
Bab 189. Ratu Dunia Roh Dikendalikan.
Pasukan Cancer tak luput dari Api Semesta yang menyebar dengan kecepatan tinggi, mereka dengan cepat mencair, lalu seketika menjadi uap yang baunya menyengat hidung. Kini, tidak ada lagi pepohonan, bangunan, maupun bebatuan yang keras, semua mencair. Bahkan tanah menyala seperti bara api, tebing tinggi yang melingkari wilayah reruntuhan Kekaisaran Tang juga rata dan membara.
Seperempat dari wilayah Dunia Roh saat ini menjadi neraka api. Yang terdengar hanya suara api membakar, angin malam berhembus menambah api menyalar dengan cepat ke segala arah.
Dewa Abadi tetap berdiri di tempat semula, melihat kehancuran yang dibuatnya untuk mengalahkan Taowu. Pandangan matanya terfokus pada satu tempat, tempat terakhir Taowu menjadi uap panas.
Dia tampak serius karena tidak melihat Kristal Energi bergambar Cancer. Hal ini menandakan bahwa musuhnya belum tewas. Dewa Abadi melambaikan tangan yang seketika memadamkan kobaran api. Lalu berjalan mencari keberadaan musuhnya.
"Keluar, aku tahu kau masih hidup!" teriak Dewa Abadi sambil melihat sekeliling, berharap musuhnya tidak bersembunyi.
Setelah menunggu beberapa saat, musuhnya tidak keluar dari persembunyiannya, yang ada suara hembusan angin malam. Dewa Abadi pun berpikir, apakah musuhnya benar-benar telah tewas? Jika benar, di mana Kristal Energi bergambar?
Karena kesal dengan pikirannya sendiri, dia menghentakkan kaki kanan ke tanah hingga wilayah itu bergetar. Semua orang yang tinggal di dalam Dunia Jiwanya juga memikirkan hal yang sama.
"Coba kamu pergi ke tempat lingkaran bertanda!" saran Tian Lihua.
"Pagi hari aku ke sana!" jawab Dewa Abadi yang ingin berada di tempat ini untuk memastikan bahwa musuhnya tewas.
Dia duduk di tanah bekas hentakan kakinya, lalu memejamkan mata. Tetapi kesadarannya selalu memantau sekitarnya...
Di Desa Persik. Melihat api telah padam dan Dunia Roh kembali tenang, ketiga ratu itu memutuskan untuk menyusul Dewa Abadi, mereka ingin tahu kondisi terkini. Para pahlawan dan orang-orang penting mengikuti ratunya.
Mereka pun tiba di reruntuhan Kekaisaran Tang ketika pagi hari, namun mereka tidak melihat Dewa Abadi. Yang dilihatnya adalah sisa-sisa kengerian semalaman. Mereka tidak lagi melihat emas di wilayah itu.
"Di mana dia?" gumam Ratu Da Xia yang mencari Dewa Abadi, lalu ia memerintahkan kepada bawahannya untuk mencari.
"Syukurlah jika dia ikut mati!" sahut si Lola yang semenjak bertemu dengan Dewa Abadi sudah tidak suka.
"Jaga ucapanmu!?" bentak Ratu Mu Yu Huang yang tidak suka dengan sikap si Lola.
"Tanpanya, dunia ini tinggal sejarah!" imbuh Ratu Da Xia yang menegur bawahannya.
Lola cemberut sambil menunduk wajahnya. Sebenarnya, dia berkata seperti itu secara spontan. Ia keheranan dengan dirinya sendiri yang membenci Dewa Abadi tanpa alasan.
"Saya lebih suka diri Anda saat baru datang," kata Ratu Juan Rong yang semakin membuat si Lola bersalah karena keceplosan berbicara.
Lalu Nicolas mendekati si Lola, dia berbicara dengan nada menggoda, "kamu jatuh cinta kepadanya?"
__ADS_1
Lola segera mengayunkan kepalan tangan kanannya ke arah Nicolas, ia tidak terima dengan ucapannya. Nicolas segera mundur untuk menghindar pukulannya...
Dewa Abadi telah meninggalkan wilayah reruntuhan Kekaisaran Tang, ia menuju ke tempat bertanda lingkaran disilang yang ketiga. Sayangnya, lokasi tujuannya telah menjadi daratan membara karena dampak dari Api Semesta.
Dengan lokasi bertanda menjadi daratan panas, Dewa Abadi tidak tahu titik lokasi yang tepat. Peta yang didapatkannya jelas jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Dulu sebelum wilayah ini rusak, masih ada tebing tinggi, hutan dan juga rerumputan. Sedangkan lokasi lingkaran bersilang yang ketiga berada di tebing yang memiliki gua buatan.
Ingin rasanya ia memerintahkan kepada Shuǐ Jingling untuk menyerap energi Formasi Alami agar bisa menggunakan Mata Surgawi. Namun, dia khawatir musuhnya bisa kabur dari Dunia Roh jika Formasi Alami dihilangkan.
Dewa Abadi melihat peta, dan memutuskan untuk menuju ke tanda lingkaran terdekat. Ia berharap menemukan petunjuk lain. Setelah menentukan tujuan berikutnya, dia pun bergegas menuju ke titik lokasi.
Baru saja berjalan beberapa meter, Dewa Abadi melihat di depannya muncul sinar dari tanah yang melesat ke langit. Dan sinar itu berasal dari lokasi yang akan dituju. Lalu bermunculan banyak sinar dari dalam tanah, dan semua sinar-sinar itu berasal dari tanda di peta.
Dewa Abadi melihat ujung sinar-sinar itu menyatu dengan sinar yang lainnya, dan pusat penyatuan berada di atas reruntuhan Kekaisaran Tang. Semua orang dengan jelas melihat sinar itu.
Dan yang mengejutkan Dewa Abadi, Gongsun Ling bisa keluar dari tubuhnya (Dunia Jiwanya), lalu melesat ke arah reruntuhan. Gongsun Ling tampak seperti orang yang berbeda, kali ini seperti sedang dikendalikan.
Dewa Abadi tidak sempat menghentikannya karena melesat terlalui cepat, dia dengan panik segera menyusul istrinya yang dikendalikan oleh seseorang.
Ratu Mu Yu Huang, Ratu Juan Rong dan Ratu Da Xia mendongak menatap sinar itu yang berada tepat di atas kepalanya. Demikian juga dengan para pahlawan dan pendukungnya yang ikut melihat. Mereka jelas kebingungan dengan fenomena ini.
Mereka terkejut karena Gongsun Ling tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Ketiga ratu itu senang melihat sahabatnya baik-baik saja. Namun, saat di ajak bicara, Gongsun Ling tidak sedikitpun menjawab, bahkan melihat mereka pun tidak. Seakan-akan kehadiran mereka tidak ada dihadapannya. Gongsun Ling melihat sinar itu dengan hikmat.
"Saudari, ada apa dengan Anda?" tanya Ratu Juan Rong yang keheranan.
Tiba-tiba suara letupan energi terdengar di atas kepala mereka. Semua orang kembali melihat empat sinar itu yang menukik ke bawah dengan sangat cepat, secepat cahaya. Dan, sinar-sinar itu tertuju kepada empat ratu Dunia Roh.
Gongsun Ling tidak sedikitpun takut, maupun khawatir melihat sinar itu. Berbeda dengan ketiga sahabatnya yang syok melihatnya, tubuh mereka seakan-akan membatu seperti patung. Semua orang yang berada di dekat keempat penguasa itu, juga syok dan hanya bisa diam membeku.
Boom boom boom boom...
Ledakan energi ketika empat sinar itu mengenai penguasa Dunia Roh. Para pahlawan dan pendukungnya terpental ke berbagai arah. Setelah mendarat di tanah dengan keras, mereka seketika pingsan.
Dewa Abadi yang baru tiba dengan jelas melihat sinar itu menghujani tubuh istrinya. Lokasi terakhir keempat istrinya yang sebelumnya sudah seperti kawah karena Api Semesta, kini semakin dalam. Dia segera mendekatinya.
Saat melihat ke dalam dasar kawah, Dewa Abadi terbelalak melihat tubuh keempat istrinya berubah menjadi emas. Saat ini, tubuh mereka seperti mengenakan zirah perang bersayap yang sangat mirip dengan ciptaannya. Di pinggang mereka terselip pedang panjang yang juga berwarna keemasan, sayap juga sama.
Yang paling mengejutkan Dewa Abadi, di dahi istrinya muncul Kristal Energi bergambar Cancer. Tubuh Dewa Abadi gemetaran karena amarah, kedua tangannya terkepal kuat. Aura kekuatan meletup-letup keluar dari tubuhnya.
Dewa Abadi dan semua orang yang berada di dalam Dunia Jiwanya tahu arti Kristal Energi bergambar Cancer di dahi keempat ratu Dunia Roh. Yang artinya, mau tidak mau Dewa Abadi harus membunuh istrinya agar bisa melanjutkan perjalanan berikutnya.
__ADS_1
"Arghhh...!!" teriakan keras Dewa Abadi yang meluapkan kemarahannya dengan mengangkat wajah menatap tajam ke arah langit.
Keempat ratu Dunia Roh melayang perlahan dan berhenti saat sejajar dengan Dewa Abadi. Mereka telah memegang pedangnya untuk mengalahkan Dewa Abadi.
Dewa Abadi berhenti berteriak karena amarah saat melihat istrinya siap untuk menyerang. Dia bertanya, "tidak kah kalian mengingat diriku sedikitpun? Aku suamimu!"
Keempat istrinya diam saja dan melihatnya dengan tatapan tajam, seakan-akan Dewa Abadi adalah musuh bebuyutan. Setelah Dewa Abadi berbicara, dia merentangkan kedua tangan ke arah istrinya yang berada di depannya, dari jari-jarinya mengeluarkan energi Kekuatan Jiwa.
Dewa Abadi mengeluarkan kemampuan dari Throat Stone, yang mana dia ingin berkomunikasi dengan alam bawah sadar keempat istrinya. Energi itu masuk ke dalam tubuh keempat istrinya dengan sangat cepat.
Merasakan bahaya dari Dewa Abadi, keempat ratu itu mengeluarkan aura kekuatan tingkat Ruler Of The Universe tahap puncak. Dewa Abadi jelas syok melihat kekuatan istrinya, tetapi dia terlambat menghindari gelombang kejut energi mereka sehingga terpental.
Untung saja Dewa Abadi dengan cekatan menstabilkan tubuhnya agar tidak terguling-guling, dia hanya terseret sejauh ratusan meter. Dengan lutut menompang tubuhnya, dia memandang tubuh istrinya yang mengeluarkan 12 bola energi yang berada di belakang punggung.
Bola-bola energi itu berwarna merah tua yang merupakan tanda bahwa kekuatan mereka berada di tingkat Ruler Of The Universe. Tetapi, karena adanya Formasi Alami di Dunia Roh, bola-bola energi itu segera menghilang, dan kekuatan mereka berada di tingkat Dewa Sejati level 9.
Keempat wanita itu melesat ke arah Dewa Abadi sambil menjauh agar lebih leluasa ketika menyerang. Dewa Abadi segera berdiri dan mengaktifkan zirah perangnya, lalu muncul Pedang Semesta di tangan kanan.
Dia tidak punya pilihan lain selain melawan mereka. Lalu dia menghentakkan kaki dan terbang melesat ke arah Mu Yu Huang yang berada di tengah bersama Gongsun Ling.
Kelima orang itu saling mengayunkan pedangnya. Kemudian, bilah-bilah energi pedang mereka melesat ke arah targetnya sebelum mereka saling berdekatan.
Boom boom boom...
Rentetan ledakan energi supranatural memicu gelombang kejut. Keempat wanita itu berguling-guling ke belakang karena kalah dalam benturan energi. Sedangkan Dewa abadi, tidak sedikitpun terdorong ke belakang.
Walaupun kekuatan Dewa Abadi dibatasi oleh Formasi Alami, dan hanya setingkat Half God level 9, dia masih memiliki kemampuan lain, yaitu kekuatan tempur. Yang mana kekuatan tempurnya memberikan peningkatan sebanyak 4 tingkat, yang artinya kekuatannya berada di tingkat Dewa Biru level 9.
Keempat wanita itu kembali menyerang Dewa Abadi, kali ini kecepatan mereka meningkat dua kali lipat. Dewa Abadi kembali mengayunkan pedangnya yang mengeluarkan sinar bilah energi.
Boom boom boom...
Kembali suara ledakan energi menggetarkan reruntuhan Kekaisaran Tang. Keempat wanita itu kembali terpental ke belakang. Namun, segera menstabilkan tubuhnya dan kembali menyerang Dewa Abadi.
Mereka tidak sedikitpun terluka karena perlindungan dari zirah perang emas. Mereka juga tidak sedikitpun menyerah sebelum Dewa Abadi tewas. Mereka seperti halnya manusia robot yang hanya mematuhi perintah.
"Aku suamimu!?" bentakan keras dari Dewa Abadi sebelum istrinya mengayunkan pedang.
Di bentak oleh Dewa Abadi, keempat wanita itu mengurangi kecepatannya, namun hanya sesaat dan kembali meningkat kecepatan. Melihat ada reaksi alam bawah sadar, Dewa Abadi senang di dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku, Shimo si Dewa Binatang!" teriakan Dewa Abadi dengan nada yang keras.
Sayangnya, keempat wanita itu tidak ada lagi reaksinya. Mereka kembali mengayunkan pedangnya. Dewa Abadi segera mundur untuk menjaga jarak dari serangan mereka, dia juga mengayunkan pedangnya untuk menangkis serangan mereka.