
Bab 107. Planet Caldwell, Living Moon.
Perjalanan menuju ke Galaksi Kecebong memakan waktu lebih dari 4 bulan, dan BESD 1 sudah menggunakan kecepatan cahaya. Sudah bisa dibayangkan betapa jauhnya Galaksi Kecebong dari Galaksi Arcadia
Selama itu, Dewa Binatang dan istrinya tetap berada di dalam Dunia Jiwa. Veno yang mengendalikan BESD 1, memberikan laporan kepada Dewa Binatang, jika telah dekat dengan Planet Kecebong.
Dewa Binatang keluar dari dalam Dunia Jiwa seorang diri, lalu melihat keseluruhan Planet Kecebong. Dengan Mata Langit, dia melihat 75% penghuninya telah dirasuki oleh roh iblis.
"Apakah di sini ada hubungannya dengan Raja Arwah?" gumam Dewa Binatang yang mengaitkan dengan Galaksi Arcadia.
Dia tidak melihat adanya kerajaan seperti yang sudah-sudah, tetapi masih banyak kota-kota besar yang penghuninya mencapai angka ratusan ribu jiwa, bahkan ada beberapa kota yang memiliki banyak penduduk lebih dari angka satu juta jiwa.
Anehnya lagi, saat melihat aktivitas penghuni Planet Kecebong, Dewa Binatang melihat semua orang sedang berkultivasi dengan cara berbeda dari kultivator manapun, di tempat ini semua orang bertahan hidup dengan cara menyerap kabut hitam.
"Tempat yang tidak layak dijadikan pil!" gumamnya setelah melihat Planet Kecebong yang miskin akan sumber daya dan juga energi spiritual.
Niat awal ingin mengekstrak Galaksi Kecebong, tetap diurungkan karena minimnya sumber daya dan energi spiritual. Yang dilihatnya saat ini, kekeringan terjadi di mana-mana, namun itu tidak membuat penghuni sengsara karena sudah menyerap energi kabut hitam sebagai ganti sumber daya dan energi spiritual.
Karena tidak ada permasalahan Dengan Roh-roh iblis, Dewa Binatang memerintahkan kepada Veno agar mengendalikan BESD 1 menuju ke Galaksi Caldwell, tempat kekuasaan King Caldwell.
Dewa Binatang pernah hampir terbunuh oleh pembunuh bayaran atas perintah dari King Caldwell, waktu itu terjadi ketika berada di Alam Tianwu.
Awalnya tidak ada rasa ingin membalas dendam kepada King Caldwell, sebab dia telah membunuh putra mahkota Kerajaan Caldwell sebagai ganti rasa dendam.
Akan tetapi, setelah kejadian waktu itu hingga membuatnya berada di Planet Nibiru, muncullah rasa balas dendam, dikarenakan hampir membunuh istrinya. Dan semua ini karena Kaisar Langit ikut campur.
Menuju ke Galaksi Caldwell, membutuhkan waktu selama hampir satu tahun dengan kecepatan cahaya. Veno kembali memberikan laporan bahwa telah tiba di tempat tujuan.
Dewa Binatang segera keluar dari dalam Dunia Jiwa. Dia melihat situasi di Planet Caldwell yang memiliki dua satelit, kehidupan di tempat ini lebih makmur dari Galaksi Arcadia.
Ukuran Planet Caldwell empat kali lebih besar dari Planet Bumi, serta lebih subur. Sedangkan kedua satelit itu, ukurannya berbeda dan memiliki nama; Dead Moon and Living Moon.
Dean Moon seukuran bulan di Bumi, dan tak berpenghuni. Sedangkan Living Moon, ukuran luasnya sama seperti Planet Bumi, banyak kehidupan di tempat itu, serta memiliki pemerintahan sendiri.
Living Moon dipimpin oleh seorang pria yang merupakan pemimpin spesialis pembunuhan bayaran antar galaksi. Di tempat itu, jangan harap adanya keadilan, di manapun berada akan selalu ada kekacauan; saling membunuh, bertarung untuk masalah sepele merupakan hal yang lumrah. Intinya, Living Moon adalah tempatnya neraka kehidupan.
Planet Caldwell saat ini tidak jauh berbeda dengan Planet Nibiru, di mana teknologi sudah maju dan dipadukan dengan kekuatan spiritual. Jutaan drone berkeliling di udara dan berbagai macam fungsinya. Planet ini memiliki nama lain, yaitu Benua Caldwell.
__ADS_1
Di Benua Caldwell, masih memegang teguh identitas sebagai seorang kultivator, dan teknologi hanyalah sebagai pendukung pekerjaan di saat ditinggal berkultivasi, di mana basis kultivasinya tidak jauh berbeda dengan Galaksi Aurora, dari terendah di tingkat Kelahiran dan tertinggi di tingkat True Omega.
Yang membuat Dewa Binatang keheranan, musuhnya yang tidak lain adalah King Caldwell, masih berada di tempat, tidak seperti musuhnya yang lain, kabur ke Alam Suci. Hal yang menarik perhatiannya.
Tidak seperti di Planet Arcadia, Dewa Binatang tidak mendaratkan BESD 1, melainkan dimasukkan ke dalam Dunia Jiwa. Karena Yuna Aurora dan semua istrinya yang kekuatannya masih berada di bawahnya dan saat ini sedang berkultivasi, maka dia menuju ke Living Moon hanya bersama Tian Mei Yin dan Tian She Meili.
Tujuan pertama untuk menghancurkan organisasi pembunuh bayaran antar galaksi, sebab dia dulu pernah hampir terbunuh oleh pembunuh bayaran sewaan King Caldwell. Selanjutnya baru berurusan dengan King Caldwell.
Saat ini, mereka telah berada di wilayah pusat Living Moon, atau yang dikenal dengan kota Negara Moon, tepatnya berada di hutan perbatasan kota.
Pakaiannya yang dikenakan mereka menyesuaikan dengan kehidupan di tempat ini, dan pakaian ini seperti kehidupan di Bumi, teknologi seperti gadget dan lain sebagainya juga sama, serta terhubung dengan Benua Caldwell.
Karena Dewa Binatang telah memiliki teknologi semacam ini, dia memberikan gadget kepada Tian She Meili dan Tian Mei Yin, dan tanpa harus menggunakan nomor seperti telepon seluler.
"Ayah, apa boleh aku membuat kekacauan di sini?" tanya Tian She Meili yang gagal mengalahkan Jenderal Fung, ia melihat ke arah pintu gerbang Kota Moon yang sangat dijaga ketat.
Walaupun Living Moon terkenal tempatnya segala kejahatan, di Kota Moon masih tergolong aman karena pusat dari pemerintahan. Se-aman-amannya di kota ini, kejahatan tetap selalu ada, dan keadilan bagi orang lemah hanyalah mimpi belaka.
"Tunggu sebentar!" pinta Dewa Binatang yang ingin memeriksa basis kultivasi di Kota Moon.
Dengan Mata Langit, dia melihat kekuatan tertinggi dipegang oleh penguasa Living Moon, berada di tingkat True Omega level 79. Dan yang membuatnya kagum, rakyat jelata rata-rata telah berkultivasi, dan kekuatan terendah di tingkat Jalan Surgawi.
"Mereka belum tahu siapa aku!" ujar Tian She Meili yang juga melihat anak-anak yang melakukan kejahatan itu, ia memegang tangan sendiri hingga suara tulang gemeretak.
"Hancurkan saja dalam sekali serangan," kata Tian Mei Yin yang ingin memusnahkan Living Moon dalam sekali pukulan berenergi.
"Tempat ini cocok untuk latihan bagi pasukan kita yang butuh peperangan secara langsung, hal ini bagus untuk membentuk mental pasukan agar tangguh sebelum menghadapi Peperangan Global!" ide Dewa Binatang.
"Kamu benar. Ayo, kita kembali ke Dunia Jiwa untuk mengatur rencana!" ajak Tian Mei Yin yang di anggukan oleh Dewa Binatang.
"Jangan dulu, kita baru tiba dan sudah kembali!" tolak Tian She Meili yang telah mengincar anak-anak itu, ia melihat ayahnya dengan tatapan memelas.
"Ya sudah, kamu saja yang masuk untuk membuat rencana dengan saudari-saudarimu. Aku dan putri kita akan masuk ke kota." Dewa Binatang mengabulkan permintaan putrinya.
Tian Mei Yin mengangguk sebagai jawaban, dan dalam sekejap menghilang, ia telah masuk ke dalam Dunia Jiwa.
Dewa Binatang dan putrinya keluar dari hutan dengan berjalan kaki. Baru saja keluar, mereka telah dihadang oleh empat anak-anak yang sebelumnya telah merampas harta milik wanita tua.
__ADS_1
"Serahkan hartamu, atau putrimu akan menjadi budak nafsu kita. Hahaha!" ancaman dari seorang pria usia 14 tahun, dia tertarik dengan kecantikan Tian She Meili yang usianya lebih muda satu tahun darinya.
Dia mengeluarkan pedangnya sambil mengacungkan ke arah Dewa Binatang, sebut saja namanya si Alex.
Dewa Binatang tersenyum tipis karena diancam anak-anak. Berbeda dengan putrinya yang sudah marah, tanpa banyak bicara ia langsung menghilang dan muncul di belakang si Alex.
Si Alex dan ketiga temannya jelas terkejut bukan main saat melihat Tian She Meili menghilang dari pandangan mata.
Saat berada di belakang si Alex, Tian She Meili menyentil kepalanya yang langsung ambruk tak sadarkan diri, lalu berlanjut kepada ketiga temannya. Mereka bertiga juga langsung ambruk tak sadarkan diri.
Aksi Tian She Meili dilihat oleh wanita tua yang hartanya dirampas, dan penjaga pintu gerbang juga memperhatikannya. Para penjaga itu juga kaget melihat pergerakan Tian She Meili yang begitu cepat.
"Lemah masih saja berbuat jahat, belum tahu jika aku bisa lebih kejam darimu!" geram Tian She Meili sambil menepuk kedua tangannya.
Kemudian, ia mengambil tas milik wanita tua, lalu memberikan kepadanya sambil bertanya, "apa nenek baik-baik saja?"
Bukannya berterima kasih atas pertolongan Tian She Meili, wanita tua itu justru marah, ia berkata dengan nada tinggi, "apa yang kamu lakukan, sama saja membuat hidupku makin susah! Lihat saja setelah ini, kakak-kakak mereka akan membuatku menderita!"
Setelah berbicara, wanita tua itu menerima tasnya dan pergi meninggalkan Tian She Meili yang bengong karena tidak mengerti.
"Jangan diambil hati, anggap saja berbuat baikmu kali ini kurang tepat!" hibur Dewa Binatang sambil mengelus rambut putrinya.
"Apa aku salah?" tanya Tian She Meili sambil melihat ayahnya.
"Kamu sangat tidak salah, hanya waktunya kurang tepat. Berbuat baik itu memang perlu dan tindakan mulia, tetap kamu harus melihat kondisi orang yang akan ditolong terlebih dahulu, apakah layak atau tidak kita bantu, bukan berarti menolong itu harus pilih-pilih!" tutur Dewa Binatang kepada putrinya.
"Bukankah nenek itu layak dibantu?" tanya Tian She Meili yang kurang paham.
"Seperti yang dikatakan nenek itu, dia akan mendapatkan masalah baru dari kakak anak-anak ini. Berbuat baik itu jangan setengah-setengah, bereskan semua yang akan menyebabkan masalah baru bagi orang yang kita bantu!" jelas Dewa Binatang dengan sabar, dia melihat tiga penjaga berjalan ke arahnya, satu komandan dan dua bawahannya.
"Membantu sampai ke akar-akarnya?" tanya Tian She Meili.
"Tepat. Dengan begitu, tidak akan lagi ada masalah baru, dan tindakan mulia bisa menenangkan hatimu, dan itu adalah upahmu karena telah membantu dengan setulus hati! Hati yang tenang adalah kegembiraan tersendiri bagi siapapun!" jawab Dewa Binatang.
"Hei kalian! Kalian telah bertindak jahat di wilayah ini. Sekarang patuh dan ikut kami untuk mendapatkan hukuman! Tangkap ayah dan anaknya!" perintah komandan penjaga pintu gerbang Kota Moon.
Seketika Dewa Binatang tertawa karena perkataan komandan penjaga itu, dia tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Berbeda dengan putrinya yang mengangguk berulang-ulang karena sedang mencerna jawaban.
__ADS_1
"Jadi mereka ini adalah akar-akar yang harus dibereskan. Ayah, aku mengerti!" ujar Tian She Meili yang langsung bertindak.
Sekali lagi, Tian She Meili menghilang dari pandangan mata ketiga penjaga pintu gerbang, ia muncul di belakang mereka.