
Bab 148. Kabur!
Pagoda Berlian tidak sama dengan Artefak Alami lainnya. Biasanya, Artefak Alami akan memilih tuan sesuai dengan kehendaknya, tuan yang memiliki kemampuan berbeda dari kultivator manapun.
Pagoda Berlian tidak memilih-milih siapapun yang menjadi tuannya, siapapun bisa memilikinya, sebab dia tercipta secara alami dengan tujuan keadilan. Kelebihannya, siapapun yang berkultivasi di dalamnya, tidak perlu lagi bingung untuk mencari sumber daya, cukup menyerap energi yang telah tersedia dan sangat melimpah, energi yang mampu meningkatkan kekuatan fisik dan basis kultivasi.
Oleh sebab itu, Dewa Binatang dan Dewa Perang tidak perlu membuat kontrak jiwa dengan Pagoda Berlian. Pagoda Berlian bisa saja dipegang oleh siapapun setelah tuannya meninggal dunia.
Di dalam Pagoda Berlian, siapapun tidak bisa terbang dan harus menggunakan kekuatan fisik untuk naik setiap anak tangga, tujuannya agar fisik menjadi kuat seperti baja. Segala jenis teknik apapun juga akan dinetralisir ketika masuk ke dalamnya.
Di setiap anak tangga, semuanya adalah hamparan padang rumput yang subur, rumputnya sangat lembut seperti permadani hijau. Ketika duduk bersila dan mengaktifkan Teknik Kultivasi, maka secara otomatis seluruh Energy Primordial akan memasuki dantian.
Siapapun yang sudah berkultivasi di dalam Pagoda Berlian, mereka akan melupakan apapun yang terjadi di luar diri karena terhanyut dalam kesenangan berkultivasi.
Jika berniat selesai berkultivasi, maka tidak perlu lagi repot-repot turun ke lantai bawah yang sangat jauh, cukup menuruni satu anak tangga maka secara otomatis kembali ke langit dasar.
Ketika Dewa Binatang berlari ke arah ujung lantai pertama, tidak ada satupun orang yang terganggu karena terhanyut dalam kultivasinya, mereka seperti seorang pertapa.
Sudah lama Dewa Binatang tidak berlarian seperti ini, hal yang sudah lama dilupakannya. Di tempat ini, dia seperti orang biasa yang tidak memiliki kekuatan. Karena medan gravitasi lebih tinggi 20 kali lipat dari Bumi, maka dia tidak sedikitpun merasakan kelelahan, merasakan tubuhnya seringan kapas karena kekuatan yang mencapai tingkat Epsilon level 2.
Ketika berada di ujung lantai pertama, dia melihat gerbang besar, binatang sebesar apapun bisa masuk tanpa kesulitan. Segera dia masuk ke dalam gerbang itu. Saat berada di dalamnya seperti berada di lorong waktu, pandangan matanya menjadi kabur.
Itu tidak berselang lama, pengelihatannya menjadi normal dan sudah berada di lantai ke-2, dia melihat hamparan padang rumput bertingkat yang mencapai 200 anak tangga, yang mana setiap lantainya memiliki tekanan medan gravitasi yang lebih kuat dari sebelumnya. Di lantai ini, cocok untuk kultivator di tingkat Saint.
Dewa Binatang kembali berlari melewati 200 anak tangga. Naik ke lantai 3, dia melihat ada 2.000 anak tangga, dan medan gravitasinya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tanpa lelah dan merasakan tekanan, dia terus berlari...
Hingga akhirnya tiba di lantai ke-11, Dewa Binatang tersenyum senang melihat banyak istrinya yang menjadi bagian dari Pasukan Wanita berkumpul di sini, duduk bersila dan terhanyut dalam kultivasinya, termasuk Putri Floryn dan Putri Bella yang juga berada di lantai ini di anak tangga pertama.
Banyak juga pasukan binatang dan Kekaisarannya yang juga sedang berkultivasi. Di lantai ini, cocok untuk kultivator mulai dari tingkat Sang Void hingga tingkat Hyper Omega (total 16 ranah kultivasi). Jumlah anak tangganya ada 16 tingkat, setiap tingkat medan gravitasinya berbeda-beda yang jelas lebih kuat dari sebelumnya berkali-kali lipat.
Setiap anak tangga, luasnya bermil-mil, setiap orang dengan bebas duduk tanpa harus berhimpitan, satu dengan lainnya tidak akan terganggu ketika nanti menerobos.
Ada beberapa anak tangga yang menjadi perhatian Dewa Binatang. Di anak tangga ke-11, anak tangga khusus untuk kekuatan tingkat True Resonansi. Di mana ada pohon besar seperti pohon beringin, akar-akarnya menjuntai ke bawah dengan ujungnya berbentuk bunga Swaddled Babies orchid (Anguloa Uniflora).
Di anak tangga ke-12 juga sama, tempat khusus untuk kekuatan tingkat Half Omega, ujung akarnya seperti bunga Alien Bahagia atau Calceolaria Uniflora.
Di anak tangga ke-13, untuk kekuatan tingkat True Omega, ujung akarnya seperti bunga Anggrek malaikat atau Habenaria Grandifloriformis. Ujung akarnya membentuk sayap putih bersih seperti bisa terbang kemanapun.
Di anak tangga ke-14, 15 dan 16 juga sama, ada pohon besar seperti pohon beringin, tempat untuk kultivator tingkat Half Super Omega hingga tingkat Hyper Omega. Di mana ada pohon yang lebih besar dari sebelumnya, akar-akarnya menjuntai ke bawah dan ujung membentuk bunga Anggrek Peristeria yang dijuluki Bunga Roh Kudus.
Bunga ini berwarna putih, bentuknya unik menyerupai burung merpati yang dilindungi oleh lima daun bunga membentuk lingkaran. Bunga ini dilambangkan sebagai jiwa yang suci dan simbol kedamaian, kemurnian, dan awal yang baru.
__ADS_1
Beberapa istri utamanya berada di tengah bunga-bunga itu, duduk bersila dengan sangat nyaman, wajah mereka bercahaya karena pengaruh dari Energy Primordial, berbeda dengan anak tangga dan lantai sebelumnya.
Dewa Binatang bergegas ke anak tangga khusus tingkat True Alfa, di mana ada Tian She Meili dan istri-istri mudanya. Namun ketika mendekati Tian Angela, tubuh Dewa Binatang terpental hingga berguling-guling.
Dewa Binatang duduk sambil menggelengkan kepalanya karena lagi-lagi lupa, lupa jika ada aturan yang tidak bisa dilanggar oleh siapapun, yang mana siapapun dilarang mendekati orang yang sedang berkultivasi. Akibatnya, seperti yang baru saja dialaminya.
Karena tidak bisa mendekati siapapun yang sedang berkultivasi, maka Dewa Binatang mengurungkan niatnya untuk menyapa istrinya. Dia bergegas menuju ke lantai 12, khususkan untuk kekuatan di atas tingkat Epsilon hingga tingkat Divine Realm.
Baru saja menginjakkan kaki di anak tangga ke-16, Dewa Binatang merasakan tekanan kuat dari medan gravitasi, gerakannya menjadi lambat, otot-otot di tubuhnya sampai keluar karena menahan tekanan gravitasi, keringat mulai bercucuran.
"Tingkat Epsilon level 2 ... Di lantai 11 anak tangga terakhir... Luar biasa tekanannya!" gumam Dewa Binatang yang baru pertama kali mendapatkan rintangan di Pagoda Berlian.
Dia membayangkan bagaimana perjuangan istrinya ketika berada di tempat ini, sudah pasti berjuang keras, pikirnya. Dan perjuangan mereka hanya ingin selalu mendampinginya ketika berada di luar Dunia Jiwa.
Dewa Binatang melihat gerbang besar penghubung ke lantai ke-12, masih kurang dari 200 meter dari posisinya berjalan. Setiap melangkahkan kakinya, tekanannya semakin kuat dari sebelumnya.
Keluar otot di wajahnya yang berwarna kebiruan karena menahan tekanan gravitasi, gerakan semakin lambat, setiap kali bergerak suara tulang ditubuhnya terdengar gemeretak.
Dewa Binatang segera duduk ketika berada di depan gerbang raksasa, kurang satu langkah lagi dia memasuki lorong. Dia perlu membiasakan diri sebelum menginjakkan kaki di lantai 12. Dia melepaskan pakaiannya karena basah oleh keringat, hanya memakai pakaian celana panjang.
"Sudah lama tidak merasakan kesulitan seperti ini," kata Dewa Binatang yang kembali teringat masa-masa awal berkultivasi.
Karena rasa lelahnya berkurang, dia segera berdiri. Kemudian, menggerak-gerakkan tangan seperti sedang bertarung, dan juga menggerakkan kakinya dengan gerakan menendang, tujuannya agar terbiasa dengan medan gravitasi di tempat ini.
Lambat laun gerakannya semakin cepat, perlahan tubuhnya menjadi seringan kapas. Setelah terbiasa, Dewa Binatang mundur selangkah. Namun, tiba-tiba muncul di lantai dasar.
"Hahaha...!!" Dewa Binatang menertawakan dirinya yang lagi-lagi lupa dengan aturan di Pagoda Berlian.
Dia segera terdiam karena merasakan dantian-nya bergejolak, tanda akan menerobos ke level 3, hanya membutuhkan beberapa waktu untuk berkultivasi dan sudah dipastikan akan menerobos.
Dewa Binatang mengembangkan senyuman bahagia, sebab baru di lantai ke-11 di anak tangga ke-16 sudah mendapatkan banyak manfaat. Bagaimana jika sudah berada di lantai 12, sudah pasti akan mudah untuk meningkatkan kekuatannya.
Tidak sabar ingin meningkatkan kekuatannya, dia melangkah kaki. Namun tiba-tiba berhenti ketika teringat akan janjinya kepada Permaisuri Ivy dan Putri Melvina.
Segera Dewa Binatang keluar dari Pagoda Berlian, lalu melihat ke luar Dunia Jiwanya. Ketika melihat ke arah Hutan Kematian, dia keheranan karena tidak melihat musuhnya. Segera dia memeriksa situasi di Ibu Kota Kerajaan Datura, namun tidak satupun melihat tentara Asyura dan tentara Langit.
Karena berada di dalam Dunia Jiwanya, dan membuat pandangan Mata Surgawi terbatas, maka dia memutuskan untuk keluar dari dalam Dunia Jiwa, tujuannya untuk memeriksa keseluruhan Planet Peliades.
Saat berada di luar dengan wujud menjadi udara, dia melihat ke arah Bulan Nordic, dan melihat musuhnya berkumpul di sana.
"Kemana mereka?" batin Dewa Binatang yang mencari keberadaan kelima orang yang berasal dari Galaksi Pengadilan Jagat Raya.
__ADS_1
Segera Dewa Binatang memeriksa keseluruhan Benua Peliades. Setelah beberapa waktu mencari dengan menggunakan Mata Surgawi, dia tidak menemukan keberadaan mereka.
"Lebih baik memenuhi janji terlebih dahulu agar tidak menggangu pikiranku ketika nanti berkultivasi!" rencananya.
Dan kebetulan hari ini menjelang malam, waktu yang tepat untuk menangkap si penculik anak-anak. Segera Dewa Binatang menghilang dan muncul di ruang tamu istana Kerajaan Datura. Namun, dia tidak melihat Permaisuri Ivy dan Putri Melvina, hanya ada beberapa pengawal mereka.
Segera Dewa Binatang merubah tampilannya seperti sebelumnya, menyamar sebagai pria paruh baya. Kemudian, dia menunjukkan dirinya kepada pengawal Permaisuri Ivy. Sontak membuat pengawal itu terkejut, namun hanya sesaat karena tahu siapa orang yang tiba-tiba muncul ini.
"Apakah Anda mencari Yang Mulia Ratu?" tanya salah satu pengawal. Dia memanggil Permaisuri Ivy dengan sebutan Ratu karena menjadi penguasa pengganti Raja Datura.
"Iya. Di mana beliau?" jawab Dewa Binatang dan balik bertanya.
"Mari, ikuti hamba."
Dewa Binatang mengikuti pengawal itu menuju ke suatu tempat di luar istana. Ketika berjalan, pengawal itu mengatakan jika Permaisuri Ivy telah menyediakan tempat untuk menampung keluarga yang memiliki bayi dan anak-anak di bawah umur 11 tahun.
"Apakah kau tahu, kenapa tentara dari Alam Suci pergi dari tempat ini?" selidik Dewa Binatang.
"Hamba juga tidak tahu, Tuan. Dari informasi semua orang yang mengikuti tentara itu, mereka hanya melihat semua Dewa dan tentara Alam Suci tergesa-gesa meninggalkan Hutan Kematian!" jawab pengawal itu dengan jujur.
Sambil terus mengikuti pengawal itu, Dewa Binatang berpikir, pasti kepergian mereka dikarenakan kelima utusan itu. Tetapi permasalahan, kemana kelima orang itu?
Tidak berselang lama, Dewa Binatang telah berada di depan sebuah gedung berlantai tiga, gedung yang sangat dijaga ketat oleh para ahli penyihir. Si pengawal itu mengajaknya masuk.
Ternyata di dalam ada sebuah pintu di lantai. Dewa binatang menebak, jika Permaisuri Ivy menjadikan ruang bawah tanah sebagai tempat untuk melindungi rakyatnya yang memiliki bayi.
Setelah masuk ke dalam ruang bawah tanah sedalam 30 meter, Dewa Binatang melihat sekeliling ruangan itu, yang mana mampu menampung 1.000 jiwa. Memiliki tiga ruangan, setiap ruangan dibatasi dengan dinding sihir. Ruangan pertama telah disediakan banyak ranjang untuk pengungsi.
Kemudian, dengan Mata Surgawi-nya, dia melihat Permaisuri Ivy dan Putri Melvina yang tidak sendirian, ada dua orang yang tidak dikenalnya, wanita muda berparas cantik dan pria yang juga tampan.
Dari warna pakaian kedua orang itu yang berwarna putih, serta merasakan aura kekuatan yang melebihinya dan sengaja disembunyikan, Dewa Binatang menjadi sangat waspada, sebab dia berkeyakinan bahwa kedua orang itu adalah Chen Yeon dan Chen Ying yang sedang menyamar.
"Sialan, kenapa mereka bisa ada di sini!" batin Dewa Binatang sambil melihat kedua orang itu yang sedang berbicara dengan Permaisuri Ivy, nalurinya mengatakan untuk segera kabur.
Sebelum memasuki ruang kedua, Dewa Binatang segera menahan bahu kiri si pengawal, lalu berkata, "masih ada tamu. Nanti saja jika mereka pergi!"
Si pengawal membalikkan badan, lalu berkata tanpa ada kecurigaan sedikitpun, "memang masih ada dua tamu. Nanti hamba sampaikan bahwa Tuan telah datang!"
Dewa Binatang mengangguk sebagai respon. Dia segera membalikkan badan dan bergegas keluar dari ruang bawah tanah. Si pengawal mengikutinya karena tugasnya tidak berjaga di tempat ini.
Akan tetapi...
__ADS_1