
Bab 144. Dewa Kemalasan, Bola-Peor.
Bola-Peor si Dewa Kemalasan, membalikkan badan saat merasakan seseorang yang kuat, dia melihat sosok pria paruh baya membawa tongkat hitam yang menarik minatnya.
"Ambil tongkatnya!" perintahnya kepada prajurit Asyura.
Segera 10 tentara Asyura mematuhi perintah, mereka segera menghampiri Dewa Binatang. Namun, sebelum mereka mendekat, Dewa Binatang menghentakkan tongkat sihirnya ke tanah.
Tanah seketika naik seperti tsunami, setinggi 30 meter. Semua tentara Asyura segera terbang setinggi mungkin untuk menghindar tsunami tanah. Bola-Peor segera menghentakkan kakinya di tanah untuk menghancurkan tsunami.
Boom...
Tsunami tanah seketika hancur dan kembali seperti semula, dia makin tertarik dengan senjata Wand Of Despair. Segera 10 tentaranya melesat ke arah Dewa Binatang.
Dewa Binatang tersenyum tipis sambil mengayunkan Tongkat Keputusasaan. Bilah kapak melesat ke arah tentara itu dengan kecepatan tinggi.
Boom boom boom boom...
Rentetan suara ledakan energi ketika tubuh dari 10 tentara Asyura meledak. Tubuh mereka berserakan dimana-mana, darah membasahi tanah disekitarnya.
Keributan itu membuat tentara Asyura yang berada di dalam Ibu Kota segera keluar, mereka segera menyerang Dewa Binatang atas perintah Bola-Peor.
Melihat banyaknya tentara Asyura yang menyerangnya, Dewa Binatang segera menghilang dan muncul di belakang Bola-Peor.
Bola-Peor yang merasakan niat membunuh di belakangnya, segera melompat ke depan sambil membalikkan badan, lalu dia melihat targetnya. Tanpa banyak bicara, dia mengeluarkan senjata kapak dan mengayunkan ke arah Dewa Binatang.
Dewa Binatang menghilang sebelum bilah kapak energi mendekatinya, dia muncul di atas Bola-Peor sambil membalas serangan.
Boom...
Ledakan hebat ketika serangan dari Bola-Peor mengenai tembok pertahanan kota hingga hancur berkeping-keping, dia melihat Dewa Binatang yang telah menyerangnya. Dengan kecepatan maksimal, Bola-Peor menghilang dan muncul menjauhi Dewa Binatang.
Boom...
Serangan Dewa Binatang gagal mengenai targetnya dan menghantam tanah hingga membuat retakan seperti bilah kapaknya. 10 ribu tentara Asyura segera melindungi pemimpinnya, dengan membuat formasi barisan pertahanan kotak-kotak di udara, setiap barisan berjumlah seribu prajurit.
"Hebat juga kau! Ternyata di tempat ini ada juga orang yang kuat!" pujian Dewa Kemalasan sambil melihat Wand Of Despair yang mengeluarkan cahaya kebiruan, lalu dia berusaha melihat wajah Dewa Binatang yang terhalangi oleh topi khas penyihir.
"Kenapa, takut melawanku sendirian?" Dewa Binatang sengaja membuat musuh marah.
"Tidak... Tidak sedikitpun aku takut. Prajurit-ku bertindak sesuai prosedur aturan militer!" jawab Bola-Peor.
"Jika begitu... Ayo, bertarung denganku. Jika kau menang, Wand Of Despair ini menjadi milikmu!" tantangan Dewa Binatang.
Sambil tertawa, Bola-Peor mengangkat jari telunjuk tangan kiri yang terayun ke kanan dan kiri. Lalu dia berkata, "aku menginginkannya, tetapi tidak dengan prajurit-ku. Mereka tidak akan mengizinkanmu mendekatiku!"
__ADS_1
Setelah Bola-Peor selesai berbicara, barisan pertama berjumlah 1.000 prajurit melesat ke arah Dewa Binatang sambil mengayunkan senjata tombak berenergi tinggi. Gabungan kekuatan energi spiritual itu meningkatkan kekuatan mereka, setara dengan serangan dari kekuatan tingkat True Omega.
Dewa Binatang memutar senjatanya dengan tangan kanan untuk menangkis serangan itu. Ledakan energi ketika serangan 1.000 tentara Asyura membentur Wand Of Despair. Akibatnya, serangan mereka membentuk lingkaran di luar putaran Wand Of Despair, dan menghujani area di sisi kiri, kanan dan bawah.
Lalu datang lagi serangan dari 2.000 tentara Asyura untuk sesegera mungkin mengalahkan pria misterius itu. Namun, Dewa Binatang dengan mudahnya menangkis serangan tentara Asyura hanya dengan memutar Wand Of Despair.
Melihat pasukannya, Bola-Peor berpikir, dia merasa keheranan kenapa pria ini tidak membalas serangan tentara Asyura, padahal mampu menangkis serangan dari 3.000 tentara Asyura, seharusnya mampu juga untuk menyerang balik.
"Mungkin saja dia memang tidak memiliki kesempatan untuk menyerang balik karena kalah jumlah!" pikiran Bola-Peor.
"Artefak Bintang 7 puncak, jarang-jarang ada yang memilikinya selain Dewa-dewi di tempatku!" imbuhnya dengan bergumam.
Pertempuran di luar tembok pertahanan Ibu Kota Kerajaan Datura menjadi tontonan penduduk dan prajurit kerajaan. Satu orang mampu menangkis serangan gabungan dari 3.000 tentara Asyura, membuat banyak orang berdecak kagum dengan memuji.
Karena 3.000 tentara Asyura tidak mampu mengalahkan Dewa Binatang, Bola-Peor memerintahkan semua tentara Asyura untuk segera mengalahkannya.
Mengetahui 10.000 tentara Asyura yang akan menyerang secara bersamaan, Dewa Binatang yang menyamar segera menghilang setelah menangkis serangan.
Bola-Peor dan semua orang mencari keberadaan Dewa Binatang. Setelah beberapa saat mencari, mereka melihat Dewa Binatang terbang ke arah hutan yang terkenal berbahaya bagi siapapun, dihuni oleh banyak monster. Hutan itu disebut Hutan Kematian, berjarak 50 km dari Ibu Kota Kerajaan Datura.
Tanpa kenal takut, Bola-Peor dan 10.000 tentara Asyura mengejarnya. Melihat itu, sebagai penyihir muda dan tua mengikuti, mereka ingin mengambil keuntungan dari tentara Asyura.
Dengan banyaknya tentara Asyura, maka penyihir yang mengikuti akan mengambil tanaman langka dan material yang bisa meningkatkan kekuatan.
Ada dua sosok wanita cantik, ibu dan anak yang juga mengikuti Bola-Peor. Mereka adalah Permasuri Sabine Ivy dan Putri Melvina. Mereka tidak sendirian, melainkan bersama dengan 100 pengawalnya yang juga ahli penyihir handal.
Dari atas, Bola-Peor kesulitan untuk mencari keberadaan Dewa Binatang di dalam Hutan Kematian, bahkan Mata Dewa tidak mampu menembus lebatnya hutan. Mau tidak mau, Bola-Peor dan tentara Asyura harus turun.
Bola-Peor mengeluarkan peta wilayah Kerajaan Datura, kedua matanya tertuju pada wilayah Hutan Kematian yang sangat luas; ada pegunungan dan banyak perbukitan, satu-satunya hutan yang menjadi pembatas antara Kerajaan Datura dan Kerajaan Abotorus.
Sambil mempelajari geografis alam Hutan Kematian, dia bergumam lirih, "apakah dia adalah Dewa Binatang? Kenapa aku tidak merasakan aura khasnya?'
Bola-Peor dan semua orang yang berasal dari Alam Suci sangat mengetahui, jika penghuni Benua Peliades tidak ada yang memilki kekuatan di atas tingkat True Gama, kecuali penjaga Lubang Neraka.
Setelah bertarung sejenak dengan Dewa Binatang, Bola-Peor bisa mengetahui kekuatan lawannya yang seimbang dengannya. Dia segera menepis pikirannya yang mengira pria misterius itu adalah Dewa Binatang.
Jika benar dia adalah Dewa Binatang, tidak mungkin dirinya mampu mengalahkannya, dan sudah sejak awal bertarung sudah pasti dikalahkan.
Karena sifatnya yang pemalas, Bola-Peor enggan mempelajari geografis alam Hutan Kematian. Yang terpenting, dia harus mendapatkan Wand Of Despair tanpa susah payah karena memiliki banyak tentara Asyura.
Dia memerintahkan 1.000 tentara Asyura untuk memblokir jalan kabur dari atas pepohonan, lalu memerintahkan sisanya untuk masuk ke hutan dengan Formasi sabit berlapis, tujuannya untuk menyudutkan Dewa Binatang di Bukit Karang yang berada di bagian tengah dari Hutan Kematian.
2.500 tentara Asyura terlebih dahulu bergerak memasuki Hutan Kematian, lalu disusul oleh 2.500 tentara dengan jarak 20 meter. Bola-Peor segera mengikuti dan disusul oleh 4.000 tentara Asyura yang terbagi dua dengan membentuk garis memanjang.
Setelah tentara Asyura masuk, semua penyihir yang mengikuti juga masuk, tetapi tetap menjaga jarak agar tidak terkena dampak jika terjadi pertarungan hebat.
__ADS_1
Permaisuri Ivy dan Putri Melvina juga mengikuti bersama dengan pengawalnya. Entah apa tujuan mereka mengikuti tentara Asyura.
Seperti namanya Hutan Kematian, ketika baru masuk sudah merasakan aura kematian, suhunya lembab dan dingin, sedikit cahaya matahari yang berhasil menembus lebatnya hutan. Binatang monster yang merasakan aura tentara Asyura, tidak sedikitpun takut, justru diam-diam mengintai tentara Asyura.
Dewa Binatang yang memiliki banyak kelebihan, melihat banyak binatang monster yang tidak mengetahui kehadirannya, sebab dia saat ini menjadi udara.
Setelah jaraknya cukup jauh dari tentara Asyura, Dewa Binatang mengeluarkan Tubuh Ganda untuk memisahkan tentara Asyura yang selalu melindungi Bola-Peor. 100 Tubuh Ganda segera menyebar ke berbagai arah.
Binatang monster yang melihat 100 Tubuh Ganda segera menjauhinya karena memiliki aura khas sebagai penguasa seluruh jenis binatang di dunia, aura yang sangat ditakuti oleh seluruh binatang jenis apapun.
100 Tubuh Ganda telah berada di posisinya masing-masing, menunggu kedatangan tentara Asyura...
Barisan pertama tentara Asyura telah bertarung dengan binatang monster penghuni Hutan Kematian. Binatang monster itu berukuran besar dan membuat Formasi dari tentara Asyura kocar-kacir.
Satu binatang monster harus dilawan oleh 10 tentara Asyura yang memiliki kekuatan tingkat True Resonansi, bisa dibayangkan bagaimana kuatnya binatang itu.
Raungan dan suara ledakan energi sangat terdengar hingga di luar Hutan Kematian. Bola-Peor tidak sedikitpun khawatir jika harus kehilangan tentara Asyura, sebab dia melihat pasukannya masih mampu bertahan melawan binatang monster.
"Penjaga Lubang Neraka sudah sangat kuat, tidak heran binatang monster bisa sekuat ini!" gumam Bola-Peor sambil melihat beberapa tentara Asyura mundur karena terluka, lalu digantikan oleh tentara Asyura barisan kedua.
Demikian juga dengan binatang monster yang terluka, mereka kabur sambil mengigit tubuh salah satu tentara Asyura yang terluka dan akan menjadi makanannya.
Dewa Binatang tersenyum tipis melihat pertempuran binatang monster dan tentara Asyura. Dengan bantuan dari binatang monster, ini sama saja mempermudah rencananya.
Tentara Asyura kembali bergerak maju setelah memukul mundur binatang monster. Sedangkan tentara Asyura yang terluka segera keluar dari Hutan Kematian untuk memulihkan kondisinya.
Sedikit demi sedikit, tentara Asyura mulai berkurang karena setiap beberapa puluh meter selalu bertempur dengan binatang monster. Hingga hari menjelang sore, Hutan Kematian selalu bising dengan adanya pertempuran.
"Nyalakan api untuk membuat pertahanan. Malam ini kita beristirahat di sini!" perintah Bola-Peor kepada tentara Asyura.
Namun, sebelum api dinyalakan, beberapa tentara Asyura berteriak keras karena terkena anak panah. Ada anak panah yang menembus pahanya, ada sebagian yang dadanya terkena.
Anehnya, tidak ada satupun tentara Asyura yang tewas terkena anak panah. Mereka yang terluka segera mundur ke barisan belakang untuk mendapatkan perawatan.
"Sialan... Ini pasti ulahnya!?" kegeraman Bola-Peor yang melihat anak panah yang menembus tubuh tentara Asyura.
Dia dan tentara Asyura segera waspada terhadap serangan yang berbeda lokasi. Mereka hanya melihat anak panah seperti sinar yang melesat sangat cepat. Tentara Asyura yang menjadi target selalu terlambat untuk menangkis anak panah itu.
"Gunakan perisai untuk pertahanan!" perintah Bola-Peor kepada tentara Asyura.
Segera tentara Asyura menancapkan perisai besi di tanah, membentuk cangkang kura-kura. Akan tetapi, anak panah energi selalu menggetarkan perisai energi.
Bola-Peor melihat salah satu anak panah energi melesat ke arahnya, dia segera membuat perisai energi untuk memblokir serangan itu. Dia tersenyum penuh kemenangan karena serangan itu tidak sedikitpun mengenainya.
Senyuman seketika menghilang karena melihat banyak anak panah energi melesat ke arahnya dari posisi yang berbeda-beda. Kali ini serangan anak panah lebih kuat dari sebelumnya.
__ADS_1
Dengan panik, Bola-Peor mengeluarkan perisai energi spiritual untuk memblokir serangan itu. Tentara Asyura segera melindungi pemimpinnya dari serangan anak panah energi. Suara ledakan energi ketika perisai energi dan perisai besi berbenturan...