God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Ritual Pernikahan.


__ADS_3

Bab 43. Ritual Pernikahan.


Ada 10 orang Suku Pohon yang khusus membuat kediaman Kepala Suku, Mereka adalah orang yang ahli dalam membuat rumah pohon mewah, nyaman dan kuat.


Dewa Binatang bertanya kenapa tidak mendirikan rumah di permukaan tanah. Kepala Suku berkata, jika di mendirikan rumah di tanah akan lebih berbahaya karena banyak binatang mistik yang berkeliaran, selain itu berada di atas pohon memiliki banyak keuntungan.


Berada di atas pohon dengan mudah melihat ke bawah dan menjaga jalur udara dari seseorang seperti Dewa Binatang yang terbang. Dan, Suku Pohon telah terbiasa tinggal diketinggian.


Pohon yang akan menjadi kediaman Kepala Suku adalah pilihan, di mana ada pohon besar dengan diameter lingkaran batangnya mencapai 12 meter, dan ketinggiannya mencapai 90 meter lebih.


Tapi itu bukanlah pohon yang terbesar, ada pohon yang lebih besar dan menjadi tempat diadakannya acara pernikahan. Oleh Suku Pohon, pohon itu disebut Bapak Pohon, diameter keliling batang pohon mencapai 17 meter, tinggi mencapai 110 meter lebih, diameter mahkota pohon mencapai 40 meter.


Menurut catatan Suku Pohon, asal muasal lahirnya Ras Elves berasal dari Bapak Pohon, dan Suku Pohon adalah yang pertama dan melahirkan banyak suku, salah satunya adalah Suku Angin yang ahli dalam sihir.


Dewa Binatang melihat ke arah Bapak Pohon yang ditunjukkan oleh Kepala Suku, tempatnya tidak jauh dari Jurang Kebenaran, sekitar 500 meter lebih.


Kata Kepala Suku, Bapak Pohon merupakan tempat yang dikeramatkan oleh penghuni Mysterious Land, dan Suku Pohon yang ditugaskan untuk menjaga dan merawatnya.


Karena dikeramatkan, banyak kehidupan di Mysterious Land yang tidak berani mendekati Bapak Pohon, bahkan Demon Rabbit Mythical juga takut. Konon katanya, siapapun yang memiliki hati yang gelap, maka jiwanya akan terhisap ke dalam ranting-ranting Bapak Pohon. Dan itu bukan sekedar mitos, banyak binatang mistik yang tidak sengaja mendekati langsung mati dan mayatnya tidak ditemukan.


Melihat Bapak Pohon, Dewa Binatang tersenyum karena tahu jenis pohon apa itu. Pohon yang mampu menyerap jiwa, tidak lain adalah Pohon Pemangsa Jiwa. Siapapun orangnya yang memiliki niat buruk, sudah pasti jiwa dan tubuhnya menjadi santapannya.


Ketika Kepala Suku banyak menceritakan tentang kehidupan di Mysterious Land, Dao Li Nuwa dan Dao Li Chunhua datang. Mereka mengatakan persiapan untuk pernikahan telah siap dan acaranya sudah bisa dimulai.


Dao Li Nuwa mengajak Dewa Binatang di rumah sementara yang terbuat dari bahan ala kadarnya. Di dalam rumah tersebut, telah siap pakaian pengantin pria yang berwarna putih. Tanpa sungkan, Dao Li Nuwa melepaskan pakaian Dewa Binatang, lalu mengenakan pakaian pengantin.


Melihat Dao Li Nuwa yang sudah terbiasa melayani pria, Dewa Binatang bertanya, "apa kamu sudah memiliki pasangan?"


Dao Li Nuwa tertawa kecil sambil kedua tangannya sibuk mengenakan pakaian pengantin pria, lalu dia menjawab, "belum, dan aku masih perawan! Bagi Suku Pohon, pria dan wanita tidak ada bedanya. Dan, selama kamu pingsan, aku dan saudariku sudah sering melihat tubuhmu."

__ADS_1


Dewa Binatang tidak lagi bertanya kepada Dao Li Nuwa karena dia telah siap untuk menjalani ritual pernikahan. Dengan pakaian pengantin, Dao Li Nuwa mengagumi ketampanan Dewa Binatang.


Setelah itu, mereka berdua keluar dari rumah dan sudah banyak pria yang telah menunggu. Diantara banyak pria, ada juga tetua kedua dan ketiga, mereka berdua yang akan menjadi wali bagi Dewa Binatang.


Setelah berjalan sejauh 500 meter, di lokasi Bapak Pohon telah menunggu banyak wanita cantik, tua, muda dan anak-anak. Mereka juga mengangumi ketampanan Dewa Binatang yang memiliki tubuh tinggi dan kekar, lebih tinggi dari semua anggota Suku Pohon.


Kepala Suku melihat Dewa Binatang yang akan menjadi suaminya, di dalam hatinya ada rasa bangga dan sangat bahagia bisa bersanding dengannya. Dia tidak pernah bermimpi akan menjadi seorang istri bagi pihak luar yang dipilih oleh Cermin Kebenaran. Selama ini, dia selalu memikirkan rakyatnya yang hampir setiap hari mengalami banyak masalah yang ditimbulkan dari pihak luar.


Segera ritual pernikahan dimulai, dengan dipimpin oleh empat tetua Suku Pohon. Selama ritual, Dewa Binatang melakukan apa yang sudah diajarkan oleh Dao Li Chunhua.


Dao Li Xia (Kepala Suku) dan Dewa Binatang saling bergandengan tangan mengelilingi Bapak Pohon sebanyak tujuh putaran. Setiap kali berjalan semua orang menaburkan bunga.


Selama ritual pernikahan, akar-akar Bapak Pohon yang menjuntai ke bawah mengeluarkan cahaya, dan cahaya itu menyinari kedua mempelai.


Ketika cahaya dari akar Bapak Pohon menyinari Dewa Binatang, dia merasakan kekuatan jiwa mengalir ke dalam tubuhnya. Berhubungan kekuatan jiwanya telah mencapai tingkat tertinggi, energi tersebut tidak banyak berarti baginya.


Berbeda dengan Dao Li Xia, yang kekuatan jiwanya meningkat drastis. Wajahnya makin cantik karena dampak energi kekuatan jiwa.


Dewa Binatang sedikit kebingungan karena ucapan tetua pertama seperti berbicara kepada seseorang. Leluhur yang dimaksudkan oleh tetua pertama adalah Bapak Pohon.


Tiba-tiba, tubuh Dewa Binatang dan istrinya terlilit akar-akar Bapak Pohon, namun lilitannya tidak menyakiti mereka.


Disaksikan oleh banyak orang, akar-akar Bapak Pohon tersebut membentuk sebuah lingkaran yang berukuran besar, dan di dalamnya ada Dewa Binatang dan Kepala Suku. Dan, lingkaran tersebut menjadi tempat mereka berdua untuk memadu kasih, ranjang bercinta.


Lingkaran akar-akar pohon naik hingga berhenti di tengah batang Bapak Pohon. Kemudian, lingkaran tersebut tertutupi oleh dedaunan dan ranting pohon. Kini, tidak lagi terlihat oleh seluruh anggota Suku Pohon, tapi mereka tetap menunggu di sekitar Bapak Pohon.


"Coba tebak, berapa kali Kepala Suku akan mencapai puncak kenikmatan?" tanya salah satu wanita yang telah bersuami kepada tetangganya.


"Melihat perawakan suami Kepala Suku, aku perkirakan melebihi kaum pria di sini, paling banyak 3 sampai 4 kali!" tebakan tetangga itu.

__ADS_1


Tujuan semua orang menunggu hanya ingin mendengar suara indah seorang wanita yang mencapai puncak kenikmatan, hal ini sudah menjadi tradisi bagi Suku Pohon. Seseorang pria yang mampu membuat pasangan mencapai puncak kenikmatan lebih dari dua kali, maka pria tersebut dinyatakan perkasa.


Baru saja semua orang menebak-nebak tentang hal itu, mereka sudah mendengar suara indah Kepala Suku yang mencapai puncak kenikmatan untuk pertama kalinya, dan ini belum memakan kurang dari waktu 5 menit.


Semua wanita dan pria memuji kehebatan Dewa Binatang dalam memuaskan Kepala Suku. Mereka pikir Kepala Suku akan lebih lama mencapai puncak kenikmatan karena memiliki fisik dan kekuatan yang mumpuni.


Umumnya, wanita biasa lebih lama dari pria dalam hal mencapai puncak kenikmatan, paling cepat 15 menit, dan itu juga tergantung pasangan yang memahami si wanita.


Kurang dari dua menit berlalu, kembali Kepala Suku mengeluarkan suara lenguhan keras dan panjang karena mencapai puncak kenikmatan untuk kedua kalinya. Semua orang bertepuk tangan yang ditujukan untuk Dewa Binatang.


Baru saja berhenti bertepuk tangan, kembali suara merdu Kepala Suku terdengar lebih keras dari sebelumnya. Sampai akhirnya Kepala Suku tidak bersuara lagi ketika waktu 45 menit telah berlalu.


Dan terdengar suara Dewa Binatang yang berbicara kepada istrinya, dia akan mencapai puncak kenikmatan untuk pertama kalinya, "di dalam apa di luar?"


"Di... Dalam saja... Hmm... Aku ingin memiliki anak!" jawab Kepala Suku dengan nafas tersengal-sengal karena kelelahan telah mencapai puncak kenikmatan berkali-kali.


Dewa Binatang mencapai puncak kenikmatan, air surganya memenuhi rahim Kepala Suku. Lalu disusul Bapak Pohon yang mengeluarkan cahaya benderang, tanda keinginan Kepala Suku yang ingin memiliki anak terkabul.


Bapak Pohon yang bercahaya terlihat jelas hingga radius dua kilometer. Hal ini sudah biasa terjadi ketika ada acara pernikahan khusus bagi Suku Pohon.


Namun berbedanya, cahaya itu berlangsung lama, lebih dari 20 menit. Biasanya hanya berlangsung selama kurang dari 5 menit.


Tetua keempat segera mencatat kejadian ini untuk diteliti, kejadian yang tidak pernah terjadi di dalam sejarah bangsa Elves.


Setelah cahaya menghilang, dedaunan dan ranting pohon tidak lagi menutupi lingkaran. Kemudian, lingkaran tersebut turun dan disaksikan oleh banyak orang.


Lingkaran menyentuh tanah, lalu perlahan akar-akar pohon memudar. Lalu terlihat Dewa Binatang tersenyum sambil menggendong Kepala Suku yang tertidur karena kelelahan.


Tepuk tangan kembali terdengar menyambut dua mempelai yang telah selesai melakukan ritual pernikahan dan juga bulan madu. Dengan diiringi oleh banyak orang, Dewa Binatang menuju ke kediaman barunya.

__ADS_1


Dengan sekali lompatan, Dewa Binatang telah berdiri di rumah barunya yang dibangun di atas pohon. Lalu dia masuk ke dalam rumah dan membaringkan tubuh istrinya di ranjang kayu yang telah tersedia.


__ADS_2