
Bab 102. Dipermainkan Oleh Kuda Surgawi.
Atas perintah Dewa Binatang, si Poppy dengan senang hati menerima tugas sepele untuk menemui Mao Zedong. Tujuannya, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, yang mana akan merekrut siapapun.
Dengan Mao Zedong sebagai orang terkuat di Kerajaan Matahari Terbit, maka Dewa Binatang akan lebih mudah menyelamatkan banyak nyawa sebelum melakukan sesuatu hal buruk terhadap Galaksi Arcadia.
Ketika Mao Zedong dan cucunya sedang berpikir, muncul seorang gadis kecil yang sangat cantik, kecantikannya tidak kalah dengan Ratu Rubah ekor sembilan, gadis itu tidak lain adalah Tian She Meili.
Poppy seketika menepuk jidat karena diikuti oleh Tian She Meili. Ia sebenarnya ingin menyombongkan diri dihadapan Mao Zedong, tetapi kehadiran putrinya ini pasti akan merusak suasana.
"Ibu, aku tahu siapa mereka!" ucap Tian She Meili dengan nada riang, ia mengikuti gaya si Poppy yang duduk di batang pohon, dengan kaki kiri bersilang.
Mao Zedong melongo melihat kekuatan gadis kecil itu sudah berada di tingkat Dewa Absolute, sungguh hal di luar nalarnya. Putri Yu Jie menjadi malu karena kekuatannya setara dengan gadis kecil ini, padahal ia sudah susah payah meningkatkan kekuatan agar menjadi seorang yang jenius.
"Siapa yang tidak tahu dengan kedua orang ini?" sahut si Poppy dengan nada kesal selalu diikuti oleh Tian She Meili.
Tian She Meili tertawa ringan sambil mengeluarkan kembang gula.
Karena Mao Zedong kelamaan berpikir, si Poppy yang tidak sabaran kembali berbicara, "setelah kalian melihat seseorang, kalian pasti akan mengerti tujuan kerjasama ini. Ayo, ikuti aku!"
Mao Zedong dan cucunya saling bertukar pandangan penuh arti. Karena ingin tahu siapa orang itu, mereka berdua mengikuti Ratu Rubah dan Tian She Meili.
"Kakek, jangan sampai tertipu!" peringatan Putri Yu Jie dengan suara telepatinya dan di anggukan kepala oleh Mao Zedong.
Setelah berjalan sejauh 340 meter, si Poppy dan Tian She Meili berhenti. Mao Zedong dan cucunya juga mengikuti. Kemudian, muncul sebuah pintu yang mengejutkan Mao Zedong dan Putri Yu Jie.
"Silakan masuk!" ajak si Poppy yang terlebih dahulu masuk ke markas sementara.
Dengan rasa penasaran, Mao Zedong dan cucunya mengikutinya. Setelah berada di dalam markas sementara yang dilindungi oleh Formasi Array, mereka berdua melongo melihat ada kota tersembunyi di Pegunungan Larswood, kota yang lebih besar tiga kali lipat dari Kota Chu.
Selain itu, mereka melihat banyak prajurit yang berpenampilan menarik, di mana para prajurit itu mengenakan zirah perang yang sangat elastis mengikuti gerakan tubuh, dan warna zirah perangnya berbeda-beda.
Setelah keterkejutannya, Mao Zedong dan cucunya menjadi ketakutan karena para prajurit itu memiliki kekuatan tingkat Sang Void. Selain itu, banyak juga yang memiliki kekuatan tingkat Half Alfa. Dan, yang tidak bisa berkata-kata, ketika melihat banyak binatang yang sangat kuat dari prajurit ini.
Dengan kekuatan para prajurit dan binatang ini, maka menguasai Galaksi Arcadia bisa dilakukan dengan mudah. Mao Zedong dan cucunya tahu jelas kekuatan para prajurit dari Kerajaan Arcadia dan Kerajaan Matahari Terbit, yang mana kekuatan tertinggi prajurit pangkat rendah berada di tingkat Prajurit Dewa.
(Prajurit Dewa adalah tingkatan awal setelah tingkat Half God, yaitu tingkat Dewa Sejati, Dewa Putih, Dewa, Kuning, Dewa Biru dan seterusnya hingga terakhir di tingkat Dewa Hitam. Di atasnya adalah Jenderal Dewa, terbagi menjadi 6 tingkatan, yaitu tingkat Dewa Perunggu, Dewa Perak, Dewa Baja hingga terakhir adalah tingkat Dewa Giok.)
Untuk meningkatkan setiap kekuatan itu, membutuhkan banyak usaha, sumber daya yang sangat besar dan juga waktu. Oleh karena itu, Mao Zedong dan cucunya ketakutan dengan kekuatan para prajurit dan binatang mistik ini, tetapi bukan berarti takut dalam artian lain.
Putri Yu Jie jelas kalah dengan kekuatan Sang Void, tetapi tidak bagi Mao Zedong yang memiliki kekuatan di atas para prajurit dan binatang mistik.
__ADS_1
Dewa Binatang awalnya mengeluarkan 100 prajurit tingkat Sang Void, tetapi dia mengeluarkan prajurit lebih banyak lagi untuk menyambut kedatangan orang yang akan mengikutinya. Dia juga mengeluarkan banyak pasukan binatang sebagai bentuk identitas ke-Dewa-annya. Tetapi yang dikeluarkan hanya pasukan binatang darat, belum pasukan binatang udara.
Dan, para prajurit dan pasukan binatang itu bukanlah yang terkuat, melainkan yang terendah dalam hal basis kekuatan.
"Setelah menemui beliau, kalian bisa puas untuk melihat-lihat kota ini. Ayo, jangan membuat beliau menunggu lama!" ajak si Poppy saat Mao Zedong dan Putri Yu Jie berhenti berjalan.
Tidak berselang lama, Mao Zedong dan Putri Yu Jie sudah berada di depan Balai Kota dengan struktur bangunan seperti istana. Setelah masuk ke istana, mereka berdua terkejut bukan main karena melihat banyak wanita cantik sedang duduk di kursi yang tertata rapi, kiri dan kanan yang memisahkan jalan di tengah.
Yang mengejutkan mereka berdua bukanlah kecantikan wanita itu, melainkan kekuatannya yang tidak bisa diukur dengan Mata Dewa. Mao Zedong memang tidak tahu kekuatan mereka, tetapi dengan jelas merasakan aura kuat yang menindas tubuhnya.
"Cukup satu pukulan salah satu dari mereka... Galaksi Arcadia menjadi debu!" batin Mao Zedong yang menahan rasa takutnya, dia memegang pergelangan tangan cucunya karena ketakutan.
"Semua wanita cantik ini adalah Ibuku, Paman!" ungkap Tian She Meili dengan nada bangga.
Belum sempat Mao Zedong dan cucunya bereaksi akan perkataannya, ia kembali berkata, "Itu adalah Ayahku!"
Mao Zedong dan cucunya mengikuti jari telunjuk Tian She Meili yang menunjuk ke arah depan. Kedua mulut mereka terbuka lebar saat melihat sosok pria yang menaklukkan Ular Surgawi ada di sini.
Lalu mereka berdua melihat di samping kanan dan kiri Dewa Binatang berdiri wanita yang lebih cantik dari sebelumnya. Sebelah kanan berdiri Tian Lihua, Tian Shuwan, Tian Chunhua dan Tian Mei Yin, Lotus Bao, Xi He dan Qin bersaudari. Sebelah kiri adalah Yuna Aurora, Qin Diao Chin, Yuke, Qin Lianshi, Bao Yaoyao dan masih banyak lagi, belum termasuk yang berdiri di belakang Dewa Binatang.
"Mengerikan!" batin Mao Zedong dan cucunya di dalam hati, mereka melihat Ratu Rubah ikut berdiri sebaris dengan Yuna Aurora.
Mereka tidak sedikitpun menyangka bahwa di dalam istana ini dihuni orang-orang sangat kuat. Di luar memang istana sangat megah, tetapi didalamnya... Tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Sambutan Dewa Binatang membuat Mao Zedong dan cucunya kesulitan untuk bernafas lega, seakan-akan mulutnya bungkam. Dan anehnya lagi, kedua lutut menginginkan untuk berlutut di hadapannya, seolah-olah tubuh mereka meminta untuk tunduk.
"Aku tahu apa yang kalian rasakan. Santai saja dan tenangkan diri!" ucapan Bao Yaoyao dengan nada lembut, ia berinisiatif untuk berbicara karena sudah pasti telah dikenali oleh Mao Zedong.
Setelah Bao Yaoyao berbicara, datang Ye Jiali dan Lei Jihan yang membawa minuman ringan serta camilan, mereka keluar dari pintu kiri di belakang kursi singgasana.
"Silakan Anda duduk di sini!" pinta Ye Jiali dengan nada sopan.
Setelah beberapa waktu, Mao Zedong dan cucunya sudah bisa tenang dengan semua yang baru dialaminya. Mereka berdua geleng-geleng kepala karena apa yang dilihatnya seperti mimpi buruk.
"Aku bisa melakukan apa saja di tempat ini, dan tahu apa yang menjadi pikiran kalian. Tujuanku mengundang Anda, ada beberapa hal yang perlu didiskusikan. Apakah Anda sudah bisa menenangkan diri?" ucap Dewa Binatang dan diakhiri dengan bertanya.
Mao Zedong menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan, lalu dia memberanikan diri untuk melihat sosok Dewa Binatang.
"Iya, saya sudah tenang! Langsung saja pada poin tujuan Anda mengundang kami?"
Bao Yaoyao segera berbicara kepada Mao Zedong. Pembicaraan yang sama ketika bertemu dengan Sha Meyleen bersama dengan bawahannya...
__ADS_1
...****************...
Di tempat lain. Pangeran Jia dan pengawalnya mengejar Mao Zedong yang telah meninggalkan wilayah Kota Chu, namun perjalanan mereka terhenti ketika melihat seekor kuda yang sangat indah dengan warna putih seperti salju, tinggi dan besar, kuda itu adalah Kuda Surgawi.
Kuda Surgawi memang telah dicuri dan hampir dijual. Tetapi, justru nasib sial dialami oleh si pencuri, di mana kuda itu menendang si pencuri hingga terluka parah. Dan setelah lolos, Kuda Surgawi berkomunikasi dengan Dewa Binatang menggunakan telepati.
Melihat Kuda Surgawi tidak ada di Galaksi Arcadia, membuat Pangeran Jia kegirangan, jelas ingin memilikinya. Dan rencananya, kuda ini akan dijadikan hadiah untuk Gong Fang, kekasih pujian hatinya.
"Tangkap kuda langka itu!" perintah Pangeran Jia.
Segera pengawalnya melakukan perintah dengan mengeluarkan tali. Kuda Surgawi dengan santai berjalan menjauhi kejaran mereka, seolah-olah mereka tidak ada.
Ketika tali akan menjerat lehernya, Kuda Surgawi berhenti dan menundukkan, lalu memakan rumput. Tali itupun gagal menjerat lehernya. Ketika para pengawal Pangeran Jia mendekati, Kuda Surgawi kembali berjalan santai seperti tidak ada terjadi apapun.
"Sialan, kuda apaan ini!" kekesalan salah satu pengawal yang kewalahan menangkap Kuda Surgawi.
Bagi kelima pengawal itu, gerakan Kuda Surgawi sangat cepat serta tampak alami setiap pergerakannya. Kuda Surgawi sekali-kali melirik dengan maksud mengejek. Itulah yang dialami oleh para pengawal Pangeran Jia sehingga sangat kesal.
Kuda Surgawi meringkik ketika pengawal itu gagal menjerat lehernya, sedikit melirik mereka sambil berkata, "lemah!" lalu kembali berjalan menjauh mereka dengan santai.
Walaupun tidak tahu bahasa Kuda Surgawi, para pengawal itu tahu liriknya yang bermaksud mengejek. Jelas mereka makin dibuat kesal.
Kemudian, salah satu dari pengawal itu bergerak sangat cepat menjauh rekan-rekannya, dengan maksud mencegat arah Kuda Surgawi.
Ketika berada di depan Kuda Surgawi, pengawal itu terlihat sangat senang sambil melemparkan talinya. Akan tetapi, Kuda Surgawi justru meringkik dengan menunjukkan gigi-giginya yang besar.
Kuda Surgawi sedikit menggeser tubuhnya agar lolos dari jeratan tali, lalu kembali berjalan untuk menghindari pengawal itu. Melihat tampangnya yang seolah-olah mengejek, pengawal itu semakin marah.
Pangeran Jia yang mengikuti pengawalnya, segera membantu menangkap Kuda Surgawi. Imajinasinya yang menaiki Kuda Surgawi dengan gagah dihadapan Gong Fang, langsung memudar.
"Berpencar!" perintah Pangeran Jia yang segera dipatuhi oleh pengawalnya.
Kuda Surgawi kembali meringkik, kali ini tidak lagi menghindari kejaran karena sudah puas mempermainkan mereka. Dengan segera kuda itu berlari sangat cepat, bukan berniat untuk kabur, melainkan menuju ke arah pengawal yang paling dekat dengannya.
Pengawal yang ditargetkan oleh Kuda Surgawi, jelas syok saat melihat kuda buruannya sudah berada di depannya sambil mengangkat kedua kakinya.
Niat ingin menghindari serangan kaki Kuda Surgawi, pengawal itu terlambat sehingga kepalanya terkena tendangan kuda. Terpental-lah dia ke belakang dengan kepala berdarah-darah.
Kuda Surgawi kembali melesat ke arah pengawal yang lain setelah menumbangkan pemburunya, dan nasibnya tidak jauh berbeda dengan rekannya. kemudian, sasaran berikutnya tertuju kepada Pangeran Jia yang menuju ke arahnya.
Nasib Pangeran Jia lebih buruk daripada pengawalnya, di mana dia diinjak-injak oleh Kuda Surgawi hingga beberapa bagian tulangnya patah.
__ADS_1
Dengan segera, pengawal yang tidak menjadi sasaran Kuda Surgawi menolong Pangeran Jia, lalu mereka kabur dari amukan Kuda Surgawi. Tugas Pangeran Jia pun gagal terselesaikan, dan tugas Kuda Surgawi menghalangi mereka pun sukses di kerjakan.
...****************...