
Bab 165. Kekalahan Lord Transcendental, Adalah Permulaan
Miliaran raksasa segera menutup jalan yang seharusnya dipersiapkan untuk Dewa Binatang. Kemudian, tanpa diperintah oleh Lord Transcendental, para raksasa itu menyerang Dewa Binatang.
"Semuanya, bersiap untuk memberikanku kekuatan yang kalian miliki" pinta Dewa Binatang kepada semua penghuni Dunia Jiwanya, termasuk kepada semua istrinya.
"Kami sudah siap kapanpun saat diperintahkan!" jawab semua penghuni di Dunia Jiwanya.
Dewa Binatang akan menggunakan cara yang sama ketika mengalahkan Bai Ze, dengan meminjam kekuatan pasukan wanita. Walaupun semua penghuni di Dunia Jiwanya tidak ikut bertarung, kontribusi mereka sangatlah besar artinya bagi Dewa Binatang karena mendapatkan kekuatan mereka, walaupun sementara.
Dewa Binatang memegang erat Pedang Semesta dan mengalirkan energi Kekuatan Jiwanya. Kemudian, dia juga mengeluarkan energi kunang-kunang untuk melindungi diri. Segera dia mengayunkan pedangnya ke arah raksasa yang sudah bergerak menyerangnya.
Boom boom boom...
Rentetan suara ledakan energi ketika bilah Pedang Semesta mengenai tubuh para raksasa. Seketika tubuh para raksasa yang terkena menjadi abu. Akan tetapi, para raksasa itu tidak sedikitpun takut, justru terus menyerang Dewa Binatang.
Tanpa henti, Dewa Binatang mengayunkan pedangnya sambil melesat ke arah Lord Transcendental. Namun, karena terlalu banyaknya para raksasa, dia kesulitan untuk menerobos barisan raksasa.
Satu hari berlalu, Dewa Binatang bertarung tanpa kenal lelah. Dua hari berlalu, Omniverse Magic World selalu bergetar hebat setiap kali dia menghancurkan banyak raksasa.
Akan tetapi, jutaan tentakel terus-menerus mengeluarkan raksasa yang jumlahnya semakin bertambah. Dewa Binatang menyadari, tetapi dia tidak bisa mendekati Lord Transcendental, sebab para raksasa bisa terbang untuk menutup pergerakannya.
Semua penghuni Dunia Jiwanya ingin sekali membantu Dewa Binatang, namun kekuatan mereka sangat dibutuhkan ketika melawan Lord Transcendental.
Jadi, hanya bisa melihat Dewa Binatang seorang diri bertarung. Memberikan semua kekuatannya, jelas akan melemahkan diri seperti saat mengalahkan Bai Ze. Memberikan kekuatan sama saja dengan bertarung. Oleh sebab itu, semua penghuni Dunia Jiwa hanya bisa menjadi penonton.
...****************...
Di luar lingkaran sinar, semua Dewa terlihat cemas karena Dewa Binatang tidak kunjung keluar dari dalam altar, padahal ini sudah lebih dari tiga hari berlalu.
Tetapi, mereka melihat percikan api yang keluar dari altar, dan juga suara dentuman teredam, serta merasakan tanah yang selalu bergetar. Menandakan bahwa Dewa Binatang sedang bertarung.
Ketika pada hari ketujuh, Raksasa Mata Satu akhirnya bergerak dan keluar dari lingkaran sinar, dari kedua tangannya mengeluarkan bola api, mengepak-ngepakan sayapnya yang memicu hawa panas, dan perlahan terbang.
Melihat itu, Chen Yeon dan semua Dewa segera menyerang Raksasa Mata Satu, termasuk Xu Huang yang dengan semangat mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Raksasa Mata Satu yang dikeroyok oleh jutaan tentara, serta puluhan Dewa tidak sedikitpun gentar, malahan telah banyak tentara yang ditumbangkan. Berhubung fisiknya yang super besar, tubuhnya mudah sekali terkena setiap serangan lawan. Biarpun begitu, dia tidak mundur, tetap melemparkan bola api dan mengepak-ngepakan sayapnya yang juga mengeluarkan api.
Medan Perang Samudera Hitam menjadi lautan api, tetapi tidak membuat para Dewa dan balatentara gentar. Dengan gagah berani, semua pejuang terus-menerus menghujani tubuh Raksasa Mata Satu dengan serangan.
Lambat laun, Raksasa Mata Satu kewalahan menghadapi musuhnya yang menang jumlah. Raksasa itu akhirnya jatuh ke tanah setelah Chen Yeon dan Hu Yue Yan memberikan serangan telak di matanya, mata yang menjadi titik kelemahannya.
Mengetahui titik kelemahan Raksasa Mata Satu, Chen Yeon memerintahkan semua pejuang untuk menyerang kelemahan lawan. Mata raksasa itupun dihujani serangan dari para Dewa dan balatentara.
Boom...
Ledakan energi ketika Raksasa Mata Satu berubah wujud menjadi kecil, seukuran tubuh manusia, tinggi badan 180 cm. Dampak ledakan energi itu menghempaskan semua pejuang, tak terhitung banyaknya balatentara yang meregang nyawa.
__ADS_1
Setelah semua pejuang menstabilkan tubuhnya, mereka tercengang melihat wujud asli dari Raksasa Mata Satu, yang mana berubah menjadi seorang wanita cantik bermata tiga, tetapi masih memiliki sepasang sayap kupu-kupu yang mengeluarkan api, pakaiannya berwarna kuning.
"Kalian membuat Gemini marah!" ujar wanita itu sambil merenggangkan otot lehernya. Setelah itu, ia melihat Chen Yeon dan Hu Yue Yan yang paling kuat dari semua pejuang.
"Kalian berdua maju, atau semua maju juga tidak masalah!" tantang Gemini sambil mengepak-ngepakan sayapnya, terbang perlahan ke arah Chen Yeon.
"Aku tahu kalian kelelahan dan terluka, demikian juga denganku! Demi orang-orang yang kita cintai, kita harus mengalahkannya dengan segala cara!" ucap Chen Yeon yang memotivasi semua pejuang.
Para Dewa dan semua pasukan pun kembali bersemangat untuk melindungi semua kehidupan. Kemudian, Chen Yeon dan Hu Yue Yan melesat ke arah Gemini terlebih dahulu, lalu disusul oleh Kaisar Langit, Maharaja Yaksa, dan semua Dewa. Seluruh pasukan segera ikut menyerang Gemini.
Gemini tidak ada rasa takut menghadapi lawan yang mengepungnya. Dari kedua tangannya melakukan gerakan menyentil, lalu keluar bola-bola api dari sentilannya. Bola-bola api melesat sangat cepat ke arah target terdekat, lalu disusul ledakan ketika berbenturan dengan serangan lawan.
Ledakan energi menggetarkan Benua Peliades. Gemini yang dikeroyok, selalu dengan lincah menghindari setiap serangan lawan, lalu membalas serangan...
...****************...
Sedangkan Dewa Binatang, tidak jauh berbeda dengan Gemini yang bertarung seorang diri, dia semakin dekat dengan Lord Transcendental. Tak terhitung banyaknya raksasa yang tumbang ditangannya.
"Percuma kau melawan pasukan kegelapan, lebih baik menyerah dan menjadi budakku," kata Lord Transcendental yang ingin menganggu mental Dewa Binatang.
Dewa Binatang tidak menggubris perkataan Lord Transcendental, dia terus menumbangkan para raksasa. Tetapi, terbesit di pikirannya ketika mendengar kata "pasukan kegelapan", yang mana kegelapan akan menghilang karena adanya cahaya.
Karena memiliki kemampuan dalam elemen cahaya, Dewa Binatang segera mengeluarkan kemampuannya. Dari dalam tubuhnya keluar cahaya benderang yang menyilaukan mata.
Dalam sekejap mata, Omniverse Magic World menjadi terang. Para raksasa yang menyerangnya seketika menjadi abu, lalu keluar kabut hitam yang melesat ke arah Lord Transcendental.
Sayangnya, tentakelnya seketika memudar terkena cahaya. Dampaknya, tubuh Lord Transcendental juga ikut memudar dan menjadi kabut hitam. Akan tetapi, kabut hitam itu merasuki tubuh Yao Shuo dan Dewa Sihir.
Boom boom...
Ledakan energi ketika Lord Transcendental memasuki tubuh Yao Shuo dan Dewa Sihir. Dewa Binatang terpental ke belakang karena dampak kekuatan itu, kekuatan yang jauh darinya, berada di tingkat The Realm Of Eternal Darkness.
Tubuh Dewa Binatang terseret sejauh ribuan meter, namun kedua tangannya segera menahan tubuhnya dengan bertumpu pada tanah keras.
Lalu dia melihat Yao Shuo dan Dewa Sihir yang melayang di udara. Dua Dewa dengan kekuatan The Realm Of Eternal Darkness, jauh lebih kuat dari Bai Ze.
"Saatnya!" perintah Dewa Binatang kepada semua penghuni Dunia Jiwanya.
Segera semua penghuni Dunia Jiwanya mengangkat kedua tangannya yang mengeluarkan energi spiritual. Dengan cepat, kekuatan Dewa Binatang melejit hingga setara dengan kedua lawannya itu.
Setelah memberikan semua energi kekuatannya, semua penghuni di Dunia Jiwa menjadi lemas, dan mereka terduduk sambil melihat Dewa Binatang. Semua pasukan binatang segera memejamkan mata untuk memulihkan kondisinya.
Melihat kekuatan lawan meningkat, Yao Shuo dan Dewa Sihir segera menghilang dan muncul di depan Dewa Binatang. Dari kedua tangan mereka, keluar ribuan tentakel.
Dewa Binatang segera mundur dari serangan ribuan tentakel, dia mengayunkan pedangnya. Ribuan tentakel itu terpotong-potong, tetapi tidak sedikitpun membuat kedua Dewa itu kesakitan. Kedua tangan Dewa itu dengan cepat meregenerasi, lalu keluar ribuan tentakel yang melesat ke arah Dewa Binatang.
Dewa Binatang jelas kewalahan menghadapi ribuan tentakel yang selalu meregenerasi. Ketika tentakel akan mendekatinya, bola-bola energi kunang-kunang selalu menghalangi.
__ADS_1
Kemudian, sambil terbang mundur, dia mengayunkan Pedang Semesta. Namun, sebelum bilah Pedang Semesta mengenai Dewa Sihir, Yao Shuo tiba-tiba muncul di belakangnya.
Dari kedua tangan dari Yao Shuo, tentakel membentuk kepalan tangan dan melesat ke punggung Dewa Binatang.
Boom boom...
Dua ledakan energi ketika Dewa Sihir terkena serangan dari Dewa Binatang, kedua tangannya hancur berkeping-keping. Pukulan dari Yao Shuo juga mengenai perisai energi kunang-kunang. Tetapi, tetap saja Dewa Binatang terpental ke depan karena terlalu dahsyatnya pukulan itu.
Boom...
Tubuh Dewa Binatang menghantam tanah sehingga menciptakan kawah. Kemudian, Dewa Sihir yang kedua tangannya telah pulih mengeluarkan ribuan tentakel. Kedua kedua Dewa itu muncul di atas Dewa Binatang yang belum sempat bangkit.
Sebelum bola-bola energi kunang-kunang keluar kembali, ribuan tentakel melilit tubuh Dewa Binatang, mengunci kedua tangan dan kakinya. Karena terlalu kuatnya lilitan tentakel, Dewa Binatang kesulitan untuk melepaskan diri.
Segera Dewa Binatang mengeluarkan energi Kekuatan Jiwanya agar terlepas dari jeratan tentakel. Namun yang mengejutkan, ribuan tentakel yang melilit tubuhnya tidak hancur.
Kemudian, lubang-lubang dari tentakel mengeluarkan kabut hitam yang memasuki pori-pori kulitnya. Saat kabut hitam memasuki pori-pori kulitnya, Dewa Binatang berteriak keras karena kesakitan, dia tahu akan dikendalikan oleh Lord Transcendental.
Jaringan sel-sel ditubuhnya menjadi hitam, demikian juga dengan darahnya. Akibatnya, tidak hanya rasa sakit, tetapi seluruh kemampuannya seperti terblokir.
Semua wanita di Dunia Jiwa jelas panik melihat suaminya kesakitan, mereka dengan sekuat tenaga berusaha untuk berdiri. Mengepalkan kedua tangannya sebagai bentuk kekhawatiran.
"Suami, gunakan Api Semesta!" saran Yuna Aurora yang terdengar di benak Dewa Binatang.
Sambil menahan rasa sakitnya dan sebelum Lord Transcendental mengendalikan tubuhnya, Dewa Binatang dengan segala kekuatannya berusaha untuk mengeluarkan Api Semesta yang sudah dimiliki.
"Arghhh...!" teriakan Dewa Binatang, dia merasakan kesakitan ketika kabut hitam yang menjalar ke seluruh jaringan tubuhnya bentrok dengan Api Semesta.
Karena panasnya Api Semesta, kabut hitam keluar dari tubuh dari Dewa Binatang. Lord Transcendental yang mengendalikan Dewa Sihir dan Yao Shuo, berusaha untuk terus mengalirkan kabut hitam kedalam tubuh Dewa Binatang.
Dewa Binatang hanya bisa berteriak ketika Api Semesta bentrok dengan kabut hitam, tubuhnya tidak bisa digerakkan karena terlilit tentakel.
Boom...
Ledakan energi ketika Api Semesta akhirnya keluar dari tubuh Dewa Binatang. Akibatnya, ribuan tentakel yang melilit tubuhnya seketika menjadi abu. Dewa Sihir dan Yao Shuo juga terkena Api Semesta.
Sebelum Api Semesta membakar seluruh tubuhnya, kedua Dewa itu menjauhi Dewa Binatang. Akan tetapi, Api Semesta tidak membiarkan mereka kabur.
"Arghhh...!!" kini yang berteriak adalah Yao Shuo dan Dewa Sihir ketika Api Semesta membakar tubuhnya.
Lord Transcendental tidak bisa keluar dari tubuh kedua budaknya karena dikurung oleh Api Semesta. Dalam sekejap mata, tubuh Yao Shuo dan Dewa Sihir menjadi abu. Sedangkan Lord Transcendental, dirinya menyatu dengan kegelapan di Omniverse Magic World.
Dewa Binatang membuang nafas keruh dari mulutnya dan perlahan memejamkan mata. Tian Lihua, Tian Shuwan, Tian Chunhua, Tian Mei Yin dan Yuna Aurora segera keluar dari dalam Dunia Jiwa. Lalu menahan tubuh Dewa Binatang yang pingsan.
Segera mereka masuk ke dalam Dunia Jiwa. Namun sebelum masuk, mereka mendengar suara dari Lord Transcendental.
"Selama ada kegelapan, selama itu Dewa Perusak akan tetap hidup. Kekalahanku, bukan berarti kalian menjadi pemenangnya. Ini baru permulaan! Hahaha!"
__ADS_1