
Bab 76. Kota Chu, Lei Jihan.
Setelah pengaturan selesai dan memerintahkan Veno untuk terus memantau keadaan Galaksi Arcadia, Dewa Binatang menuju ke arah barat, dia pergi ke wilayah yang dikuasai oleh seorang bergelar Duke.
Secara naluri, hatinya selalu ingin menyelidiki wilayah tersebut, wilayah yang dipimpin oleh Duke Manchu - Le Manchu. Duke Manchu sangat disegani oleh banyak orang, sebab memiliki kekuatan tingkat Sang Void level 50.
Saat berada di Gerbang wilayah Duke Manchu, tepatnya di Kota Chu. Sosok Dewa Binatang membuat perhatian karena berpenampilan berbeda, pakaian ketat dan serba hitam, rambut putih serta panjang.
Kuda terbang sebagai tunggangan saja sudah membuat banyak orang takjub melihatnya, penampilan seperti seorang bangsawan yang kaya raya. Padahal penampilan sudah dibuat sesederhana mungkin agar tidak menarik perhatian banyak orang.
Pakaian yang dikenakan oleh penghuni Galaksi Arcadia adalah model hanfu. Untuk membedakan rakyat jelata dan bangsawan dari jenis kainnya, lambang bendera dan logo yang tersemat di dada kiri si bangsawan.
Seorang penjaga gerbang segera menghampiri Dewa Binatang yang menunggangi Kuda Terbang, dengan hormat dia membungkuk sebagai bentuk sopan santun. Penjaga tersebut memeriksa sekujur tubuh Dewa Binatang dengan tatapan mata.
"Kalau boleh tahu, dari bangsawan mana Anda?" tanya penjaga gerbang dengan sopan.
"Saya seorang pedagang. Gerbong daganganku baru saja dirampok di hutan dalam! Untung saja aku masih bisa lolos dari para perampok dan ke sini untuk melapor!" jawab Dewa Binatang yang jelas berbohong.
"Pantas saja saya tidak melihat logo bangsawan. Kalau boleh tahu, dari mana Anda berasal dan dagangan apa yang dijual?" selidik penjaga gerbang karena pertanyaannya belum dijawab.
Hal lumrah yang dilakukan oleh penjaga gerbang dalam menjalankan tugas, apalagi dia tidak mengenali Dewa Binatang. Dari segi penampilannya saja Dewa Binatang jelas-jelas bukan berasal dari Galaksi Arcadia. Hanya saja yang aneh bagi para penjaga gerbang, Dewa Binatang seperti orang yang tidak berkultivasi.
Dewa Binatang menghela nafas berat seakan-akan pertanyaan penjaga gerbang sulit untuk dijawab. Dengan nada sedih, Dewa Binatang membuat alasan, "apakah Anda kenal dengan tuan Cheng Bei, pedagang dari Utara. Saya adalah putra ketiga yang berhasil lolos dari tragedi 5 tahun lalu. Cerita tentang pedagang Cheng Bei, Anda dan kalian semua sudah pasti mengetahuinya!"
Jawaban Dewa Binatang membuat para penjaga gerbang dan semua orang yang akan memasuki wilayah Duke Manchu menjadi sedih karena tahu tragedi itu.
Setelah mengetahui sejarah terbaru Galaksi Arcadia, Dewa Binatang menggunakan identitas sebagai putra dari Cheng Bei. Cheng Bei adalah seorang pedagang yang terkenal, dia bergelar Chevalier dan pimpinan wilayah yang kini dikuasai oleh Raja Genjo.
Tragedi yang dimaksud oleh Dewa Binatang, adalah tragedi yang menewaskan hampir seluruh penduduk kota saat Raja Genjo memperluas wilayah. Dan, marga Cheng menjadi salah satu korbannya.
"Saya tidak menduga jika putra tuan Cheng Bei masih hidup, saya kira sudah .... Saya menduga, yang merampok Anda pasti adalah Perampok Tangan Setan, bukan?" tanya si penjaga yang ikut prihatin dengan nasib tragis marga Cheng.
"Anda, benar! Untung saja saya masih memiliki bekal untuk bertahan hidup serta melanjutkan bisnis keluarga!" jawab Dewa Binatang yang lagi-lagi berbohong.
Perampok Tangan Setan sudah sangat terkenal di mana-mana, sekumpulan orang yang berasal dari dua ras. Mereka dikenal dengan keganasan kepada siapapun, tidak peduli wanita, anak-anak dan orang tua, mereka tidak segan-segan membunuh demi mendapatkan harta dan kepuasan batin.
Perampok Tangan Setan juga memiliki bisnis, bisnisnya meliputi penjualan budak yang berhasil ditangkap, menjual hasil buruan, tanaman obat. Kebanyakan budak itu adalah anak-anak dan wanita, sedangkan para prianya dibunuh.
Raja Guang dan Raja Genjo dengan sengaja tidak memberantas Perampok Tangan Setan karena menguntungkan. Pemimpinnya berasal dari Ras Iblis yang dijuluki sebagai Tangan Setan, nama aslinya adalah Mao Tse.
Mao Tse adalah adik ipar dari Raja Genjo, dia menjadi perampok karena tidak sejalan dengan keinginan Raja Genjo. Lalu dia merekrut anggota yang berasal dari Ras Manusia yang membenci Raja Guang.
__ADS_1
"Bos, biar saya yang memandu Tuan Muda Cheng untuk mendaftar identitas baru!" pinta seorang gadis kecil usia 12 tahun.
Dewa Binatang dan si penjaga melihat ke arah gadis tersebut yang pakaiannya tidak terlalu bagus sebagai seorang pemandu, tubuhnya kurus dan kurang terawat, dia adalah Lei Jihan. Pekerjaannya sehari-hari menjadi pemandu wisata bagi orang yang bukan asli penduduk Kota Chu.
"Ajak Tuan Muda ini ke Balai Keamanan Kota terlebih dahulu untuk melapor. Setelah itu baru membuat identitas baru!" perintah si penjaga kepada Lei Jihan, lalu dia melihat kembali Dewa Binatang.
"Tuan Cheng, ikuti saja gadis ini... Untuk biaya... Seikhlasnya saja. Umumnya sih... 10 keping perak sudah lebih dari cukup!" kata si penjaga yang terdengar sungkan saat berbicara, dia ingin membantu Lei Jihan yang menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggalkan ayahnya.
Si penjaga berbisik, menceritakan tentang ayah Lei Jihan terbunuh saat mengawal keluarga bangsawan. Semenjak itu, ibu Lei Jihan yang belum menerima kematian suaminya seketika mengalami gangguan jiwa.
Dewa Binatang menghela nafas berat saat tahu kisah Lei Jihan, lalu dia turun dari punggung kudanya, lalu dia berbicara kepada si penjaga gerbang, "baiklah, saya gunakan jasanya."
"Terima kasih, Tuan Muda Cheng!" ucap si penjaga.
Hati Lei Jihan berbunga-bunga karena nanti akan mendapatkan uang untuk menghidupi ibu dan diri sendiri. Dewa Binatang adalah pengguna jasanya yang pertama di hari ini.
Dengan segera Lei Jihan menggantikan Dewa Binatang yang memegang tali kuda. Setelah berpamitan dengan si penjaga gerbang, mereka berdua masuk ke dalam Kota Chu.
"Siapa namamu?" tanya Dewa Binatang sambil berjalan menuju ke Balai Keamanan Kota Chu, dia sebenarnya enggan melapor karena memang tidak dirampok.
"Panggil saja... Jihan!" jawab Lei Jihan dengan nada bersemangat.
"Tuan Muda, apakah pakaian yang Anda kenakan model terbaru?" tanya Lei Jihan yang tidak pernah melihat pakaian aneh.
"Tentu. Saya hafal setiap tempat...," jawab Lei Jihan sambil melihat sekitarnya, lalu dia kembali berbicara dengan suara lirih, "saya juga tahu bisnis kotor para pejabat dan bangsawan! Saya pernah menguping pembicaraan Duke Manchu yang bekerja sama dengan pemimpin perampok Tangan Setan...!"
Lei Jihan kembali berhenti berbicara sejenak untuk melihat sekitarnya, lalu dia kembali berbicara dengan suara lirih, "saran saya, Anda jangan melapor ke Balai Keamanan Kota! Saya khawatir Anda akan diincar oleh mereka karena dianggap sebagai ancaman!"
Lei Jihan yang membeberkan kebusukan Duke Manchu membuat Dewa Binatang tersenyum tipis, dia tidak menyangka gadis kecil ini tahu segalanya. Dengan begitu, dia tidak perlu repot-repot untuk menyelidiki kejahatan para pejabat.
"Aku lapar... Carikan rumah makan yang sederhana namun memiliki hidangan lezat," pinta Dewa Binatang yang sebenarnya ingin berbicara banyak tentang Kerajaan Arcadia.
"Saya tahu tempatnya. Ayo, kita ke sana!" Ucap Lei Jihan yang langsung menuju ke rumah makan langganannya.
Sepeninggal Dewa Binatang, si penjaga menyeringai lebar, lalu dia memerintahkan rekannya untuk melaporkan Dewa Binatang yang menjadi korban perampokan, dia tidak ingin membuat reputasi Duke Manchu buruk di mata pesaing.
Kota Chu merupakan salah satu dari lima kota besar di Kerajaan Arcadia. Banyak gedung-gedung tinggi yang menjadi infrastruktur penting, rumah bertingkat yang juga dijadikan tempat usaha selalu menghiasi sepanjang jalan.
Yang menarik perhatian Dewa Binatang, banyak sekali bendera berwarna kuning dengan gambar dua singa yang dipisahkan sebuah pedang. Itu adalah logo kebesaran Duke Manchu.
Sepanjang perjalanan, Dewa Binatang selalu menggelengkan kepalanya karena melihat banyak orang miskin; banyak pengemis, pengangguran, pemabuk, dan tidak ketinggalan pencopet yang saat ini sedang dikejar-kejar oleh penjaga kota.
__ADS_1
"Kota yang sibuk!" gumam Dewa Binatang.
"Kata ayahku, 20 tahun yang lalu tidak begini sebelum kekaisaran menjadi kerajaan. Itu berawal ketika Kaisar Bowen meninggalkan Arcadia demi tujuan mulia. Semenjak dipimpin oleh Raja Guang, dan Ras Iblis memberontak dengan mendirikan kerajaan, Arcadia tidak lagi damai!" sahut Lei Jihan yang membeberkan sejarah masa lalu.
Dewa Binatang makin tertarik dengan cerita Lei Jihan mengenai musuhnya. Akhirnya Lei Jihan dan Dewa Binatang berada di depan rumah makan setelah melewati banyak blok.
Rumah makan itu tidak menarik perhatian banyak orang karena memang tidak menyematkan papan nama, tapi banyak sekali pengunjungnya. Di belakang rumah makan terdapat lahan dan kandang kuda.
"Ini rumah makan Mawar Hitam... Tampak biasa tapi diminati oleh masyarakat karena masakannya yang lezat dan murah," kata Lei Jihan.
"Tuan Muda masuk dulu, saya mau taruh kuda mahal ini di kandang!" lanjutnya dan di anggukan oleh Dewa Binatang.
Ketika Dewa Binatang masuk ke rumah makan, dia disambut oleh seorang pelayan pria yang ramah. Kedatangannya membuat perhatian para pengunjung karena wajah tampan, kulit bersih serta pakaiannya berbeda dari penduduk asli Planet Arcadia.
Yang sedikit mengejutkan Dewa Binatang, dia mendengar bisikan pengunjung yang sudah tahu jika dirinya adalah putra dari Cheng Bei, padahal dia baru tiba di tempat ini.
"Tuan Muda Cheng, mau duduk di lantai satu atau dua?" tawaran si pelayan sambil melirik pinggang Dewa Binatang untuk melihat harta.
Umumnya di Kerajaan Arcadia, setiap orang memiliki kantong spasial yang fungsinya seperti cincin dimensi, selalu diselipkan di pinggang kiri atau kanan.
"Pokoknya yang nyaman!" jawab Dewa Binatang setelah mengembangkan senyuman hangat.
"Tuan Muda... Tuan Muda...!"
Sebelum Dewa Binatang diajak ke lantai dua, Lei Jihan berlari dengan tergesa-gesa sambil memanggil namanya. Lalu dia dan semua orang yang berada di rumah makan melihat Lei Jihan.
Dewa Binatang sedikit terkejut melihat sudut bibi Lei Jihan mengeluarkan darah, pipi kiri memerah karena habis ditampar.
"Kamu kenapa?" tanya Dewa Binatang saat Lei Jihan berhenti di depannya sambil nafas tersengal-sengal.
"Itu... Ada ... Kuda milik Tuan Muda diambil oleh pencuri!" jawab Lei Jihan dengan terbata-bata karena takut dimarahi oleh Dewa Binatang.
Dewa Binatang tersenyum sambil mengusap-usap rambut pendek Lei Jihan, lalu dia berkata, "tidak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja!"
"Tapi--"
"Ayo, kita makan dan lupakan kejadian ini!" sela Dewa Binatang yang tidak ingin Lei Jihan merasa bersalah.
Lei Jihan meneteskan air mata karena Dewa Binatang tidak menyalahkan dirinya. Dia terkejut karena tidak lagi merasakan sakit setelah ditampar oleh si pencuri. Dia menebak jika usapan lembut di rambut merupakan tindakan Dewa Binatang yang sedang menyembuhkan dirinya.
"Terima kasih!" ucap Lei Jihan sambil membungkuk.
__ADS_1
Kemudian, Dewa Binatang dan Lei Jihan naik ke lantai dua. Saat di lantai dua, tidak banyak pengunjungnya hanya ada beberapa orang tapi terlihat seperti bangsawan.