
Bab 260. Orang Tua Misterius, Hu Tian.
Ling An duduk bersila di dalam dekat pintu guanya, ia melihat kotak kayu dunia sihir yang penutupnya disegel oleh kekuatan Super Omega. Karena disegel yang menandakan bahwa kotak kayu ini terlarang, maka ia menggunakan Mata Surgawi untuk melihat isinya.
Di dalam kotak, Ling An melihat dunia yang minim cahaya, ada sekitar 60 Omniverse Mata Empat yang ditangkap oleh Hu Samhok sebelumnya, mereka diam mematung. Ia terkejut melihat satu mata besar berwarna merah darah, bentuknya seperti matahari.
Mata itu menatapnya dengan tajam yang membuat Ling An merasakan sakit kepala hingga dirasakan kedua matanya juga. Segera ia berhenti untuk memeriksa isi kotak kayu dunia sihir.
Jika ingatannya tidak disegel, Ling An akan tahu sosok bermata satu itu yang tidak lain adalah bentuk awal dari Omniverse, mata itu adalah Yanjing.
Karena Mata Surgawi-nya terpengaruhi, Ling An mencoba menggunakan Kekuatan Jiwa Semesta untuk mengendalikan Omniverse Mata Empat yang terpenjara. Kali ini, dia tidak setengah-setengah mengeluarkan energinya.
Telapak tangannya di letakkan di atas kotak kayu, lalu mengalirkan energi Kekuatan Jiwa Semesta kedalamnya. Ketika energinya masuk, kotak kayu bergetar hebat. Ling An segera menahan getaran kotak kayu dengan kedua tangannya. Baru kotak kayu itu kembali normal.
Karena kotak kayu itu tidak bisa diintervensi oleh apapun yang berada di luar, Ling An memutuskan untuk tidak bertindak berlebihan yang bisa mengacaukan situasi. Dia pikir bisa mengeluarkan satu Omniverse untuk diperbanyak, ternyata tidak bisa.
Namun, rasa penasaran dihatinya tidak bisa dibendung. Ling An keluar dari guanya untuk mencoba melakukan seperti yang dilakukan oleh Hu Samhok, yaitu memasukkan Omniverse ke dalam kotak kayu.
Baru saja keluar dari gua, ia melihat sosok pria tua yang tersenyum kepadanya. Sontak membuatnya waspada terhadap orang tua itu yang tidak dikenalinya. Orang tua itu terlihat ramah, penuh kebijaksanaan, berwibawa, dan juga tampan walaupun sudah tua. Yang mengherankan Ling An, Mata Surgawi tidak bisa melihat kekuatannya.
Karena memiliki Tombak Jiwa Berlian Petir, Ling An tidak takut walaupun orang tua dihadapannya ini adalah kultivator kuat. Jika orang tua ini berniat untuk merebut tombaknya, maka dia bisa kabur.
Karena percaya diri, Ling An berani mendekati orang tua itu, berjalan memutari tubuhnya sambil kedua matanya menyelidiki. Orang tua itu tersenyum melihat tingkah laku Ling An yang tidak takut dengannya.
Setelah berputar-putar mengelilingi tubuh orang tua ini, Ling An berhenti berhadapan dengannya. Ia heran karena orang tua ini tidak lelah tersenyum terus kepadanya.
"Bolehkah saya singgah di rumah Anda?" orang tua itu dengan sopan meminta izin.
"Maksud Pak tua adalah gua ini?" tanya balik Ling An yang tidak menganggap gua adalah rumah.
"Benar, tempat Anda terlahir!" jawab orang tua itu, dan kembali tersenyum sambil kedua tangannya berada di belakang pinggang.
Ling An mengerutkan keningnya karena orang tua ini mengetahui gua adalah tempatnya semenjak terlahir. Ia mundur tiga langkah untuk menjaga jarak dengan orang tua itu.
"Boleh saja Anda singgah! Tapi, siapa nama Anda, Pak tua?" selidik Ling An yang tidak keberatan jika guanya dikunjungi oleh orang lain, asal tidak menganggu kedua kekasihnya yang sedang berkultivasi.
"Namaku banyak, jika di Tiga Alam ini, aku dipanggil dengan nama Hu Tian (Dia Surga)."
Saat orang tua itu menjawab, Ling An melihat orang ini menuliskan namanya di depannya. Tulisan dua kalimat nama di udara itu berubah menjadi alam semesta. Melihat itu, Ling An terpesona karena kehebatan Hu Tian.
"Jadi Anda dari berasal marga Hu! Apakah Anda dari Kasta Mahaguru?" tanyanya lagi setelah alam semesta dari tulisan nama menghilang tersapu angin.
"Bisa dikatakan begitu... Tapi aku tidak suka dengan adanya kasta yang membatasi kebebasan sesama kehidupan. Aku tidak berasal dari kasta apapun, aku netral!" jelas Hu Tian.
Melihat jika orang tua ini tidak membahayakan dirinya, serta ucapannya yang membuatnya nyaman dan damai, Ling An segan untuk menyelidikinya.
"Senior Hu Tian, gua ini tidak ada yang menarik perhatian Anda... Ada dua wanita di dalam yang sedang berkultivasi. Saya harap Senior tidak mengganggunya! Mari kita masuk!"
Ling An tidak ingin orang tua ini berbuat buruk kepada Yao Ningqiao dan Zhi Xiu Juan. Ia melihat Hu Tian mengangguk paham dan kembali mengembangkan senyuman hangat.
Ketika Ling An berjalan dulu untuk masuk ke gua, dia berhenti berjalan karena Hu Tian tidak mengikutinya. Dia membalikkan badan dan melihat orang tua itu sudah duduk di kursi yang entah darimana datangnya. Ada dua kursi dan satu meja bundar yang diatasnya sudah ada dua cangkir teh.
"Aku sudah di rumah Anda, kenapa harus masuk? Sebagai tuan rumah, Anda seharusnya duduk menemani saya. Ayo duduk!" tutur Hu Tian.
Ling An segera duduk tanpa kehendaknya sendiri. Ucapannya membuatnya bingung, dan terngiang-ngiang di benaknya. Ucapannya itu baginya terasa berbobot dan bermakna.
"Apakah Anda tidak mempersilakan saya untuk meminum!" teguran Hu Tian karena Ling An menjadi linglung.
"Minum? Ya... Ya, silakan Senior Hu Tian minum!" Ling An kebingungan karena merasa tidak menyiapkan minuman.
Hu Tian terus tersenyum melihat tingkah laku Ling An. Dia mengambil cangkir teh. Sebelum dicicipi, ia menghirup aroma kesegaran teh hangat. Lalu mendekatkan tepi cangkir teh di bibirnya. Setelah itu, dia meletakkan cangkir teh di meja.
Melihat Hu Tian begitu menikmati teh hangat, Ling An segera mengambil cangkir teh. Dia mencium aroma wangi khas teh terbaik yang menyejukkan pikirannya. Setiap gerakan Hu Tian, Ling An menirukannya.
Ling An memejamkan mata saat lidahnya menikmati rasa teh yang tidak pernah dirasakannya. Ada rasa damai, kebahagiaan, dan kenyamanan di hatinya. Namun hanya sesaat dan semua rasa itu menghilang.
Ling An membuka mata dan melihat isi cangkir teh telah kosong, ia keheranan karena tidak meminum air teh, hanya ujung lidahnya untuk mencicipinya. Dia baru sadar jika orang tua itu tidak ada lagi di tempat duduknya, dan terkejut karena hari telah malam.
__ADS_1
"Berapa lama aku terpejam?" Ling An heran karena memejamkan mata sesaat lalu sangatlah sebentar.
Lalu dia melihat di atas meja ada pesan tulisan untuknya yang dibuat oleh Hu Tian. Ling An membaca pesan itu.
"Rasa yang baru Anda alami, akan Anda dirasakan kembali jika berbuat kebaikan. Berbuat baiklah dengan mata tertutup jika ingin merasakannya lagi. Aku selalu ada di rumahmu."
Ling An buru-buru masuk ke dalam gua karena khawatir orang tua itu mengganggu kedua kekasihnya yang berkultivasi. Sesampainya di ujung gua, dia bernafas lega karena Hu Tian tidak ada di dalam gua, dan kekasihnya baik-baik saja.
"Orang tua yang aneh!" gerutu Ling An. Lalu dia duduk di tanah sambil memikirkan setiap perkataan orang tua itu yang mengandung makna dalam.
Seandainya Ling An ingat akan masa depannya, dia sudah pernah bertemu sekali dengan orang tua itu yang mengaku sebagai Hu Tian.
Pesan yang dibaca oleh Ling An, merupakan teguran halus agar dirinya tidak sesuka hati bertindak ceroboh, seperti membuat Omniverse Mata Empat menjadi banyak. Intinya, Ling An harus berbuat baik dengan sesama tanpa pilih kasih.
"Aku selalu ada di rumahmu? Apa maksudnya!" gumamnya yang tidak tahu makna pesan di meja.
Tentang ucapan Hu Tian. Jika diartikan, kata "rumah" yang dimaksudkan adalah jiwa, yang artinya Dia Surga selalu ada di jiwa semua kehidupan di alam semesta.
"Mata tertutup" yang artinya, Dia Surga juga selalu ada di jiwa orang yang jahat.
Menyediakan "dua cangkir teh hangat", merupakan bentuk keakraban diri dan Dia.
Kata "singgah" jika diartikan, apakah Dia Surga diperbolehkan untuk membimbing pemilik rumah. Jika Dia diperbolehkan untuk singgah, dan kita menyediakan jamuan dua cangkir teh hangat, maka Ling An sebagai tuan rumah mendapatkan apa yang dirasakan olehnya saat mencicipi rasa teh hangat.
Agar Ling An terus merasakan rasa yang tidak pernah dialaminya, maka harus mengisi ulang cangkir teh dengan cara berbuat baik kepada sesama kehidupan tanpa pilih kasih, dan tanpa berharap mendapatkan imbalan apapun setelah berbuat baik.
"Seandainya ada orang yang sangat jahat yang banyak membunuh, melakukan tindakan tercela demi keuntungannya sendiri, memfitnah, bahkan tega mengorbankan keluarganya sendiri, apakah aku perlu berbuat baik kepada orang jahat itu?" Ling An bertanya pada diri sendiri.
"Hmm...! Apa peduliku... Aku akan melakukan apapun yang kuinginkan!" Ling An menepis pertanyaannya sendiri karena tidak menemukan jawaban.
Sebelum keluar dari gua, ia melihat kedua wanitanya yang sedang berkultivasi dengan tenang dan nyaman. Setelah puas melihat kecantikan mereka, ia menghilang dan muncul di luar gua.
Dia melihat banyak terjadi ledakan energi di wilayah Suku Fanchen. Dengan Mata Surgawi, Ling An melihat Omniverse lebih agresif di malam hari, fisiknya lebih kuat daripada saat di siang hari, gerakannya lebih lincah, dan bisa mengeluarkan sinar dari matanya yang digunakan oleh menyerang.
Ling An melihat cahaya benderang yang mampu membutakan mata Omniverse. Dia tersenyum karena cahaya itu adalah Dewi Alam Semesta yang akhirnya muncul lagi.
Selama itu, Ling An tidak tahu jika Hu Samhok dan teman-teman seperguruannya mendapatkan hukuman berat dari Kepala Suku Wuzhi, mereka dipenjara karena telah ceroboh menghilang kotak kayu dunia sihir.
Untungnya saja hukum itu dibatalkan karena Hu Samhok mengungkapkan kelemahan Omniverse Mata Empat, yang mana setiap kali membelah diri akan melemahkan kekuatannya.
Selama Omniverse Mata Empat diserang dengan kekuatan penuh tanpa memberikan kesempatan untuk pulih kembali, maka kekuatannya semakin menurun karena terus-menerus membelah diri. Hanya saja, ketika Omniverse Mata Empat dilukai, jelas anak-anaknya akan menjadi semakin banyak jumlahnya.
Kelemahannya yang lain, Omniverse akan menjadi buta disaat terkena cahaya suci yang hanya dimiliki oleh orang-orang pilihan dari Alam Jiwa.
Oleh karena itu, penguasa Tiga Alam tidak khawatir dengan banyaknya Omniverse karena adanya Dewi Alam Semesta. Kesulitannya, Omniverse memiliki naluri untuk bertahan hidup, ketika disiang hari mereka bersembunyi di hutan-hutan, danau, jurang, dan bahkan bersembunyi di kedalaman laut.
Dewi Semesta telah banyak membantai Omniverse Mata Lima, bahkan dengan sengaja melukai Omniverse Mata Empat agar terus menjadi banyak. Dia cukup mengeluarkan cahaya dari tubuhnya, lalu tiga Kepala Suku dan semua kultivator melakukan tugasnya membantai Omniverse.
Di saat di siang hari, Dewi Semesta dan semua kultivator beristirahat untuk memulihkan energinya. Sebagian orang yang tidak kelelahan, bertugas untuk mencari persembunyian Omniverse. Hu Samhok dan teman-teman seperguruannya mendapatkan tugas mencari keberadaan Omniverse. Saat di malam harinya, pertempuran kembali terjadi.
Ling An melihat Omniverse yang tewas tidak meninggalkan bola kristal energi, sungguh aneh pikiran karena sebelumnya mendapatkan bola energi dari tujuh Omniverse Mata Empat.
"Apa karena dua elemen Kuasi Petir Semesta dan Api Semesta yang mengkonversikan energi kabut hitam?" dugaan Ling An.
Lalu dia mengambil satu bola kristal energi kekuatan Half Resonance milik Omniverse Mata Empat, ukurannya sama seperti bola kristal energi milik kultivator. Ling An langsung menelan bola kristal energi tanpa perlu menyerapnya seperti yang dilakukan oleh kedua wanitanya.
Bola energi spiritual meledak di dalam perutnya karena terlalu besar kandungan energi kekuatan Half Resonance. Untungnya Ling An memiliki Batu Keabadian yang segera melindungi dantian-nya.
Ia hanya bersendawa sehingga mulutnya mengeluarkan asap keruh. Setelah itu, kekuatannya meningkat dratis, dari tingkat Sang Kekosongan level 1 naik ke level 50.
Di saat kekuatan naik, dia tidak seperti kultivator pada umumnya yang harus duduk bersila dan membutuhkan tempat sepi, dia dengan santainya terbang sambil menikmati kekuatannya yang naik.
Jika ada yang melihatnya, maka orang itu jelas terkejut. Ketika Ling An terbang, seperti cahaya berkedip-kedip karena letupan energi terobosan yang keluar dari tubuhnya.
Seandainya bola kristal energi milik Omniverse kekuatan Half Resonance diserap oleh Yao Ningqiao atau Zhi Xiu Juan, maka mereka akan langsung naik ke tingkat Half Resonance level 1. Berhubungan kandungan energi sangat besar, maka mereka akan membutuhkan waktu lama untuk menyerap energi itu.
Ling An tidak seperti kultivator pada umumnya, dantian-nya luas dan memiliki delapan Batu Keabadian sehingga membutuhkan banyak sumber energi. Peningkatan dari satu bola kristal energi, sudah lebih dari menguntungkannya.
__ADS_1
Dia segera menelan enam butir bola kristal energi dalam sekali suapan. Lalu bersendawa sebanyak enam kali. Kekuatannya naik dengan gila-gilaan sehingga membuatnya harus berhenti terbang dan melayang di udara. Ling An memejamkan mata menikmati sensasi terobosan kekuatannya.
Ling An naik ke tingkat Half Theta level 1 dalam satu waktu yang singkat, naik tiga tingkat, yang mana setiap tingkatan ada 99 level.
"Saatnya berburu lagi," katanya dengan semangat. Lalu menghunuskan tombaknya sehingga membawanya terbang dengan sangat cepat menuju ke arah Dewi Semesta.
Dewi Semesta terus mengeluarkan cahaya dari tubuhnya untuk mendukung semua orang dalam mengalahkan Omniverse. Di kejauhan, ia melihat sinar kebiruan seperti petir melesat ke arahnya dengan sangat cepat.
"Ling Annn...!" teriakan keras dari Dewi Semesta yang mengejutkan semua orang.
Teriakan itu bukan karena marah, tapi karena senang bisa bertemu dengan itu kera. Dia merindukan tingkah lakunya yang seperti anak-anak saat mengejar Ling An.
"Wanita jelek, pahlawan berbulu datang!"
Ling An berbicara dengan nada yang keras sehingga membuat telinga berdenging. Semua orang melihat Dewi Semesta yang tidak marah dibilang jelek, malahan tersenyum.
Dengan tombaknya yang mengeluarkan Kuasi Petir Semesta dan Api Semesta dalam skala kecil, serta bergerak sangat cepat, Ling An berkali-kali menembus satu tubuh Omniverse dengan mudahnya, seperti tidak mendapatkan halangan apapun.
Dewi Semesta melihat Ling An seperti kunang-kunang yang terbang sangat cepat, memutari dan menebus tubuh Omniverse yang keras seperti kue.
Setelah tubuh Omniverse ditembus berkali-kali, dalam hitungan detik Omniverse Mata Lima menjadi abu. Ling An segera mengambil bola kristal energi yang tertimbun abu mayat Omniverse. Dia kembali memanfaatkan kecepatan tombaknya untuk memburu Omniverse yang lain.
Melihat kehebatan Tombak Jiwa Berlian Petir yang dianggap ciptaan Dewa Tertinggi, membuat sifat serakah yang dulu hilang kembali muncul. Berhubung masih banyaknya Omniverse, keinginan itu merebut Tombak Ilahi dipendam untuk sementara waktu.
Sambil terus mengeluarkan cahaya suci, Dewi Semesta tak berkedip melihat Ling An seorang diri mengalahkan Omniverse yang paling dekat. Dia mengerutkan keningnya ketika Ling An sambil terbang rendah dengan cepat mengambil sesuatu dari dalam abu.
Dengan Mata Langit, Dewi Semesta sekilas melihat bola kristal energi yang diambil oleh Ling An. Tahu apa itu, dia melihat abu mayat Omniverse yang telah dibunuhnya dengan menggunakan cahaya suci. Namun, dia tidak menemukan bola kristal energi.
Kembali Dewi Semesta mengamati pergerakan Ling An yang menembus tubuh Omniverse Mata Empat tanpa kesulitan. Ketika tubuh Omniverse tertembus tombok, dia melihat serat-serat petir yang membuat Omniverse mengejang sesaat, lalu Api Semesta berwarna putih dengan mudah membakar Omniverse hingga menjadi abu.
Melihat Ling An menggunakan dua elemen berbeda, Dewi Semesta yang memiliki kemampuan dalam mengendalikan 24 elemen, segera menirunya, langsung menyerang Omniverse Mata Empat dengan menggunakan elemen petir dan api.
Cahaya Suci yang membutakan mata Omniverse, membuat Dewi Semesta dengan mudah mengalahkannya. Namun, dia tetap tidak menemukan bola kristal energi di dalam abu mayat Omniverse.
"Apakah jenis petir dan apinya berbeda dengan milikku?" gumam Dewi Semesta yang bertanya-tanya kepada diri sendiri.
Dia kembali Ling An yang dalam waktu singkat telah mengalahkan 9 Omniverse Mata Lima, dan 4 Omniverse Mata Empat. Setelah Omniverse menjadi abu, Ling An terbang rendah dengan cepat, lalu menggunakan skill telekenisis untuk mengambil bola kristal energi di dalam abu.
Omniverse meraung-raung keras setiap kali Ling An menebus tubuhnya, dan berusaha keras untuk menangkapnya namun kalah dalam hal kecepatan.
Boom boom boom boom...
Suara ledakan energi ketika Omniverse melepaskan pukulan berenergi secara acak akibat matanya yang menjadi buta. Untungnya, serangannya itu tidak mengenai kultivator yang segera menghindar.
"Ayo, kita berlomba membunuh Omniverse, pembunuh terbanyak aku beri 5 butir bola kristal energi kekuatan Half Resonance!" tantangan Ling An sambil memamerkan sebutir bola kristal energi.
Semua orang tidak memperdulikannya karena tidak mungkin bisa bersaing dengan kecepatan Tombak Ilahi. Mereka tetap fokus melawan Omniverse dihadapannya.
"Enggak seru!" gerutu Ling An karena tidak ada orang yang mengejarnya, lalu menghindari pukulan Omniverse di belakangnya.
Sambil menghindari serangan Omniverse, Ling An melihat Dewi Semesta yang menggunakan caranya untuk mengalahkan Omniverse. Namun, wanita itu tidak mendapatkan bola kristal energi.
"Anda kurang beruntung, coba lagi!" ejek Ling An ketika Dewi Semesta tidak mampu mengkonversi energi kabut hitam menjadi bola kristal energi. Dia terbang sangat cepat berputar-putar mengelilingi tubuh Dewi Semesta.
"Kekanak-kanakan!" cemooh Dewi Semesta yang tidak lagi mudah terpancing emosinya seperti dulu.
"Ohh, jadi kamu sekarang sudah menjadi tua! Wajarlah gerakannya sangat lambat!" ejek Ling An tanpa berhenti memutari tubuh Dewi Semesta.
Satu hal yang tidak diketahui oleh Ling An, yaitu wanita manapun tidak suka jika dibilang tua. Dewi Semesta seketika menjadi marah dan menyerang Ling An, dia jelas-jelas masih cantik dan menarik perhatian kaum pria.
Boom boom boom boom...
Ledakan keras ketika Dewi Semesta melepaskan pukulan berenergi ke arah Ling An yang kabur. Sayangnya, pukulannya itu tidak sedikitpun mengenai Ling An.
Di luar angkasa, melayang seorang pria tua, dan orang itu adalah Hu Tian. Ia tersenyum melihat Ling An yang akhirnya mau membantu mengalahkan Omniverse.
"Berbuat baiklah secara spontan!" gumam Hu Tian, lalu dia menghilang.
__ADS_1