
Bab 28. Gerbang Ilahi.
Setelah memberikan cincin Jimat Pelindung, ketiga wanita menganggap Dewa Binatang adalah suaminya. Di dalam gua dan hari telah malam, terdengar suara lenguhan panjang dari ketiga wanita itu, yang telah menyerahkan cinta dan tubuhnya kepada Dewa Binatang.
Suara ketiga wanita itu yang kenikmatan menggema hingga terdengar oleh pemilik gua. Wanita pemilik gua selalu menggerutu, selalu mengumpat berkali-kali karena mendengar dan juga melihat adegan dewasa di tempatnya.
Pemilik gua melihat Dewa Binatang mengendong Zyila Miralen yang sudah tidak mengenakan pakaian, dia melihat organ intim mereka saling bertemu dan mengeluarkan ****** *****. Setelah Zyila Miralen mencapai puncak kenikmatan berkali-kali, giliran Twins Ice yang hanya bertahan kurang dari 30 menit.
"Kurang ajar! Rumah orang digunakan tempat mesum!" gerutu pemilik gua, dan segera memblokir panca indera agar tidak melihat dan mendengar apa yang dilakukan oleh Dewa Binatang bersama istrinya.
Kemudian, Dewa Binatang juga membuat Astrella Xiosien melenguh keras dan tidak bertahan lama, kurang dari 20 menit. Ketiga wanita itu tertidur pulas karena kelelahan melayani suaminya, wajah-wajah mereka terlihat puas dan sangat bahagia.
Dewa Binatang tersenyum puas melihat istrinya yang melayani dengan baik walaupun baru pertama kali berhubungan intim. Lalu dia memakan ikan panggang yang sudah dingin.
Keesokan harinya, dan setelah ketiga istrinya membersihkan diri, Dewa Binatang mengajak mereka menjelajahi Gua Terlarang, dia ingin tahu siapa wanita pemilik gua dan misteri apa yang ada di dalamnya sehingga banyak pria yang menghilang.
Karena takut dan bertubuh lebih kecil dari Twins Ice dan Zyila Miralen, Astrella Xiosien dengan manja minta digendong di belakang punggung suaminya. Sedangkan dua istrinya memegang erat tangannya.
Setelah berjalan sejauh 409 meter, ketiga wanita itu melihat kolam seperti yang diceritakan oleh suaminya, kolam yang berisi ikan aneh dan mengeluarkan cahaya. Mereka juga melihat di belakang Batu Cahaya ada tiga lorong.
"Batu Cahaya ini seperti berlian dan memiliki harga jual tinggi. Jika diketahui banyak orang, sudah pasti menjadi rebutan," kata Twins Ice yang menganggap Batu Cahaya berharga.
"Di tempatku, Batu Cahaya tidak berharga, dan digunakan sesuai fungsinya sebagai penerangan!" sahut Dewa Binatang yang kekayaan di dalam Dunia Jiwa.
Ketiga istrinya tersenyum masam dan tidak heran karena Sistem Pencipta telah menceritakan kekayaan Dewa Binatang. Walaupun belum mengetahui kekayaan suaminya, mereka sudah memercayai perkataan Sistem Pencipta.
Dewa Binatang berjalan ke arah lorong, lalu berhenti di depan goresan yang aneh. Ketiga istrinya sudah mengeluarkan keringat dingin karena takut dengan tatapan mata waspada.
"Aku kembali bersama istriku. Katakan, siapa kamu? Tiga lorong ini, ada apa di ujungnya?" tanya Dewa Binatang kepada pemilik gua.
"Bagaimana rasanya mendapatkan tiga gadis murni?" sindiran pemilik gua dengan nada ketus.
__ADS_1
Istri Dewa Binatang terkejut mendengar suara wanita pemilik gua, lalu wajah mereka memerah karena malu sambil menundukkan kepalanya. Ternyata perbuatan mereka semalam diawasi oleh pemilik gua. Astrella Xiosien menyembunyikan wajahnya di bahu suaminya.
Sedangkan Dewa Binatang tertawa renyah. Setelah itu dia membalas perkataan pemilik gua, "sama seperti yang kamu alami bersama dengan setiap pria yang masuk ke tempat ini dan tak pernah kembali!"
Tiba-tiba keluar udara panas dari tiga lorong, tampaknya pemilik gua marah karena sindiran Dewa Binatang. Dewa Binatang segera mengeluarkan perisai energi untuk melindungi istrinya dari udara panas.
"Kamu tidak tahu apa-apa dan jangan berpikiran negatif tentang diriku! Setiap orang yang masuk ke tempat ini adalah orang yang serakah. Karena sifatnya itu, sudah seharusnya mereka mendapatkan hukuman!" ungkap pemilik gua.
Dewa Binatang tersenyum sinis. Karena tidak ingin berlama-lama berada di depan lorong dan terus berdebat tentang hal yang tidak penting, dia segera berbicara, "aku akan masuk ke lorong hanya ingin tahu ujungnya. Jika di ujung gua ada barang berharga, percayalah, aku tidak membutuhkannya."
Setelah Dewa Binatang berbicara, goresan di depan lorong mengeluarkan sinar sesuai bentuknya. Batu Cahaya yang berada di belakang Dewa Binatang makin terang benderang dan membuat gua seperti memiliki matahari, namun itu hanya sesaat.
Dewa Binatang tidak kagum dengan gua yang menjadi terang benderang. Berbeda dengan istrinya yang berdecak kagum melihat keindahan gua.
"Kalian bertiga, berdiri tepat di angka ilahi," pinta pemilik gua yang masih tidak menunjukkan dirinya.
"Apa tujuanmu menginginkan istriku?" tanya Dewa Binatang dengan segera, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya.
"Nanti kamu akan tahu. Jangan khawatir, mereka akan baik-baik saja!" jawab pemilik gua yang sengaja tidak mengungkapkan tujuan terlebih dahulu.
"Dewa, mana berani aku melakukan hal buruk kepada pasangan Anda. Aku jamin mereka baik-baik saja!" jelas pemilik gua dengan nada yang berubah ramah.
Perubahan nada bicara pemilik gua membuat Dewa Binatang curiga. Namun, karena sudah membekali istrinya dengan Jimat Pelindung dan Mahkota Dewi Perang, maka dia mengangguk kepada istrinya untuk mengikuti permintaan pemilik gua.
"Apakah ini bukan jebakan?" tanya Astrella Xiosien yang jelas takut dan mengira ada jebakan di angka ilahi.
"Jebakan atau bukan, keamanan kalian sudah terjamin!" jawab Dewa Binatang yang menyakinkan ketiga istrinya.
Ketiga istrinya menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan untuk menguatkan mental, mereka melihat angka ilahi yang jumlahnya berbeda-beda.
"Aku yang di tengah!" pinta Zyila Miralen dan segera berjalan dan berhenti tepat di angka ilahi yang masih mengeluarkan sinar.
__ADS_1
"Aku di lorong kanan." Astrella Xiosien segera berjalan ke lorong kanan dan berhenti tepat di atas angka ilahi.
Karena tinggal lorong kiri, maka Twins Ice tidak punya pilihan lain dan berjalan ke depan lorong, lalu berhenti di atas angka ilahi. Sedangkan Dewa Binatang telah mengaktifkan Mata Langit untuk memastikan keselamatan istrinya, dia juga telah menyiapkan segala kemampuan untuk berjaga-jaga jika ada hal buruk.
Kemudian, setelah ketiga wanita itu berdiri di atas angka ilahi, sinar di bawah kaki mereka menyelimuti tubuhnya. Terasa hangat dan menenangkan pikiran, membuat mereka memejamkan mata.
Tiba-tiba, ketiga wanita itu seperti terhisap dengan sangat cepat ke dalam goresan angka ilahi. Dewa Binatang jelas kaget dan buru-buru mengejar mereka. Namun, di saat mendekati angka ilahi, dia seperti membentur dinding tak kasat mata.
"Kamu bawa ke mana istriku?" bentak Dewa Binatang.
Namun, pemilik gua tidak menjawab. Karena tidak adanya respon, Dewa Binatang melepaskan pukulan berenergi ke arah lorong tengah berulang-ulang, lalu dengan segera dilanjutkan ke lorong yang lainnya.
Akan tetapi, setiap pukulan seperti menguap saat masuk ke dalam lorong. Lalu, dia membalikkan badan dan melihat Batu Cahaya dan melepaskan pukulan berenergi.
Boom...
Batu Cahaya meledak ketika pukulan Dewa Binatang mengenainya dan membuat gua menjadi gelap gulita. Namun, dari dasar kolam keluar Batu Cahaya dan menempati posisi batu sebelumnya. Gua pun kembali terang seperti sebelumnya.
Tiba-tiba, sebelum Dewa Binatang menghancurkan kembali Batu Cahaya, ketiga lorong itu bergetar hebat, lalu perlahan lorong di sisi kanan dan kiri menyatu dengan lorong tengah. Dan kini hanya ada satu lorong dan angka ilahi membentuk lingkaran.
Dewa Binatang mengamati apa yang sedang terjadi dengan Mata Langit, namun tidak melihat apapun yang aneh, yang biasanya terjadi akibat pengaruh ilusi. Apa yang dilihatnya tampak nyata. Dia menduga tiga lorong ini adalah Formasi Array.
Karena cincin yang dikenakan oleh ketiga istrinya masih terkoneksi, Dewa Binatang sedikit lega, itu menandakan istrinya baik-baik saja. Walaupun begitu, dia tetap saja cemas dan khawatir jika pemilik gua mencuci otak istrinya hingga hilang ingatan.
"Jika terjadi hal buruk kepada istriku, tujuh keturunanmu akan aku musnahkan, bahkan tidak ada satupun keturunanmu menghirup udara!" ancaman Dewa Binatang dan duduk bersila di depan lorong tengah, lalu dia mengamati angka ilahi.
Tiba-tiba angka ilahi berubah bentuk menjadi anak panah dengan sinar berkedip-kedip, seperti kode agar Dewa Binatang masuk ke lorong. Dia segera berdiri dan berjalan menuju lorong tanpa terhalang lagi dengan domain energi pemilik gua.
Setelah masuk, pandangan Dewa Binatang menjadi buram, tapi hanya sesaat. Ketika pandangan menjadi jelas, dia melihat tempat lain dan tidak lagi berada di dalam lorong.
Apa yang dilihatnya adalah sebuah gerbang berwarna keperakan yang bercahaya, tinggi 12 meter yang memiliki dua pintu, lebarnya mencapai 5 meter. Disekitar gerbang di tumbuhi rumput yang menjalar dengan bunga-bunga bermekaran, bau wangi bunga yang menyenangkan.
__ADS_1
Di depan gerbang itu ada sebuah batu bertulis dan dibaca oleh Dewa Binatang.
"Gerbang Ilahi!"