
Bab 87. Pedang Penguasa Api dan Bao Yaoyao alias Gu Jia.
Putri Yu Jie yang hanya membawa uang 500 juta keping emas, segera berbicara kepada Gong Fang, "Nona Fang, aku tidak membawa banyak dana tapi memiliki jaminan. Apa bisa diperiksa dulu?"
Semua peserta lelang dan Gong Fang tahu maksud perkataan Putri Yu Jie. Gong Fang melihat ke ruangan yang ditempati pimpinannya. Segera Chou Chen melakukan tugasnya untuk memeriksa jaminan.
"Nona, silahkan lanjutkan tawarannya," kata Gong Fang setelah Chou Chen menerima jaminan berupa surat tanah milik Kerajaan Matahari Terbit, senilai jaminan yang dimiliki oleh Dewa Binatang.
"310 juta keping emas," kata Putri Yu Jie sambil melihat ke arah Seng Rong.
Seng Rong kembali menaikkan tawaran hingga di angka fantastis, "400 juta."
"Pria tua ini, apa Raja Guang memberikan modal sebanyak ini!" geram Putri Yu Jie yang tahu betul sifat Raja Guang yang pelit, "312 juta." tawarannya yang tidak akan melepaskan Pedang Penguasa Api.
Ketika Dewa Binatang sedang menikmati persaingan mereka, datang Ruan Fei mengetuk pintu. Setelah dipersilahkan masuk dan duduk, Ruan Fei segera berbicara
"Yang Mulia, anak buah Duke Manchu berniat buruk kepada Ye Jiali dan putrinya, tapi hamba telah membereskan mereka!"
"Bagus. Apa ada yang lain?" tanya Dewa Binatang setelah Ruan Fei melapor.
"Ada, Yang Mulia. Keenam rekan hamba telah memeriksa ketiga lokasi harta sesuai petunjuk peta, yang mana tertuju pada satu tempat. Saat rekan-rekan hamba ingin memeriksa lebih lanjut, tempat itu bisa dimasuki asal memilih kunci, dan kunci itu terbuat dari pedang. Kendalanya, kita tidak tahu jenis pedang apa itu. Sekian laporan!" jawab Ruan Fei.
Dewa Binatang merenung sejenak setelah Ruan Fei memberikan laporan. Anak buahnya memiliki kekuatan tingkat True Alfa dan tidak mampu memasuki lokasi harta, bisa dipastikan tempat itu sangatlah kuat
"Apa bentuk kunci seperti pedang yang diperebutkan ini?" tanya Dewa Binatang sambil menunjuk ke arah Gong Fang.
Ruan Fei mengikuti jari telunjuk Dewa Binatang. Setelah melihat Pedang Penguasa Api, dia mengeluarkan kertas catatan dari keenam rekannya.
"Mirip, Yang Mulia," kata Ruan Fei sambil menyodorkan catatan laporan kepada Dewa Binatang.
Dewa Binatang menerima catatan tersebut. Di laporan itu, dua anak buahnya bertemu dengan Raja Arwah dan bertarung. Awalnya mereka hampir dikalahkan oleh menghadapi Raja Arwah, namun zirah perang menetralisir kabut hitam yang akan merasuki tubuh.
Dan, lokasi kunci menuju ke tempat harta adalah gua yang dihuni oleh Raja Arwah. Oleh sebab itu, kedua anak buahnya harus mengalahkan Raja Arwah. Karena zirah perang tidak terpengaruh kabut hitam, Raja Arwah tiba-tiba menghilang dan tidak diketahui keberadaannya.
Sedangkan keempat anak buahnya juga sedikit mengalami hambatan, di mana banyak binatang buas dan Roh-roh iblis yang menempati setiap ruangan di dalam dungeon. Akan tetapi, semua anak buahnya tidak memusnahkan Roh-roh iblis dan binatang buas, dengan tujuan agar tidak ada seorang yang memasuki dungeon.
"Jadi pedang itu adalah kunci untuk membuka pusat dungeon?" gumam Dewa Binatang sambil melihat Pedang Penguasa Api yang telah mencapai tawaran di angka 560 juta.
__ADS_1
Sejujurnya, Dewa Binatang tidak butuh Pedang Penguasa Api karena bisa membuat sendiri. Permasalahannya, setiap pedang ciptaan seorang ahli, sudah pasti memiliki karakteristik yang berbeda-beda, salah satunya adalah jejak energi spiritual. Dan, energi spiritual pemilik Pedang Penguasa Api inilah kunci untuk membuka tempat harta itu.
"Kamu lindungi Ye Jiali dan putrinya!" perintah Dewa Binatang sambil menyodorkan kertas yang baru saja ditulisnya.
"Baik, Yang Mulia!" jawab Ruan Fei tanpa banyak bicara setelah membaca isi di kertas. Setelah itu dia segera keluar dari ruangan.
Tiba-tiba Dewa Binatang menghilang dari tempat duduknya, lalu dia muncul tepat di depan Pedang Penguasa Api yang dilindungi oleh kaca anti pencurian. Gong Fang dan rekannya tidak mengetahui keberadaan Dewa Binatang yang berada sangat dekat.
Kemudian, dengan mudahnya Dewa Binatang memasukkan tangannya melewati kaca dan menyentuh Pedang Penguasa Api. Lalu dia memejamkan mata untuk beresonansi dengan pedang tersebut.
Setelah beberapa saat, dan ketika Putri Yu Jie menaikkan tawaran di angka 600 juta, tiba-tiba Pedang Penguasa Api mengeluarkan api dan mengejutkan semua orang. Gong Fang dan rekannya segera menjauhi Pedang Penguasa Api karena kaget...
Saat ini, Dewa Binatang telah berada di tubuh Pedang Penguasa Api, di mana dia dikelilingi oleh cairan magma yang berasal dari energi spiritual milik sang pencipta pedang.
Di dalam tubuh pedang itu, dia melihat sosok wanita cantik yang terlihat sedang berkultivasi, wanita itu tidak lain adalah Bao Yaoyao, wanita yang membuatnya penasaran.
"Gu Jia!" seruan Dewa Binatang yang tidak menyangka akan bertemu Gu Jia yang tidak lain adalah Bao Yaoyao.
Seketika Bao Yaoyao membuka matanya saat mendengar suara familiar. Dia melihat Dewa Binatang dengan tubuh gemetaran. Dia langsung melesat ke arah Dewa Binatang dan memeluknya dengan erat.
Dewa Binatang mengelus punggung Bao Yaoyao, hatinya merasa sakit melihat istrinya dikurung di dalam Pedang Penguasa Api.
"Siapa yang mengurungmu di sini?" tanya Dewa Binatang yang ingin membalas perbuatan orang yang mengurung istrinya.
"Siapa lagi kalau bukan dia, Kaisar Sun Quan si Dewa Api Phoniex!" jawab Bao Yaoyao tanpa melepaskan pelukan.
"Dewa Api Phoniex? Ceritakan setelah kita keluar dari sini!" Dewa Binatang memang tidak tahu siapa Dewa Api Phoniex, tentang Kaisar Sun Quan juga tidak terlalu tahu sejarah sebenarnya.
Bao Yaoyao hanya mengangguk karena tahu suaminya kuat dan tidak akan kesulitan keluar dari dalam Pedang Penguasa Api seperti dirinya yang lemah. Dia sedikit terkejut saat sudah berada di dalam ruangan yang nyaman.
Setelah itu, Tian Lihua dan yang lain keluar dari dalam Dunia Jiwa untuk menyambut Bao Yaoyao. Bao Yaoyao awalnya kembali kaget, namun melihat wajah Yuna Aurora dan Qin Diao Chin yang dikenali, dia segera memeluk mereka.
.
Setelah melepaskan kerinduan, Bao Yaoyao pun mulai menceritakan bagaimana dirinya bisa terkurung.
"Sebelumnya aku minta maaf telah menyembunyikan rahasia ini, kupikir sosok Dewa Api Phoniex itu orang baik. Sebab itu aku tidak membicarakan rahasiaku kepadamu!" ucap Bao Yaoyao dengan penuh penyesalan sambil memegang tangan kanan Dewa Binatang.
__ADS_1
"Tidak perlu meminta maaf! Setiap orang memiliki rahasianya masing-masing, itu haknya!" ucap Dewa Binatang yang menenangkan hati Bao Yaoyao.
"Ini berawal ketika kita berada di Bumi. Setelah kita menikah selama 13 tahun, aku dengan sengaja membuat masalah dengan berselingkuh padahal aku tidak pernah sedikitpun memikirkan pria lain. Tujuanku agar kita bisa berpisah, dan aku bisa menyelesaikan janjiku kepada Dewa Api Phoniex yang telah memberikan kekuatan...," Bao Yaoyao pun mulai bercerita secara perlahan agar tidak membuat kesalahpahaman...
...****************...
Setelah Gu Jia menggugat cerai Dewa Binatang yang waktu itu bernama Tian Zhi Shimo, dia yang mencintai istrinya jelas terpukul yang membuat perusahaannya gulung tikar, frustasi dan hampir gila. Dia juga pernah masuk rumah sakit jiwa karena depresi, dan penyebabnya karena cinta berat.
Setelah kondisi Dewa Binatang stabil, dia pun mengganti nama menjadi Excel Felix dengan tujuan untuk melupakan masa lalu. Tapi tidak semudah itu melupakan belahan jiwanya.
Sedangkan Gu Jia, dia telah pergi bersama Dewa Api Phoniex menuju ke Alam Surga (Alam Suci) setelah menggugat cerai Dewa Binatang. Akan tetapi, ternyata Dewa Api Phoniex tidak menepati janjinya, malahan Gu Jia dibawa ke Galaksi Arcadia, bukannya ke alam yang dijanjikan. Entah apa tujuannya, dan waktu itu Gu Jia belum mengetahuinya.
Setelah berada di Galaksi Arcadia selama 3.000 tahun lebih, perlahan Gu Jia mulai mengetahui tujuan Dewa Api Phoniex, di mana dirinya yang memiliki garis darah Ras Phoenix akan dijadikan bahan untuk meningkatkan kekuatannya. Dan selama ini, sengaja Dewa Api Phoniex tidak segera melaksanakan tujuannya agar Gu Jia meningkatkan kekuatan.
Namun semuanya berubah ketika Kaisar Sun Quan si Dewa Api Phoniex mendapatkan kabar tentang kematian adiknya, di mana telah dibunuh oleh Tian Zhi Shimo reinkarnasi dari Dewa Binatang.
Untuk membalas dendam kepada Dewa Binatang yang tidak bisa dikalahkannya, maka Kaisar Sun Quan ingin menyiksa Gu Jia dengan cara dipenjara di dalam Pedang Penguasa Api. Ironisnya, pedang itu ciptaan Gu Jia sendiri.
Setelah berhasil memenjarakan Gu Jia, Galaksi Arcadia mengalami fenomena alam yang aneh, di mana kabut hitam menyelimuti seluruh wilayah Galaksi Arcadia selama bertahun-tahun. Kelaparan terjadi di mana-mana, orang saling membunuh untuk berebut makanan, banyak mayat-mayat bergelimpangan di setiap tempat.
Sebagai seorang Dewa Api Phoniex, Kaisar Sun Quan tidak mampu menanggulangi fenomena ini dan membuatnya panik. Dia berencana untuk meninggalkan Galaksi Arcadia tanpa peduli dengan apapun.
Berhubungan hartanya sangatlah banyak dan tidak bisa bawa ke dalam Dunia Jiwa, maka dia membuat ruang bawah tanah untuk menyimpan hartanya. Setelah membuat ruang bawah tanah (Dungeon), dia menggunakan Pedang Penguasa Api sebagai kunci menuju ruang hartanya.
Karena yakin bahwa bencana ini tidak akan berlangsung selamanya, dia pun membuat sebuah peta sebagai pengingat jika Galaksi Arcadia kembali seperti sediakala. Peta itu dibagi menjadi dua bagian, lalu menyembunyikan satu bagian peta di bagian utara (Kerajaan Matahari Terbit saat ini), dan satunya lagi disembunyikan di wilayah bagian barat (Kerajaan Arcadia).
Kemudian, dia membuat manusia tiruan Gu Jia agar tidak membuat kecurigaan keluarganya ketika pergi. Yakin semua rencananya aman, Kaisar Sun Quan segera meninggalkan Galaksi Arcadia seorang diri, dia tidak peduli dengan keluarga apalagi rakyatnya.
Setelah kepergiannya, fenomena aneh perlahan menghilang dari Galaksi Arcadia, dan menyisakan kehancuran. Adik dari Dewa Api Phoniex pun menggantinya posisinya menjadi seorang Kaisar bagi Galaksi Arcadia.
...****************...
"... Setelah aku dikurung, situasi di luar aku tidak mengetahuinya, entah berapa lama aku dikurung. Yang kupikirkan hanya kamu, rasa penyesalan selalu ada tapi sudah terlambat untuk disesali. Seandainya aku bersamamu dan hidup sebagai manusia biasa, mungkin kehidupanku lebih bahagia." Diakhir cerita, Bao Yaoyao meneteskan air mata kesedihan.
Dewa Binatang memeluk Bao Yaoyao agar tenang. Tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, dia berkata, "Nenek moyang, cucumu di sini butuh nasihat. Apa yang harus kita lakukan di masa depan?"
Seketika gelak tawa menggema di ruangan. Tangisan Bao Yaoyao langsung menghilang dan berganti tawa...
__ADS_1