God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Keserakahan Selalu Ada.


__ADS_3

Bab 94. Keserakahan Selalu Ada.


Ledakan hebat ketika bola api mengenai targetnya, sampai-sampai Ular Surgawi menjauhkan kepalanya agar leluasa melihat Dewa Binatang. Namun ia terkejut melihat ayahnya hanya menggunakan ujung jari untuk menahan serangannya.


Karena tidak puas melihat ayahnya berdiri kokoh, bahkan rambutnya tidak tersentuh api, ia kembali mengeluarkan bola api dengan kekuatan maksimum.


Bola api melesat dengan sangat cepat, suhu panas menghancurkan apapun yang dilewatinya. Setelah itu, ledakan hebat kembali terdengar ketika bola api mengenai sasarannya.


Sekali lagi, Dewa Binatang hanya menggunakan jari telunjuk tangan kanan untuk menetralisir serangan bola api, lalu dia mengembangkan senyuman hangat.


"Ayah sangat kuat! Apakah mampu menahan serangan mataku?" pujian Ular Surgawi.


Tanpa menunggu respon dari ayahnya, ia segera menyerang dengan menggunakan Mata Surgawi. Dari kedua matanya mengeluarkan sinar yang menyelimuti tubuh ayahnya.


"Hebat Mata Surgawi ini!" kekaguman Dewa Binatang yang merasakan tubuhnya seperti membatu, hal yang sama seperti yang dialami oleh Ruan Fei.


Berhubungan kekuatan Dewa Binatang jauh di atas Ruan Fei, serangan dari Mata Surgawi tidak banyak berpengaruh walaupun sempat membatu. Tetapi, bagi Ruan Fei yang mengalaminya, pengaruh Mata Surgawi seperti menghentikan waktu dalam hitungan lebih dari 3 detik.


"Hahaha! Lihat Ayahku diam karena mataku!" Ular Surgawi kegirangan melihat Dewa Binatang seperti Ruan Fei


Tidak membuang kesempatan ini, ia menyerang ayahnya dengan memuntahkan bola api berkali-kali. Tidak berhenti di situ, sebelum bola api mengenai ayahnya, ia juga menggunakan ekornya untuk menyerang.


"Putriku yang cerdas!" pujian Dewa Binatang saat momentum dirinya membatu dimanfaatkan dengan baik.


Seperti yang sebelumnya dikatakan oleh Dewa Binatang, dia ingin menyenangkan hati putrinya yang baru lahir dengan mengajaknya bermain. Oleh sebab itu, serangan bola api yang bertubi-tubi dan hantaman ekornya sengaja tidak dihindari.


Sebelum bola api dan serangan ekor mengenainya, Dewa Binatang dengan sengaja menurunkan basis kultivasinya agar serangan itu membuat tubuhnya berantakan.


Boom boom boom boom...


Rentetan ledakan saat bola apa menghantam Dewa Binatang, lalu disusul serangan terakhir dari ekor Ular Surgawi.


Semua istri dan bawahannya yang melihat, mereka tersenyum melihat Dewa Binatang yang dengan sengaja tidak lagi menahan serangan Ular Surgawi. Setelah ledakan itu, tubuh Dewa Binatang menjadi berantakan, di mana pakaian menjadi compang-camping dan rambutnya mengepulkan asap.


Melihat ayahnya yang terkena serangannya, Ular Surgawi tertawa terbahak-bahak, apalagi melihat ayahnya yang cemberut. Setelah tertawa, ia berkata dengan bangga, "lihatlah Ayahku sekarang makin tampan!"


Semua istri Dewa Binatang tertawa karena kelucuan putrinya serta penampilan suaminya yang berantakan. Lalu mereka melihat Dewa Binatang membuang asap dari mulutnya.


"Hebat kan Ayah... Bisa mengeluarkan asap dari mulut!" ucap Dewa Binatang yang memuji diri sendiri.


"Apanya yang hebat? Hal sepele mengeluarkan asap, tapi mana Ayah bisa mengeluarkan bola api sepertiku!" sungut Ular Surgawi yang tidak merasa hebat bisa mengeluarkan asap dari mulut.


Dewa Binatang tertawa ringan sambil garuk-garuk kepala. Setelah itu dia berkata, "tapi kamu kalah, Ayah masih tetap berdiri kokoh!"


Seketika Ular Surgawi mengernyitkan dahi karena ucapan ayahnya benar. Dalam pertarungan, lawan yang masih berdiri kokoh setelah terkena banyak serangan bisa dikatakan sangat kuat, dan sewaktu-waktu bisa menyerang balik.

__ADS_1


"Ayah curang! Seharusnya Ayah seperti Paman Fei yang mencium tanah!" gerutu Ular Surgawi.


Ruan Fei menunduk sambil menggelengkan kepala karena malu dikalahkan oleh seorang anak yang baru lahir, dia melirik anak buahnya yang menahan senyuman.


Boom...


Tiba-tiba Dewa Binatang terjatuh keras di tanah tanpa alasan. Lalu terlihat jelas sebuah kawah akibat tubuhnya yang terjatuh, di mana saat ini dia terlungkup dengan wajah terbenam di tanah.


Sambil melambaikan tangan kiri tanpa melihat putrinya, Dewa Binatang berbicara, "lihat, seranganmu membuat Ayah mencium tanah. Ayah menyerah!"


Semua istri tidak bisa lagi menahan tawa keras melihat kekonyolan suaminya yang ingin menyenangkan hati putrinya. Sedangkan Ular Surgawi menjadi cemberut karena tahu ayahnya berpura-pura jatuh.


Kemudian, Ular Surgawi berubah wujud menjadi manusia seperti yang diinginkan oleh orang tuanya, gadis kecil usia 7 tahun; rambut yang unik dengan warna biru, pupil mata berwarna hijau, tinggi badan 140 cm, dengan postur tubuh yang sehat dan sedikit gemuk.


Ia tidak lagi memiliki sepasang tanduk dan ekor, dua ciri yang pernah dilihat Oleh Dewa Binatang saat masih berada di dalam cangkang telur. Setelah itu, ia menghilang dan muncul dengan duduk di punggung ayahnya.


"Aku sayang Ayah!" ungkap Ular Surgawi sambil memeluk leher Dewa Binatang.


Dewa Binatang segera membalikkan badannya tanpa membuat putrinya terjatuh, lalu dia melihat putrinya dengan tatapan kasih sayang.


"Putriku sangat cantik dan lucu!" pujian Dewa Binatang sambil memeluk putrinya.


Ular Surgawi tertawa gembira sambil membalas pelukan ayahnya dengan erat, lalu ia berkata, "Ayah kan tampan, jelas putrinya cantik, dong!"


Melihat Ular Surgawi telah menjadi sosok gadis kecil, semua istri Dewa Binatang buru-buru menghampirinya. Mereka melihat suami dan putri saling berpelukan di tanah dan tertawa riang


Ular Surgawi menoleh ke belakang untuk melihat ibu-ibunya, lalu dia berucap dengan nada bangga, "ibuku saja cantik-cantik, wajar jika putrinya juga cantik. Aku adalah kombinasi dari kecantikan ibu-ibuku ini!"


Tian Lihua, Yuna Aurora dan yang lainnya tersenyum manis mendengar pujian tulus dari putrinya. Lalu Ular Surgawi melesat ke arah Tian Lihua dan disambut dengan pelukan...


Ruan Fei dan 99 pasukan khusus mengelilingi pemimpinnya, mereka ikut terbawa arus kebahagiaan itu.


"Aku sudah lama tidak melihat Yang Mulia sebahagia ini," kata Ruan Fei dengan nada pelan.


...****************...


Di luar Domain energi spiritual yang menghalangi pandangan mata. Setelah Yuke memperkuat domain energinya, Mao Zedong dan rombongan hanya mendengar suara ledakan akibat pertarungan.


Raja Guang dan rombongan juga sama, mereka hanya bisa mendengar suara pertarungan yang sangat sengit, namun itu tidak berlangsung lama.


Sha Meyleen dan bawahannya hanya bisa menghela nafas panjang karena sosok pria yang mengaku-ngaku sebagai putra pedagang Cheng Bei bukanlah orang biasa. Mereka tetap berada di tempatnya tanpa ada niatan kembali sebelum melihat Dewa Binatang dan Ular Surgawi.


Bagi Sha Meyleen, ia ingin berhubungan baik dengan Dewa Binatang. Dengan dukungannya, Gedung Harta Langka akan lebih terjamin keamanannya.


Putri Liangyi juga berkumpul dengan Raja Guang, tapi tidak mendekati ayahnya. Wajahnya terlihat gusar karena khawatir tidak mendapatkan Ular Surgawi.

__ADS_1


"Apakah dia menepati janjinya?" gumam Putri Liangyi sambil melihat ke arah puncak Gunung Larswood walaupun saat ini pandangan Mata Dewa terblokir.


"Saya yakin dia menepati janjinya!" harapan Lan Qisheng yang tidak ingin Putri Liangyi berpikir negatif terhadap Dewa Binatang.


Putri Liangyi memang berpikir buruk kepada Dewa Binatang, sebab mendengar perkataannya yang mengaku sebagai ayah dari Ular Surgawi.


Semua orang tahu, momen krusial ketika menantikan telur menetas, di mana harus selalu berada di sisi telur. Setelah telur menetas, maka bayi binatang akan mengakui siapapun yang pertama kali dilihatnya sebagai orang tua. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh Putri Liangyi, di mana Dewa Binatang menjadi orang tua binatang suci.


Awalnya, Putri Liangyi dan semua orang yang menghadiri lelang sudah membayangkan bahwa binatang suci saat terlahir akan butuh waktu untuk bisa dimanfaatkan, dimanfaatkan sebagai pelindung.


Setelah melihat fenomena kelahiran Ular Surgawi, ekspetasi mereka langsung runtuh. Mereka tidak menyangka binatang suci saat baru lahir sudah sangat mengerikan.


Seandainya tahu binatang suci sangatlah hebat, sudah dipastikan semua peserta lelang berusaha keras untuk mendapatkannya, bahkan akan menjual apapun demi mendapatkan telur binatang suci.


Melihat dengan mata kepala sendiri, Ular Surgawi yang baru lahir sudah sekuat ini, apalagi jika sudah dewasa nanti. Sudah bisa dibayangkan kehebatannya yang mampu menghancurkan apapun di dunia ini.


Penyesalan jelas ada, namun semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan Ular Surgawi, dengan cara merebutnya secara kasar sebelum dewasa. Jika sudah dewasa, mereka akan kesulitan untuk menaklukkan Ular Surgawi yang telah mengakui Dewa Binatang sebagai orang tua.


Saat ini waktu yang tepat untuk merebut Ular Surgawi karena masih belia. Dengan kondisinya saat ini, maka akan dengan mudah dicuci otaknya, itu pemikiran sebagai orang yang ingin merebut Ular Surgawi, salah satunya adalah Mao Zedong dan Seng Rong.


Permasalahan terbesar, apakah mereka mampu menaklukkan Ular Surgawi yang telah menunjukkan kekuatan? Jelas tidak semudah yang dipikirkan orang-orang serakah itu


"Daripada kita berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan binatang suci itu, lebih baik kita segera memulai rencana kita. Dengan adanya robot-robot manusia, itu sudah senilai dengan binatang suci!" Interupsi Mao Zedong yang risih dengan rencana Raja Genjo yang ingin merebut Ular Surgawi.


"Leluhur memang benar! Ayo, kita segera kembali sebelum menarik perhatian banyak orang yang sedang fokus pada binatang itu!" ajak Raja Genjo yang mendukung penuh rencana yang jauh hari telah dibuat.


Segera Mao Zedong memimpin rombongan sebelum orang-orang yang menginginkan Pedang Penguasa Api kembali terfokus. Mereka kembali ke Kerajaan Matahari Terbit untuk memulai rencananya.


Akan tetapi, Seng Rong yang bersembunyi mengetahui pergerakan Mao Zedong, dia sepemikiran dengan musuhnya ini. Memiliki harta Dewa Api Phoniex lebih berharga daripada merebut Ular Surgawi, dan merebut Ular Surgawi bisa dilakukan nanti setelah mendapatkan harta tersebut.


Sha Meyleen juga mengetahui pergerakan Mao Zedong dan Seng Rong, ia juga tahu akan ada pertarungan besar yang akan segera terjadi untuk mempertahankan serta merebutkan Pedang Penguasa Api.


"Apakah Seng Rong akan menghadang jalan mereka?" gumam Raja Genjo saat melihat pergerakan Seng Rong yang mengikuti rombongan Mao Zedong, "apa tujuannya merebut Pedang Penguasa Api?" lanjutnya yang ketinggalan informasi berharga.


Lalu Raja Guang melihat ke arah Dewa Api dan Dewa Air yang selalu mendampinginya, dia bertanya dengan nada ketus, "apa ada informasi yang terlewatkan?"


"Ada, Saudara, tapi Infomasi berharga ini baru kita ketahui! Pedang Penguasa Api dan peta Kuno yang dilelang merupakan kunci untuk menemukan harta peninggalan Dewa Api Phoniex!" ungkap Dewa Api dengan nada lirih, seakan-akan Infomasi ini sangat rahasia.


Raja Guang belum mengetahui jika Dewa Api dan Dewa Air telah dikendalikan oleh Raja Arwah. Hanya saja, dia sedikit merasakan keanehan mereka yang lebih tunduk dan selalu menempel di sisinya setiap hari.


Untungnya Putri Liangyi memberikan jimat pelindung sehingga Roh-roh iblis kesulitan untuk merasuki tubuh Raja Guang. Oleh sebab itu, Putri Liangyi tidak mendekati ayahnya karena didampingi oleh Dewa Air dan Dewa Api.


Mendengar informasi ini, raut wajah Raja Guang seketika berubah, berubah menjadi keserakahan. Lalu dia pemimpin semua orang untuk mengikuti Seng Rong, termasuk Pangeran Jia yang terlihat sangat bersemangat dalam kekacauan yang akan terjadi.


"Hmm...! Seperti ini yang tidak kusukai dari ayah, mudah sekali terhasut!" gerutu Putri Liangyi setelah menghela nafas berat, ia tidak ikut serta dalam perebutan Pedang Penguasa Api dan peta kuno.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2