
Bab 137. Serpent Spirit, Ular 5 Kepala.
Putri Floryn dan Putri Bella memperhatikan suaminya yang tatapannya terfokus pada satu tempat.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Putri Floryn yang tiduran dengan kepala bertumpu di paha kiri dari Dewa Binatang, sedangkan Putri Bella di paha kanannya.
Karena Putri Floryn dan Putri Bella sudah menjadi pasangan Dao, mereka tidak lagi memanggil Dewa Binatang dengan panggilan Dewa maupun Anda. Kata "kamu" bagi mereka dan semua istrinya lebih mengakrabkan hubungan.
"Ada yang menarik di Kerajaan Caladon!" jawab Dewa Binatang dengan tetap melihat pertarungan mereka, sambil kedua tangannya membelai rambut istrinya.
"Mau ke sana?" tanya Putri Bella sambil duduk dan ikut melihat ke arah Kerajaan Caladon, ia juga memiliki Mata Dewa.
"Iya!" jawab Dewa Binatang dengan singkat, jelas tidak mungkin membuang kesempatan untuk meningkatkan kekuatannya.
"Aku ikut!" pinta Putri Floryn yang segera duduk.
"Jangan dulu, di sana ada 3 orang yang berasal dari Alam Suci, kekuatan mereka di atas True Omega!" tolak Dewa Binatang yang tidak ingin kedua istrinya karena Kerajaan Anarym masih membutuhkan tenaga mereka.
"Kakak, di sini saja karena masih banyak yang perlu kita kerjakan!" cegah Putri Bella karena situasi di Kerajaan Anarym belum kondusif.
"Aku tidak lama dan akan segera kembali!" pamit Dewa Binatang kepada istrinya.
Setelah memberikan ciuman di kening kedua istrinya, Dewa Binatang berteleportasi.
Sepeninggalannya, datang mertuanya, Raja Unatti bersama Permasuri Olive, Raja Salome bersama Permasuri Drusilla. Mereka terkejut melihat kedua putrinya yang kekuatannya telah meningkat drastis dalam semalaman.
Permasuri Drusilla segera bertanya kepada putrinya, bagaimana mungkin dalam semalam telah mencapai tingkat Sang Void level 48? Demikian juga dengan Permasuri Olive yang bertanya kepada putrinya. Putri Floryn dan Putri Bella secara bergantian menjawab pernyataan kedua orang tuanya...
Dewa Binatang telah berada di Ibu Kota Kerajaan Caladon, dia melihat istana kerajaan yang terlihat baru saja dihancurkan, yang mana banyak orang yang sedang membongkar puing-puing bangunan.
Dia juga melihat Permasuri Vesperina Amabel yang sedang menangis di depan puing-puing bangunan istana. Entah apa yang baru saja terjadi, Dewa Binatang belum mengetahuinya, dan juga tidak peduli.
Tujuannya untuk mendapatkan Batu Roh Dewi. Dia segera menuju ke Lubang Neraka yang dihuni oleh Serpent Spirit. Sesampainya di sana, struktur bangunannya tidak jauh berbeda dengan Lubang Neraka di wilayah Kerajaan Anarym, dikelilingi tembok yang fungsinya sebagai pelindung.
Baru saja masuk ke dalam area Lubang Neraka, Dewa Binatang mendengar namanya disebut-sebut sebagai dalang terbunuhnya Raja Eluned dan semua orang penting.
Karena ingin tahu kenapa namanya disebut sebagai dalang, Dewa Binatang mendekati seorang pria, yang tidak lain adalah Pangeran Lilac, putra pertama dari Raja Eluned.
Dia juga melihat Pangeran Vervain putra kedua dari Raja Eluned, tapi jaraknya terpisah dari Pangeran Lilac, berkumpul dengan pendukungnya.
Dewa Binatang menguping pembicaraan mereka tanpa sepengetahuan siapapun karena berubah menjadi udara, yang mana kedua pangeran itu berebut tahta sebagai pengganti Raja Eluned yang telah dibunuh olehnya.
Jelas Dewa Binatang terkejut karena tidak merasa membunuh siapapun hari ini, dan hari ini saja baru tiba di Kerajaan Caladon. Namun, ketika dua kelompok tersebut menyebut-nyebut nama Dewi Kedamaian dan Dewi Kasih sebagai orang yang melawannya setelah membunuh Raja Eluned, dia baru mengerti bahwa telah dijadikan kambing hitam.
__ADS_1
Dari pembicaraan mereka, Dewa Binatang langsung menebak jika Dewi Pesona adalah orang yang menyamar sebagai dirinya.
"Licik...!" batin Dewa Binatang, pasti akan membalas perbuatan mereka lebih dari ini.
Karena dalangnya adalah wanita, Dewa Binatang akan mempermalukan mereka, yang mana wanita selalu menjaga kehormatan diri, yaitu merusak kesucian ketiga wanita itu.
Perbuatannya yang akan dilakukan sudah pasti membuat ketiga Dewi itu sakit hati, dendam dan kemungkinan besar akan bunuh diri. Tetapi ini juga adalah akibat perbuatan mereka sendiri.
"Pengadilan Surga dihuni oleh orang-orang munafik!" kegeraman Dewa Binatang sambil berjalan menuju ke Lubang Neraka dan langsung terjun ke bawah.
Saat masuk ke dalam Lubang Neraka, dia tidak sedikitpun terganggu dengan gelombang kejut pertempuran di dasar, naik ke atas dengan hembusan angin kencang.
Saat berada di dasar lubang, dia melihat Dewi Kedamaian dan Dewi Kasih selalu menghindari serangan dari Serpent Spirit. Dan menyerang balik ketika Dewi Pesona akan diserang oleh Serpent Spirit.
Ketiga wanita itu bekerja sama cukup baik sesuai dengan tugas masing-masing. Namun, Serpent Spirit tidak mau meninggalkan tempatnya yang berada di atas tumpukan tulang manusia.
Wujud Serpent Spirit sedikit mengejutkan Dewa Binatang; memiliki 5 kepala dengan mengenakan mahkota emas, tubuhnya berwarna putih tulang transparan sehingga organ dalam bisa dilihat oleh mata telanjang. Panjangnya mencapai 50 meter lebih, dengan diameter tubuh mencapai 10 meter.
Panjangnya tubuh ular itu melingkari tumpukan tulang sebagai dinding pelindung. Uniknya, ular ini mampu mengeluarkan lima elemen, di mana setiap kepala menyembur elemen yang berbeda.
Akan tetapi, ketika Dewa Binatang akan menyelinap di saat pertarungan mereka, Serpent Spirit menatapnya, padahal sudah menggunakan Teknik Perubahan Wujud. Kemampuan Serpent Spirit seperti yang dimiliki oleh Devil Hunter Firefox.
"Membawa orang yang lebih kuat dariku? Jangan bermimpi aku akan takut dan menyerahkan Batu Roh Dewi!" kemarahan Serpent Spirit setelah berhenti menyerang karena kehadiran Dewa Binatang.
Pertarungan terjadi kembali. Dewa Binatang tersenyum tipis sambil mencari kesempatan untuk mengambil Batu Roh Dewi. Karena akan melakukan hal buruk terhadap ketiga wanita ini, terbesit di pikirannya untuk bekerja sama dengan Serpent Spirit.
"Wanita ini telah mencoreng namaku... Aku ingin membalas dendam! Ayo, kita bekerja sama untuk mempermalukan mereka!" ucap Dewa Binatang kepada Serpent Spirit, dia menggunakan komunikasi telepati.
Sebenarnya, Dewa Binatang bisa saja mengalahkan Serpent Spirit dengan mudah, tetapi tidak dilakukan karena ingin mendapatkan Batu Roh Dewi tanpa adanya konfrontasi, diberikan secara gratis.
"Tidak perlu! Jika aku mau, bisa saja mereka kubuat sebagai hidangan penutup!" tolak Serpent Spirit sambil mengayunkan ekornya ke arah Dewi Pesona.
Dewi Pesona mundur sebelum terkena sabetan ekor, ia kesulitan untuk mendekati tumpukan tulang yang menjadi kasur bagi Serpent Spirit, dan tubuh Serpent Spirit yang panjang sulit untuk diterobos.
"Kenapa tidak segera mengalahkan mereka?" tanya Dewa Binatang yang ingin tahu alasan Serpent Spirit.
"Karena mantra Dewa Sihir! Sihirnya membuatku tidak bisa membunuh siapapun yang berasal dari Alam Suci!" jawab Serpent Spirit.
Dewa Binatang jelas keheranan dengan jawabannya, sebab sebelumnya Serpent Spirit berkata mampu menjadi ketiga wanita ini sebagai hidangan penutup. Kemudian, dia melihat mahkota yang dikenakan di kepala Serpent Spirit, dan menduga jika mahkota itu adalah mantra pembatas.
"Ya sudah, segera jadikan mereka hidangan!" tantangan Dewa Binatang yang ingin tahu langkah Serpent Spirit untuk mengalahkan ketiga wanita itu.
Sebelum berbicara, Serpent Spirit memuntahkan bola elemen secara serempak ke arah ketiga wanita itu. Ketiga wanita itu secepat kilat segera melompat ke belakang untuk menghindari serangannya.
__ADS_1
Serangannya kali ini lebih kuat sehingga mengguncang dasar lubang. Gelombang kejutnya naik hingga membuat semua orang yang berada di sekitar bibir Lubang Neraka segera menjauh.
"Jika mereka berniat merusak altar Dewa Sihir, maka aku bisa membunuh mereka!" ungkap Serpent Spirit dengan komunikasi telepati.
Dewa Binatang akhirnya tahu cara kerja dari mahkota yang membatasi ruang gerak dari Serpent Spirit. Hal ini semakin membuatnya senang karena yakin ular ini mau diajak kerja sama.
"Setelah kamu mengetahui rencanaku... Ayo, kita bekerja sama," kata Dewa Binatang.
"Katakan dulu?"
Segera Dewa Binatang mengutarakan rencananya untuk mempermalukan ketiga wanita ini. Sambil mendengarkannya, Serpent Spirit terus-menerus memberikan perlawanan terhadap ketiga wanita itu yang tidak kenal lelah.
"Sama saja kamu seperti mereka... Menginginkan Batu Roh Dewi!" kegeraman Serpent Spirit setelah mendengarkan rencana ini, di mana Dewa Binatang meminta imbalan setelah melepaskan mantra mahkota pembatas.
"Selamanya kamu akan tetap seperti ini, kuat tapi dipermalukan oleh orang yang berasal dari Alam Suci!" sahut Dewa Binatang.
Ucapannya menusuk hati Serpent Spirit karena benar. Walaupun dirinya kuat, selama ini tidak mampu membunuh orang yang berasal dari Alam Suci, itu dikarenakan mantra mahkota pembatas. Karena penyebab inilah, dia selalu saja merelakan Batu Roh Dewi diambil mereka karena kelelahan bertarung - tidak mampu lagi untuk bertarung.
Pertarungan ini akan berlangsung berminggu-minggu, bahkan bulanan. Selama itu, sulit untuk mempertahankan kondisi karena harus terus-menerus mengeluarkan energi untuk melawan, apalagi energinya lebih lama pulih karena mahkota pembatas.
Hanya Raja Eluned yang masih menghargai dan menghormatinya, dengan memberikan persembahan manusia sebagai makanan. Karena jasanya, Serpent Spirit memberikan satu Batu Roh Dewi sebagai imbalan.
"13 Batu Roh Dewi merupakan imbalan yang sepadan jika aku berhasil melepaskan mantra itu. Bagaimana, apakah kamu masih terus mempertahankannya?" rayu Dewa Binatang.
"Tidak... Tidak... Jangan semuanya kau ambil! Sisakan satu untukku!" tolak Serpent Spirit sambil menyemburkan bola air ke arah Dewi Kedamaian.
Dewa Binatang menahan kegembiraan karena ucapan Serpent Spirit adalah bentuk dari kesepakatan.
"12 juga tidak buruk! Berarti kita sepakat?" tanya Dewa Binatang yang ingin kepastian.
"Iya! Segera lepaskan dan biarkan aku membuat mereka kaget!" jawab Serpent Spirit dengan menyemburkan bola energi yang berisi cairan logam ke arah Dewi Pesona.
Dewa Pesona secepat mungkin terbang untuk menghindari serangannya. Tidak ada kepanikan diwajahnya, tetap tenang dan kembali memposisikan diri dan kembali melesat ke arah tumpukan tulang. Rencananya, ia akan membuat jalan dengan membuat lubang menuju ke pusat Batu Roh Dewi, sedangkan kedua seniornya akan selalu menyibukkan Serpent Spirit.
Setelah Dewi Pesona lolos dari serangan bola energi itu, Dewi Kasih mengeluarkan pedangnya dan menebaskan ke arah Serpent Spirit, serangan terfokus pada leher lawan...
Sedangkan Dewa Binatang, saat ini telah berada di atas kepala Serpent Spirit, di kepala bagian tengah. Lalu dia berkata, "fokus untuk melawan mereka. Apapun rasa sakit di kepalamu, itu dampak dari usahaku melepaskan mantra mahkota pembatas!"
"Sudah biasa sakit kepala! Cepat, lepaskan mantra sialan ini!" sahut Serpent Spirit yang tidak sabaran ingin membuat ketiga wanita ini malu seumur hidup.
Segera, Dewa Binatang mengeluarkan kekuatan jiwa untuk melepaskan mantra mahkota pembatas. Tanpa kesulitan apapun, mahkota itu bercahaya, dan mengejutkan ketiga wanita itu, namun itu hanya sesaat dan mahkota kembali seperti semula.
Serpent Spirit memang merasakan sakit kepala tetapi hanya sesaat. Setelah itu, dia merasakan dengan jelas jika mantra mahkota pembatas telah menghilang. Dia tidak menduga pria muda ini mampu dengan cepat menghapus mantra Dewa Sihir.
__ADS_1
Kini tersisa empat mantra mahkota pembatas yang masih membatasi ruang geraknya...