
Bab 95. Berebut Pedang Penguasa Api.
Setelah Ular Surgawi menjadi wujud manusia, Dewa Binatang memberikan nama. Untuk mengingat masa lalunya bersama Celestial She, dia memberikan nama Tian She Meili.
Dengan hati gembira karena mendapatkan nama, Tian She Meili menari-nari dengan bersenandung. Kelucuannya membuat Dewa Binatang dan istrinya tidak henti-hentinya tertawa.
Kemudian, Dewa Binatang mengeluarkan Lei Jihan dan ibunya yang telah sadarkan diri. Awalnya mereka masih ketakutan saat mengingat Ular Surgawi, namun mereka menjadi tenang karena tidak lagi melihat binatang yang super besar itu
Lei Jihan dan ibunya tidak mengetahui jika banyak wanita cantik yang mengelilinginya, itu dikarenakan Teknik Perubahan Wujud. Ibu dan anak melihat Tian She Meili yang melompat ke punggung Dewa Binatang.
"Kakak ini siapa?" tanya Tian She Meili kepada Lei Jihan.
"Saya... Saya Lei Jihan, panggil saja kakak Jihan!" jawab Lei Jihan dengan nada gugup karena merasa minder melihat kecantikan Tian She Meili.
"Nama bibi adalah Ye Jiali, panggil saja bibi Jiali!" Ye Jiali ikut memperkenalkan dirinya.
"Kakak dan Bibi... Namaku Tian She Meili, putri ayah dan ibu!" dengan bangga ia memperkenalkan namanya yang baru didapatkan.
Lei Jihan dan ibunya kebingungan karena tidak melihat ada wanita disekitar selain mereka. Tiba-tiba bermunculan banyak wanita cantik yang jumlahnya 20 orang. Spontan Lei Jihan dan ibunya seketika terduduk lemas karena kemunculan mereka seperti hantu.
Tian She Meili menertawakan ibu dan anak yang ketakutan. Lalu ia turun dari punggung ayahnya dan menghampiri Lei Jihan.
"Wanita-wanita cantik inilah ibuku. Kakak jangan takut, mereka adalah manusia seperti kakak Jihan!" jelas Tian She Meili sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Lei Jihan agar berdiri.
"Maafkan saya!" sesal Ye Jiali yang tindakannya tidak sopan.
"Tidak perlu meminta maaf, kami memakluminya," ucap Tian Shuwan dengan nada lembut.
Dewa Binatang meninggalkan mereka untuk menemui Ruan Fei. Setelah itu, dia memerintahkan mereka untuk berkumpul di lokasi harta milik Dewa Api Phoniex. Segera Ruan Fei dan anak buahnya melaksanakan perintahnya.
Saat keluar dari domain energi, 100 pasukan khusus itu tidak diketahui oleh semua orang karena teknik kamuflase...
Setelah beberapa waktu, domain energi akhirnya menghilang, tetapi semua orang yang masih berada di sekitar Pegunungan Larswood tidak melihat Ular Surgawi dan Dewa Binatang, hanya ada sisa-sisa pertempuran.
Tidak adanya penghalang, semua orang yang menginginkan binatang suci bergegas memasuki Pegunungan Larswood, berharap menemukan Ular Surgawi atau sesuatu yang berharga di hutan.
Orang yang paling cemas adalah Putri Liangyi, sebab ia sangat membutuhkan Ular Surgawi untuk mengusir Roh-roh iblis yang merasuki para pejabat istana.
Sha Meyleen, Gong Fang dan semua pekerja Gedung Harta Langka hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat kerusakan akibat pertempuran. Seandainya mereka tahu bahwa pasukan khusus Kekaisaran Dewa telah meminimalisir kerusakan, mungkin tidak akan kecewa.
"Kita kembali." Sha Meyleen mengajak bawahannya untuk kembali beraktivitas, ia melihat Putri Liangyi yang tidak tenang.
__ADS_1
"Ayo, kita cari Cheng Bei!" ajak Putri Liangyi dengan nada gelisah.
"Putri, tunggu... Lihat di sana!" Lan Qisheng menunjuk ke arah selatan.
Sha Meyleen dan yang lainnya mengikuti jari telunjuk Lan Qisheng, di mana mereka melihat putra Cheng Bei sedang menggendong seorang gadis kecil usia 7 tahun di punggungnya. Mereka juga melihat Lei Jihan berjalan di sisi kirinya, sedangkan ibunya di kanannya, tetapi mereka tidak melihat 100 pengawal pribadinya. Tetapi, 20 istri Dewa Binatang yang masih menggunakan Teknik Perubahan Wujud jelas tidak terlihat.
Putri Liangyi buru-buru menghampiri Dewa Binatang yang terlihat sangat bahagia. Dewa Binatang melihatnya. Sha Meyleen dan bawahannya juga mengikutinya.
"Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Putri Liangyi sambil melihat Tian She Meili yang sedang tertidur di punggung Dewa Binatang.
Putri Liangyi tidak langsung bertanya tentang Ular Surgawi karena khawatir disalahartikan oleh Dewa Binatang. Basa-basi adalah awal yang tepat untuk membuka pembicaraan sebelum mengutarakan tujuannya.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja!" jawab Dewa Binatang, lalu dia melihat ke arah utara.
Semua orang mengikuti tatapan mata Dewa Binatang. Seketika raut wajah semua orang terlihat serius karena melihat gerombolan perampok Tangan Setan yang menuju ke arahnya. Kecuali 20 istri Dewa Binatang yang tidak takut sama sekali.
"Wow...! Wanita-wanita cantik berkumpul di sini!" seruan Mao Tse pemimpin perampok Tangan Setan, dia membawa anak buahnya sebanyak 112 orang.
Mao Tse memiliki kekuatan yang setara dengan Sha Meyleen, berada di tingkat Half Alfa. Sedangkan anak buahnya tidak terlalu dikhawatirkan karena kekuatan mereka jauh dibawah tingkat Dewa Absolute.
Oleh sebab itu, Sha Meyleen dan yang lainnya serius dan waspada. Reputasi buruk perampok Tangan Setan sudah sangat terkenal akan kebrutalannya, jika bertemu mereka bisa dikatakan nasib sial.
"Pergi kalian, jangan mencari masalah di wilayah ini!" hardik Sha Meyleen dengan nada tinggi.
Sha Meyleen langsung menyahut sebelum membuat kemarahan para pengawal putra pedagang Cheng Bei, "bodoh! Tidakkah kau melihat pertempuran sesaat yang lalu? Kalian akan dengan mudah terbunuh oleh pengawal Tuan Muda Cheng!"
Setelah Sha Meyleen selesai berbicara, tiba-tiba ada serangan dari arah belakang Dewa Binatang yang melesat cepat tertuju kepada Mao Tse dan anak buahnya. Serangan itu berwujud kepalan tangan berenergi.
Boom...
Mao Tse dan anak buahnya yang tidak sempat bereaksi terhadap serangan mendadak langsung terpental ke belakang. Banyak anggota perampok Tangan Setan langsung meregang nyawa, sedangkan Mao Tse terluka parah, di mana separuh tubuhnya hancur.
Walaupun terluka parah, Mao Tse segera kabur sebelum mati sia-sia, dia sekilas melihat Tian She Meili yang menyerangnya.
"Menganggu tidur gadis cantik ini!" gerutu Tian She Meili setelah menyerang Mao Tse, ia kembali memejamkan mata sambil meletakkan kepala di bahu ayahnya.
Kecuali Dewa Binatang dan istrinya, semua orang membalikkan badan untuk melihat Tian She Meili, mereka tidak menduga gadis kecil ini memiliki kekuatan yang mengerikan. Hanya ada satu kata di dalam dibenak mereka, "Mengerikan!"
Dewa Binatang tersenyum masam sambil tangan kirinya membelai rambut putrinya ini.
"Ayah, aku lapar," bisik Tian She Meili karena perutnya keroncongan.
__ADS_1
Sebenarnya, jika tidak ada Dewa Binatang, Tian She Meili sudah pasti akan memangsa Mao Tse dan anak buahnya untuk memuaskan rasa laparnya. Berhubungan ada orang tuanya, ia malu karena akan merusak pemandangan.
"Di kota apa ada rumah makan yang menyediakan makanan enak?" tanya Dewa Binatang kepada Lei Jihan yang hafal seluk-beluk Kota Chu.
Sebenarnya Dewa Binatang bisa saja masuk ke dalam Dunia Jiwa untuk memuaskan rasa lapar putrinya, tetapi tidak dilakukannya dikarenakan ingin memberikan pelajaran kepada putrinya agar terbiasa dengan kehidupan barunya.
"Tuan Muda, sebagai ucapan terima kasih, izinkan saya untuk memasakkan untuk Anda!" harapan Ye Jiali yang ingin menjamu Dewa Binatang.
"Baiklah, aku tidak sabar ingin merasakan masakanmu. Ayo kita ke sana agar tenang mengobrol!" Dewa Binatang tidak menolak keinginan Ye Jiali.
"Tuan Muda, saya akan menyusul Anda setelah urusan kami selesai. Maaf!" Sha Meyleen tidak bisa mengikuti Dewa Binatang yang akan menuju ke rumah milik Ye Jiali, sebab setelah lelang berakhir masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Dewa Binatang hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, Sha Meyleen dan bawahannya meninggalkannya, tersisa Putri Liangyi dan bawahannya.
"Bolehkah aku ikut?" tanya Putri Liangyi karena masih mengharapkan Dewa Binatang menepati janji.
Ye Jiali tampak gelisah karena seorang putri kerajaan akan singgah di rumahnya, dan ini baru pertama kali terjadi. Dan dirinya adalah orang pertama yang mendapatkan kunjungan dari keluarga kerajaan, jelas ia menjadi panik.
"Putri... Tapi... Rumah hamba jelek dan kotor, tidak layak untuk Anda...!" Ye Jiali tidak tahu harus berkata apa karena kunjungan putri kerajaan di rumahnya.
"Aku juga orang biasa, jangan ada pikiran seperti ini!" ucap Putri Liangyi yang tidak membedakan status sosial.
"Terima kasih, Putri! Mohon maaf, hamba undur diri untuk mempersiapkan kedatangan Anda. Permisi!" pamit Ye Jiali sambil membungkuk, lalu ia dan putrinya bergegas menuju ke rumahnya.
"Ayo, kita jalan-jalan dulu!" ajak Dewa Binatang yang ingin memberikan waktu kepada Ye Jiali.
Kemudian, Putri Liangyi memimpin jalan karena sebagai tuan rumah karena Kota Chu masuk wilayah Kerajaan Arcadia. Selain itu, Duke Manchu sebagai pemimpin Kota Chu sedang mengikuti Raja Guang, dan mengawal keluarga kerajaan menjadi tugasnya.
Baru saja berjalan beberapa meter, terdengar suara ledakan akibat pertempuran, sumber suaranya berasal dari Pegunungan Larswood bagian sisi timur. Dewa Binatang berhenti berjalan untuk melihat pertempuran dengan Mata Langitnya.
Di hutan Larswood, Dewa Binatang dan rombongannya melihat pertempuran di langit, di mana dua pasukan kerajaan saling bertarung dengan sengit.
Suara pertempuran itu terdengar telinga banyak orang yang berada di Kota Chu, mereka segera kembali keluar dari kota, termasuk Sha Meyleen yang belum sempat masuk ke Gedung Harta Langka.
"Keluargamu bertarung, apakah kamu tidak mendampingi mereka?" tanya Dewa Binatang yang keheranan melihat Putri Liangyi tidak ikut serta melawan Kerajaan Matahari Terbit.
Putri Liangyi menghela nafas panjang, setelah itu ia menjawab, "kita sebagai wanita hanyalah hiasan dinding. Anda tahu apa maksudku! Memang tidak semua wanita mengikuti aturan ini, tetap pada umumnya wanita selalu mematuhi aturan kuno ini!"
Dewa Binatang mengangguk paham. Di Galaksi Arcadia dan di manapun tempatnya, kebanyakan wanita dimanfaatkan sebagai alat negosiasi politik, pemuas nafsu dan banyak hal demi tujuan tertentu, semua itu dikarenakan wanita dianggap lemah.
Ingin lepas dari aturan kuno itu, maka wanita diharuskan kuat dalam segala bidang, jika tidak, selama hidupnya hanya akan menjadi hiasan dinding para pria yang ambisius.
__ADS_1
Dan khususnya wanita kerajaan, mereka bisa menggunakan kekuatan birokrasi untuk memperkuat diri. Tetapi dilarang keras dalam hal pertempuran seperti saat ini. Oleh sebab itu, Putri Liangyi tidak ikut serta dalam perebutan Pedang Penguasa Api dan peta kuno.
Kembali ke pertempuran itu, di mana pihak Kerajaan Arcadia terlihat kewalahan menghadapi serangan pasukan Kerajaan Matahari Terbit. Akan tetapi, Dewa Api dan Dewa Air ikut campur untuk melawan Mao Zedong, sehingga Kerajaan Arcadia menyudutkan pihak musuh.