
Bab 160. Pertarungan Dewa Binatang dan Bai Ze (2).
Dewa Binatang segera mengendalikan bola-bola energi kunang-kunang agar menghancurkan lubang altar Dewa Sihir. Tetapi, Bai Ze tidak mengizinkan dengan segera menghentakkan kaki kirinya.
"Dengan tubuhmu yang besar, bukan berarti kau sangat kuat!" ucap Dewa Binatang, dia segera terbang menghindari injakan kaki dari Bai Ze, dan bola-bola energi kunang-kunang mengikutinya.
Boom boom boom boom...
Rentetan ledakan energi kunang-kunang ketika mengenai kepala Bai Ze. Terkena serangan itu, Bai Ze terhuyung-huyung ke belakang sehingga kaki kanannya menginjak altar Dewa Sihir. Gerakan Bai Ze menggetarkan tanah di seluruh Samudera Hitam, dampaknya peperangan terhenti sejenak dan kembali bertarung.
Raksasa yang keluar dari dalam altar, seketika tubuhnya terinjak, dan jelas tubuh mereka menjadi remuk seperti kerupuk. Setelah itu, lubang altar Dewa Sihir tertutup.
Dewa Binatang tidak memberikan kesempatan bagi Bai Ze, dia terbang memutari tubuh Bai Ze sambil terus mengeluarkan bola-bola energi kunang-kunang.
Bai Ze yang kepalanya menjadi sasaran serangan, selalu terhuyung-huyung tak beraturan. Keempat tangannya tidak henti-hentinya terayun dengan tujuan untuk menyerang Dewa Binatang. Sayangnya, tidak ada satupun pukulan Bai Ze mengenainya.
Karena diserang terus-menerus, membuat Bai Ze keluar dari lingkaran sinar. Kaki Bai Ze tanpa sengaja menginjak-injak raksasa penunggang Banteng, seketika itu tubuh raksasa remuk.
Tangan kanan Dewa Binatang bercahaya kekuningan karena terselimuti Kekuatan Jiwa, dan melesat untuk memukul kepala Bai Ze.
Boom...
Ledakan hebat ketika dahi Bai Ze terkena pukulan Dewa Binatang. Bai Ze sampai ambruk ke belakang. Semua pasukan dan para Dewa, segera mundur sebelum tertimpa tubuh Bai Ze yang sangat besar.
Boom...
Tubuh Bai Ze menghantam tanah dan menimpa para raksasa penunggang Banteng. Peperangan pun terhenti ketika Bai Ze tumbang. Semua mata memandang Bai Ze setelah debu pasir menghilang.
Seketika pasukan di pihak Dewa bersorak-sorai karena Bai Ze dikalahkan, demikian juga dengan pasukan Kekaisaran Dewa Binatang.
Melihat Bai Ze dikalahkan, para raksasa menjadi sangat marah, lalu menyerang musuhnya. Semua pasukan para Dewa segera berhenti bersorak-sorai, dan kembali bertempur.
Chen Yeon, Hu Yue Yan, Yuna Aurora, Pang Shui melihat Dewa Binatang lebih serius dari sebelumnya. Melihat keseriusannya, mereka menduga jika Bai Ze belum dikalahkan.
Tiba-tiba, tubuh Bai Ze mengeluarkan cahaya benderang. Kemudian, raksasa penunggang Banteng terhisap ke dalam pori-pori tubuhnya. Melihat itu dan akan menjadi sesuatu yang buruk, Dewa Binatang melepaskan pukulan berenergi tinggi ke arah Bai Ze.
Chen Yeon, Hu Yue Yan, Yuna Aurora, Pang Shui dan para Dewa juga tidak tinggal diam, mereka terbang dan sejajar dengan Dewa Binatang, lalu melepaskan pukulan berenergi tinggi ke arah Bai Ze.
Semua pasukan yang tidak lagi melawan para raksasa penunggang Banteng, juga ikut menyerang Bai Ze. Suara ledakan energi dari serangan gabungan, sampai menggetarkan Benua Peliades.
Sedangkan para raksasa penunggang Banteng yang terhisap, tidak sedikitpun berontak, justru tertawa keras seakan-akan hal inilah yang telah ditunggu-tunggu.
Namun, semua Dewa terkejut bukan main melihat Bai Ze tidak sedikitpun terluka karena cahaya yang keluar dari tubuhnya memblokir semua serangan.
"Serang semua raksasa penunggang Banteng!" perintah Chen Yeon dengan suara yang keras.
__ADS_1
Dewa Binatang dan semua orang segera membantai para raksasa yang akan terhisap ke dalam tubuh Bai Ze. Di medan perang Samudera Hitam, suara ledakan energi terjadi di mana-mana. Tidak ada satupun prajurit dan binatang yang setengah-setengah mengeluarkan kekuatannya.
Yang lagi-lagi mengejutkan semua orang, ketika raksasa penunggang Banteng tewas dan mengeluarkan Kristal Energi, Kristal Energi itu dihisap oleh pori-pori tubuh Bai Ze. Mengetahui itu, segera semua pasukan mengambil Kristal Energi. Namun, ketika Kristal Energi terpegang, langsung berubah menjadi kabut hitam yang langsung memasuki tubuh Bai Ze.
"Berhenti, jangan serang lagi! Segera rapatkan barisan untuk bersiap-siap menghadapi yang terburuk!" perintah Dewa Binatang.
Segera semua Dewa dan pasukan berhenti menyerang para raksasa penunggang Banteng. Sebelum merapatkan barisan...
Boom...
Letupan energi keluar dari tubuh Bai Ze sehingga menghempaskan semua pasukan dan para Dewa, tidak terkecuali Dewa Binatang, Chen Yeon dan yang lainnya ikut terhempas. Sudah tak terhitung banyaknya pasukan yang kekuatannya rendah seketika meregang nyawa.
Dewa Binatang segera bangkit dan melihat kedua istrinya, dia bernafas lega karena Yuna Aurora dan Pang Shui baik-baik saja. Namun, melihat pasukannya banyak yang tewas, hatinya terasa sakit, jelas dia sangat marah.
"Hahaha...!!"
Suara tawa Bai Ze yang sangat keras. Semua orang tercengang melihat Bai Ze berubah menjadi kecil, setinggi 175 cm, tetapi wujudnya sebagai humanoid tetap sama. Seluruh tubuhnya mengeluarkan serat-serat listrik.
Yang lebih mengejutkan semua Dewa, aura kekuatannya yang melebihi Chen Yeon, bahkan jauh lebih kuat. Yuna Aurora, Pang Shui segera mendekat suaminya, lalu disusul oleh sahabatnya.
Setelah Bai Ze berhenti tertawa, dia melihat semua musuh dengan tatapan sinis, lalu matanya mengunci Dewa Binatang. Setelah itu, dia menatap Chen Yeon dan Hu Yue Yan.
"Pasukan kita mati sia-sia!" ucap Yuna Aurora dengan kesedihan saat melihat pasukan Kekaisaran Dewa Binatang banyak tewas.
"Kematian mereka tidak sia-sia dengan kita mengalahkan Bai Ze!" sahut Dewa Binatang yang matanya tertuju kepada Bai Ze.
Boom boom...
Ketiga Dewa itu menghujani tubuh Bai Ze dengan pukulan berenergi tinggi. Namun, justru membuat Bai Ze semakin tertawa keras karena serangan mereka tidak sedikitpun dirasakan.
Karena serangan jarak jauh tidak berpengaruh terhadap lawan, ketiga Dewa itu menyerang Bai Ze dengan kekuatan fisiknya dan senjata andalannya. Sekali lagi, serangan mereka tidak berarti apa-apa dan membuat Bai Ze terus tertawa.
Ketika Dewa Petarung menghunuskan senjatanya, Bai Ze dengan cepat mengayunkan tangan kanannya yang memegang gada. Karena gerakan Bai Ze sangat cepat, akibatnya...
Boom...
Seketika kepala Dewa Petarung meledak karena terkena senjata gada. Melihat temannya tewas di depan mata, Dewa Petarung dan Dewa Pemusnah sangat marah, mereka segera menyerang Bai Ze.
Taois Xian, Taois Chen, dan Taois Lim segera menyerang Bai Ze. Mereka sangat murka melihat muridnya tewas. Namun, sebelum mereka mendekati Bai Ze, nasib Dewa Penghancur dan Dewa Pemusnah tidak jauh beda dengan Dewa Petarung.
Boom boom...
Dengan mudahnya Bai Ze menghancurkan kepala kedua Dewa itu. Lalu dia melesat ke arah tiga Taois sebelum mendekatinya. Kecepatan sangat cepat sehingga ketiga Taois itu mengalami nasib yang sama seperti muridnya.
Dewa Binatang, Chen Yeon, Hu Yue Yan dan semua Dewa tercengang karena kecepatan gerak Bai Ze sulit diikuti oleh mata. Membunuh setingkat Divine Realm semudah menjentikkan jari, sungguh diluar dugaan. Semua orang yang melihatnya kehebatan Bai Ze, jelas ketakutan.
__ADS_1
"Terlalu lemah!" ejekan Bai Ze, lalu membersihkan senjata gada yang berlumuran darah dengan lidahnya.
Chen Yeon dan Hu Yue Yan saling mengangguk, lalu mengeluarkan senjata andalan dan melesat ke arah Bai Ze. Melihat lawan yang lebih kuat menyerang, Bai Ze tidak sedikitpun takut.
Boom boom boom...
Suara ledakan energi ketika senjata saling berbenturan. Chen Yeon dan Hu Yue Yan terhempas ke belakang sejauh ratusan meter. Namun sebelum mereka berdua kembali menyerang, Bai Ze terlebih dahulu bergerak, tetapi bergerak ke arah balatentara Langit dan Asyura.
Boom...
Bai Ze menghentakkan kaki kanannya ke tanah, sehingga memicu gelombang kejut energi yang menewaskan ratusan prajurit. Tidak berhenti di situ, dia segera menyerang siapapun yang terdekat.
Kaisar Langit, Maharaja Yaksa dan semua Dewa tidak tinggal diam, walaupun tahu perbedaan kekuatan, mereka tidak ingin Bai Ze membantai pasukannya. Chen Yeon dan Hu Yue Yan segera menyerang Bai Ze.
"Suami!" teguran Yuna Aurora karena Dewa Binatang diam saja melihat Bai Ze.
Sebelum Dewa Binatang menjawab, "Tian Lihua akhirnya angkat bicara setelah sekian lama terdiam, "keluarkan kami semua!"
"Tidak! Jika aku mengeluarkan semua pasukanku, sama saja mengantarkan nyawa!" tolak Dewa Binatang.
Setingkat Holy Light Realm, tidak mampu mengalahkan Bai Ze, apalagi pasukannya yang berada di bawah tingkat Half Super Omega, sama saja semut melawan raksasa. Ini baru Bai Ze, belum yang lainnya.
Jika semua pasukan Kekaisaran Dewa Binatang dikerahkan, lalu siap yang akan menghadapi pasukan dari 11 mahkluk rasi bintang? Oleh karena itu, dengan tegas Dewa Binatang menolaknya.
"Bukan pasukanmu, tetapi kita, istrimu!" jelas Tian Lihua.
Sebelum Dewa Binatang menjawab, Qin Diao Chin ikut berbicara, "kita berkultivasi untuk menghadapi situasi seperti ini. Kami wanita, bukan sekedar istri untuk menyenangkan hatimu!"
Satu per satu semua istrinya ikut berbicara agar Dewa Binatang mengizinkan untuk ikut bertarung melawan Bai Ze. Dewa Binatang menarik napas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan untuk menenangkan hatinya.
Dia melihat Bai Ze membunuh banyak Dewa, dan tak terhitung jumlahnya balatentara meregang nyawa. Maharaja Yaksa terluka parah setelah dadanya terhantam gada.
Banyak pendukung Maharaja Yaksa yang telah meregang nyawa, seperti Dewa Gairah, Dewa Nafsu, Dewa Kerakusan, Dewa Amarah dan masih banyak lagi yang mati di tangan Bai Ze.
Demikian juga dengan Kaisar Langit, Pagoda Emas miliknya hancur berkeping-keping hanya dengan sekali pukulan dari Bai Ze. Kaisar Langit juga terluka parah. Pendukungnya juga banyak yang tewas di tangan Bai Ze, Dewa Kebijaksanaan mati setelah kepalanya dihantam gada, tubuh Dewa Ilusi dengan mudah dibelah dua.
Melihat para Dewa tewas satu per satu dengan mudah dan cepat, jelas Dewa Binatang tidak menginginkan istrinya seperti mereka.
"Suami, apa kamu lupa bahwa kita memiliki cincin penyelamatan jiwa? Kamu juga telah memberikan kita perlengkapan perang yang sangat hebat, apakah kamu masih khawatir?" Tian She Meili akhirnya ikut berbicara, ia mengingatkan apa saja yang telah diberikan.
"Baiklah jika ini kemauan kalian!" jawab Dewa Binatang yang akhirnya mengizinkan semua istrinya ikut bertarung.
Lalu dia melambaikan tangan kanannya. Semua istrinya keluar dari dalam Dunia Jiwanya, termasuk pasukan wanita yang jumlahnya mencapai lebih dari dua juta jiwa. Semua istrinya telah mengenakan zirah perang bersayap.
Melihat semua saudarinya keluar, Yuna Aurora dan Pang Shui segera mengaktifkan zirah perang bersayap. Lalu bergabung dengan Tian Lihua dan yang lainnya.
__ADS_1
Merasakan aura kuat, Bai Ze segera terbang ke langit, lalu melihat Dewa Binatang berdiri di depan pasukan wanita. Empat senjatanya yang berlumuran darah, dia menggunakan lidah untuk membersihkan senjatanya.
Chen Yeon dan Hu Yue Yan yang wajahnya pucat, mereka sedikit lega karena tindakan Dewa Binatang. Mereka segera bergabung dengan Dewa Binatang, lalu disusul dengan pendukungnya yang berbaris di belakang pasukan wanita.