
Bab 238. Permasuri Qiao, Yao Ningqiao.
Raja Yao kembali tertawa karena senang jika Dewa Abadi membunuh semua kehidupan di sini, dan berharap pembantai segera terjadi
"Ayo bunuh kita!" tantang Raja Yao sambil mengangkat labu emas yang menyimpan kematian.
Labu emas itu juga mampu menyerap apapun kehidupan seperti Guci Air Mata Dewi milik Shuǐ Jingling.
"Jangan hiraukan ucapannya!" teriakan Chen Yeon Mei agar Dewa Abadi tidak terpancing.
Raja Yao melihat Chen Yeon Mei, lalu memerintahkan kepada Pasukan Omniverse, "bunuh mereka!"
Pasukan Omniverse segera bergerak, setiap langkah kakinya menggetarkan tanah. Karena tidak ada pilihan lain, mau tidak mau pihak Dinasti Fandui dan Dinasti Shandui harus melawan. Mereka harus melindungi semua pendatang baru dan penduduk Dinasti Anwuzhi dengan sekuat tenaga.
Bai Ge yang merupakan seekor Burung Merpati Putih, raungannya seperti elang. Mengepakkan sayap memutari Pasukan Omniverse. Dari sayapnya mengeluarkan petir yang menghujani tubuh Pasukan Omniverse.
Boom boom...
Rentetan suara ledakan ketika setiap serangan mengenai tubuh Pasukan Omniverse. Lalu disusul suara petir menggelegar keras ketika menghantam kepala Pasukan Omniverse.
Pasukan Omniverse meraung-raung keras karena dihujani serangan petir, tubuh mereka terhuyung-huyung tak karuan, menginjak-injak apapun yang berada di bawahnya.
Karena terlalu banyaknya Pasukan Omniverse, banyak yang bebas menyerang pendatang baru karena paling lemah kekuatannya. Dengan panik semua pendatang baru terbang ke segala arah untuk melarikan diri.
Sayangnya, karena basis kultivasinya yang rendah, tubuh mereka dengan mudah ditangkap oleh tangan Omniverse, dan seketika remuk seperti kerupuk ketika dipegang dengan sangat erat.
Dewa Abadi segera turun dari Merpati Putih untuk menyerang Raja Yao yang mampu memerintahkan Pasukan Omniverse. Namun, bermunculan banyak Mahaguru dari Dinasti Anwuzhi yang melindungi Raja Yao.
Tidak peduli jika itu adalah Mahaguru, Dewa Abadi menghilang dan muncul di depan mereka dengan kepalan tangan terayun. Kepalan tangannya mengarah ke perut targetnya, dia berniat untuk menghancurkan dantian mereka karena pusat sumber energi.
Boom...
Ledakan teredam saat satu Mahaguru Dinasti Anwuzhi terkena pukulan dengan sangat keras. Dia berteriak kesakitan karena dantian-nya terluka. Akibatnya energi kekuatannya keluar, basis kultivasinya langsung menurun dengan dratis.
Dengan cepat, Dewa Abadi menargetkan yang lainnya. Dan selalu muncul di depan targetnya dengan pukulan mengarah ke perut. Karena kalah kuat, targetnya tidak bisa menghindar maupun menangkis serangan.
Dua Jenderal Omniverse menargetkan Dewa Abadi. Mereka berusaha untuk menangkap Dewa Abadi dengan tangannya. Berhubung kalau kuat, mereka selalu gagal menangkap tubuh Dewa Abadi yang selalu menghilang.
Raja Yao segera menjauhi Dewa Abadi sebelum diserang, dia membuka penutup labu emas untuk menghisap semua orang. Namun, sebelum mengarah moncong labu emas mengarah ke targetnya, Dewa Abadi muncul di belakangnya dan merampas labu emas.
Raja Yao jelas kaget dan tidak bisa mempertahankan labu emas. Sebelum dia kabur, Dewa Abadi memukul tengkuknya sehingga pingsan. Kemudian, Dewa Abadi menyegel kekuatan Raja Yao dan memasukannya ke dalam cincin dimensi.
Gerakan Dewa Abadi yang sangat cepat membuat Jenderal Omniverse dan Mahaguru dari Dinasti Anwuzhi terlambat menyelamatkan Raja Yao. Mereka segera menyerang Dewa Abadi, namun target selalu menghilang dan menyerang balik dengan merusak dantian.
Tetapi, setelah dantian dirusak oleh Dewa Abadi, Jenderal Omniverse menginjak tubuh Mahaguru dari Dinasti Anwuzhi. Karena kekuatannya menurun dratis, tubuh mereka seperti kerupuk saat diinjak oleh Omniverse.
Boom...
Dewa Abadi memukul kepala Jenderal Omniverse yang membunuh Mahaguru dari Dinasti Anwuzhi. Pukulannya hanya membuat memar di wajah Omniverse.
Disaat Dewa Abadi bertarung dengan pemimpin Pasukan Omniverse, Bai Ge terus-menerus menghujani tubuh Pasukan Omniverse dengan petir, dia tidak bisa mengeluarkan semua kekuatannya karena tidak ingin para pendatang baru ikut tewas.
Setiap kali Pasukan Omniverse akan membunuh pendatang baru, Bai Ge segera menyerang dengan petirnya. Karena tidak mengeluarkan kekuatan penuh, serangannya hanya membuat Pasukan Omniverse terjatuh.
Ketika Pasukan Omniverse akan terjatuh, Para pendatang segera berlarian agar tidak tertindih tubuh raksasa. Namun mereka juga tidak bisa keluar dari lautan kering karena Pasukan Omniverse mengepung. Mereka hanya bisa menghindar dan menyerang walaupun tidak membuat sasaran terluka.
Boom...
Ledakan hebat ketika Dewa Abadi menghancurkan kepala Jenderal Omniverse. Tindakannya membuat Mahaguru Lu dan lainnya terkejut. Mereka khawatir jika energi kematian dari Jenderal Omniverse mempercepat kebebasan Dewa Perusak.
Karena pemimpinnya terbunuh, semua Pasukan Omniverse mengeluarkan sinar dari kedua matanya. Sinar matanya menghujani tubuh target, namun oleh Bai Ge diserang dengan petir. Pasukan Omniverse gagal menggunakan kemampuannya.
Sebelum Mahaguru Lu menghentikan Dewa Abadi yang akan menghancurkan kepala Mahaguru dari Dinasti Anwuzhi, energi kematian mengalir ke dalam tubuh Dewa Abadi.
__ADS_1
Semua orang juga terkejut melihat Dewa Abadi menyerap energi kematian dari tubuh Jenderal Omniverse yang terbunuh. Mengetahui hal itu, Mahaguru Sam dan yang lainnya bersemangat, mereka segera mengeluarkan semua kekuatannya untuk mengalahkan Pasukan Omniverse.
Dengan Dewa Abadi mampu menyerap energi kematian, mereka tidak lagi khawatir jika terbebasnya Dewa Perusak. Dan masih ada satu solusi lagi jika Dewa Abadi tidak mampu lagi menyerap energi kematian, yaitu menggunakan Api Semesta untuk memusnahkan energi kematian.
Dewa Abadi tidak menggunakan Api Semesta, sebab kekuatan yang lemah menjadi korbannya. Dengan menyerap energi kematian menjadi pilihannya. Inilah yang diperoleh dari hasil pencerahan.
Karena khawatir akan musuhnya, Dewa Abadi melupakan kemampuannya yang memiliki Batu Keabadian, yang mana mampu menyerap segala jenis energi. Dan energi kematian juga mampu meningkatkan kekuatannya.
Mahaguru dari Dinasti Anwuzhi yang mengetahui kehebatan Dewa Abadi, mereka segera kabur karena bunuh diri sama saja menguntungkan bagi musuhnya. Mereka mau mati asal energinya demi kebebasan Dewa Perusak.
Dengan ganas, Dewa Abadi meledakkan kepala Jenderal Omniverse. Lalu menyerap energi kematian dari musuhnya sambil menyerang Pasukan Omniverse. Bai Ge mengurangi jumlah serat-serat petir, dan memfokuskan serangannya kepada beberapa Omniverse agar optimal daya rusak kekuatannya.
Lambat laun banyak Pasukan Omniverse mulai berkurang. Dewa Abadi selalu mengincar kepala Omniverse, dengan sekali pukulan kepala mereka meledak.
Boom boom boom boom...
Rentetan suara ledakan energi ketika Dewa Abadi meledakkan kepala Pasukan Omniverse. Tubuh tanpa kepala langsung terjatuh ke tanah. Setiap kali terjatuh, tanah selalu bergetar.
Pasukan Omniverse yang belum dibantai segera kabur, mereka masuk ke dalam portal dimensi. Mereka tidak ingin mati dan energi kematiannya dimanfaatkan oleh Dewa Abadi.
Setelah semua Pasukan Omniverse masuk, portal dimensi seketika menghilang. Bahkan titik spasial tidak lagi dirasakan oleh Dewa Abadi dan pendukungnya yang kuat. Semua pendatang baru bersorak-sorai karena berhasil mengusir Pasukan Omniverse.
Melihat sukacita dari pendatang baru, tidak sedikitpun membuat Dewa Abadi ikut senang, sebab semua ini masih belum berakhir. Dewa Langit dan Dewa Surgawi belum muncul yang tidak membuat Dewa Abadi senang.
Bai Ge kembali seperti semula dengan tubuh normal seekor Burung Merpati Putih, lalu bertengger di bahu kiri Dewa Abadi. Dia dan Dewa Abadi melihat sekelilingnya.
Mahaguru Lu dan Mahaguru Sam memerintah kepada bawahannya untuk mengembalikan pendatang baru ke tempat asalnya. Para pendatang itu hanya pasrah saat diperintahkan untuk masuk ke dalam portal dimensi yang buatan para Mahaguru.
Sedangkan penduduk Dinasti Anwuzhi dilepas tanpa membuka segel yang memblokir kekuatan mereka. Dewa Abadi dan penduduknya tidak lagi khawatir jika penduduk Dinasti Anwuzhi akan membuat masalah seperti hari ini lagi.
Setelah semua pendatang baru telah pergi dari Tiga Alam, Dewa Abadi dan semua orang sedikit bisa bernafas lega. Mereka segera kembali ke Daratan Pagoda Berlian. Tidak ada eforia karena berhasil menggagalkan rencana musuhnya, sebab Dewa Langit dan Dewa Surgawi belum muncul
Kecuali pasukan dari Dinasti Fandui dan Dinasti Shandui, semua orang kembali ke tempatnya masing-masing untuk beristirahat. Bertarung dengan Pasukan Omniverse sudah sangat melelahkan mereka. Hu Yue Lian dan ketiga sahabatnya juga beristirahat di Pagoda Emas 20 lantai, istirahat di lantai dasar.
"Dewa, apakah akan terjadi nanti?" tanya Raja Chen.
"Bolehkah saya masuk ke dalam Pagoda Berlian 5 lantai?" tanya Dewa Abadi kepada Mahaguru Lu yang semenjak tadi selalu diam setelah memulangkan pendatang baru.
Jika dia mendapatkan izin, dia ingin menemui Putri Mahatma. Dia tidak ingin lagi diusir seperti sebelumnya.
"Nanti saya kabari!" jawab Mahaguru Lu karena perlu berbicara dengan Putri Mahatma. Dia dan Mahaguru Sam segera menuju ke dalam Pagoda Berlian 5 lantai.
Saat membuka pintu gerbang Pagoda Berlian, Mahaguru Sam tersenyum masam karena pintu tidak bisa terbuka, tanda keinginan Dewa Abadi ditolak oleh Putri Mahatma.
Dewa Abadi tersenyum karena sudah tahu jika ditolak dengan hanya melihat Mahaguru Sam tidak bisa membuka pintu. Dia makin bertekad untuk menaklukkan hati Putri Mahatma untuk menjadi pasangan Dao.
"Tersenyum saat ditolak wanita!" ejekan Bai Ge yang senang jika Dewa Abadi mendapatkan perlawanan dari wanita.
Sepanjang perjalanan hidup menjadi seorang kultivator, Dewa Abadi memang dengan mudah menaklukkan hati wanita. Hanya ada dua wanita yang membuatnya kecewa, yaitu Gu Jia saat menjadi manusia di bumi dan Maharani Shiwu yang mengkhianatinya. Selebihnya, dia tidak kesulitan untuk menaklukkan hati setiap wanita yang ditemuinya.
"Hanya selingan kehidupan! Dua orang itu yang harus kita antisipasi!" ucap Dewa Abadi.
"Ya, ditunggu saja mereka muncul," kata Bai Ge dengan santainya
Dewa Abadi segera mengeluarkan Raja Yao dari dalam cincin dimensinya, lalu menyerahkannya kepada Raja Hu.
"Apa rencana Dewa Langit dan Dewa Surgawi?" tanya Dewa Abadi kepada Raja Yao.
"Membebaskan leluhur!" jawab Raja Yao tanpa ada beban.
"Bukan itu yang maksudku! Selain itu!?" Bentak Dewa Abadi.
"Mana aku tahu!" jawaban Raja Yao yang membuat Dewa Abadi geram.
__ADS_1
"Biar kami interogasi tikus ini!" Ucap Mahaguru Lu sambil mencengkram erat leher Raja Yao, lalu menyeretnya menuju ke penjara bawah tanah yang tidak jauh dari lokasi lima Pagoda Berlian.
Setelah kepergian Mahaguru Lu dan Raja Yao, semua orang segera beristirahat di dalam Pagoda Berlian 20 lantai, mereka perlu memulihkan energi sebelum menghadapi lawan yang mungkin lebih kuat dari Pasukan Omniverse.
Dewa Abadi tidak memalingkan wajah sebelum Raja Yao masuk ke Gedung Hukum di belakang Pagoda Berlian 10 lantai. Setelah itu, dia membalikkan badan saat merasakan aura kekuatan yang samar-samar di lautan kering.
Namun, dia tidak melihat siapapun ada di lautan kering. Bai Ge juga merasakan aura kekuatan yang samar-samar.
"Dekati lokasinya!" pinta Bai Ge.
Dewa Abadi menghilang dan muncul di lokasi sumber aura samar-samar, lokasinya berdekatan dengan titik portal dimensi yang menghisap air laut. Setelah diperiksa, dia tidak menemukan jejak apapun, bahkan jejak titik spasial juga tidak ada.
Dewa Abadi tersenyum tipis karena musuh ingin mempermainkan pikirannya lagi. Dia berkata dengan musuhnya yang tidak menampakkan diri, "buatlah rencana sebaik mungkin, aku pasti akan menggagalkannya!"
"Jangan lupa dibumbui dengan rasa nyaman dan senang!" imbuh Bai Ge yang membuat Dewa Abadi tertawa lepas.
Kemudian, Dewa Abadi menuju ke wilayah Dinasti Anwuzhi tanpa ada lagi rasa khawatir, dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh Kasta Mahaguru di sana.
"Batu Keabadian sangat rakus," kata Bai Ge yang keheranan karena menyerap energi kematian dari dua Jenderal Omniverse tidak meningkatkan kekuatan.
Dewa Abadi hanya tersenyum tidak berkomentar. Baginya, asal menggagalkan rencana musuhnya sudah lebih dari cukup membuatnya senang.
Ketika Dewa Abadi berada di pemukiman penduduk Dinasti Anwuzhi, mereka segera berhamburan menjauhinya. Mereka takut jika dibunuh oleh Dewa Abadi.
Dewa Abadi melihat telapak kaki mereka yang berlarian, tidak ada lagi energi kabut hitam yang keluar. Lalu dia berjalan sangat menuju ke istana Kerajaan Yao. Setibanya di depan gerbang pagar istana, prajurit penjaga tidak menghentikannya.
Dewa Abadi pun masuk. Saat berada di dalam istana, dia melihat wanita cantik yang merupakan istri dari Raja Yao. Wanita itu adalah Permasuri Qiao, nama lengkapnya adalah Yao Ningqiao.
Permasuri Qiao duduk di singgasana dan mengembangkan senyuman hangat melihat kedatangan Dewa Abadi
"Silakan duduk di sini!" pintanya sambil menepuk-nepuk permukaan kursi singgasana sisi kanannya.
"Terima kasih! Saya di sini saja!" tolak Dewa Abadi yang sedikitpun tidak tertarik dengan kecantikan Permasuri Qiao.
Permasuri Qiao mengangkat tangan kanan agar semua orang yang berada di istana pergi. Kemudian, jendela dan pintu ditutup oleh para prajurit. Istana menjadi sepi, hanya ada Dewa Abadi, Bai Ge dan Permasuri Qiao.
Permasuri Qiao beranjak dari singgasananya, lalu berjalan ke arah Dewa Abadi yang berdiri. Dia perlahan melepaskan pakaiannya sambil menatap mata Dewa Abadi yang tidak berkedip melihatnya.
Setelah semua terlepas dan tidak ada satupun sehelai pakaian ditubuh, suara musik terdengar lembut. Kemudian, Permasuri Qiao menari dengan tubuh telanjang, perlahan mendekati Dewa Abadi.
Dewa Abadi tidak sedikitpun tertarik dengan kemolekan tubuh Permasuri Qiao. Bahkan tidak sedikitpun tergoda saat Permaisuri Qiao menyentuh seluruh tubuhnya.
Namun, di saat Permasuri Qiao akan menyentuh barang pribadinya, Dewa Abadi segera mundur.
"Apa rencana mereka?" tanya Dewa Abadi yang ingin tahu.
Pertanyaannya membuat Permasuri Qiao berhenti menari, dia berhadapan dengan Dewa Abadi, menyilangkan kedua tangannya yang mengganjal dada besarnya. Dia menatap mata pria yang sangat tampan tanpa berkedip.
"Jadilah suamiku, maka aku akan mengatakan semuanya!" pinta Permaisuri Qiao.
Bai Ge yang jijik melihat tingkah laku Permasuri Qiao. Dia segera berubah wujud menjadi wanita cantik yang melebihi siapapun di dunia ini. Permasuri Qiao jelas kagum melihat Bai Ge lebih cantik darinya.
Namun, sebelum Bai Ge melepaskan pakaian untuk memamerkan tubuhnya kepada Permasuri Qiao, Dewa Abadi mencegahnya.
"Keindahan tubuhmu hanya aku yang melihatnya!" ucapnya.
Bai Ge tersenyum sambil memegang erat tangan kiri Dewa Abadi. Sebagai putri dari Dewa Pemelihara, jelas ia tidak ingin kalah dari wanita dihadapannya, bahkan semua wanita di dunia ini.
"Jawab!" perintah Dewa Abadi dengan nada tegas.
Bukannya takut, Permasuri Qiao malah tersenyum. Dia kembali menari diiringi dengan lantunan suara musik yang merdu. Lalu perlahan mendekati Dewa Abadi, tapi dihalangi oleh Bai Ge dengan energinya.
"Seperti yang aku pinta tadi. Jika mau, tidak hanya jawaban, nyawa pun akan kuberikan!" jawab Permasuri Qiao dengan nada manja, bahkan gerakan tarian semakin tak senonoh, memainkan dada dan organ intimnya.
__ADS_1
Bai Ge yang jijik melihat tingkah Permasuri Qiao, langsung melambaikan tangan kirinya. Seketika tubuh Permasuri Qiao terpental ke belakang dan membentur meja raja.
Permaisuri Qiao tertawa kecil sambil berdiri, dia membersihkan tubuhnya karena terkena tumpahan air. Lalu dia kembali menatap mata Dewa Abadi.