. Tetapi di dalam hati mereka, sejak kapan ada Artefak Alami jenis Bloodlust Axe, dan sejak kapan Dewa Binatang memilikinya?
"Sekarang giliranku!" ucap Dewa Binatang yang mengincar Dewa Ilusi, lalu dia bergumam lirih sambil mengayunkan Bloodlust Axe, "Kapak Pembelah Bumi!"
Dewa Ilusi segera mengeluarkan pedang panjang, jenis Artefak Bintang 8, sedikit lebih lemah jika dibandingkan dengan Artefak Alami. Tetapi, sehebat apapun senjatanya, itu tergantung si penggunaannya apakah mampu atau tidak memaksimalkan kelebihan senjatanya.
Tetapi, jika digabungkan dengan senjata milik rekan-rekannya, sulit bagi Dewa Binatang untuk melawan tujuh senjata Artefak Bintang 8, menurut pemikiran Dewa Ilusi.
Tanpa berpindah dari tempatnya, Dewa Ilusi menghunuskan pedangnya ke arah Dewa Binatang, lalu bermunculan ribuan ular di belakangnya. Ular-ular itu melesat ke arah bilah kapak dan...
Boom...
Suara ledakan dari dua energi yang saling berbenturan. Berhubungan, ular itu lebih banyak, sebagian yang lolos dan melesat ke arah Dewa Binatang.
Dewa Binatang mengayunkan Bloodlust Axe berkali-kali. Kemudian bermunculan ribuan bilah kapak energi yang melesat ke ular itu.
Momentum singkat itu dimanfaatkan oleh Dewa Ilusi yang mengangguk kepada rekan-rekannya. Dewi Pesona dan yang lainnya segera mengeluarkan jurus andalannya.
Dewi Pesona mengeluarkan alat musik jenis Kecapi, atau yang dikenal dengan sebutan Liu Qiu. Dewa Matahari mengeluarkan dua cakram bergigi, bentuknya seperti matahari dengan lubang di tengah sebagai pegangan tangan.
Dewa Bumi, mengeluarkan palu besar dengan gagang tangan memajang. Dewa Laut menggeluarkan senjata tombak. Dewa Awan mengeluarkan pedang ganda yang terbentuk dari awan, berwarna putih dan hitam.
Sedangkan Dewa Api, dia mengeluarkan senjata tongkat berapi-api, tongkat yang mampu memanjang dan membesar.
Setelah mengeluarkan senjata Artefak Bintang 8, mereka segera mengaktifkan Formasi Geometri Alam, dengan tujuan agar Dewa Binatang tidak bisa kabur. Dengan begitu, mereka bisa mengeksekusi mati musuhnya ditempat.
Boom boom boom boom...
Rentetan ledakan hebat saat ribuan ular energi berbenturan dengan bilah kapak. Akibat benturan energi itu, bermunculan percikan api seperti hujan, yang menghujani Planet Petir.
__ADS_1
Dewa Binatang sekilas melihat ke bawah, di mana banyak orang yang menjadi korbannya. Lalu dia sedikit terkejut saat melihat musuhnya mengaktifkan Formasi Geometri Alam.
Sebelum dia bereaksi, musuhnya mengeluarkan jurus andalan. Berbagai senjata diayunkan ke arahnya. Bukannya panik, Dewa Binatang tersenyum sinis.
"Aku hanya menguji senjataku ini ... Karena kalian berinisiatif untuk melenyapkan diriku untuk selamanya... Sebelum itu terulang kembali, kalian yang harus mati terlebih dahulu!"
Setelah Dewa Binatang berbicara, dari tubuhnya mengeluarkan cahaya kebiruan, cahaya yang menyilaukan mata mereka. Kemudian, bermunculan 9 bola yang mengeluarkan petir berwarna biru, bola-bola itu memutari tubuhnya.
"Astaga...!! Dia... Kekuatannya... Ini kekuatan tingkat Half Omega level 9 puncak...!" Dewa Bumi syok saat mengetahui kekuatan Dewa Binatang yang melebihi mereka, dia dan semua rekan mengurungkan niat untuk menyerang Dewa Binatang.
Padahal, kekuatan Dewa Binatang berada di tingkat Super Omega level 12. Dia sengaja mengeluarkan kekuatan Half Super Omega agar musuhnya tidak mengetahui kekuatannya yang sebenarnya.
Di tingkat Half Super Omega, seseorang akan memiliki bola, di dalam dantian akan terlihat seperti planet. Bola akan bertambah seiring kultivator meningkatkan levelnya. Jika berada di level 2, maka akan memiliki dua bola. Jika berada di puncak kekuatan Half Super Omega, maka seseorang akan memiliki 9 bola.
Saat seseorang berada di tingkat Super Omega, maka puncak kekuatannya akan memiliki 12 bola. Bola-bola itu juga memiliki warna yang berbeda-beda sering bertambahnya kekuatan.
Dewa Api dan rekan-rekannya paham dengan kesenjangan kekuatan mereka, tidak mungkin level 1 mampu mengalahkan level 9, biarpun mereka unggul dalam hal jumlah. Dan yang terkuat di antara mereka adalah Dewi Shiwu, yang mana berada di level 3, dan terendah adalah Dewa Bumi di level 1.
Dulu, sewaktu mengalahkan Dewa Binatang, kekuatan mereka masih berada di tingkat True Omega puncak. Oleh sebab itu, mereka bisa memperkirakan kekuatan Dewa Binatang yang baru menyelesaikan siklus Samsara terakhir, dan tidak mungkin berada di tingkat lebih tinggi dari Half Super Omega.
Dewa Ilusi segera menyusulnya dan diikuti oleh rekan-rekannya.
Ya, tugas mereka hanya untuk memancing Dewa Binatang agar mengeluarkan semua kekuatannya, dan akan melawan musuhnya ini ketika berada di Alam Suci.
Dewa Binatang keheranan melihat musuhnya yang kabur. Anehnya lagi, mereka mampu melewati penghalang yang memblokir Planet Petir.
Namun, dia jelas tidak akan mengeluarkan kekuatan dengan sia-sia. Melihat Dewa Bumi yang tertinggal dari keenam rekannya, Dewa Binatang segera mengejarnya.
Dewa Bumi yang tertinggal jauh merasakan musuhnya yang mendekati, dia sangat panik dengan memaksimalkan kecepatannya. Sayangnya, kecepatan Dewa Binatang jauh lebih cepat darinya. Sedangkan rekan-rekannya semakin jauh darinya.
Karena kalah dalam hal kecepatan, Dewa Bumi tidak punya pilihan lain selain menghadapi musuhnya, dia mengayunkan palu sebelum Dewa Binatang mendekat.
Dewa Binatang tersenyum tipis melihat kebodohan Dewa Bumi, dia dengan mudah menghindari serangannya. Karena tidak ingin membuang waktu, dia berteleportasi dan muncul di belakang Dewa Bumi.
Dewa Bumi tahu lawan dibelakangnya, segera membalikkan badan sambil mengayunkan palunya. Tetapi, Dewa Binatang lebih cepat mengayunkan Bloodlust Axe.
__ADS_1
Dewa Bumi terbelalak ketika merasakan lehernya perih. Kemudian, dia melihat tubuhnya sendiri, yang mana kepalanya terpisah dari tubuhnya.
Karena tahu dirinya terbunuh, segera Dewa Bumi mengeluarkan jiwanya, tujuannya agar bisa bereinkarnasi kembali.
Dewa Binatang tidak bodoh dan tahu niatnya saat melihat jiwa Dewa Bumi akan kabur. Dia segera mengeluarkan domain energi untuk memblokir jalan kabur musuhnya.
Dewa Bumi sangat panik karena tidak bisa kabur. Sebelum dia memohon ampunan, Dewa Binatang segera melenyapkan jiwanya.
"Terima kasih!" ucap Dewa Binatang setelah membunuh Dewa Bumi untuk selamanya, dia berterima kasih karena mendapatkan kekuatan milik lawannya.
Kekuatan Dewa Bumi memasuki tubuh Dewa Binatang, dia memejamkan mata untuk menikmati sensasi rasa mendapatkan kekuatan lawan...
Merasakan aura milik Dewa Bumi menghilang, Dewi Pesona, Dewa Ilusi dan rekan-rekannya berhenti. Mereka melihat Dewa Binatang sedang menyerap kekuatan temannya.
"Anggap saja ini harga sebuah pengorbanan. Jasanya tidak akan pernah kita lupakan!" ucap Dewi Pesona dan buru-buru kembali ke Alam Suci, lalu disusul oleh Dewa Ilusi.
Dewa Api yang paling terpukul atas kematian sahabatnya ini, ucapan dari Dewi Pesona sangat menyakitkan hati. Tetapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena kalah dalam basis kultivasi.
"Lihat saja, aku pasti membalas perbuatanmu!" ucap Dewa Api yang penuh dendam dan segera menyusul rekannya.
Dewa Binatang melihat musuhnya yang kabur, tetapi tidak mengejar mereka karena sedang menyerap kekuatan Dewa Bumi.
"Anggap saja hari ini kalian beruntung," gumam Dewa Binatang.
Lalu dia melihat ke arah Danau Kesadaran. Dengan Mata Surgawi, Dewa Binatang tidak melihat Dewi Shiwu di ruang penjara. Dia menebak jika Dewi Shiwu telah berada di Alam Suci.
"Entah perkataanmu itu benar atau tidak, aku tidak peduli! Saat ini, kau adalah musuhku, bukan lagi kekasihku!" batinnya.
Sebenarnya, Dewa Binatang menginginkan Dewi Shiwu bersatu dengannya, menjadi bagian dari keluarga besarnya. Berhubungan Dewi Shiwu lebih memilih pihak musuh, maka dia tidak lagi peduli.
Yuna Aurora, Qin Diao Chin, Qin Lianshi dan beberapa istrinya keluar dari dalam Dunia Jiwa, termasuk Tian She Meili. Mereka melihat apapun yang dialami oleh suaminya, dan mereka ingin sekali memukuli Dewi Shiwu.
"Itu pilihannya, tidak perlu lagi dipikirkan!" hibur Yuna Aurora sambil ikut menyerap kekuatan Dewa Bumi yang terkurung di dalam domain energi.
"Wanita jahat, tidak tahu Ayahku ini sangat mencintainya!" kegeraman Tian She Meili sambil melihat Planet Petir yang porak-poranda akibat pertarungan.
__ADS_1
Dewa Binatang membelai rambut putrinya, lalu dia berkata, "Ayah tidak sedikitpun sakit hati, sebab Ayah memiliki kalian!"