God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Dewa Perusak.


__ADS_3

Bab 252. Awal Dewa Perusak Memiliki Pasukan Omniverse.


Setelah fenomena yang tidak pernah terjadi di Tiga Alam, tiga Kepala Suku mengirim beberapa orang untuk memulai menginvestigasi di Pegunungan Hehua, tempat semua fenomena ini terjadi. Saat ini, pusat kejadian itu telah menjadi daratan.


Di saat tiba di bekas Pegunungan Hehua, semua penyelidik dikejutkan karena adanya dinding energi yang tidak bisa dilewati. Padahal sebelumnya tidak ada penghalang. Walaupun adanya penghalang, semua penyidik tetap melakukan tugasnya.


Semua orang belum menyadari bahwa meledaknya satelit Planet Tiga Alam ternyata mempengaruhi sembilan matahari, yang mana suhu panasnya semakin meningkat. Anehnya, suhu panas dari sembilan matahari terfokus pada lokasi munculnya lubang hitam.


Perlahan, panas sembilan matahari itu mendistorsi bekas lubang hitam itu. Jika ada penghuni Tiga Alam yang melihat pusat titik panas, mereka akan melihat lubang berbentuk segitiga yang perlahan membesar.


Kejadian di malam hari saat gerhana bulan, menjadi topik panas bagi penghuni di Tiga Alam, dan bermunculan asumsi liar dipikiran banyak orang dari kalangan bawah hingga atas.


Asumsi liar yang menjadi perdebatan sengit dan bahkan pertengkaran. Perdebatan itu dikarenakan Artefak Ilahi yang dianggap sebagai penyebab fenomena ini sehingga banyak orang yang merasakan sakit kepala, rasa pusing yang tidak pernah dialami semenjak lahir.


Namun, ada banyak pihak yang menganggap bahwa Tombak Ilahi atau Artefak Ilahi, bukan penyebab kejadian ini. Tetapi karena ada sesuatu yang buruk akan terjadi di Tiga Alam.


Karena asumsi liar itu, akhirnya membuahkan hasil perdebatan sengit hingga hampir berujung pertengkaran. Untung saja saja guru Yao Shen menengahi dua kubu yang berbeda pendapat itu.


Guru Yao Shen memutuskan untuk menangkap Ling An untuk diintrogasi agar bisa mendapatkan jawaban dari kejadian ini.


Nama Ling An dengan cepat tersebar luas karena membawa Tombak Jiwa Berlian Petir yang dianggap sebagai penyebab bencana di Tiga Alam.


Ada dua kesimpulannya penyebab perdebatan itu. Sebagian orang yang serakah, berpikiran bahwa Tombak Jiwa Berlian Petir yang dianggap sebagai senjata ciptaan Dewa Tertinggi, tidak seharusnya ada di dunia ini. Jadi harus dimusnahkan atau dikembalikan ke Alam Jiwa. Tetapi dibenak mereka, jelas ingin menguasai Artefak Ilahi untuk diri sendiri, hanya saja mereka tidak ingin sifat serakahnya terungkap di muka umum.


Kesimpulan yang lain, menganggap bahwa Ling An tidak mampu membawa Tombak Jiwa Berlian Petir sehingga menyebabkan kejadian yang mengerikan. Jadi, Artefak Ilahi itu harus dipegang oleh salah satu dari tiga Kepala Suku, atau dikembalikan ke Alam Jiwa agar tidak memicu perebutan.


Banyak orang membentuk tim agar bisa menangkap Ling An yang lihai dalam melarikan diri karena memiliki Tombak Jiwa Berlian Petir. Sedangkan Ling An, dia jelas tidak tahu jika akan menjadi incaran banyak orang. Saat ini, dia berhasil lolos dari kejaran Dewi Semesta...


...****************...


Perguruan Heiwu (Hēi Wù / kabut hitam), kediaman Yao Shen si calon Dewa Perusak.


Luas wilayahnya mencapai 10 ribu meter persegi, berada di sisi Selatan dari pusat Suku Wuzhi. Dikelilingi oleh pepohonan buah beraneka ragam jenisnya, dan ada dua sungai.


Pinta masuknya hanya ada satu, dan diberi nama Gerbang Nanzi, diambil dari kata Nánzǐ Qìgài yang artinya Kejantanan. Gerbang itu dijaga ketat oleh muridnya yang berjumlah 20 orang. Murid-murid itu mendiami rumah yang sangat dekat dengan Gerbang Nanzi.


Menuju pusat kediaman guru Yao Shen, seseorang harus berjalan sejauh 500 meter. Di antara jalan utama itu tumbuh pepohonan buah. Siapapun orang yang lewat sudah pasti akan mengambil dua atau tiga buah untuk dinikmati sembari berjalan.


Kediaman guru Yao Shen berada di tengah wilayahnya. Ada lima bangunan arsitektural yang terbuat dari kayu purba yang dilapisi dengan emas, dindingnya dihiasi dengan ukiran.


Bangunan utama adalah milik Yao Shen yang menghadap ke Utara, pintu rumah lurus menyesuaikan jalan utama dari Gerbang Nanzi Qigai - gerbang kedua. Setelah masuk ke gerbang kedua, di sisi kanan ada dua bangunan khusus untuk wanita, dan di kiri jalan ada juga dua bangunan yang dikhususkan untuk pria.


Total murid senior ada 210 wanita yang dipimpin oleh Yao Ningqiao. Murid juniornya ada 325 wanita yang dipimpin oleh Chen Huifen. Chen Huifen adalah nenek moyang dari Chen Yeon istri dari Dewa Abadi, wajahnya sangat mirip dengan Chen Yeon. Zhi Xiu Juan juga termasuk murid junior.


Murid senior wanita dan junior mendiami dua rumah di sisi kanan. Sedangkan murid senior ada 176 pria, yang dipimpin oleh Hu Samhok. Tian Bo, Yu Tien dan Yao Zheng termasuk murid senior. Sedangkan murid junior ada 293 pria muda.


Saat ini murid-murid itu berkumpul di halaman depan kediaman guru Yao Shen, seperti biasa mereka berlatih bersama. Di depan pintu Yao Shen duduk di kursi mengawasi muridnya yang berlatih. Tetapi raut wajah tampannya tidak sedap dipandang.


Di belakangnya berdiri Hu Samhok, Yu Tien, dan Yao Zheng yang dibelakangnya berdiri empat pengawal pribadi. Sedangkan Chen Huifen yang seharusnya mengawasi pelatihan murah junior wanita, diajak kabur oleh Yao Ningqiao. Kedua murid wanita itu sudah terkenal karena kenakalannya.

__ADS_1


Oleh karena itu, wajah guru Yao Shen tidak sedap dipandang. Dan, Zhi Xiu Juan juga tidak diketahui keberadaannya. Selain itu, dia baru pertama kali kehilangan banyak Artefak Alami dan Artefak Bintang gara-gara dilahap oleh Tombak Jiwa Berlian Petir.


Yang membuat berpikir keras, bagaimana bisa semua harta itu keluar dari cincin dimensinya. Hal yang belum pernah dialaminya dan bahkan oleh siapapun di Tiga Alam.


"Guru, kapan kita berpartisipasi untuk mendapatkan Tombak Ilahi?" tanya Tian Bo yang bosan berada di Perguruan Heiwu, dan semua itu gara-gara Ling An sehingga gurunya memerintahkan kepada murid untuk kembali ke perguruan.


"Besok pagi. Buat kelompok yang terdiri dari 5 orang, berlaku bagi semua murid! Jika menemukan keberadaan Ling An, segera berkoordinasi dengan rekanmu untuk mengepungnya. Ambil pembekalan secukupnya selama perburuan ini!" jawab Yao Shen dan juga memberikan perintah, "semuanya, segera bersiap!"


Semua murid segera berhenti berlatih. Mereka membungkukkan badan sebelum menuju ke asramanya masing-masing. Ada dua murid senior wanita yang tidak keluar dari halaman.


"Kalian berdua cari Yao Ningqiao, Chen Huifen dan Zhi Xiu Juan. Ajak mereka untuk memburu Ling An!" perintah Yao Shen kepada Hu Yue Lian dan Guan Liqin.


"Baik, Guru!" jawab kedua murid wanita itu. Setelah memberikan hormat, mereka keluar dari halaman rumah.


"Kalian juga segera berkemas!" perintah Yao Shen kepada ketiga muridnya di belakang.


Dengan semangat, Yao Zheng segera meninggalkan kediaman gurunya, dan diikuti oleh empat pengawalnya. Tersisa Tian Bo dan Yu Tien yang tidak segera pergi.


"Ada apa?" tanya Yao Shen dengan nada kasar karena banyak beban dipikirannya.


"Guru, apakah sudah berhasil menyempurnakan Kitab Alam Melahap Jiwa tahap ke-9?" tanya Tian Bo yang sudah terbiasa dengan sikap gurunya ini.


"Belum. Setelah ku sempurnakan, kalian akan mulai belajar. Saat ini, pelajari terus jurus pertama yang belum sempurna!" jawab guru Yao Shen yang tahu murid-murid belum memahami jurus pertama dari Kitab Melahap Jiwa.


Jurus pertama untuk melarikan diri dan bertahan hidup dari serangan lawan. Dan jurus yang sangat sulit untuk dipelajari. Namun, setelah mampu memahami, maka akan bisa mempelajari jurus kedua, itu syarat mutlak sebelum mempelajari jurus kedua dan seterusnya.


"Apakah ada yang perlu ditanyakan lagi?" sambungnya.


"Kau kurang fokus. Buang segala pikiran yang tidak berguna! Jangan sampai pikiran itu memicu lahirnya Iblis Hati. Ingat, Iblis Hati terbentuk dari pikiran liar!" jawab guru Yao Shen yang memberikan masukan serta teguran halus.


"Saya akan ingat pesan Guru!" jawab Yu Tien yang sulit untuk menjelaskan tentang keanehannya saat berkultivasi, dia segera mengajak Tian Bo untuk berkemas.


Apa yang menganggu pikiran Yu Tien adalah gambaran tentang masa depan. Tujuan awal saat menuju ke masa lalu. Berhubungan kekuatannya belum berada di tingkat True Omega, gambaran pengelihatan masa depan belum seutuhnya terlihat jelas, dan selalu terpotong-potong. Oleh karena itu, Yu Tien kebingungan dan menganggu kultivasinya.


Kondisinya sama seperti yang dialami oleh Ling An, yang mana saat bertemu dengan Tian Bo dan Yu Tien ingin sekali membunuhnya, padahal tidak pernah bertemu apalagi bermusuhan. Semua itu karena tujuan awalnya datang ke masa lalu untuk membunuh mereka.


Demikian juga dengan Yu Tien dan Tian Bo, tujuan utamanya untuk mengungkapkan kejadian di masa depan kepada guru Yao Shen, dan bukan untuk membunuh Dewa Abadi. Mereka pikir Dewa Abadi tidak mungkin akan datang ke masa depan.


Setelah semua muridnya pergi, guru Yao Shen mengaktifkan Mata Dewa untuk melihat murid-murid wanita. Dia tersenyum mesum saat melihat murid wanitanya sedang berganti pakaian.


"Seandainya aku tidak menjaga keperjakaan demi masuk ke Istana Tahta Trimurti, sudah pasti aku menikmati tubuh mereka!" gumam guru Yao Shen yang belum pernah berhubungan badan dengan wanita.


Dia menjaga kesuciannya agar segera menjadi anggota Istana Tahta Trimurti di Alam Jiwa. Selain itu, dia tidak menyentuh wanita sebelum kekuatannya berada di puncak, yaitu di tingkat The Great Creator.


Guru Yao Shen segera menonaktifkan Mata Dewa. Lalu masuk ke dalam rumahnya untuk memeriksa benda yang ditemukan setelah ledakan di Gunung Hehua. Setelah memastikan tidak ada orang di dekat kediamannya, dia mengeluarkan benda yang ditemukan di dekat Pegunungan Hehua.


Benda itu seperti kulit pohon yang berukuran sangat besar, hampir sebesar mejanya. Kulit itu berwarna kehitaman. Baru saja meletakkan kulit pohon di atas meja, tiba-tiba guru Yao Shen panik saat tubuhnya terhisap ke dalam kulit pohon.


Boom...

__ADS_1


Ledakan keras setelah guru Yao Shen masuk ke dalam kulit pohon. Akibatnya, kamarnya menjadi berantakan. Semua muridnya tidak mendengar suara ledakan, sebab kamarnya dilindungi oleh Formasi Array kedap suara.


Dia terkejut karena berada di tempat yang gelap gulita. Belum sempat untuk bereaksi, dia melihat satu mata berukuran besar, sebesar wilayahnya di Tiga Alam.


Guru Yao Shen menyembunyikan rasa takutnya dengan tetap bersikap tenang. "Siapa Anda? Apa tujuan Anda membawaku ke sini?" tanyanya dengan nada tinggi.


"Entitas yang baru lahir dari kehampaan. Karena kau menemukanku, kau kuanggap sebagai Tuanku!" jawab mata satu itu yang suaranya membuat telinga berdenging.


"Apa untungnya aku menjadi Tuanmu? Jika merugikan bagi masa depanku, pergi dan jangan pernah lagi menemuiku!" hardik guru Yao Shen yang tidak ingin mahkluk tidak dikenali mengendalikan dirinya.


Tiba-tiba guru Yao Shen kaget saat sehelai rambutnya tercabut. Lalu dia melihat mata itu mengeluarkan sinar merah yang melesat ke rambutnya. Karena sinar itu, dia dengan jelas melihat mata besar itu tidak memiliki tubuh.


Boom...


Ledakan keras ketika sinar itu mengenai sehelai rambut. Guru Yao Shen terbelalak melihat rambutnya menjadi raksasa bermata tiga. Tingginya mencapai 200 meter lebih, memiliki dua pasang tangan, dan tanduk, tubuhnya kekar berwarna merah darah. Namun, dalam sekejap mata raksasa bermata tiga itu menghilang dari hadapan matanya.


Jika Dewa Abadi mengetahuinya, dia sudah pasti mengenal mahkluk yang tercipta dari sehelai rambut itu, yang tidak lain adalah Omniverse.


"Itulah wujudku saat menyatu dengan Anda. Dengan kita menyatu, Anda bisa menciptakan apapun yang berasal dari tubuhnya Anda. Salah satu contohnya yang baru Anda saksikan. Apakah Anda mau menjadi Tuanku? Jika tidak, selamanya Anda terkurung di sini!" ungkap mata itu setelah menunjukkan kemampuannya di hadapan mata Guru Yao Shen.


Guru Yao Shen tidak segera menjawab karena memikirkan perkataan mata itu yang tidak ada pilihan baik baginya. Terkurung di tempat ini, jelas dia tidak menginginkannya. Tetapi, dia juga takut dengan dampak buruknya jika menyatu dengan entitas yang aneh ini.


"Jujurlah, apakah kau tidak mengendalikan tubuhku jika kita menyatu?" tanyanya dengan tegas.


"Saya baru lahir, bagaimana bisa mengendalikan tubuh Anda sebagai Tuanku? Yang jelas, Anda yang bisa mengendalikan saya. Intinya, penyatuan kita tidak akan merugikan masa depan Anda!" jawab mata itu dengan nada meyakinkan guru Yao Shen.


Guru Yao Shen merenung sejenak karena baru mengenal mahkluk ini. "Ceritakan asal-usulmu?" tanyanya yang ingin mengenal mahkluk di hadapannya sebelum menyatu.


"Saya terlahir untuk keseimbangan alam. Energi gerhana bulan adalah asalku. Ya, saya lahir karena itu! Tahukah Anda, ketika kita menyatu, Anda bisa menciptakan apapun dengan menggunakan rambut, kuku, air ludah dan apapun yang terhubung dengan tubuh Anda. Dengan pikiran, Anda bisa menciptakan makhluk hidup seperti yang baru Anda lihat!"


Mata itu sulit untuk menjelaskan asal-usulnya karena baru lahir. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan dengan mengungkapkan kelebihannya agar segera menyatu.


Karena selalu dirayu oleh mata itu dengan kemampuan yang hebat, Guru Yao Shen jelas terpengaruh sehingga menerimanya. "Jika kau tidak menggagalkan rencana masa depanku, ayo kita menyatu!"


Tanpa banyak basa-basi, mata besar itu berubah menjadi kabut hitam yang tidak dilihat dari guru Yao Shen. Dia kebingungan karena mata itu menghilang.


Namun, dia merasakan tubuhnya dirasuki oleh sesuatu energi yang sangat mirip dengan miliknya, yaitu energi kabut hitam.


"Arghh...!" teriak keras ketika energi itu memasuki dantian-nya.


Karena sangat kesakitan, guru Yao Shen pun pingsan. Ketika dirinya pingsan, dia sudah berada di dalam kamarnya yang berantakan. Kulit pohon yang diletakkan di atas meja segera membungkus tubuhnya dan menyatu dengan kulit...


...****************...


Ling An berhasil lolos dari kejaran Dewi Semesta yang tidak menyerah. Hampir selama dua hari ini selalu dikejar-kejar, dan membuatnya betah menggoda Dewi Semesta.


Karena puas menggoda wanita cantik, dia meningkatkan laju tombaknya sehingga tidak bisa dikejar lagi. Kemudian, dia buru-buru berteleportasi dan muncul di tempat kelahirannya di gua.


Di gua, dia tidak melihat Zhi Xiu Juan. Kesempatan ini, dimanfaatkan untuk berkultivasi sambil memulihkan energinya. Dia perlu meningkatkan basis kultivasinya agar bisa bertahan hidup di Tiga Alam.

__ADS_1


Sedangkan Dewi Semesta, ia kembali ke Pohon Peri. Ia merengek pada Putri Mahatma agar membantunya untuk menangkap Ling An. Namun, Putri Mahatma tidak menanggapinya, tetap tidur meringkuk...


__ADS_2