God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Dewi Shiwu.


__ADS_3

Bab 119. Dewi Shiwu.


Setelah Dewa Binatang masuk ke dalam ruang tahanan, si penjaga penjara segera pergi. Putri Shi mengajaknya ke ruang baca.


Dewa binatang tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang sedang dicari ditempat seperti ini. Dan yang membuatnya keheranan, Planet Petir begitu luas dan bisa bertemu di sini, bukankah ini suatu keberuntungan yang tak terduga? Dan, Putri Shi adalah Dewi Shiwu. Oleh sebab itu, dia terkejut melihat kekasihnya ini.


Tetapi yang menjadi pertanyaan dihatinya, bagaimana mungkin kekasihnya ini bisa mengetahui penyamarannya? Dan bagaimana ceritanya Dewi Shiwu dipenjara di sini? Masih banyak pertanyaan dihatinya.


Namun, Dewa Binatang menahan diri dengan tidak terburu-buru bertanya, sebab masih ada rasa khawatir jika terjebak kembali seperti waktu itu. Dan yang perlu diwaspadai, Dewi Shiwu adalah putri dari musuhnya.


Setelah mereka berdua duduk, Dewa Binatang yang asli menyatu dengan tubuh ganda-nya, tanpa sepengetahuan Dewi Shiwu. Kemudian, dia memulai untuk berbicara.


"Jujur saja, saya baru mengenal Anda. Bagaimana ceritanya Anda begitu mengenali saya?"


Dewi Shiwu menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Setelah itu, ia menjawab sambil menatap wajah Dewa Binatang, "banyak hal bagaimana aku bisa mengenalimu. Ada tiga hal yang paling mencolok. Pertama, seseorang Dewa yang disahkan oleh Kitab Suci, memiliki aura berbeda dari kultivator manapun, walaupun memiliki kekuatannya setara... Silakan, diminum!"


Dewa Binatang mengangguk paham dan meminum teh hangat. Ucapan Dewi Shiwu memang benar bahwa seseorang Dewa jelas berbeda dari kultivator.


"Kedua, di luar penjara ini, aku memiliki tubuh ganda sebagai mata-mata, salah satu teknik yang dulu pernah kamu ajarkan kepadaku. Seorang Dewa atau Dewi, mudah membuat tubuh palsu, tetapi berbeda dengan teknik ini yang memiliki ciri-ciri khasnya. Teknik inilah alasanku bisa mengenalimu. Ketiga, karena nama Shimo. Seumur hidupku, aku hanya tahu nama Shimo adalah Dewa Binatang, tidak ada di dunia ini yang namanya Shimo," lanjutnya Dewi Shiwu.


Dewa Binatang tertawa ringan karena ketiga hal ini penyamarannya terungkap. Dan lagi-lagi, ucapan Dewi Shiwu memang benar. Dia segera menghilangkan penyamarannya. Kini, Dewa Binatang dalam wujud aslinya yang dikenali oleh Dewi Shiwu.


Dewi Shiwu tersenyum hangat melihat wajah asli kekasihnya ini. Tetapi anehnya, jika sepasang kekasih yang telah lama berpisah, sudah seharusnya meluapkan rasa rindu, berbeda dengan reaksi Dewi Shiwu yang tetap tenang melihat kekasihnya ini.


"Berarti kamu mengetahui bagaimana aku terbunuh di tempat ini, tempat yang saat ini dinamakan Tanah Kutukan?" selidik Dewa Binatang.


"Apakah kamu mencurigaiku penyebab kematianmu waktu itu?" tanya Dewi Shiwu dengan nada tenang.


"Curiga? Iya, ada sedikit, karena kamu adalah Putri dari musuhku! Bukankah itu wajar? Dan lagi, aku tidak lagi merasakan segel keluargaku di tubuhmu. Apakah segel keluargaku telah dihapus, oleh siapa?" jawab Dewa Binatang dan balik bertanya dengan maksud untuk menyelidikinya.


Dewi Shiwu tetap tenang walaupun tahu Dewa Binatang mencurigainya.


"Aku akan jawab pertanyaanmu yang pertama. Iya, aku tahu kamu terbunuh waktu itu, tetapi bukan berarti aku yang menjadi penyebabnya. Apakah kamu masih ingat sewaktu bertarung dengan Dewa Kapak Api? Waktu bertarung denganmu, dia memberikan tanda di tubuhmu, tanda untuk melacak keberadaanmu. Oleh karena itu, mereka mengetahuimu yang bergerak ke tempat ini, dan telah bersiap untuk membunuhmu...!" ungkap Dewi Shiwu.


Dewa Binatang memang masih ingat pertarungan itu, peperangan di Alam Tianwu. Dewa Kapak Api adalah seorang jenderal Dinasti Yaksa, salah satu orang kepercayaan Maharaja Yaksa. Dia datang ke Alam Tianwu dalam misi untuk menyelamatkan Dewa Perang, putra dari Maharaja Yaksa.


Waktu itu, Dewa Kapak Api bertarung dengan Dewa Binatang dengan tujuan agar Dewa Perang bisa melarikan diri. Setelah Dewa Perang berhasil kabur, Dewa Kapak Api memberikan tanda di tubuh Dewa Binatang tanpa diketahui, lalu dia buru-buru kabur menyusul Dewa Perang.

__ADS_1


Karena tanda itulah, maka Maharaja Yaksa dan Kaisar Langit mengetahui pergerakan Dewa Binatang yang akan menuju ke Galaksi Petir. Mereka berdua segera membuat rencana penyergapan.


Dewa Binatang menuju ke Galaksi Petir karena telah berjanji dengan Celestial She. Dan secara kebetulan, dia juga merasakan segel keluarga besarnya yang dimiliki oleh Dewi Shiwu berada di satu lokasi.


Akan tetapi, saat baru tiba di Galaksi Petir, dia tidak merasakan segel keluarganya di tubuh Dewi Shiwu, jelas membuatnya kebingungan karena tidak mudah untuk menghapus segelnya. Dalam kondisi seperti itu, dia pun disergap oleh utusan dari penguasa Alam Suci, utusan yang lebih kuat dari Dewa Kapak Api...


Ketika Dewa Binatang sedang mengingat masa lalunya, Dewi Shiwu kembali berbicara.


"Mengenai segel itu... Ya, memang telah dihapus... Dihapus oleh ayahku sekaligus musuhmu. Waktu itu, ayah tahu bahwa aku tidak lagi perawan. Menghukum-ku di sini dan akan bebas setelah kamu terbunuh. Tetapi, kakakku si Dewa Perang yang membencimu, tidak mengizinkanku keluar dari sini untuk selamanya, sampai aku mati. Hukuman ini adalah wujud dari kebenciannya terhadapmu!"


Sebagai putra mahkota Dinasti Yaksa, Dewa Perang jelas sangat membenci Dewa Binatang, sebab dirinya dikejar-kejar layaknya seorang penjahat, hal yang sangat memalukan baginya, yang sudah kalah dalam berbagai bidang.


Atas permintaan Dewa Perang, Maharaja Yaksa mengabulkannya, di mana Dewi Shiwu yang telah dianggap berkhianat dengan menjadi kekasih dari musuhnya, mencoreng nama besar keluarga, maka hukumnya adalah penjara seumur hidup.


Maharaja Yaksa tidak sedikit pun merasa kasihan kepada putrinya sendiri, sebab dia memiliki banyak putra dan putri. Kehilangan satu anak, tidak akan menyedihkan baginya.


"Pertanyaanmu ini, sejak awal sudah bisa kutebak!" ungkap Dewi Shiwu, oleh sebab itu ia tidak tersinggung telah dicurigai oleh kekasihnya ini.


Akhirnya Dewa Binatang pun mengetahui siapa orang yang mampu menghapus segelnya, dan bagaimana bisa terjebak di Galaksi Petir. Ya, memang hanya orang sekuat Maharaja Yaksa yang mampu menghapus segelnya, tidak mengherankan.


"Kedatanganku di sini, apakah mereka mengetahuinya?" tanya Dewa Binatang yang memecahkan keheningan.


"Menarik garis perjalanan hidupmu di masa lalu dan saat ini, kemungkinan besar mereka tahu. Sebelum tiba di tempat ini, kamu berada di mana?" jawab Dewi Shiwu dan bertanya balik.


"Galaksi Caldwell!" jawab Dewa Binatang.


Dewi Shiwu tersenyum tipis, lalu dia berkata, "jelas mereka tahu. Kamu sudah pasti kembali ke sini untuk mencari keberadaanku! Jika kamu menggunakan altar dimensi agar cepat tiba di sini, kemungkinan besar mereka sudah mengetahuinya, dan tidak mungkin kamu berada di sini hari ini. Artinya, keberadaanmu belum diketahui mereka, tetapi itu tidak lama!"


Dewa Binatang sedikit lega karena musuhnya belum mengetahui kedatangannya, dan ucapan Dewi Shiwu memang benar.


Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa memang telah mengetahui arah perjalanan Dewa Binatang yang akan mencari keberadaan Dewi Shiwu.


"Kenapa kamu dipenjara di sini yang jauh dari pengawasan mereka?" tanya Dewa Binatang yang tidak tahu jalan pikiran Maharaja Yaksa.


"Galaksi Petir adalah suatu benua yang dikhususkan bagi semua penjahat. Tempat ini ditemukan oleh Lei Li-Liang si Dewa Petir Kuno. Walaupun tempat ini jauh dari Alam Suci, mereka memiliki orang-orang yang dipekerjakan sebagai pengawas, diawasi melalui Cermin Sihir. Selain itu, Kaisar Lei adalah orang kepercayaan Maharaja Yaksa...," jawab Dewi Shiwu yang menceritakan sejarah Galaksi Petir.


Karena keunikan planet ini yang sering muncul badai petir, maka diputuskan oleh Kaisar Langit, yang mana menjadikan Galaksi Petir sebagai tempat bagi kultivator jahat. Dan siapapun yang masuk ke planet ini, tidak akan bisa keluar lagi. Kecuali Dewa Petir Kuno sebagai penemu planet ini.

__ADS_1


Akan tetapi, lambat laun semua penjahat menjadi terbiasa dengan hukum petir, mengubah rasa sakit menjadi kekuatan pribadi dengan cara menyerapnya.


Semua penjahat pria dan wanita yang sudah terbiasa dengan sambaran petir, mulai berkembang biak dengan cepat. Hal ini jelas mengkhawatirkan bagi Kaisar Langit selaku Celestial Court (Pengadilan Surga).


Oleh sebab itu, Kaisar Langit memutuskan untuk mengirim utusan sebagai pengatur, serta penguasa tunggal di Galaksi Petir, dan keluarga besar Lei yang mendapatkan tugas ini. Dan waktu itu, orang yang menjadi penguasa kedua adalah Lei Feng Liang, si Dewa Petir Kuno kedua, pengganti dari Lei Li-Liang yang mendapatkan hukuman.


Lei Li-Liang si Dewa Petir Kuno pertama, mendapatkan hukuman karena melakukan kesalahan besar dan sangat memalukan, di mana telah berselingkuh dengan istri kesayangan Maharaja Yaksa. Dan hukumannya adalah menjadi penjaga Gate Ancient Lightning, hingga saat ini.


"... Dengan penyamaranmu seperti sesaat yang lalu, mereka mungkin belum mengetahuinya. Itulah sejarah tempat ini." panjang lebar Dewi Shiwu bercerita, ia tahu Dewa Binatang tidak tahu apa-apa tentang Galaksi Petir.


Kembali ruang baca menjadi hening. Dewa Binatang penuh dengan pemikirannya, demikian juga dengan Dewi Shiwu.


"Sudah lama kita terpisah ... Apa rencanamu setelah kita bertemu?" kembali Dewa Binatang memecahkan keheningan dengan bertanya. Dia ingin mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh, dengan pergi dari tempat ini.


Dewi Shiwu menghela nafas panjang, seperti ada sesuatu yang membebani hidupnya.


"Aku sudah terbiasa sendiri dan hidup tertutup seperti ini. Awalnya, kupikir kamu tidak akan hidup kembali... Dan semenjak itu, aku menghapus semua perasaan ini, perasaan tentang apapun. Seandainya bisa keluar dari sini, aku juga bingung harus melakukan apa dan memulai dari mana!" ungkap Dewi Shiwu.


Dewa Binatang beranjak dari tempat duduknya, dan menghampiri Dewi Shiwu yang masih duduk, dia memeluknya dari belakang dengan penuh kasih sayang.


"Ikutlah denganku!" pinta Dewa Binatang dengan nada lembut.


Dewi Shiwu meneteskan air mata karena sudah lama tidak merasakan pelukan kekasihnya, dan ucapannya juga menenangkan hatinya. Ia sudah lama tidak menangis semenjak kematian kekasihnya waktu itu.


"Maaf, aku tidak bisa!" tolak Dewi Shiwu sambil melepaskan kedua tangan Dewa Binatang yang memeluk kepalanya.


Dewa Binatang terkejut, bukan karena penolakannya, melainkan benda tajam telah menusuk ulu hatinya. Dia segera menjauhi Dewi Shiwu sambil melihat pisau tertancap di tubuhnya. Segera dia menotok bagian tubuhnya agar tidak mengeluarkan darah.


Dewi Shiwu beranjak dari tempat duduknya dan melihat Dewa Binatang yang sedang menatapnya, tatapan tanpa amarah. Ada perasaan bersalah telah melukai kekasihnya ini.


"Kenapa kamu melakukan ini?" selidik Dewa Binatang sambil berusaha mencabut pisau di ulu hatinya, namun tidak semudah itu.


Dewa Binatang merasakan tubuhnya mati rasa karena pengaruh pisau ini, senjata yang mampu menyegel semua kemampuannya.


"Dikucilkan oleh keluarga adalah siksaan batin. Aku melakukan ini bukan karena untuk membelah mereka, melainkan untuk menebus kesalahanku, dan juga untuk membayar perbuatanmu yang menipuku waktu itu!" jawab Dewi Shiwu yang mengungkapkan alasannya.


Dewa Binatang tertawa keras sehingga menggetarkan ruang baca...

__ADS_1


__ADS_2