God Of Beast 2 - Revenge

God Of Beast 2 - Revenge
Melawan Para Raksasa, Bai Ze.


__ADS_3

Bab 155. Bai Ze.


...****************...


Waktu berlalu lebih dari 4 bulan setelah fenomena alam semesta. Selama itu, Dewa Binatang belum ditemukan. Hal ini menyebabkan banyak orang makin khawatir, sebab salah satu anak panah dari 12 rasi bintang makin bercahaya, merupakan pertanda akan bergerak.


Kepala Desa Ulcaster dan Samara, yang diselamatkan oleh seorang prajurit Langit, segera melaporkan bahwa ada seseorang yang mencurigakan sebelum terjadinya bencana.


Prajurit itu mengajak Kepala Desa Ulcaster dan Samara untuk menemui Dewi Aura. Kebetulan, Dewi Aura bersama dengan Hu Yue Yan. Mendapatkan laporan itu, Hu Yue Yan segera menuju ke rumah keluarga Tian Fai untuk penyelidikan.


Sayangnya, akibat bencana, kediaman keluarga Tian Fai telah menjadi puing-puing. Mereka tidak menemukan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Dewa Binatang.


"Hamba masih ingat betul dengan wajah pria itu, sebab ... Wajahnya sesuai dengan ciri-ciri yang Dewi sebutkan," kata Samara yang hampir keceplosan berbicara tentang hubungan intimnya dengan Dewa Binatang, untung saja ia lihai berbicara sehingga tidak membuat kecurigaan suaminya.


"Informasi ini sangat berarti bagi kami. Kalian bisa kembali," ucap Hu Yue Yan sambil melihat ke arah prajurit Langit, "rawat mereka dengan baik!" perintahnya kepada prajurit Langit.


"Laksanakan, Yang Mulia!"


Setelah prajurit Langit membawa Kepala Desa Ulcaster dan Samara, Hu Yue Yan dan Dewi Aura duduk bersila di tengah-tengah puing bangunan kediaman Tian Fai. Mereka melacak keberadaan Dewa Binatang.


Setelah beberapa waktu pelacakan dengan mengunakan kesadaran, keberadaan Dewa Binatang masih juga belum ditemukan. Dewi Aura dan Hu Yue Yan membuka mata karena merasakan tekanan kuat dari langit.


Mereka berdua terbelalak melihat satu anak panah dari 12 rasi bintang telah meluncur ke Planet Peliades dengan kecepatan cahaya. Apa yang dirasakan oleh kedua wanita itu, juga dirasakan oleh semua Dewa yang berada di Benua Peliades.


Anak panah itu tertuju pada lingkaran cahaya yang keluar dari altar Dewa Sihir. Ketika akan mencapai wilayah Laniakea Super Cluster, anak panah itu berubah menjadi binatang purbakala yang ukurannya sangatlah besar, ukuran tubuhnya mencapai lebih dari 10 ribu kilometer (ketika terbang), dan itu adalah Bei (Bai Ze) salah satu dari Four Disaster.


Wujudnya berkepala banteng, tubuh manusia dengan empat lengan, telapak kakinya tetap seperti banteng, memiliki empat tangan, sepasang tangannya membawa senjata gada berduri dan sepasang tangan yang lain membawa palu, kulit tubuhnya kuning keemasan, di hidung ada cincin.


Hu Yue Yan dan Dewi Aura segera berkumpul dengan semua orang di pesisir pantai wilayah Samudera Hitam...


(1) "Bai Ze... Mahkluk ini sangat kuat, aku belum tentu bisa mengalahkannya!" ungkap Chen Yeon sambil melihat ke arah langit yang tertuju pada Bai Ze.


"Kita harus bekerjasama untuk mengalahkannya. Apapun caranya, jangan sampai dia keluar dari benua ini!" sahut Hu Weiheng kepada Taois Xian dan semua Dewa.


"Kami siap untuk melindungi Alam Semesta!" ucapan Kaisar Langit dan diikuti oleh semua Dewa.


Hanya Maharaja Yaksa saja yang tetap diam semenjak bertemu dengan Chen Yeon, dia selama ini selalu mengamati situasi untuk menemukan peluang keuntungan pribadi.


"Apakah Pagoda Emas tidak bisa memenjarakannya?" tanya Kaisar Langit kepada Chen Yeon.


Chen Yeon melihat sekilas Kaisar Langit dan kembali tertuju ke langit, lalu menjawab, "Bai Ze berasal dari tempat kita, yang artinya memiliki kemampuan antitesis dari benda-benda alami. Artefak Alami milik Anda dan yang lainnya, tidak akan sanggup mengurungnya dalam waktu lama."


Chen Yeon dengan sengaja tidak mengungkapkan asal-usulnya, sebab keberadaan mereka sebenarnya sangat dirahasiakan. Selama berinteraksi, Chen Yeon dan rekan-rekannya mengaku berasal dari planet yang jauh dari Alam Suci, yaitu berasal dari Planet Delusion.

__ADS_1


Taois Xian dan semua orang segan untuk bertanya, sebab kekuatan yang menjadi penghalang untuk bisa bebas berinteraksi. Namun, secara diam-diam, Taois Xian, meminta kepada Dewa Petarung dan Dewa Pemusnah untuk mendekati Chen Yeon serta Hu Yue Yan.


Demikian juga dengan Maharaja Yaksa yang memerintahkan kepada Dewa Gairah dan Dewa Nafsu untuk memikat hati kedua wanita itu. Tujuan mereka, tidak lain karena ingin mengetahui asal-usulnya, serta mendapatkan rahasia cara untuk meningkatkan kekuatan dengan cepat.


"Itu artinya kita masih ada kesempatan untuk mengalahkan ketika Bai Ze terkurung di dalam Pagoda Emas, bukan?" sahut Hu Yue Yan yang baru tiba.


"Kita coba saja," kata Chen Yeon sambil melihat Hu Yue Yan, lalu melihat Kaisar Langit dan bertanya, "aku dengar-dengar Anda membuat rencana untuk menangkap Dewa Binatang dengan menggabungkan Artefak Alami? Bagaimana jika diuji coba terlebih dahulu kepada Bai Ze!"


Kaisar Langit melihat Taois Xian karena ingin tahu pendapatnya, dan hanya di anggukan kepala oleh Taois Xian sebagai jawaban.


"Saran Anda memang brilian! Baiklah, kita akan gunakan rencana ini setelah Bai Ze tiba di sini!" jawab Kaisar Langit.


Kemudian, sambil menunggu kedatangan Bai Ze, tentara Asyura dan tentara Langit mengungsikan seluruh penduduk Benua Peliades ke Planet Petir...


Ketika jarak Bai Ze semakin dekat, tekanan aura kuat semakin dirasakan, kekuatannya melebihi tingkat Holy Light Realm. Wajah-wajah kegelisahan terpampang jelas di setiap orang yang siap bertarung.


Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya Bai Ze memasuki wilayah Laniakea Super Cluster. Suara gemuruh angin yang berasal dari Bai Ze membuat Planet Peliades dan sekitarnya bergetar hebat.


Lingkaran sinar yang berasal dari altar Dewa Sihir, menarik tubuh Bai Ze, dan membuatnya semakin cepat...


Boom...


Mendaratnya Bai Ze yang menghantam tanah menciptakan ledakan keras, dan makin mengguncang Benua Peliades. Kemudian, disusul gelombang tsunami yang bergerak ke segala arah, lalu berhenti tepat di pesisir pantai, debu-debu tebal menutupi seluruh wilayah Samudera Hitam.


"Musnahkan!"


Satu kata perintah keluar dari altar Dewa Sihir dan terdengar oleh semua orang, suaranya serak dan menggelegar keras. Kemudian, keluar mahkluk-mahkluk raksasa yang mengerikan dari dalam altar Dewa Sihir, jumlahnya mencapai jutaan raksasa. Wujudnya menyerupai Bai Ze, tetapi ukuran tubuhnya lebih kecil, setingkat 8 meter dengan badan kekar.


Raksasa-raksasa itu keluar dari lingkaran sinar, mereka menyerang siapapun yang dilihatnya. Chen Yeon memerintahkan kepada semua Dewa untuk menyerang.


"Serang...!!" teriakan Chen Yeon, lalu dengan gagah berani melepaskan pukulan berenergi tinggi ke arah raksasa yang mendekatinya.


Boom...


Ledakan energi spiritual ketika pukulannya mengenai tubuh raksasa. Namun yang mengejutkan, tubuh raksasa tidak hancur, melainkan hanya terguling-guling ke belakang, dan segera bangkit untuk menyerangnya.


Hu Yue Yan, Hu Weiheng, Chen Ying, tiga taois, Dewa Petarung dan semua Dewa segera maju menyerang para raksasa. Lalu diikuti oleh balatentara Langit dan Asyura yang melesat ke arah lawan.


Suara benturan energi menggema di seluruh penjuru Benua Peliades. Setiap Dewa mengeluarkan segala kemampuan untuk mengalahkan para raksasa.


Chen Yeon akhirnya mengeluarkan senjata andalannya, pedang lentur yang mampu mencabik-cabik tubuh raksasa. Pedangnya meliuk-liuk seperti ular ketika melesat ke arah targetnya, setelah itu tubuh targetnya terbelah.


Hu Yue Yan tidak kalah hebatnya ketika menggunakan chakram jenis senjata lempar. Senjatanya berbentuk lingkaran dengan lubang di tengah dan bilah tajam di sepanjang sisi luarnya. Senjata chakram-nya juga membelah tubuh targetnya ketika dilemparkan.

__ADS_1


Dewa Petarung dengan senjata tombaknya, menusuk dan mengayunkannya ke arah raksasa Bai Ze. Dewa Pemusnah menggunakan kapaknya, setiap kali kapaknya mengenai target, tubuh raksasa terbelah dua.


Yang mengejutkannya semua orang, setiap kali tubuh raksasa terbelah, selalu kembali menyatu, bangkit dan kembali menyerang. Anehnya lagi, energi spiritual seakan-akan tidak mempan bagi tubuh raksasa, hanya membuatnya terpental dan bangkit kembali.


Keadaan seperti ini, menyudutkan semua orang yang lambat laun mulai kewalahan menghadapi serangan para raksasa.


Maharaja Yaksa yang pertama kali menemukan kelemahan para raksasa, yang mana ketika tubuh raksasa terbelah, dia segera meledak tubuh raksasa itu sebelum menyentuh tanah.


Kaisar Langit yang berada di sampingnya, dengan jelas melihat adiknya menemukan kelemahan para raksasa, dia segera memberikan informasi ini kepada semua orang.


Mengetahui kelemahan lawan, semua Dewa bekerjasama dengan berpasangan, sebab lawannya tidak hanya satu, melainkan jutaan. Semua Dewa semakin bersemangat.


Lalu bala bantuan datang dari Dewa Penghancur yang membawa pasukan Langit, dia bersama dengan Dewa Api. Entah bagaimana Dewa Penghancur mampu memulihkan energinya, yang seharusnya membutuhkan waktu lama untuk pemulihan.


Akan tetapi, bala bantuan tidak banyak membantu karena para raksasa terus keluar dari dalam altar Dewa Sihir, yang mana satu raksasa mati, maka yang keluar 10 raksasa.


Walaupun begitu, semua Dewa dan Dewi tidak kenal lelah untuk melawan para raksasa. Dengan gagah berani terus-menerus menyerang. Satu hari berlalu hingga hari berikutnya, dan pertempuran masih terus berlanjut....


...****************...


(2) Di dalam Dunia Jiwa milik Dewa Binatang.


Boom...


Energi terobosan keluar dari tubuh Dewa Binatang, lalu dia membuka mata setelah sekian lama berkultivasi. Dia tersenyum senang setelah sekian lama akhirnya menerobos ke tingkat Divine Realm.


"Dengan kekuatanku saat ini, kemungkinan besar mampu mengalahkan mereka," gumam Dewa Binatang sambil berdiri.


Dia keluar dari lantai 12 untuk melihat perkembangan semua istrinya, termasuk pasukannya. Dewa Binatang geleng-geleng melihat Tian Lihua dan semua istrinya, sebab peningkatan kekuatan mereka sangat lambat, hanya naik beberapa level, dan itupun belum mencapai ranah Hyper Omega.


Melihat semua istrinya masih belum selesai berkultivasi, Dewa Binatang memutuskan untuk mengunjungi Dewi Kasih dan Dewi Kedamaian, yang saat ini berada di taman belakang Istana Dewa Binatang.


Dewi Kasih dan Dewi Kedamaian tampak bahagia tinggal di Dunia Jiwa milik Dewa Binatang, hidup mereka seakan-akan seperti Putri Kekaisaran yang diperlakukan istimewa oleh semua dayang istana.


Baru saja keluar dari Pagoda Berlian, dia terkejut melihat tempat persembunyian tidak lagi berada di dalam bawah tanah, melainkan sudah berada di tepi sungai.


Melihat ada perubahan itu, segera Dewa Binatang keluar dari dalam Dunia Jiwanya. Setelah keluar, apa yang dilihatnya adalah kekacauan, seperti terjadi bencana alam. Lalu dia mendengar suara ledakan energi, dan juga merasakan tekanan kuat yang berasal dari arah Samudera Hitam...


Bersambung.


(Note: (1) Jika di Bumi, Bai Ze seperti SCP 169 atau yang juga dikenal dengan Leviathan, merupakan binatang raksasa purbakala yang memiliki ukuran tubuh sepanjang 8 ribu kilometer. Jika diibaratkan dengan luas suatu daerah, maka ukuran dari SCP 169 ini seluas Kepulauan Riau atau 10 kali ukuran dari wilayah Samarinda.


(2) waktu di Dunia Jiwa dengan di dunia luar jelas berbeda. 1 jam di dunia luar sama dengan 24 jam di dalam Dunia Jiwa.)

__ADS_1


__ADS_2