
Bab 151. Bertemu Orang Dari Bumi.
Yao Shou segera memeriksa sekitarnya untuk mencari keberadaan Dewa Binatang, namun dia tidak menemukannya. Chen Ying dan Hu Weiheng juga mencarinya.
"Aku menang! Sesuai dengan kesepakatan kita, 30 hari kudapatkan. Setelah waktu berakhir, aku akan menemui kalian!"
Suara Dewa Binatang menggelegar keras di Hutan Kematian tanpa menunjukkan dirinya.
Yao Shou dan Hu Weiheng jelas tidak menerima kekalahan ini, sebab mereka menganggap Dewa Binatang berlaku curang. Seandainya mereka tahu Dewa Binatang memiliki Bintang Pertempuran 4, sudah pasti menolak tantangan ini.
Hanya Chen Yeon yang tahu kekuatan Dewa Binatang, oleh karena itu dia memberikan kode kepada Hu Yue Yan agar tidak menerima tantangan Dewa Binatang. Sayangnya, Hu Yue Yan salah mengartikan kepalanya yang geleng-geleng.
"Pria pengecut, kau membodohi kita! Keluar kau!?" bentakan keras Yao Shuo sambil kedua matanya tertuju ke arah Bukit Karang.
"Kalian yang meremehkan aku, dan aku tidak ada pikiran untuk membodohi kalian!" sanggah Dewa Binatang yang memang tidak ada pikiran untuk membodohi mereka, dia menantang hanya untuk mengulur waktu.
Yao Shou yang tidak terima segera melesat ke arah Bukit Karang, tangan kanannya melepaskan pukulan berenergi.
Dewa Binatang yang berada di pinggir sungai dekat dengan Bukit Karang, geleng-geleng kepala melihat Yao Shuo yang melepaskan pukulan. Dia segera terbang secepat mungkin, menuju ke arah yang jauh dari manusia.
Boom...
Pukulan berenergi milik Yao Shuo menghancurkan Bukit Karang, bebatuan berterbangan di segala arah. Melihat musuhnya yang melarikan diri, Yao Shuo mengejarnya.
Hu Weiheng dan Chen Ying juga ikut mengejarnya. Di benak mereka, hari ini Pagoda Berlian harus didapatkan. Mereka khawatir jika Dewa Binatang meningkatkan kekuatannya, jelas akan lebih menyulitkan.
"Aku tidak terima!?" kemarahan Hu Yue Yan yang sudah mengganti pakaiannya, ia segera mengejar Dewa Binatang yang terbang menuju ke Samudera Hitam.
Chen Yeon menghela nafas berat karena tidak tahu harus berkata apa dengan situasi saat ini. Tetapi karena misinya untuk mendapatkan Pagoda Berlian, maka mau tidak mau harus menyelesaikannya sesegera mungkin...
Setelah kepergian mereka dari wilayah Kerajaan Datura, Permaisuri Ivy baru bisa berdiri setelah tertekan aura kekuatan para Dewa. Putri Melvina juga segera bangkit sambil mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah akibat tekanan kuat dari tingkat Holy Light Realm.
"Mengerikan mereka!" ucap Putri Melvina, lalu dia mengeluarkan foto seorang pria yang tidak lain adalah Dewa Binatang.
"Dewa Binatang sangat hebat mampu melawan mereka!" kekaguman Putri Melvina sambil melihat foto di tangannya.
Melihat putrinya yang terlihat jelas sedang jatuh cinta, Permaisuri Ivy geleng-geleng karena memikirkan kejadian akhir-akhir ini. Ia hanya berpikir kenapa dunia semakin aneh, apakah tidak ada lagi keadilan di tempat ini?
--------
Saat ini, Dewa Binatang berada di tengah-tengah Samudera Hitam. Dia selalu menghindari pukulan berenergi dari musuhnya yang mengejarnya.
Karena tidak ingin berlarut-larut tertekan seperti ini, akhirnya Dewa Binatang mengeluarkan Kekuatan Jiwanya. Muncul bola energi kunang-kunang yang memutari tubuhnya.
Keluarnya bola energi kunang-kunang, membuat gerakan musuhnya menjadi melambat karena merasakan kepalanya pusing. Mereka segera mengeluarkan basis kultivasinya sehingga membuat air laut bergejolak hebat. Kemudian, mereka tidak lagi merasakan dampak dari Kekuatan Jiwa.
__ADS_1
Namun, dihadapan mereka bermunculan bola-bola energi dari kekuatan jiwa, dan melesat ke arahnya. Kelima orang itu merasakan ancaman. Segera mereka mengerahkan seluruh energi spiritualnya.
Boom boom boom...
Rentetan ledakan hebat ketika bola energi kunang-kunang berbenturan dengan serangan dari kelima orang itu. Ledakan energi itu memicu gelombang kejut yang membuat kelima orang itu kembali merasakan sakit kepala.
Ketika rasa sakit kepala menghilang, mereka tercengang karena tidak melihat Dewa Binatang. Mereka segera menyebar untuk mencari keberadaan Dewa Binatang, kecuali Yao Shuo.
Dia tidak ikut mengejar Dewa Binatang karena merasakan aura familiar di dasar laut, yaitu energi kegelapan yang hanya diketahuinya. Setelah melihat rivalnya telah jauh, dia masuk ke dalam air laut...
--------
Di Bulan Nordic.
Melihat Dewa Binatang yang menjadi buruan orang yang lebih kuat, Taois Xian memutuskan untuk tidak ikut bersaing dalam perebutan Pagoda Berlian. Jadi, mereka kembali ke Alam Suci.
Di Alam Suci, mereka menggunakan Cermin Sihir untuk memantau situasi di Planet Peliades. Kaisar Langit dan Maharaja Yaksa, mereka mengutarakan rencananya kepada utusan dari Alam Kudus.
Taois Xian, Taois Chen dan Taois Lim mendukung rencana mereka, bahkan akan ikut serta di dalamnya. Dewa Petarung dan Dewa Pemusnah tidak ketinggalan, mereka mengajukan diri untuk memimpin pasukan.
*****
Kembali ke Dewa Binatang.
Setelah menyerang kelima musuhnya dengan menggunakan energi Kekuatan Jiwa, dia segera berteleportasi secara acak dan muncul di wilayah Kerajaan Abotorus, wilayah yang tidak dikenalinya.
Saat ini, Dewa Binatang berada di Propinsi South Wind, tepatnya di pintu masuk ke Desa Ulcaster, sisi timur dari South Wind. Jumlah penduduknya tidak banyak, hanya ada 20 keluarga, dengan jumlah kurang dari 37 jiwa, dan sangat sedikit anak mudanya. Jarak rumah antara penduduk terpaut jauh, terdekat berjarak lebih dari 70 meter.
Dia duduk termenung di atas batu.
Wajahnya terlihat pucat karena mengeluarkan banyak energi karena harus melawan lima musuh. Kondisinya saat ini seperti yang dialami oleh Dewa Pemusnah.
Dewa Binatang tidak menyangka lawannya mengingkari kesepakatan awal setelah dirinya menang. Terlalu naif karena terlalu mempercayai mereka, pikirnya.
Untung saja, ketika musuhnya sakit kepala, dia segera mengunci auranya dan buru-buru berteleportasi karena energinya hampir terkuras habis.
Tetapi, setelah bertarung dengan Hu Yue Yan, dia memetik pengalaman penting, di mana bisa mengetahui batas kemampuannya yang selama ini tersembunyi. Seandainya, jika tidak bertarung, kemungkinan besar dia tidak tahu seberapa besar kemampuannya saat ini.
Ketika Dewa Binatang termenung, keluar dari Desa Ulcaster seorang pria usia 60 tahun, matanya sipit dan tinggi badan 170 cm, kulitnya kuning, rambut pendek yang sebagian telah memutih.
"Anda kelelahan ...! Izinkan saya menjamu Anda di kediaman kami," ucap pria tua itu dengan ramah, dia merasa kasihan melihat pria muda ini yang pakaiannya compang-camping.
Dewa Binatang tersenyum sambil melihat pria itu yang tampaknya bukan asli penduduk Benua Peliades. Dia sedikit keheranan kenapa orang ini tidak khawatir jika yang ditemui adalah seorang penjahat.
"Terima kasih! Saya tidak akan sopan!" ucap Dewa Binatang yang tidak menolak kebaikan pria ini.
__ADS_1
"Mari, ikuti saya."
Dewa Binatang mengikuti pria itu. Selama perjalanan, pria itu banyak berbicara. Ternyata pria itu bukan asli penghuni Benua Peliades, namanya yang membuat Dewa Binatang tersenyum karena sama-sama bermarga Tian.
Namanya adalah Tian Fai, berasal dari Local Interstellar, tepatnya berada di Bumi. Jarak yang sangat-sangat jauh dari Laniakea Super Cluster.
"... Saya bisa berada di sini juga bukan karena keinginan, melainkan secara tidak sengaja masuk ke di dalam portal dimensi lain. Tuan Muda pasti pernah mendengar yang namanya Multiverse? Memang ada dunia lain selain dunia yang kita ketahui...," Tian Fai menceritakan asal-usulnya tanpa ada kekhawatiran apapun.
Tian Fai tidak sendirian saat masuk ke dalam portal dimensi, dia bersama istrinya yang juga sama-sama seorang kultivator, namun kultivator tingkat rendah, berada di tingkat Kaisar.
Mereka berdua adalah seorang petualang, mencari makam-makam kuno untuk mendapatkan sumber daya. Ketika menemukan makam kuno, yang ternyata adalah makam dari seorang penguasa tunggal yang bernama Celestial Snake, dia dan istrinya secara tidak sengaja menemukan altar di dalam makam.
Di altar itulah yang membawa mereka ke Planet Peliades. Dari cerita ini, Dewa Binatang menduga jika makam Celestial Snake dibuat oleh anak buah dari istrinya (Celestial She).
"... Itu kejadian 20 tahun yang lalu. Kami tidak menyesal tersesat di benua ini, sebab kita bisa meningkatkan kekuatan tanpa harus mencari sumber daya dengan susah payah," kata Tian Fai sambil melihat ke arah rumahnya.
"Kedua wanita itu adalah istri dan putriku. Kehadiran putriku yang membuat kita makin betah di sini....," lanjutnya, dia berhenti berbicara karena menghela nafas panjang, dia berhenti berjalan dan diikuti oleh Dewa Binatang.
Dewa Binatang melihat kedua wanita itu yang lebih muda 9 tahun dari Tian Fai, namanya Lai Xiu. Sedangkan wanita muda usia 18 tahun bernama Tian Xiu Jun, berwajah manis seperti ibunya, tinggi badan 168 cm, kulit kuning seperti ayahnya. Mereka berdua seperti adik dan kakak, yang saat ini sedang memanen sayuran di kebun.
"Anda merindukan kampung halaman?" tebakan Dewa Binatang saat mendengar helaan nafas dari Tian Fai.
"Seandainya bisa!" jawab Tian Fai dengan jujur, dia melihat Dewa Binatang dan bertanya, "ngomong-ngomong, siapa nama Anda?"
Dewa Binatang tertawa renyah karena lupa tidak memperkenalkan diri, "nama kita sama. Tian Zhi Shimo, panggil saja Shimo!"
"Suatu keberuntungan bisa bertemu dengan orang yang berasal dari tempat yang sama." Tian Fai tertawa bahagia karena mengira Dewa Binatang juga tersesat seperti dirinya.
Lai Xiu dan Tian Xiu Jun menghentikan aktivitas karena mendengar suara tawa. Melihat Dewa Binatang, mereka berdua terpesona dengan ketampanannya.
"Istriku, masakan yang terbaik untuk tamu kita yang berasal dari Bumi!" pinta Tian Fai dengan suara yang keras karena bahagia.
Lai Xiu dan putrinya buru-buru pergi ke dalam rumah, wajah mereka terlihat sangat senang. Kemudian, Tian Fai mengajak Dewa Binatang masuk ke dalam rumah kayu yang cukup besar. Mereka duduk di ruang tamu dan kembali mengobrol tentang segala hal.
Tian Xiu Jun yang membantu ibunya memasak, sering kali melihat ke arah ruang tamu, melihat Dewa Binatang. Lai Xiu tersenyum melihat putrinya yang tertarik dengan pria lain.
"Sungguh beruntung kita bertemu dengan orang yang berasal dari Bumi. Ibu kira, hanya kita saja yang tersesat di tempat ini," kata Lai Xiu dan kembali mengiris bawang.
Tian Xiu Jun tersipu malu karena Dewa Binatang melihatnya sekilas, ia buru-buru kembali membantu ibunya...
"Keadaan saya waktu itu seperti Anda setelah keluar dari portal dimensi... Tunggu sebentar!," kata Tian Fai dan segera beranjak dari tempat duduknya.
Dewa Binatang melihatnya yang menuju ke lemari, mengambil pakaian. Kemudian, Tian Fai memberikan pakaiannya kepadanya. Dewa Binatang tersenyum karena kebaikannya, padahal pakaiannya sangatlah banyak.
Untuk menghormati kebaikan dari Tian Fai, Dewa Binatang tetap menerima pakaian milik Tian Fai.
__ADS_1
"Silakan Tuan Muda Shimo berganti pakaian di kamar itu," kata Tian Fai sambil menunjuk ke arah kamar putrinya.
Dewa Binatang segera menuju ke kamar milik Tian Xiu Jun. Saat berada di dalam, dia mencium aroma wangi khas seorang gadis. Dia langsung menebak pemilik kamar ini...