
Bab 172. Rencana Dewa Tertinggi.
Dewa Abadi melongo karena telah berada di dunia lain, dunia sangat indah melebihi apapun yang pernah dilihat sepanjang perjalanan hidupnya. Seolah-olah melihat seluruh Alam Jagat Raya di dalam satu wadah dalam bentuk peta berukuran super besar, dan Dewa Abadi berdiri di luar peta itu.
Dia melihat segitiga di langit yang berputar secara perlahan di atas peta Alam Jagat Raya. Di setiap sudut dari segitiga itu, terdapat singgasana tempat duduk bagi Trimurti, dan Dewa pemelihara dan Dewa Pencipta telah duduk di kursi singgasananya. Hanya ada satu singgasana yang kosong, tempat duduk bagi Dewa Perusak.
Singgasana itu sangat indah, dibuat dari segala jenis berlian dan emas, setiap ukirannya sangat indah dan detail. Melihat itu Dewa Abadi sangat mengaguminya karena tidak pernah melihatnya.
"Apakah Dewa Abadi tahu tujuan kami membawa Anda ke sini?" tanya Dewa Pencipta yang akhirnya membuka percakapan setelah membiarkan Dewa Abadi mengagumi apapun yang dilihatnya.
"Cukup katakan saya atau memanggil dengan sebutan Anda, dan jangan katakan hamba! Kata saya atau Anda lebih enak didengarkan, dan agar tidak ada jarak diantara kita. Kita sama, sama-sama terbuat dari energi!" sela Dewa Pemelihara sebelum Dewa Abadi menjawab.
Dewa Abadi tidak tahu harus berkata apa karena gurunya seperti sudah mengetahui jalan pikirannya. Situasinya saat ini membuatnya canggung, lebih nyaman ketika berada di Domain Universe Lightning.
"Guru, bisakah kita berbicara di Domain milik Anda?" pinta Dewa Abadi yang tidak bisa menahan unek-unek dihatinya.
Spontan Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta tertawa lepas karena perkataannya.
"Muridmu menyenangkan juga ternyata," kata Dewa Pencipta sambil melihat Dewa Abadi yang menundukkan wajah.
"Sikapnya yang seperti ini membuatku senang menyiksanya!" canda Dewa Pemelihara.
Dewa Abadi menjadi cemberut, lalu menyahut dengan ketus, "Guru, kapan giliran saya menyiksa Anda?"
"Di dalam mimpimu saja!" jawab Dewa pemelihara, lalu tertawa lepas, demikian juga dengan Dewa Pencipta.
Setelah itu, mereka berbicara dengan serius menyangkut Dewa Perusak, Alam Kudus dan semua kehidupan di Alam Semesta. Dewa pemelihara menunjuk ke peta lokasi Planet Peliades. Peta itu menjadi jelas dilihat oleh Dewa Abadi.
Melihat banyak istrinya yang tewas, Dewa Abadi meneteskan air mata, dia tidak sanggup untuk meluapkan kemarahannya karena lidahnya seakan-akan tertekuk. Hatinya hancur melihat istrinya meregang nyawa.
"Bersyukurlah Anda bisa menangis! Dengan menangis, itu sedikit menyembuhkan luka hati. Menangis juga bentuk lain dari luapan cinta kasih terhadap sesama, terutama bagi orang yang Anda kasihi!" tutur lembut Dewa Pemelihara.
Dewa Abadi menarik napas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dengan menguatkan hati kembali melihat ke medan perang Samudera Hitam.
"Guru, siapa orang yang dengan sengaja menyebabkan semua ini?" tanya Dewa Abadi.
__ADS_1
"Anda sudah tahu jawabannya!"
"Dewa Perusak!" tebakan Dewa Abadi.
"Benar, tetapi juga kurang tepat! Dewa Perusak tidak bisa melakukan semua ini tanpa ada yang membantunya. Dewa Langit ayahmu yang membantunya!" ungkap Dewa Pemelihara.
Tubuh Dewa Abadi gemetaran karena menahan amarahnya. Lagi-lagi ayahnya Tian Bo yang menyebabkan hatinya sakit. Dulu dirinya dan keempat saudarinya yang dikorbankan untuk menebus kesalahan mereka. Luka hati belum sembuh, kini ditambah lagi dengan hampir semua istrinya tewas karena perbuatan Tian Bo si Dewa Langit.
"Jika Anda mampu melewati fase kekelaman hati, ada layak menggantikan posisi Dewa Perusak. Inilah tujuan kami membawa Anda ke tempat ini!" ungkap Dewa Pencipta.
Dewa Abadi tidak segera menjawab karena memikirkan keinginan mereka, dia masih tidak memalingkan mata ke medan perang Samudera Hitam.
"Menjadi seperti Guru, tidak pernah terbesit dipikiran saya. Sejujurnya, saya tidak yakin apakah mampu menghilangkan kekelaman batin ini setelah mengetahui kejahatan seorang ayah kandung. Seandainya saya, maaf... Membunuhnya, entah apakah hati ini bisa terobati ...," Dewa Abadi tidak bisa lagi berkata-kata karena kebenciannya terhadap Tian Bo tidak bisa didamaikan.
Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta saling berpandangan, mereka tersenyum karena telah mendapatkan jawaban yang sudah ditunggu-tunggu.
Sebenarnya, mereka tidak perlu bertanya kepada Dewa Abadi karena sudah mengetahui apapun dari awal hingga akhir, hanya saja ingin mendengar secara langsung dari mulut dan hati Dewa Abadi.
Setelah mereka tersenyum, tiba-tiba raut wajahnya menjadi serius karena akan terjadi sesuatu yang mengerikan. Dan Dewa Abadi tidak mengetahui perubahan Dewa tertinggi karena terfokus kepada istrinya yang tewas.
"Untuk saat ini, jalani hidup Anda sesuai kehendak hati, lalu renungkan setelah apa yang terjadi. Apa yang akan Anda alami, adalah bentuk dari pembelajaran hidup. Suatu hari nanti, kita akan bertemu kembali. Hiduplah dalam damai!"
Melihat kedatangan Dewa Abadi, Tian Lihua segera memeluknya erat dan menangis sejadi-jadinya. Lalu semua wanita bergantian memeluk Dewa Abadi.
Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta melihat Benua Peliades untuk sesaat.
"Hanya Dewa Abadi yang sanggup melawan Dewa Perusak," kata Dewa Pencipta yang telah mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.
"Saat ini belum waktunya. Sebelum dia benar-benar terbentuk sempurna, kita berdua yang harus mencegahnya agar alam jagat raya tidak dimusnahkan. Ayo, kita segel kembali Dewa Perusak!" sahut Dewa Pemelihara.
Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta menghilang dari tempat duduk singgasananya. Lalu muncul di lokasi lima Pagoda Berlian yang membentuk Formasi Pentagon.
Ditengah-tengah Formasi itu ada sebuah altar yang juga berbentuk Pentagon, di dalam altar itu adalah tempat Dewa Perusak yang disegel oleh Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta.
Saat ini, lima Pagoda Berlian telah rusak, di mana ada retakan di dindingnya, akibatnya tidak lagi memberikan energi untuk terus menyegel Dewa Perusak. Altar penjara itu juga telah rusak, yang mana sudah terlihat lubang besar.
__ADS_1
Penyebab kerusakan itu ada beberapa faktor. Pertama, Pagoda Berlian berlantai 20 telah lama menghilang, pelakunya tidak lain adalah Tian Bo si Dewa Langit yang bersekutu dengan Dewa Perusak. Menghilangnya salah satu dari Pagoda Berlian, menyebabkan ketidakseimbangan energi yang membuat altar penjara menjadi rusak.
Kedua, keturunan dari Dewa Perusak jelas tidak tinggal diam. Selama ini, selalu mencari cara agar Dewa Perusak bisa dibangkitkan. Salah satu caranya dengan membunuh banyak kehidupan, lalu menggantikan energi kehidupan menjadi energi kegelapan. Dengan energi kegelapan yang semakin melimpah, maka kekuatan Dewa Perusak bisa dengan cepat dipulihkan.
Ketiga, adanya pihak luar yang ikut andil dalam kebangkitan Dewa Perusak. Salah satunya yang diperbuat oleh Dewa Langit, membuat kekacauan dengan alasan berkompetisi dalam penciptaan. Tetapi sebenarnya, tujuannya agar banyak kehidupan meregang nyawa.
Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta segera melambaikan tangannya untuk memperbaiki Pagoda Berlian dan juga altar penjara. Setelah selesai dengan mudah, mereka segera melesat ke arah utara karena Dewa Perusak berada di sana.
Di sepanjang perjalanan, mereka melihat kehancuran yang telah diperbuat oleh Dewa Perusak. Tidak berselang lama, mereka dihadang oleh balatentara kegelapan. Tetapi dengan mudah balatentara itu dilenyapkan dalam sekali lambaian tangan.
"Sudah lama aku menunggu kalian."
Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta hafal dengan pemilik suara yang menyapanya, tidak lain adalah Dewa Perusak. Mereka melihat kabut hitam yang membentuk wujud manusia berkulit biru pekat, duduk di batu besar, dan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik berpakaian seksi yang sedang memujanya.
"Apakah perlu membunuh banyak kehidupan yang tak bersalah?" tanya Dewa Pemelihara.
"Seperti yang sudah pernah kukatakan, dengan alam jagat raya kembali ke awal, kita bisa mencapai ketinggian yang yang belum pernah terjadi selama ini. Tetapi, kalian selalu saja menolak keinginanku!" jawab Dewa Perusak yang menghendaki agar alam jagat raya dimusnahkan, tujuannya agar mencapai ketinggian melebihi tingkat The Great Creator.
"Anda selama ini tidak sedikitpun berubah dan merenungi kesalahan! Ketinggian suatu kekuatan itu terletak pada keluasan hati dan jiwa, bukan seperti yang Anda pikirkan!" tutur Dewa Pencipta agar Dewa Perusak mengerti.
Dewa Perusak tertawa keras karena menganggap Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta tidak memahami implikasi dari perkataannya. Baginya, masih ada kekuatan yang lebih tinggi dari tingkat The Great Creator.
Tanpa banyak bicara dan agar bisa segera menyelesaikan tujuannya, Dewa Perusak menyerang Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta seorang diri.
Boom boom...
Ledakan mahadahsyat memekakkan telinga ketika Trimurti bertarung. Dampak pertarungan mereka, Galaksi Pengadilan Jagat Raya berguncang hebat, dan tidak terhitung banyaknya kehidupan yang meregang nyawa dengan sia-sia.
Karena kekuatan Dewa Perusak belum sepenuhnya pulih, Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta dengan mudah menyegelnya. Lalu mengembalikan Dewa Perusak ke dalam altar penjara.
Melihat kehancuran Galaksi Pengadilan Jagat Raya, Dewa Pemelihara segera memulihkannya seperti sediakala. Lalu menghela nafas panjang karena tidak mampu memusnahkan Dewa Perusak.
Dan, satu-satunya Dewa yang mampu memusnahkan Dewa Perusak adalah Dewa Abadi karena memiliki Batu Keabadian yang mampu menyerap segala jenis energi.
Tetapi untuk melakukannya, Dewa Abadi harus menjadi sempurna terlebih dahulu, yaitu mencapai kekuatan tertinggi di tingkat The Great Creator.
__ADS_1
Tetapi yang tidak diketahui oleh Dewa Pemelihara dan Dewa Pencipta, Dewa Perusak telah membuat banyak rencana.
Bersambung.