
Bab 169. Dewa Abadi (1).
Dentuman keras ketika dada kanan dari Omniverse terkena bilah Pedang Semesta. Dewa binatang mengunci alisnya karena Omniverse tidak sedikitpun tergores, bahkan tampak tidak merasakan kesakitan.
Dia buru-buru menghindari telapak tangan dari Omniverse yang akan mengenainya. Kemudian, Dewa Binatang berkali-kali mengayunkan pedangnya sehingga suara dentuman keras terus terdengar.
Namun, sekali lagi Omniverse tidak sedikitpun terluka, bahkan tubuhnya tidak tersentak karena serangannya. Omniverse kembali menyerangnya, tetapi dengan mudah dihindari oleh Dewa Binatang.
Melihat begitu kuatnya fisik Omniverse, terbesit di pikiran Dewa Binatang untuk menjadikan lawannya sebagai bahan latihan. Kemudian, dia mengalirkan elemen air kedalam Pedang Semesta.
Sebelum tangan kanan Omniverse mengenai Dewa Binatang, ia terlebih dahulu menghindari sambil menyerang lawannya. Bilah pedangnya yang berpadu dengan elemen air, melesat sangat cepat ke arah leher Omniverse.
Boom...
Ledakan keras saat bilah pedang air mengenai leher Omniverse. Setelah itu, Dewa Binatang melihat leher lawannya yang tergores, namun dengan cepat goresan itu menutup, dan tanpa meninggalkan jejak luka.
Mengetahui lawannya bisa dilukai, sekali lagi Dewa Binatang memadukan Pedang Semesta dengan elemen air. Kali ini dia berkali-kali mengayunkan pedangnya ke arah leher lawan.
Namun, Omniverse tidak tinggal diam, dari kedua matanya yang merah mengeluarkan sinar. Sinar itu berbenturan dengan serangan dari Dewa Binatang, dan sinar itu terus melesat sangat cepat ke arahnya.
Sontak membuat Dewa Binatang yang tidak sempat menghindari menggunakan Pedang Semesta sebagai perisainya. Letupan energi spiritual saat sinar mata Omniverse membentur dengan Pedang Semesta.
Tubuh Dewa Binatang terdorong ke belakang sambil menahan serangan dari Omniverse. Pedangnya membara walaupun telah dialiri elemen air. Kedua tangannya terasa panas seperti terbakar karena dampaknya.
Kemudian, kedua telapak tangan Omniverse terayun ke arah Dewa Binatang seperti akan menepuk seekor lalat. Dewa Binatang yang kewalahan menahan serangan sinar mata, tidak sempat untuk menghindarinya. Dan...
Boom...
Ledakan besar saat telapak tangan dari Omniverse menghimpit tubuh Dewa Binatang yang seketika berteriak keras karena kesakitan. Teriakannya sangat memilukan.
Chen Yeon dan Hu Yue Yan yang selalu melihat pertarungan itu, akhirnya bisa keluar dari Dunia Jiwa saat Dewa Binatang kesakitan. Mereka segera menggunakan senjatanya untuk menyerang kedua tangan dari Omniverse agar melepaskan Dewa Binatang.
Sayangnya, serangan mereka tidak berarti apa-apa bagi Omniverse. Justru semakin membuat Dewa Binatang makin kesakitan karena telapak tangan itu menekan tubuhnya.
"Serang kedua matanya!" ujar Chen Yeon yang langsung menargetkan mata Omniverse. Hu Yue Yan mengikutinya dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.
Omniverse melihat kedua wanita itu yang menargetkan matanya. Sebelum serangan mereka mengenainya, dari kedua matanya keluar sinar. Karena terlalu cepatnya sinar mata Omniverse, kedua wanita itu yang tidak sempat menghindari menggunakan senjatanya sebagai tameng.
Boom boom...
Kedua wanita itu terpental saat senjatanya tidak mampu menahan serangan sinar mata, seketika itu pula senjatanya hancur berkeping-keping. Justru karena tindakan mereka, membuat Dewa Binatang semakin kesakitan, sebab telapak tangan dari Omniverse yang semakin kuat menekannya.
"Arghhh...!!" teriakan Dewa Binatang karena sekujur tubuhnya seolah-olah akan meledak.
__ADS_1
Kedua matanya melotot seperti akan keluar dari rongga matanya, seluruh otot di tubuhnya bermunculan karena menahan tekanan, bahkan dari tujuh lubang tubuhnya sampai mengeluarkan darah segar.
Jika tidak memiliki zirah perang dari Mahkota Maharaja yang telah bergabung dengan beberapa Artefak Alami, Dewa Binatang tidak mungkin mampu menahan kekuatan dari Omniverse.
Sedangkan Chen Yeon dan Hu Yue Yan, telah terluka parah hanya dengan satu serangan, mereka hanya bisa melihat tubuh Dewa Binatang yang akan meledak. Dipikiran mereka, ingin sekali menyelamatkan Dewa Binatang, tetapi dalam keadaan terluka bagaimana mungkin bisa melakukannya? Menggerakkan tangannya saja kesulitan.
Boom...
Ledakan keras ketika tubuh Dewa Binatang akhirnya meledak karena tekanan kuat dari Omniverse. Darahnya menyebar di luar angkasa yang dipenuhi dengan kabut hitam, dan potongan daging tubuhnya melayang-layang. Kedua wanita itu syok sambil memanggil nama Dewa Binatang yang telah tewas.
"Maafkan aku!" sesal Chen Yeon yang tidak bisa lagi menahan tangisannya.
Seharusnya, Dewa Binatang tidak perlu melakukan ini karena hanya mengantarkan mereka. Tetapi justru tewas sebelum mengembalikan Pagoda Berlian.
Hu Yue Yan menatap tajam ke arah Omniverse, air matanya menetes deras karena tewasnya Dewa Binatang. Namun, dia melihat bola kunang-kunang yang pernah dilihatnya sewaktu di Samudera Hitam.
"Kakak, lihat itu!" pinta Hu Yue Yan sambil menggoyangkan lengan dari Chen Yeon.
Chen Yeon segera melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Hu Yue Yan, di mana daging dari tubuh Dewa Binatang berkelap-kelip. Kemudian, darah yang tersebar mulai menyatu dengan seluruh potongan tubuh.
Setelah darah dan potongan tubuh itu menyatu, dengan cepat membentuk tubuh. Chen Yeon dan Hu Yue Yan tercengang melihat Dewa Binatang yang tewas hidup kembali dengan kecepatan mata.
Namun, Omniverse mengayunkan kedua telapak tangannya sebelum Dewa Binatang membuka matanya. Kedua wanita itu yang melihatnya, jelas tersentak hatinya.
Dentuman keras ketika kedua tangan Dewa Binatang menahan telapak tangan dari Omniverse. Kedua wanita itu terdorong ke belakang karena dampak dua kekuatan yang saling berbenturan.
Kemudian, mereka syok melihat Dewa Binatang menahan telapak tangan itu, dan mereka tidak mampu berkata-kata lagi melihat semua ini. Dipikirannya banyak sekali pertanyaan yang sulit untuk dijawab dengan kejadian ini.
Yang tidak diketahui oleh kedua wanita itu, Dewa Binatang bisa hidup kembali tidak hanya karena memiliki Batu Keabadian yang selalu memelihara jiwanya, melainkan memiliki mutiara tiga Inti Air Kehidupan yang didapatkan ketika berada di Alam Tianwu.
Dari Inti Air kehidupan itu, tubuh Dewa Binatang yang hancur bisa dengan cepat dipulihkan kembali. Dan, tersisa dua Inti Air kehidupan. Seandainya Inti Air Kehidupan telah habis, dan Dewa Binatang mengalami hal yang sama, jiwanya tidak akan mati karena memiliki Batu Keabadian.
"Aku abadi... Apakah semudah ini membunuhku? Tidak semudah itu! Biarpun kau membunuhku berkali-kali, selamanya aku akan selalu hidup kembali!" ucap Dewa Binatang sambil menahan telapak tangan dari Omniverse, kedua matanya menatap tajam ke arah Omniverse.
Omniverse tidak menggubris perkataan Dewa Binatang, dia meningkatkan kekuatannya yang terfokus pada kedua tangannya. Sekali lagi, Dewa Binatang dengan sekuat tenaga menahan tekanan telapak tangan lawannya.
Boom...
Tubuh Dewa Binatang sekali lagi meledak karena terlalu besarnya kekuatan lawannya. Akan tetapi, sekali lagi ceceran darah dan potongan-potongan tubuhnya menyatu dengan kecepatan mata memandang.
Chen Yeon dan Hu Yue Yan yang melihat itu, tidak tahu harus bereaksi bagaimana, apa yang dilihatnya sulit untuk diterima akal sehat. Tetapi, mereka mengingat kemampuan Dewa Binatang yang hidup kembali, ini seperti kemampuan yang dimiliki oleh salah satu dari Trimurti, yaitu Dewa Pemelihara.
Kedua wanita itu saling berpandangan karena memikirkan hal yang sama, mereka menduga jika Dewa Binatang adalah murid dari Dewa Pemelihara.
__ADS_1
"Sudah kukatakan, aku tidak bisa mati!" penegasan Dewa Binatang setelah hidup kembali.
Omniverse menatap ke arah Dewa Binatang yang tidak bisa dibunuh. Karena tidak percaya, dia kembali mengayunkan kedua telapak tangannya ke arah musuh.
Karena sudah siap dan sebelum telapak tangan musuh kembali mengenainya, Dewa Binatang mengepakkan sayap zirah perangnya, melesat sambil menghunuskan pedangnya ke arah ulu hati dari Omniverse.
Dewa Binatang mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk meningkatkan Kecepatannya agar mampu menembus tubuh Omniverse; mengeluarkan elemen angin, petir, cahaya, Api Semesta, kekuatan jiwa, dan energi spiritualnya.
Pedang Semester bergetar hebat karena mendapatkan kekuatan yang sangat besar dari tuannya.
Chen Yeon dan Hu Yue Yan melongo melihat Dewa Binatang yang mengeluarkan semua kemampuannya, yang mana tubuhnya mengeluarkan cahaya, api, petir dan angin. Bagi mereka, tubuh Dewa Binatang seperti pelangi, pelangi yang memiliki kekuatan mengerikan.
Ujung Pedang Semesta mengenai ulu hati dari Omniverse, awalnya tertahan karena fisiknya yang sangat kuat. Namun, Dewa Binatang terus menekan sehingga ujung pedangnya mampu menusuk ulu hati dari Omniverse.
Ujung Pedang Semesta menembus tubuh Omniverse. Tidak berhenti di situ, Dewa Binatang terus menghunuskan pedangnya sehingga masuk ke dalam tubuh lawannya. Setelah Dewa Binatang masuk, luka karena pedang segera menutup tanpa jejak.
Di dalam tubuh Omniverse, Dewa Binatang tidak sedikitpun terkejut melihat kegelapan karena telah mengalaminya, yang mana di dalam tubuh Omniverse seperti halnya berada di dalam altar Dewa Sihir.
Di dalam tubuh Omniverse, dia melihat raksasa yang wujudnya sama seperti pemiliknya, jumlahnya lebih banyak dari yang diciptakan oleh Lord Transcendental. Kemudian, dia melihat ke atas, menatap otak Omniverse yang terbuat dari sehelai rambut.
Sehelai rambut itu membentuk lingkaran, dari dalam lingkaran itu terlihat serat-serat listrik yang merupakan tanda otak sedang aktif. Dari serat-serat listrik itu mengeluarkan energi kegelapan yang memberikan kekuatan pada Omniverse.
Mengetahui kelemahan lawan adalah sehelai rambut, Dewa Binatang segera terbang ke arahnya. Namun, miliran raksasa segera mengeluarkan sinar dari kedua matanya yang tertuju kepada Dewa Binatang.
Dewa Binatang yang dikepung serangan sinar mata, segera mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk menangkis serangan para raksasa Omniverse.
Boom boom...
Ledakan keras ketika serangan Dewa Binatang berbenturan dengan banyaknya sinar mata Omniverse. Tubuhnya terombang-ambing karena banyak serangan para raksasa Omniverse mengenainya.
Ketika para raksasa Omniverse berhenti menyerang, Dewa Binatang yang tidak kenal takut dan tanpa memperdulikan lukanya, segera membalas serangan mereka secara acak.
Ketika salah satu tubuh raksasa itu meledak, Omniverse sebagai pemilik tubuh sedikit terhuyung-huyung. Dewa Binatang yang berada di dalam tubuh lawannya, dengan jelas merasakan guncangan.
Mengetahui jika para raksasa ini memberikan dampak besar kepada Omniverse, Dewa Binatang dengan brutal menyerang raksasa yang paling dekat dengannya.
Chen Yeon dan Hu Yue Yan menutup telinganya karena Omniverse meraung-raung keras karena organ dalamnya terluka. Mereka tahu jika itu karena Dewa Binatang yang membuat Omniverse kesakitan.
Chen Yeon segera menelan 10 butir Pil Penyembuh untuk memulihkan lukanya, Hu Yue Yan juga melakukan hal yang sama. Ketika tubuh mereka pulih, segera menyerang Omniverse dengan kekuatan penuh.
Omniverse yang merasakan sakit dari dalam tubuhnya, dengan mudah terkena serangan dari kedua wanita itu. Chen Yeon dan Hu Yue Yan semakin bersemangat untuk mengalahkan Omniverse, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan oleh Dewa Binatang.
"Roarrr...?!" raungan Omniverse ketika kedua matanya berkali-kali terkena serangan dari kedua wanita itu.
__ADS_1