God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Ratu Gongsun Ling.


__ADS_3

Bab 183. Ratu Gongsun Ling.


Suara ledakan energi yang membunuh cacing mutan menarik perhatian beberapa orang yang sedang berburu Binatang Roh. Sebelum bergerak ke arah sumber suara ledakan, mereka melihat seseorang yang tidak dikenali terbang ke arah Kerajaan Timur.


Mereka jelas terkejut karena melihat orang itu terbang setinggi 1.000 meter dari atas permukaan pepohonan. Sepengatahuan mereka, orang yang bisa terbang jika memiliki Cincin Roh warna merah dengan usia 200 ribu tahun, dan jenis Binatang Roh yang diburu adalah burung. Itupun tidak setinggi itu, memiliki keterbatasan waktu guna, dan tidak secepat orang yang terbang itu.


Dan yang mengejutkan lagi, orang yang terbang itu tidak mengeluarkan Cincin Roh sebagaimana mestinya. Orang yang memiliki kekuatan Cincin Roh, bisa terbang jika diaktifkan.


Mereka juga ketakutan karena merasakan niat membunuh dari orang terbang itu. Tubuh mereka mengigil dan berlutut karena tidak mampu menahan aura niat membunuh.


Dan, orang yang terbang itu adalah Dewa Abadi, dia bisa terbang karena memiliki energi Kekuatan Jiwa. Dewa Abadi sangat marah karena dipermainkan oleh musuhnya.


Sesuai dengan perkataannya, dia akan meluapkan segala emosinya yang terpendam selama ini, memporak-porandakan seluruh alam semesta.


Ketika dekat dengan Kota An Mang, dia mengayunkan Pedang Semesta berkali-kali. Rentetan ledakan menghancurkan kota itu. Semua orang yang berada di sana jelas panik, terkejut, dan pastinya ketakutan.


Banyak orang yang selamat dari serangan melihat Dewa Abadi, syok terpampang di wajah mereka. Pemimpin Kota An Mang dan balatentara segera bereaksi, namun mereka ketakutan karena musuh bisa terbang.


Boom boom boom boom...


Ledakan keras ketika Dewa Abadi mengayunkan pedangnya berkali-kali. Seluruh bangunan hancur berkeping-keping, dan sudah banyak orang yang meregang nyawa. Pemimpin Kota An Mang tidak luput dari kematian setelah terkena serangannya.


Melihat Kota An Mang telah hancur, tidak sedikitpun menyurutkan amarahnya, Dewa Abadi melesat ke arah kota lain yang terdekat. Seperti sebelumnya, dia menghancurkan setiap kota dalam waktu singkat, dia tidak peduli dengan tangisan anak kecil, teriak kesakitan orang tua, dan masih banyak suara-suara memilukan.


Setelah menghancurkan tiga kota, Dewa Abadi bergegas menuju ke Perguruan Roh Api. Kedatangannya membuat perhatian banyak murid, guru dan pengunjung.


Terbang tanpa menggunakan Cincin Roh, membuat mereka keheranan. Namun, mereka menjadi ketakutan manakala Dewa Abadi mengayunkan pedangnya.


Kekacauan yang dibuat oleh Dewa Abadi membuat pemimpin perguruan murka, dia segera mengeluarkan lima Cincin Roh yang berbeda warna. Cincin Roh itu muncul di belakang pemimpin perguruan, dia juga bisa terbang seperti Dewa Abadi.


Namun, sebelum pemimpin Perguruan Roh Api berbicara, Dewa Abadi segera menghilang dan muncul di depannya. Seketika, pemimpin perguruan itu terpenggal lehernya tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menghindar.


Tewasnya pemimpin perguruan, membuat murid dan guru serempak menyerang Dewa Abadi dari bawah. Sayangnya, sebelum mereka mengeluarkan kekuatannya, Dewa Abadi lebih cepat mengayunkan pedangnya.


Dalam waktu singkat, Perguruan Roh menjadi reruntuhan, banyak mayat yang bergelimpangan di setiap jalan. Kemudian, Dewa Abadi masih terus bergerak ke arah sasaran lainnya...

__ADS_1


Tiga hari berlalu.


Hancurnya banyak kota kecil dan besar di wilayah Kerajaan Timur, dengan cepat didengar oleh para pahlawan dan keempat ratu. Mengetahui jika orang yang ditunggu-tunggu telah muncul, mereka bersiap untuk menghadapinya.


Ratu Gongsun Ling yang menguasai wilayah Kerajaan Timur sudah bersiap menghadapi Dewa Abadi, ia bersama tiga pahlawan dan ribuan tentara berada di dalam satu tempat. Mereka melihat sinar besar melesat ke arahnya.


"Kejahatan telah datang! Biarkan aku yang menguji kekuatannya!" pinta salah satu dari tiga pahlawan, dia bernama Albert.


Di belakang punggung Albert, muncul Cincin Roh berwarna hitam dengan usia Binatang Roh mencapai lebih dari 400 ribu tahun. Selain Cincin Roh Hitam, dia juga memiliki enam Cincin Roh dengan berbeda warna; putih, kuning, hijau, biru, ungu, dan merah.


Albert mendapatkan Cincin Roh yang berbeda-beda berdasarkan kemampuan yang dimulai dari awal berkultivasi. Semua pahlawan juga memilikinya karena adanya Sistem Kultivasi yang selalu membimbing mereka.


Ratu Gongsun Ling duduk di kursi singgasana sambil melihat kedatangan Dewa Abadi, ia mengangguk malas sebagai bentuk jawab. Albert segera terbang ke arah Dewa Abadi.


Dengan gagah berani dan mengeluarkan aura kekuatan tingkat Holy Emperor level 8, dia tidak sedikitpun takut kepada lawannya. Senjata tombaknya dipegang dengan erat.


"Segala bentuk kejahatan, pas--"


Albert berhenti berbicara karena Dewa Abadi tiba-tiba sudah berada di depannya. Sebelum dia bereaksi, sinar bilah pedang melesat sangat cepat ke arahnya. Notifikasi dari Sistem Kultivasi terlambat keluar untuk memberitahukan adanya marabahaya...


Suara ledakan energi ketika tubuh Albert hancur berkeping-keping setelah terkena serangan Dewa Abadi. Segera Sistem Kultivasi memberikan peringatan bahaya kepada dua pahlawan yang syok melihat kecepatan musuhnya. Ratu Gongsun Ling segera berdiri karena terkejut melihat kehebatan Dewa Abadi.


Dewa Abadi dan semua orang yang berada di dalam Dunia Jiwanya juga tercengang melihat sosok wanita yang dikenalnya, wanita itu tidak lain adalah Ratu Gongsun Ling.


"Ling'er...! Jadi kamu orang yang menjadi musuhku? Bukan kah kamu bersama dengan ibuku, kenapa berada di sini?" tanya Dewa Abadi kepada Ratu Gongsun Ling, dia tidak menyangka istrinya ini menjadi musuhnya.


Gongsun Ling adalah istri dari Dewa Binatang, mereka bertemu sewaktu di Planet Asal Muasal. Orang tuanya membawa istrinya ini dengan alasan untuk dilatih. Namun, dari semua istrinya yang telah bersatu, ada beberapa istrinya yang belum berkumpul bersamanya, salah satunya adalah Gongsun Ling.


Ratu Gongsun Ling mengerutkan keningnya karena tidak mengenal Dewa Abadi. Namun, saat namanya dipanggil, ada perasaan yang familiar, entah berasal dari mana.


"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu. Tugasku sebagai seorang Ratu adalah melindungi rakyat, dan banyak rakyatku yang telah kau bunuh. Kejahatanmu tidak bisa diampuni!?" kemarahan Ratu Gongsun Ling atas tindakan Dewa Abadi dalam beberapa hari ini.


Dewa Abadi memejamkan mata karena tahu istrinya ini dengan sengaja dihilangkan ingatannya, dia menduga jika pelakunya adalah Dewa Langit ayah kandungnya.


Pantas saja tulisan di prasasti logam mengatakan jika musuhnya adalah wanita cantik dan cerdas. Dia tidak sedikitpun menyangka bahwa orang yang harus dibunuh adalah istrinya.

__ADS_1


"Tian Boooo....?!" teriakan Dewa Abadi yang kemarahan berada di puncak, dia memanggil ayah kandungnya sebagai bentuk kebencian.


Boom boom boom boom...


Rentetan ledakan energi ketika Dewa Abadi mengeluarkan aura kekuatannya yang berada di tingkat The Realm Of Eternal Darkness. Dampak luapan aura kekuatannya membuat porak-poranda Ibu Kota Kerajaan Timur. Dua pahlawan terpental ke belakang, mereka seketika tewas tanpa bisa diselamatkan oleh Sistem Kultivasi.


Demikian juga dengan pasukan Kerajaan Timur yang juga seketika tewas, bangunan di Ibu Kota hancur berkeping-keping. Ratu Gongsun Ling juga terpental ke belakang dan terseret sejauh ribuan meter.


Dunia Roh bergetar hebat karena kemarahan Dewa Abadi, banyak orang meregang nyawa karena tidak mampu menahan aura kekuatan. Tetapi, banyak orang yang memiliki Cincin Roh masih mampu bertahan hidup.


Dan itu baru auranya saja, dan belum energi kekuatan The Realm Of Eternal Darkness yang mampu menghancurkan Dunia Roh menjadi debu. Walaupun kemampuan Dewa Abadi dibatasi oleh Formasi Alami, bukan berarti aura kekuatan juga dibatasi, dia masih bisa mengeluarkan auranya.


Tidak ada kata yang bisa mendeskripsikan kemarahan Dewa Abadi. Kemarahan yang belum pernah terjadi selama hidupnya. Di dalam Dunia Jiwanya, Yuna Aurora mengeluarkan elemen cahaya untuk menenangkan kemarahan suaminya.


Cahaya itu sampai keluar dari tubuh Dewa Abadi yang menyilaukan mata. Di kejauhan, cahaya itu seperti matahari.


Ratu Gongsun Ling ternyata masih hidup, tetapi kondisi mengenaskan, hampir seluruh tubuhnya terluka parah, ia memuntahkan darah segar sambil menyempitkan matanya saat melihat Dewa Abadi. Dia tidak menyangka ada seseorang yang memiliki kekuatan diluar nalarnya.


"Mengerikan!" batin Ratu Gongsun Ling sambil berusaha keras untuk berdiri, namun dia tidak mampu karena hampir seluruh tulangnya patah. Secara perlahan, kedua matanya menutup.


Ketika matanya terpejam, Gongsun Ling merasa sedang bermimpi. Di dalam mimpinya, ia bertemu dengan seseorang yang membuatnya jatuh cinta, yang tidak lain adalah Dewa Abadi si Dewa Binatang. Wajahnya tampan, enerjik dan senang bercanda. Awal pertemuannya diwarnai dengan lika-liku perjalanan cinta...


Karena Yuna Aurora si Dewi Cahaya bertindak untuk menenangkan kemarahan suaminya, Dewa Abadi sedikit tenang hatinya. Kemudian, dia melihat sekitarnya yang sudah menjadi reruntuhan, tak terhitung jumlahnya korban yang meregang nyawa.


Kemudian, Dewa Abadi mencari keberadaan Ratu Gongsun Ling. Dia diam membeku melihat istrinya yang terbaring tanpa bergerak sedikitpun. Dewa Abadi muncul di sampingnya dan memeluk erat tubuh istrinya.


"Ling'er...!!" Dewa Abadi memanggil nama kesayangan istrinya.


Semua orang yang berada di dalam Dunia Jiwanya meneteskan air mata karena merasakan kesedihan suaminya.


"Dia masih hidup, cepat bawa masuk!" perintah Tian Lihua.


Dewa Abadi segera memasukkan Gongsun Ling ke dalam Dunia Jiwanya. Yuna Aurora dan semua saudarinya segera memberikan pertolongan pertama kepada Gongsun Ling.


Dia memejamkan mata sambil duduk bersila, dia melihat istrinya yang hampir tewas di tangan sendiri...

__ADS_1


__ADS_2