
Bab 213. Dewa Alam si Kakek Excel.
Di sebuah desa, ada beberapa orang yang keluar untuk menambang batu giok untuk dijadikan tempat penyimpanan pil. Mereka menuju ke lokasi tempat Dewa Abadi terjatuh. Desa itu dikenal dengan sebutan Yujie (Giok yang indah) - Desa Yujie.
Mereka adalah keturunan tidak murni dari keluarga besar Yu. Desa Yujie dipimpin oleh seorang Kepala Desa, namanya Yujie Ping, dia adalah orang yang membangun Desa Yujie. Semua penduduk yang menetap menggunakan marga Yujie sebagai identitas.
Yujie Ping mendirikan desa yang jauh dari kota terdekat, kota yang masih masuk dalam wilayah Kerajaan Yu. Dia sangat membenci Raja Yu sebagai pemimpinnya karena tidak mengakuinya sebagai bagian dari keluarga besar Yu. Raja Yu adalah Dewa Surgawi.
Luasnya wilayah Alam Kudus telah dibagi menjadi lima bagian, bagian Barat dikuasai oleh Raja Yu si Dewa Surgawi. Bagian Timur dikuasai oleh Raja Zhi si Dewa Alam. Bagian Utara dikuasai oleh Raja Guan si Dewa Matahari. Bagian Selatan dikuasai oleh Raja Tian si Dewa Langit.
Dan, bagian tengah merupakan wilayah netral, Kuil Alam Kudus berada di bagian tengah. Di tempat ini menjadi tempat berkumpulnya para penguasa Alam Kudus, menjadi tempat segala transaksi apapun. Bisakah dikatakan sebagai pusatnya industri, perdagangan dan sebagainya.
Para penambang dari Desa Yujie menuju ke arah pegunungan, namanya Gunung Changyi. Tubuh mereka yang kekar dan berotot karena terbentuk dari pekerjaannya. Anehnya, mereka bisa saja terbang agar cepat tiba daripada harus berjalan kaki, padahal kekuatan mereka berada di tingkat Dewa Sejati.
Bukannya mereka tidak mampu terbang, tetapi medan gravitasinya yang terlalu besar. Semakin mereka ngotot untuk terbang, Medan gravitasi di Alam Kudus semakin besar pula. Dengan kata lain, di Alam Kudus memang tidak diperbolehkan untuk terbang.
Namun, aturan itu tidak berlaku bagi keluarga kerajaan, terutama bagi para penguasa. Asal kuat untuk melawan medan gravitasi Alam Kudus yang tercipta dari Formasi Alami.
Formasi Alami ini muncul setelah Bencana Petir Semesta, dan diciptakan oleh Dewa Pemelihara sebagai bentuk hukuman bagi seluruh penghuninya. Agar bisa keluar dari Alam Kudus, umumnya menggunakan Altar Dimensi.
Demikian juga dengan alat transportasi menuju satu tempat ke tempat lain, juga menggunakan altar dimensi. Selain itu, yang sering digunakan oleh penghuninya agar bisa dengan cepat menuju ke satu lokasi, biasanya menggunakan skill teleportasi.
Intinya, di Alam Kudus jika ingin terbang kekuatannya harus setara dengan Dewa Tertinggi. Untuk mencapai kekuatan setingkat Dewa Tertinggi, membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan dengan usianya setara dengan Alam Kudus saat ini, belum tentu mampu mencapai kekuatan tertinggi di alam semesta.
Para penambang itu terkejut melihat kawah yang baru tercipta. Mereka buru-buru mendekati bibir kawah dan melihat seorang pria muda yang telentang, dan pria itu adalah Dewa Abadi yang pingsan. Mereka segera menghampiri Dewa Abadi dan memeriksa kondisinya.
"Dia bukan asli penduduk Alam Kudus, apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu penambang kepada rekan-rekannya.
Kondisi Dewa Abadi baik-baik saja, tidak luka, bahkan pakaiannya tidak sedikitpun ada yang robek. Para penambang itu menduga, bahwa Dewa Abadi belum terbiasa dengan medan gravitasi di Alam Kudus, sehingga membuatnya jatuh dan pingsan saat baru melewati atmosfer. Kejadian ini sudah sering terjadi ketika seseorang tanpa sengaja memasuki atmosfer Alam Kudus.
Apa yang dimaksud oleh penambang itu, siapapun orangnya yang bukan asli penghuni Alam Kudus, dan sengaja maupun tidak disengaja masuk, maka harus segera melaporkan diri ke Kuil Alam Kudus. Masalahnya, biaya untuk melaporkan diri sangatlah mahal, jika tidak sanggup untuk membayarnya, maka harus mau kerja paksa selama 10 tahun.
Sedangkan para penambang dari Desa Yujie tidak memiliki biaya dan tidak mungkin mengantarkan Dewa Abadi untuk melaporkan ke Kuil Alam Kudus, dan banyak lagi kendalanya selain biaya.
Memang sungguh aneh dengan situasinya di Alam Kudus yang begitu kaya akan sumber daya alamnya, sampai membuat para penambang itu enggan untuk menolong Dewa Abadi.
"Anak muda ini baik-baik saja! Ayo, kita masih banyak kerjaan!" ucap Kepala Desa Yujie yang memeriksa Dewa Abadi. Mereka segera berdiri dan keluar dari dalam kawah menuju ke tambang.
__ADS_1
Setelah kepergian mereka, Dewa Abadi membuka matanya. Ia tersenyum tipis karena sudah bertemu dengan orang-orang yang tidak memiliki hati nurani. Sebenarnya, Dewa Abadi sudah lama siuman, tetapi enggan membuka matanya karena sedang beradaptasi dengan lingkungan baru, menyesuaikan fisik dengan medan gravitasi.
Dewa Abadi berkomunikasi dengan semua istrinya. Semua istrinya menyarankan untuk menemui Zhi Xiu Juan - ibu kandung. Menemui Zhi Xiu Juan merupakan langkah awal untuk mengetahui kebenaran tentang semua ini.
Dewa Abadi segera berdiri, ia menggerakkan seluruh tubuhnya untuk menyesuaikan diri dengan medan gravitasi di Alam Kudus. Setelah terbiasa, dia segera terbang, namun tekanan medan gravitasi semakin kuat.
Dia tidak sedikitpun terkejut maupun heran dengan situasi seperti ini, sudah terlalu sering mengalaminya. Dia segera berteleportasi menuju ke arah Timur, menuju ke wilayah Kerajaan Zhi.
Dia muncul di puncak pegunungan yang tidak diketahui namanya. Dewa Abadi berdiri di atas puncak pepohonan sambil melihat ke arah wilayah Kerajaan Zhi. Kehadirannya segera diketahui oleh banyak orang, termasuk keluarga besar Zhi yang menguasai wilayah Timur.
Berdatangan banyak orang yang terbang menunggangi Kuda Surgawi, Elang Emas dan Griffin. Dan, kekuatan mereka rata-rata di atas tingkat Half Super Omega. Walaupun mereka kuat, tidak sedikitpun membuat ciut nyali Dewa Abadi.
"Apakah Anda adalah Dewa Binatang?" tanya seorang pria tua menunggangi binatang Elang Emas, dia adalah Jenderal Elang - Dewa Elang.
"Benar, saya putra dari Zhi Xiu Juan. Apakah ibuku baik-baik saja?" jawab Dewa Abadi dan balik bertanya.
"Naiklah ke punggung Kuda Surgawi ini. Pertanyaan Anda ini akan dijawab oleh Yang Mulia Raja Zhi Haocun, kakek Anda," kata Dewa Elang.
Dewa Abadi segera naik ke punggung Kuda Surgawi yang telah dipersiapkan untuknya. Mereka segera menuju ke Istana Zhi di Kerajaan Zhi. Melihat raut-raut wajah mereka yang tegang, Dewa Abadi menduga jika situasi saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Apakah ada sesuatu yang buruk terjadi?" selidik Dewa Abadi.
Dewa Elang enggan membicarakan kebenaran kepada Dewa Abadi, sebab bukan wewenangnya untuk berbicara. Dewa Abadi tidak lagi bertanya maupun berucap sepatah kata lagi, dia melihat orang-orang yang berada di bawahnya tampak membencinya, tatapan sinis dan tajam saat melihatnya.
Dewa Abadi segera membaca ingatan salah satu penduduk yang tua. Setelah mengetahui permasalahan kenapa banyak orang yang membencinya, ternyata mereka masih mengingat kejadian masa lalu, kejadian Bencana Petir Semesta yang disebabkan Tian Bo si Dewa Langit.
Dewa Abadi tersenyum sambil geleng-geleng kepala karena dirinya terkena imbasnya. Banyak orang yang membenci Tian Bo dan seluruh keluarga besar Tian.
Binatang tunggangan itu mendarat di halaman Istana Zhi yang sangat megah. Bersamaan dengan Dewa Elang, Dewa Abadi masuk ke dalam istana Kerajaan Zhi. Saat berada di dalam, suasana tampak sepi, tidak ada aktivitas para pejabat istana, hanya ada beberapa pelayan istana dan kasim.
Dewa Elang mengajak Dewa Abadi menuju ke ruang renungan, tempat pribadi milik Dewa Alam si Raja Zhi Haocun. Setelah berada di depan pintu ruang renungan.
"Yang Mulia, Cucu Anda sudah datang!" ucap Dewa Elang.
Pintu ruang renungan segera terbuka. Dewa Abadi tersenyum melihat kakeknya (Kakek Excel) yang wajahnya lebih tua, lebih tua saat pertama kali pertemuan waktu itu.
"Cucuku!" sapaan Dewa Alam sambil memeluk Dewa Abadi yang disambut dengan pelukan hangat.
__ADS_1
Dewa Elang terharu melihat cucu dan kakek yang telah lama berpisah, ia membungkukkan badan dan meninggalkan mereka. Dewa Alam mengajak Dewa Abadi cucunya masuk ke dalam ruang renungan, tempat favoritnya.
Setelah berada di dalam dan duduk, Dewa Alam segera membuka pembicaraan.
"Kakekmu tahu kamu memiliki banyak pernyataan. Sebelum Kakek menjawab dan mengungkapkan kebenaran, Kakek ingin bertanya satu hal kepadamu. Maukah kamu menjadi pengganti Kakekmu menjadi raja wilayah Kerajaan Zhi?"
Dewa Abadi mengerutkan keningnya karena pertanyaan ini tak terduga.
"Kakek, bukannya saya tidak mau, melainkan enggan memikirkan urusan pemerintahan. Kakek pasti sudah tahu Dunia Jiwa pemberi Anda, bukan? Saya menjadi kaisar di Dunia Jiwa, dan lelah dengan semua ini!" ungkap Dewa Abadi yang secara halus menolak keinginan kakeknya.
Dewa Alam tersenyum dan tidak terlihat kecewa dengan penolakan ini. Lalu dia berkata, "Kakek sudah menebaknya! Tujuanmu kembali ke Alam Kudus karena perbuatan ayahmu, kan?"
Dewa Abadi mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, Dewa Alam kembali berbicara.
"Ayahmu yang mengejutkan kita semua, kekuatannya meningkat pesat semenjak bersekutu dengan Dewa Perusak, berada di tingkat Creator Of The Universe level 5. Apakah kamu mampu menghadapinya?"
Dewa Abadi jelas terkejut mendengarnya. Dengan kekuatan di tingkat itu, jelas dia tidak mungkin mengalahkan ayahnya, sebab terpaut sangat jauh, tiga tingkat.
Seperti yang sudah diketahui oleh siapapun, semakin tinggi kekuatan seorang lawan, akan semakin sulit untuk dikalahkan walaupun harus menggunakan segala cara, seperti memaksimalkan kekuatan tempur yang memiliki batasan peringkat.
Seandainya Dewa Abadi bertarung dengan Dewa Langit ayahnya, dia belum tentu mampu mengalahkannya walaupun menggunakan Kekuatan Jiwa Semesta. Dan, Kekuatan Jiwa Semesta merupakan penyatuan dari kekuatan tempur, Cincin Roh Dewa dan Artefak Alami. Kekuatannya ini hanya mampu mengalahkan lawan yang lebih kuat 9 level.
Seandainya Dewa Abadi tidak diberikan kekuatan oleh gurunya hingga mencapai tingkat The Realm Of Eternal Darkness, dia tidak akan mungkin segera mendapatkan kekuatan baru (Kekuatan Jiwa Semesta).
Tujuan lain gurunya memberikan hadiah kekuatan kepada Dewa Abadi, agar muridnya ini tidak terlalu lama meningkatkan kekuatan, sebab musuh utamanya bukanlah Dewa Langit, melainkan Dewa Perusak. Dan, Dewa Abadi jelas tidak tahu tujuan dari gurunya.
"Dengan kamu menjadi raja, Kakek bisa membantumu agar bisa berlatih di Galaksi Pengadilan Jagat Raya. Ini adalah syarat mutlak jika kamu ingin membalas perbuatannya!" ungkap Dewa Alam yang telah merencanakan masa depan cucunya ini jauh hari sebelum kembali ke Alam Kudus.
"Berlatih di Pagoda Berlian?" tebakan Dewa Abadi.
"Benar! Jadilah raja agar Kakek bisa membantumu!" jawab Dewa Alam dan tampak berharap cucunya mau menggantikan dirinya sebagai penguasa Kerajaan Zhi.
Dewa Abadi tidak segera menjawab keinginan kakeknya, dia sedang merenung. Sebenarnya, dia bisa saja pergi ke Galaksi Pengadilan Jagat Raya karena adanya Chen Yeon dan Hu Yue Yan. Yang menjadi pertanyaan besar dihatinya, apa tujuan dari kakeknya ini yang sebenarnya, yang masih belum diketahuinya.
"Di mana ibuku?" tanya Dewa Abadi yang sengaja mengalihkan pembicaraan karena butuh pertimbangan, dan juga perlu berdiskusi dengan istrinya.
Dewa Alam menghela nafas berat saat ditanya soal putrinya, ibu dari cucunya ini. Melihat ekspresi wajah kakeknya, Dewa Abadi menduga pasti terjadi sesuatu yang buruk dialami oleh ibunya...
__ADS_1
Bersambung.